Berita Heboh!!! Awas, Kesehatan Anda dalam Ancaman!!!

Berita Heboh!!!

Awas!!! Kesehatan Anda dalam Ancaman!!!

Kesehatan adalah hal yang sangat penting bagi manusia. Semua orang peduli dengan kesehatannya. Isu apa pun tentang kesehatan pasti akan menarik perhatian banyak orang. Terlebih lagi jika ada isu tentang sesuatu yang membahayakan kesehatan. Isu seperti ini akan menarik perhatian masyarakat. Saya berani menebak, sebagian besar (atau malah seluruh) pembaca tulisan ini pernah mendapatkan broadcast message baik melalui BBM, WhatsApp, SMS, e–mail maupun membaca tulisan di social media berkaitan dengan isu–isu tersebut.

Beberapa isu tersebut misalnya seperti ini:

“HATI-HATI, BUMBU MIE INSTANT TIDAK BOLEH DIMASAK !!!

PERINGATAN BAGI KITA SEMUA BAHWA MIE INSTANT TIDAK BOLEH DIMASAK BERSAMAAN DENGAN BUMBUNYA, KARENA MSG (MONO SODIUM GLUTAMAT) BILA DIMASAK DI ATAS 120C AKAN BERPOTENSI MENJADI KARSINOGEN, PENCETUS KANKER.

PERHATIKAN SEMUA KEMASAN MIE INSTAN, KEBANYAKAN PROSEDURNYA MASAK MIE DULU BARU DITABURI BUMBU. BUMBU DI TARUH DI MANGKOK DULU.

JADI JANGAN PERNAH MASAK MIE BESERTA BUMBUNYA! BAHAYA !!!

Dan dari hasil penelitian : mengkonsumsi mie instant 4 hari berturut2 berpotensi kanker, mioma, kista atau amandel sebesar 75%

*jika anda tidak percaya, cobalah ambil kuah / bumbu mie instant lalu taburkan ke atas pot yang bebrisi Bunga/ tumbuhan.. Beberapa hari kemudian tumbuhan trsb akan layu/mati.Berlaku dalam ukuran (1:1)” (http://www.thecrowdvoice.com/post/hati-hati-bumbu-mie-instan-3885296.html)

Atau tentang kangkung dan lintah seperti yang ada di sini. Atau tentang larangan minum es saat haid karena bisa menyebabkan kista dan kanker di sana. Atau tentang pembalut sekali pakai yang katanya terbuat dari sampah kertas daur ulang yang katanya bisa menyebabkan kanker lalu di akhir berita heboh itu muncullah rekomendasi untuk menggunakan pembalut herbal atau pembalut kain. Dan masih banyak lagi berita–berita heboh seputar kesehatan yang menyebar luas di tengah masyarakat.

Uniknya, masyarakat seolah sangat mudah mempercayainya. Menjadi khawatirlah mereka. Lalu, dengan dilatarbelakangi kepedulian yang tinggi, ramai–ramailah mereka menyebarkan. Ditambah dengan kalimat penutup “sebarkan kepada orang–orang yang Anda sayangi” menjadi semakin cepatlah isu–isu tersebut menyebar luas.

Kepedulian mereka yang ditunjukkan dengan kerelaan membuang pulsa untuk menyebarkan berita tersebut layak kita hargai. Akan tetapi, kepedulian saja tidak cukup. Agar memberikan manfaat bagi masyarakat, kepedulian harus disertai dengan pemastian bahwa berita yang disebar itu memang benar. Tanpa pemastian ini, alih–alih memberikan manfaat malah membuat keresahan di tengah masyarakat.

Lalu bagaimana sikap yang seharusnya diambil ketika mendapatkan berita seperti itu? Sebelum memutuskan untuk meneruskannya, periksalah baik–baik berita tersebut. Berikut ada beberapa poin yang perlu diperiksa. Jika salah satu saja “bermasalah”, maka sebaiknya jangan percaya pada berita tersebut karena hampir dapat dipastikan itu berita bohong alias gossip, alias hoax (poin–poin berikut ini disusun bukan berdasarkan prioritas mana dulu yang harus diperiksa).

Beritanya Terlalu BOMBASTIS

Jika berita yang disampaikan terlalu bombastis, percayalah bahwa berita tersebut kemungkinan hanyalah hoax belaka. Seperti misalnya “Makan mie instant 4 hari berturut–turut berpotensi kanker, mioma, kista, atau amandel” atau “Ditemukan lintah di usus orang tersebut” atau yang semacamnya. Kenapa hoax?

Coba perhatikan, berita–berita tersebut bersumber dari mana? Biasanya dari blog gratisan milik pribadi atau kelompok yang belum dapat kita pastikan kredibilitasnya, atau akun FB lalu ramailah tersebar via BBM, WA, SMS, maupun imel. Bukan dari media massa besar yang bisa kita lacak kredibilitasnya. Coba kita pikirkan lebih dalam: Jika ada kasus heboh seperti itu, kira–kira siapa yang akan paling sigap dan mendapatkan akses menggali informasi yang lebih luas, wartawan atau selain wartawan? Siapa yang paling berkepentingan dan berkewajiban menyebarkannya, wartawan atau selain wartawan? Jelas wartawan karena memang tugasnya adalah mencari dan menyebarkan berita. Tidak mungkin wartawan–wartawan itu kompak melewatkan berita heboh yang “bernilai jual” tinggi itu.

Kemudian, khusus yang berkaitan dengan makanan, ingatlah bahwa kita memiliki badan khusus yang ditugaskan untuk mengawasi keamanan obat dan makanan yang beredar, BPOM. Jika kasus heboh itu nyata terjadi, maka pasti BPOM tidak akan tinggal diam. BPOM pasti akan segera menarik makana tersebut. Jangankan yang reaksinya begitu cepat dalam hitungan hari, bahkan yang reaksinya lama (hitungan tahun) seperti formalin, borak, nitrit saja BPOM begitu sigap menariknya dari peredaran. Sekarang mari kita lihat faktanya, apakah saat ini mie instant sudah ditarik dari peredaran? Atau apakah mungkin BPOM tidak mendengar berita heboh ini? Tidak mungkin.

Kondisi yang Diklaim Berpotensi Mendatangkan Bahaya Bukanlah Kondisi Normal

Sebelum kita panik dan heboh karena sesuatu yang dikatakan berbahaya, kita baca ulang lagi sesuatu tersebut mendatangkan bahaya pada kondisi seperti apa. Apakah kondisi tersebut mungkin terjadi pada kondisi normal atau pada kondisi ekstrim yang “mustahil” terjadi? Kalau ternyata kondisi yang menyebabkan bahaya itu “tidak mungkin” terjadi pada keadaan normal, ya abaikan saja. Toh tidak akan terjadi.

Masih mengambil contoh tentang bumbu mie instant di atas. “KARENA MSG (MONO SODIUM GLUTAMAT) BILA DIMASAK DI ATAS 120C AKAN BERPOTENSI MENJADI KARSINOGEN, PENCETUS KANKER.” Perhatikan kata “120 derajat Celsius”! Mie instant direbus di dalam minyak atau di dalam air? Berapa titik didih air? Yup, kurang lebih 100 derajat Celsius. Di atas suhu tersebut air akan menguap dan jika dibiarkan, panci akan gosong J. Mungkinkah kita bisa merebus dalam air dengan suhu di atas 120 derajat C? Mungkin tapi merebusnya dengan panci presto atau dengan autoclave. Kira–kira adakah orang yang merebus mie instant dengan panci presto atau sengaja pergi ke laboratorium untuk memasak mie instant dengan autoclave?

Peristiwa yang Diceritakan Tidak Logis

Jika berita heboh tersebut berisi cerita yang tidak logis bin tidak masuk akal, maka abaikan saja. Misalnya tentang lintah dan kangkung. Dikatakan ada lintah di batang kangkung yang kemudian tertelan dan hidup di usus lalu berkembang biak. Sekarang mari kita bayangkan tumbuhan kangkung yang masih hidup (tertanam di tanah). Mungkinkah ada lintah bisa masuk batang kangkung? Sampai di sini, kemungkinan bahwa yang dimakan adalah kangkung biji alias kangkung cabut tereliminasi.

Selanjutnya mari kita bayangkan kangkung potong. Satu–satunya kemungkinan lintah masuk setelah kangkung di panen, itu pun hanya melalui satu lubang yaitu di pangkalnya. Kalau pun ada lintah masuk lewat lubang itu, dia hanya bisa “jalan–jalan” sampai ruas pertama. Pernah masak kangkung? Batang paling tua (pangkal)nya ikut dimasak atau dibuang? Kalau saya yang masak, saya buang, keras, tidak enak. Berarti lintah akan ikut terbuang, tidak akan ikut termasak apalagi termakan.

O.K., mungkin ada yang ingin berhemat seluruh batang kangkung termasuk pangkalnya juga dimasak, supaya banyak. Kalaupun akhirnya lintah itu berhasil masuk mulut bersama kangkung yang dimakan, pertanyaan selanjutnya adalah, apakah ketika makan kangkung itu tidak dikunyah sehingga tidak merasakan adanya lintah dan lintah bisa masuk perut dalam keadaan hidup dan utuh? Masih seandainya. Seandainya pun lintah itu berhasil masuk lambung dalam keadaan hidup dan utuh (kemungkinan ini sangat keciiiiilll kalau tidak mau bilang mustahil), memangnya di lambung tidak terjadi proses pencernaan? Lambung itu memiliki asam lambung (HCl) yang dapat melumatkan hampir semua makanan yang masuk. Apakah iya lintah tersebut sesakti itu bisa lolos dari pengunyahan di mulut hingga pencernaa di lambung dengan selamat dan terus bisa hidup di usus?

Kemudian kita lihat foto lintah yang katanya baru saja dikeluarkan dari perut korban. Coba kita renungkan dokter atau perawat mana yang iseng kurang kerjaan dan ceroboh yang foto–foto keadaan pasien dalam keadaan operasi belum selesai? Di–publish pula!

Sekarang mari kita renungkan tentang larangan perempuan haid minum es karena akan mengakibatkan pembekuan darah di rahim yang bisa tumbuh jadi kista, miom, kanker, dsb. Tak perlu repot–repot mempelajari tentang miom, kista, kanker dulu untuk mengetahui keanehan berita ini (meskipun kalau belajar, itu lebih baik). Pernah makan es? Es batu sekalipun ketika es masuk mulut kemudian ditelan, es itu masih dalam bentuk balok padat atau sudah mencair? Suhunya kira–kira masih sedingin ketika di gelas atau sudah jauh lebih hangat? Kalau es tersebut tidak mampu mempertahankan suhu dan bentuknya sendiri, bagaimana mungkin bisa membekukan darah? Lagi pula, makanan apa pun yang kita makan itu jalurnya [secara simple] mulut à kerongkongan à lambung à usus à anus. Lalu bagaimana ceritanya itu es bisa membekukan darah di rahim? Lewat jalur mana?

Tidak Memenuhi Unsur 5W+1H

Untuk dapat dilacak kebenarannya, sebuah berita seharusnya memuat informasi tentang peristiwa apa yang terjadi (what), siapa yang mengalami (who), di mana terjadinya (where), kapan terjadinya (when), kenapa peristiwa tersebut bisa terjadi (why), dan bagaimana terjadinya (how). Nah, biasanya berita–berita heboh seperti itu tidak pernah menyebutkan siapa korbannya (yang ini bisa “dimaafkan”, mungkin untuk menjaga etika), di mana dan kapan kejadiannya. Tanpa adanya informasi tentang di mana dan kapan kejadiannya, kita tidak bisa mengecek apakah peristiwa tersebut benar–benar pernah terjadi atau hanya fiktif belaka. Lha, kalau informasi kesehatan yang cetar membahana begitu koq tidak menyebutkan tempat dan waktu kejadian, ini mau menyampaikan info atau mau ngegossip?

Mengklaim Berdasarkan Penelitian dan Pernyataan Pakar tapi Tidak Jelas

Untuk meyakinkan pembaca, biasanya berita–berita seperti itu mengklaim berdasarkan penelitian tapi tidak pernah dijelaskan penelitiannya siapa, kapan, dan di mana penelitian itu dilakukan. Apalagi menyertakan link sumbernya (jurnal misalnya). Jika ada berita yang seperti ini, patut kita curigai jangan–jangan penelitian itu hanya klaim semata.

Selain mengklaim berdasarkan penelitian yang tidak disebutkan dengan jelas, usaha meyakinkan pembaca juga dilakukan dengan mengklaim bahwa apa yang dikatakan itu berdasarkan pernyataan pakar yang memiliki gelar sangat panjang. Kalau ada waktu, ada baiknya kita lacak nama pakar yang diklaim itu. Pakar tersebut benar–benar ada atau tokoh fiktif belaka? Di era kebebasan menyebarkan informasi seperti sekarang siapa pun bisa mengklaim dirinya atau pun orang lain memiliki gelar apa pun. Saya juga bisa mengklaim diri saya sebagai Prof. Dr. Khafidoh Kurniasih., S.Farm., M.Pharm., Ph.D., Apt. Dengan gelar sepanjang itu, umumnya orang akan silau dan cenderung menaruh kepercayaan lebih terhadap apa pun yang dikatakan si pakar. Nah, kita bisa melacak keberadaan tokoh ini dengan iseng–iseng mengetikkan nama lengkap dengan gelarnya di mesin pencari. Pakar terkenal biasanya bisa dengan mudah kita temukan CV–nya atau setidaknya tulisan–tulisannya di internet. Kalau ternyata nama pakar tersebut hanya muncul pada artikel–artikel sejenis dengan berita heboh tersebut, patutlah kita curiga bahwa dia hanyalah tokoh fiktif imajinatif.

Begitulah kira–kira beberapa hal perlu kita teliti untuk memastikan sebuah berita itu layak dipercaya atau tidak. Semoga kita bisa bersikap teliti dan berfikir jernih ketika menerima informasi apa pun. Semoga ALLAH selalu membimbing kita sehingga kita terhindar dari perbuatan menyebarkan berita bohong yang berpotensi menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.

Yogyakarta, 23 Dzul Qa’dah 1434 H

Sunday, September 29, 2013

4.35 p.m.

Sudah lama sebenarnya ingin menuliskan ini tapi baru sempat… *sok sibuk*

Haafizhah Kurniasih

One thought on “Berita Heboh!!! Awas, Kesehatan Anda dalam Ancaman!!!

  1. Assalamualaikum.. Salam kenal mba fifi.. Senang sekali bisa menemukan blog ini dan membaca artikel2nya. Jd nambah banyak ilmu baru.. Sy add fb nya ya, semoga bisa berteman^_^

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s