Perempuan, Anak, dan Karir

Sebagai seorang perempuan, saya sering sedih ketika melihat saudari–saudari saya “bingung” menentukan pilihan antara anak dan karir. Banyak kasus saya temui, baik dulu ketika saya menjadi pengajar di sebuah lembaga bimbingan belajar, selama KKN, maupun tadi malam ketika tetangga saya bercerita tentang salah seorang teman kecil saya. Selain yang saya sebut tadi sebenarnya ada lebih banyak kasus yang saya temui tetapi kasus-kasus tadi adalah yang paling berkesan.

Perempuan (sebagaimana juga laki–laki Muslim) merupakan korban dari sistem yang tidak manusiawi, Kapitalisme. Kapitalisme yang menumbuhsuburkan paham feminism dan emansipasi membuat banyak saudari–saudari saya yang “terpaksa” berlomba–lomba meninggalkan rumahnya dan bersaing dengan partnernya, pelindungnya, laki–laki untuk mendapatkan sedikit rupiah. Penyebabnya adalah masyarakat telah terlanjur menganggap kemuliaan dan derajat seseorang merupakan sesuatu yang ditentukan oleh banyaknya materi yang dia miliki. Di alam bawah sadarnya pun, masyarakat perlahan tapi pasti mulai tidak lagi membedakan peran antara laki–laki dan perempuan. Perempuan dan laki–laki sama–sama dituntut untuk berperan di ranah publik dengan peran yang sama besarnya. Jika ingin “dipandang” di tengah masyarakat, maka laki–laki maupun perempuan harus memiliki peran yang besar di ruang publik, dan tentu bukan sembarang peran, melainkna peran yang mampu mendatangkan materi yang melimpah, simple-nya harus memilki karir yang bagus. Sedangkan peran di ranah domestic, sebesar apa pun peran itu, tetap dipandang sebelah mata, bahkan terkadang sama sekali tidak dipandang.

Akibat pandangan masyarakat yang demikian dan dorongan untuk menunjukkan eksistensi diri yang kadang tidak dikendalikan oleh pemahaman yang benar, akhirnya banyak di antara saudari–saudari saya yang mati–matian mengejar peran di ranah publik meski harus mengorbankan peran utama mereka di domestik. Mereka mengejar karir meski harus mengabaikan peran mereka di ranah domestik ata pun “sekadar” menyerahkan tugas dan peran mereka di ranah domestik kepada orang lain, yang saya yakin orang diserahi tugas dan peran itu tidak akan mungkin melakukannya sebaik jika saudari–saudari saya itu melakukannya sendiri.

Di sini saya tidak berdiri sebagai pihak yang melarang perempuan berperan di ranah publik, saya tidak melarang perempuan berkarir, apalagi mengharamkannya. Tidak sama sekali. Berkarir di ruang publik bagi seorang perempuan, hukum asalnya adalah mubah jika serangkaian “syarat dan ketentuannya” telah dipenuhi. Sesuatu yang mubah ya seharusnya ditempatkan sebagaimana posisinya mubah. Pelaksanaan sesuatu yang mubah tidak boleh mengorbankan sesuatu yang sunnah, apalagi wajib. Demikian juga, pelaksanaan sesuatu yang mubah tidak boleh mengabaikan adanya sesuatu yang makruh atau haram yang mungkin mengkontaminasi aktivitas mubah itu. Itulah yang ingin saya tekankan.

Islam telah menegaskan bahwa tugas utama seorang perempuan adalah sebagai ummu wa rabatun bayt (ibu dan pengatur rumah tangga). Sedangkan hak seorang perempuan adalah dilindungi dan dinafkahi. Tugas laki–laki adalah melindungi dan menafkahi perempuan. Sebenarnya perempuan sama sekali tidak punya kewajiban untuk menafkahi dirinya sendiri, apalagi menafkahi keluarganya. Tetapi sayang sekali pemahaman ini seringkali terkalahkan oleh pandangan masyarakat yang telah teracuni oleh paham feminisme dan emansipasi. Akhirnya, banyak perempuan yang lebih memilih untuk berjibaku di ranah publik meski harus mengorbankan sebagian perannya di ranah domestik.

Kasus pertama yang menarik adalah apa yang saya temui ketika saya menjadi pengajar di sebuah lembaga bimbingan belajar, tepatnya tahun 2008 silam. Saat itu saya mengajar Matematika dan IPA untuk SD. Salah satu anak murid saya adalah seorang anak laki–laki kelas IV SD (usianya sekitar 9 atau 10 tahun), sebut saja namanya Dani. Dia mengalami kesulitan dalam berhitung. Dia susah sekali berkonsentrasi untuk menghitung, meski hanya hitungan sederhana saja yang saya rasa untuk anak seusianya seharusnya tidak seperti itu. Saya jadi tertarik untuk mengetahui keadaan keluarganya, kenapa dia seperti itu. Saya pun bertanya “Mas Dani berangkat ke sini sama siapa?”
“Dianter sama Abi…”
“Ooo… Kalau Ummi ke mana?”
“Ummi lagi ngajar.”
“Ngajar apa?”
“Ngajar matematika di sana [menyebut salah satu nama lembaga bimbingan berhitung cepat untuk anak–anak berlabel “Islami”]”
Saya pun kaget. Ibunya seorang pengajar trik dan tips berhitung cepat untuk anak–anak tapi anak kandungnya sendiri belum bisa menghitung sampai usia 9 tahun. Saya pun penasaran dan menanyakan “Masa Dani ga belajar matematika sama Ummi?” dan dia pun menggeleng “Enggak…”. Astaghfirullaah…

Seberapa banyak sih kepuasan dan rupiah yang bisa diraih dengan menjadi guru bagi anak–anak orang lain? Sebandingkah kepuasan dan nilai rupiah itu dengan harga yang harus dibayar ketika anaknya sendiri terabaikan? Iya, saya akui ada kepuasan tersendiri ketika anak didik kita (meskipun itu anak orang lain) menjadi “bintang”, menjadi anak yang cerdas, berprestasi. Tapi bukankah lebih membanggakan jika yang menjadi “bintang”, yang cerdas penuh prestasi adalah anak kita sendiri? Dan bukankah kepuasan menjadikan anak orang lain sebagai “bintang” tidak ada artinya sama sekali jika anak kita sendiri justru miskin prestasi, bahkan tertinggal? Bukankah itu menyedihkan? OK, benar dengan berkarir, meng–“upgrade” anak orang lain, kita bisa mendapatkan sejumlah rupiah tapi cukupkah rupiah itu untuk membayar kerugian karena anak–anak kita menjadi “tertinggal” hanya gara–gara kurangnya perhatian dan bimbingan dari ibunya?

Kisah serupa tetapi lebih menyedihkan saya temui ketika KKN. Salah satu kegiatan KKN kami adalah membantu mengajar di PAUD atau mungkin lebih tepatnya ikut bermain–main bersama adik–adik PAUD. Salah satu peserta PAUD yang menarik perhatian kami adalah Dek Damai (sebut saja demikian), seorang bayi perempuan yang dititipkan di PAUD sejak dia berusia dua bulan. Dia dititipkan di PAUD setiap hari kerja mulai pukul 7 pagi hingga sore. Dia ditipkan dalam keadaan belum dibersihkan, apalagi dimandikan. Kalau orang Tegal bilang, masih crumut. Dan tahukah di mana ibunya? Ibunya mengajar anak–anak orang lain di TK! Astaghfirullaah…

Bukankah seorang guru TK seharusnya memahami betul tentang periodisasi tumbuh kembang anak, tentang golden age dan kebutuhan anak pada tiap–tiap periode itu? Berapa sih rupiah yang bisa dia peroleh dari mengajar TK hingga dia rela “menelantarkan” anak bayinya? Kenapa dia begitu peduli pada anak–anak orang lain daripada anak kandungnya sendiri?

Dua kisah di atas, saya tidak tahu persis apa dorongan mereka memilih semua itu. Apakah murni dorongan dari diri mereka sendiri atau ada tekanan dari pihak lain. Beberapa hari yang lalu saya mendengar perempuan yang dipaksa berkarir, justru dari orang yang seharusnya tidak memaksanya berkarir. “Kebetulan” (saya tulis “kebetulan” diapit tanda petik karena sejatinya tidak ada yang kebetulan di dunia ini) ibu saya adalah Ketua Pengelola PAUD, TK, dan RA milik salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia se–Kabupaten. Beberapa waktu yang lalu ada seorang Ibu Mertua yang meminta kepada Ibu saya agar beliau menerima menantu perempuannya untuk bekerja di salah satu TK / RA yang Ibu saya kelola. Kata Ibu saya, si Ibu Mertua tersebut setengah memaksa agar menantunya diterima. Saya penasaran, apa alasan si Ibu Mertua tersebut, eh ternyata alasannya cukup menggelikan. Katanya, dia malu punya menantu sarjana tetapi menganggur (dalam artian tidak berkarir). Katanya, dia khawatir menantu perempuannya jadi bahan gunjingan tetangga. Nah lho?! Perempuan menempuh pendidikan tinggi itu bukan hanya sekadar untuk berkarir, Bu… Melainkan untuk menjadi sekolah terbaik bagi anak–anaknya. Untuk memberikan pendidikan terbaik, bermutu tinggi kepada anak–anaknya. Agar dia bisa menyiapkan anak–anaknya menjadi manusia–manusia hebat yang akan membuat mata dunia tercengang atas karya dan prestasi yang ditorehkannya. Lagi pula, yang seharusnya berkewajiban menafkahinya kan suaminya (dalam hal ini adalah putra si Ibu Mertua itu), bukan malah si Menantu! Si Menantu tugasnya adalah menyiapkan putra dan cucu–cucu Ibu kelak agar siap terjun dan berkarya di tengah masyarakat dengan sebaik–baiknya.

Kasus lainnya adalah teman kecil saya sendiri, sebut saja namanya Diana. Alhamdulillah, Diana masuk kuliah 2 tahun lebih awal dari pada saya. Sekarang dia sudah mendapat gelar Sarjana Pendidikan dari salah satu universitas pendidikan ternama di negeri ini. Dia juga mendapatkan tekanan untuk segera bekerja dari orang tuanya. Dia dipaksa mengajar. Dari cerita yang saya peroleh dari tetangga (dia adalah teman dekat orang tua Diana), Diana mendapatkan dua paksaan dari orang tuanya. Paksaan pertama, dia harus bekerja dan paksaan kedua dia harus menjadi guru. Diana mencoba menjadi anak yang patuh pada orang tuanya, dia mengikuti kemauan oarng tuanya untuk mendaftar sebagai guru bantu di sebuah SMK (dulu disebut STM), tentu atas “rekayasa” dari orang tuanya juga sehingga dia bisa mengajar di sana. Tetapi kemudian ternyata dia tidak tahan karena yang namanya siswa–siswa STM itu kan tidak bisa melihat perempuan cantik yang masih muda (fresh graduate). Katanya Diana sering digoda oleh para siswanya, bahkan ketika sedang mengajar di dalam kelas. Dia tidak tahan dan memutuskan untuk mengundurkan diri, tetapi sebelumnya tentu dia membicarakan keputusannya itu kepada orang tuanya. Eh, orang tuanya malah marah dan menyebutnya sebagai anak yang susah diatur. Mereka melarang anaknya mengundurkan diri dari STM tersebut. Astaghfirullaah…

Saya tidak habis pikir, apa sih yang membuat orang tua Diana sedemikian kuat memaksa anaknya untuk bekerja? Padahal ayah–ibunya masih lengkap, dan setahu saya kehidupan ekonominya juga lumayan. Rumahnya masih besar, masih ada mobil, masih ada motor, dan masih ada perabotan–perabotan lainnya. Penghasilan orang tuanya juga lumayan. Tega sekali memaksa anaknya untuk terus bertahan bahkan ketika anaknya dilecehkan, dilukai harga dirinya sebagai seorang Muslimah di depan kelas. Meskipun berkarir bagi seorang Muslimah adalah mubah tetapi jika hal itu mengakibatkan kehormatannya sebagai seorang Muslimah terluka, maka tidak seharusnya kita membiarkannya terus bertahan dalam kondisi seperti itu. Seharusnya orang tua atau walinya melindungi dia dari hal–hal semacam itu.

Sungguh, Kapitalisme beserta sepaket paham turunannya telah merenggut kehormatan, harga diri dan kemuliaan perempuan. Kapitalisme dan paham turunannya telah membuat lingkungan di sekitar perempuan menjadi lingkungan yang tidak ramah bagi perempuan, bahkan menjadi lingkungan yang tidak aman baginya. Kapitalisme dan paham turunannya pun telah merampas hak anak–anak kita, membuat mereka kehilangan sebagian besar kasih sayang dan perhatian ibunya. Sudah saatnya kita campakkan Kapitalisme beserta seluruh paham turunannya untuk mengembalikan kemuliaan dan kehormatan kaum perempuan sekaligus mengembalikan hak anak–anak kita.

Curahan hati sambil menghitung mundur detik–detik menjelang keberangkatanku ke Nagari Ngayogyakarrta Hadiningrat untuk menempa diri dan mempersiapkan diri menjadi sekolah terbaik bagi anak–anakku kelak.

Tegal, 10 Syawwal 1432 H
Thursday, September 08, 2011
3.20 p.m.

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s