Kesampingkan Efek Samping, Bukan Membelakanginya

“Semua obat kimia mempunyai efek samping! Obat kimia yang paling aman adalah obat yang tidak pernah digunakan!”

side_effects

BENAR SEKALI! Saya sepakat dengan pernyataan tersebut. Memang setiap obat memiliki potensi untuk menimbulkan efek samping dari yang ringan seperti mengantuk sampai yang berat seperti menyebabkan kecacatan pada janin. Tetapi apakah lantas kesimpulannya adalah “Katakan ‘TIDAK’ pada obat kimia!” atau dengan kata lain anti obat kimia?

Tunggu dulu… Mari kita pertimbangkan masak–masak.
Memang benar obat yang tidak pernah digunakan adalah obat yang paling aman bagi tubuh kita karena obat tersebut tidak berinteraksi dengan tubuh kita. Jika berinteraksi saja tidak, bagaimana obat akan menimbulkan efek samping bagi tubuh kita? Tapi, karena obat sama sekali tidak berinteraksi dengan tubuh kita, maka tentu saja obat pun tidak dapat memberikan efek terapi yang diinginkan kepada kita. Sebagai contoh: Asam mefenamat (alias Ponstan) mempunyai efek (khasiat) untuk meredakan nyeri, menurunkan panas, dan anti radang. Yang biasa menggunakan obat ini antara lain orang yang sedang sakit gigi. Ponstan ini punya efek samping berupa gangguan lambung–usus. Efek samping ponstan berupa gangguan lambung dan usus ini tentu saja tidak akan muncul jika ponstan tidak diminum, tetapi sakit giginya juga tidak akan reda jika ponstannya tidak diminum (kecuali jika giginya sudah dicabut misalnya). Mau pilih mana? Tetap menahan sakit gigi karena takut terkena gangguan lambung–usus atau memilih meredakan sakit gigi segera dengan risiko terkena gangguan lambung–usus?

Sebenarnya, efek samping tidak perlu terlalu dirisaukan tapi juga tidak boleh diremehkan. Kita bisa mendapatkan efek terapi (khasiat) obat tanpa terkena efek sampingnya atau setidaknya hanya terkena efek samping yang minimal. Kuncinya adalah dengan memperhitungkan risk and benefit atau risiko dan manfaatnya dengan matang. Jika benefit lebih besar daripada risk, maka memilih tetap menggunakan obat adalah pilihan bijak. Akan tetapi jika benefit sama besar atau bahkan lebih besar dari risk, maka sebaiknya cari solusi lain selain obat. Bagaimana caranya menimbang risk and benefit?

Sebagai ilustrasi misalnya begini: saya seringkali mabok perjalanan darat jika naik bus atau mobil umum (travel) atau yang biasa disebut sebagai motion sickness. Obat yang dikenal paling efektif untuk mencegah motion sickness saat ini adalah dimenhidrinat (misalnya ANTIMO). ANTIMO ini memiliki efek samping berupa gangguan penglihatan, mengantuk, pusing, mulut kering, hipotensi, lemas otot, gangguan pencernaan, sakit kepala. Di antara efek samping tersebut, yang paling sering terjadi adalah pusing. mulut kering, penebalan mucus (semacam dahak), dan ngantuk. Gangguan penglihatan dan gangguan pencernaan hanya terjadi jika dikonsumsi dalam jangka waktu lama. Maka, gangguan penglihatan dan pencernaan tidak perlu saya perhatikan karena saya hanya menggunakannya sesekali saja. Mengantuk bagi saya tidak masalah. Justru menguntungkan karena bisa tidur selama perjalanan. Toh saya naik travel, kalau sudah dekat dengan rumah, nanti juga dibangunkan. Lemas tidak masalah, toh nanti tidur. Pusing juga tidak masalah, dibawa tidur paling juga sembuh. Mulut kering? Banyak minum saja.

Efek samping jangka panjang tetap saya perhatikan. Meskipun saat ini saya hanya menggunakannya maksimal empat kali setahun, siapa tahu kelak ketika tuntutan mobilitas meningkat, saya akan lebih sering menggunakannya. Maka tidak setiap menempuh perjalanan jauh saya minum ANTIMO. Jika tidak mendesak, saya lebih memilih terapi non obat. Berusaha menata mood dengan berbagai macam cara. Sayangnya cara ini seringkali tidak berhasil. Tapi jika keadaannya saya harus pulang tanggal 9 Dzulhijjah malam dari Sleman untuk bisa berhari raya di rumah (Tegal). Jika normal, perrjalanan malam menempuh waktu sekitar 5 jam. Saat itu adalah malam hari raya yang sekaligus long week end. Jalanan pasti macet. Perjalanan bisa memakan waktu yang lebih lama. Biasanya travel datang menjemput saya sekitar pukul 20 atau 21, dilanjutkan menjemput penumpang lainnya. Baru keluar Yogyakarta sekitar pukul 22 atau 23. Sampai rumah mendekati subuh.
Jika bukan tanggal 9–10 Dzulhijjah, biasanya saya memilih untuk menahan diri untuk tidak mengkonsumsi obat apa pun. Kalau pun mabok, tidak masalah. Malah jadi punya alasan untuk minta dimanja sesampainya di rumah nanti . Tapi kali ini adalah hari raya dan saya hanya di rumah selama dua hari lalu segera berjumpa dengan jadwal kuliah yang padat. Kalau saya harus mabok selama perjalanan PP, saya tidak sanggup.
Pada keadaan tersebut, seluruh risk dapat saya terima dan benefit yang akan saya peroleh relatif jauh lebih besar dari risk. Dengan menimbang risk and benefit tersebut, saya putuskan untuk minum ANTIMO sebelum menempuh perjalanan, Hasilnya? Saya menikmati perjalanan yang menyenangkan, baik saat pulang ke Tegal maupun saat kembali ke Yogyakarta.

Contoh lainnya adalah obat–obat untuk TBC. Salah satu obat wajib bagi pasien TBC, yaitu isoniazid (INH) dapat menimbulkan efek samping berupa perasaan tidak enak badan, lemah, letih, dan kesemutan. Itu risk–nya. Merepotkan memang, tapi jika tidak diminum, bagaimana dengan TBC–nya? Bertambah berat dan berpotensi menular ke banyak orang. Benefit INH (mengobati TBC) jauh lebih besar dari pada risk–nya. Tapi bagaimana dengan risk yang tidak dapat diterima itu? Di atasi dengan pemberian vitamin B. Jadilah INH bisa digunakan dengan risiko efek samping minimal.

Berbeda halnya jika misalnya kita hanya sakit common cold alias demam flu batuk ringan. Jika kita masih bisa beraktivitas, kita tidak perlu meminum obat. Toh, dalam waktu 3–4 hari akan sembuh dengan sendirinya. Benefitnya terlalu kecil dibandingkan dengan risk. Parasetamol misalnya (obat penurun panas yang paling sering digunakan untuk common cold), mempunyai risiko efek samping berupa gangguan hati (liver). Memang benar, efek samping ini tidak akan muncul hanya dengan mengkonsumsi parasetamol 2–3 tablet. Tapi common cold adalah penyakit yang relatif sering diderita. Jika kita selalu memanjakan diri dengan meminum parasetamol setiap kali terasa demam, ya bukan tidak mungkin akan bisa muncul efek samping tersebut.

Tidak perlu takut berlebihan terhadap efek samping obat kimia. Yang perlu kita lakukan adalah menimbang dengan hati–hati risk and benefit dari obat tersebut. Adanya informasi tentang efek samping obat di tiap kemasan obat menunjukkan bahwa obat tersebut telah melalui serangkaian uji untuk memastikan keamanananya. Informasi efek samping obat diberikan agar kita dapat menimbang risk and benefit yang akan diperoleh dari obat tersebut dengan tepat. Justru jika tidak ada informasi tentang efek samping obat, kita patut curiga bahwa obat tersebut belum melalui tahapan–tahapan yang seharusnya ditempuh sebelum suatu obat boleh beredar di tengah masyarakat.

Lalu bagaimana kita bisa menghitung risk and benefit dengan tepat? Untuk obat–obat yang bisa dibeli tanpa resep dokter, kita bisa menanyakannya kepada Apoteker dengan sebelumnya menceritakan semua keluhan yang kita rasakan, termasuk keadaan tubuh kita: apakah sedang hamil/menyusui, merokok, pekerja malam (misal satpam, supir bus malam), dan informasi yang diperlukan. Terbukalah kepada Apoteker tentang keadaan kita agar beliau dapat memilihkan obat yang tepat atau merujuk ke dokter.

Yogyakarta, 28 Muharam 1434 H
Tuesday, December 11, 2012
10.38. p.m.
Eh, harusnya kan aku belajar untuk diskusi pre komprehensif besok ya? Malah nulis… Hehehe…

Haafizhah Kurniasih

About these ads

2 thoughts on “Kesampingkan Efek Samping, Bukan Membelakanginya

  1. Pingback: Kesampingkan Efek Samping, Bukan Membelakanginya - Syariah Publications

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s