<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Haafizhah</title>
	<atom:link href="http://coretanfifi.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://coretanfifi.wordpress.com</link>
	<description>...dengan berbagi hidup menjadi lebih bermakna...</description>
	<lastBuildDate>Mon, 16 Jan 2012 22:54:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='coretanfifi.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/f7491964ddfde875724ea11008acf8b2?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Haafizhah</title>
		<link>http://coretanfifi.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://coretanfifi.wordpress.com/osd.xml" title="Haafizhah" />
	<atom:link rel='hub' href='http://coretanfifi.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Antara Herbal dan Islam</title>
		<link>http://coretanfifi.wordpress.com/2012/01/17/antara-herbal-dan-islam/</link>
		<comments>http://coretanfifi.wordpress.com/2012/01/17/antara-herbal-dan-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jan 2012 22:54:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fifi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://coretanfifi.wordpress.com/?p=494</guid>
		<description><![CDATA[Dalam acara “Open House” sebuah partai da’wah berideologi Islam, pembicara mengatakan (kurang lebih): “Sebagian orang mengatakan ‘Tidak perlulah menerapkan syari’ah Islam secara utuh dalam bingkai Khilafah. Yang penting kan esensinya!’. Kepada mereka yang berkata demikian, katakan saja ‘Kalau begitu, Anda tidak perlu makan jeruk ya… Cukup Anda makan essence jeruk saja!’ Apakah sama memakan essence [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=coretanfifi.wordpress.com&amp;blog=2895410&amp;post=494&amp;subd=coretanfifi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam acara “Open House” sebuah partai da’wah berideologi Islam, pembicara mengatakan (kurang lebih): “S<em>ebagian orang mengatakan ‘</em><em>Tidak perlulah menerapkan syari’ah Islam secara utuh dalam bingkai Khilafah. Yang penting kan esensinya!</em>’. Kepada mereka yang berkata demikian, katakan saja ‘K<em>alau begitu, Anda tidak perlu makan jeruk ya… <span id="more-494"></span>Cukup Anda makan essence jeruk saja!</em>’ Apakah sama memakan essence jeruk dengan memakan jeruk utuh?” Mendengar urain pembicara tersebut, pikiran saya sebagai mahasiswi Farmasi di sebuah Universitas yang sangat concern untuk mengembangkan bahan alam (herbal), langsung melayang mengingat–ingat apa yang saya dapatkan dari Kuliah KPA (Kimia Produk Alam), AKTO (Analisis Kimia Tanaman Obat), dan Teknologi Fitomarmasetik. Lalu saya pun teringat pada kunyit.<br />
Siapa yang tidak mengenal kunyit? Kunyit sangat terkenal di masyarakat Indonesia, apalagi bagi perempuan yang sering mengalami nyeri haidh. Pasti hafal dengan tanaman satu ini. Ya, kunyit asam merupakan salah satu obat herbal tradisional yang cukup ampuh untuk meredakan nyeri haidh maupun nyeri yang lain. Sebenarnya zat apa sih yang dikandung oleh kunyit dan bertangungjawab atas aksi kunyit asam meredakan nyeri? Ternyata zat tersebut bernama kurkumin, atau dalam tata nama kimia dikenal dengan nama [1,7-bis(4-hydroxy-3-methoxyphenyl)-1,6-heptadiene-3,5-dione].<br />
Kurkumin adalah kandungan utama kunyit dan tanaman empon–empon lainnya (seperti temu ireng, kencur, dll). Aktivitas farmakologi utamanya adalah sebagai analgetik (pereda nyeri) dan antiinflamasi (anti radang). Dialah tersangka utama yang mengakibatkan rebusan kunyit asam atau seduhan ekstrak kunyit asam dapat meredakan nyeri haidh (Ga usah dibahas ya apa perbedaan antara rebusan dan seduhan? Urusan bisa panjang nanti… Hehehe… ). Jumlah kurkumin dalam kunyit sebenarnya bukan mayoritas, bahkan bisa dibilang relatif sangat kecil jika dibandingkan dengan jumlah kandungan senyawa lain yang sama sekali tidak memiliki efek fermakologis sebagai analgetik alias zat–zat yang  hanya sebagai “penyerta” (kami menyebutnya sebagai zat ballast). </p>
<p>Meskipun telah diketahui bahwa yang bertanggung jawab atas aksi analgetik itu hanyalah kurkumin, kenapa kita tidak pernah menjumpai sediaan obat yang hanya mengandung kurkumin saja? Bahkan perusahan besar seperti Sido Muncul pun tidak berupaya untuk membuat sediaan obat kurkumin, dia malah membuat “Kunyit Asam Sido Muncul” yang berisi ektrak kunyit dan asam, bukan kurkumin! Apakah dia tidak tahu bahwa zat–zat lain dalam kunyit dan asam sama sekali tidak memiliki aktivitas sebagai analgetik? Tentu BUKAN karena itu! </p>
<p>Mereka tidak pernah membuat sediaan obat kurkumin karena tidak akan bisa diberikan terpisah dari zat–zat penyertanya! Memang benar kurkumin–lah yang memiliki aktivitas. Akan tetapi, untuk dapat memberikan efek, tentu dia harus diabsorbsi ke dalam darah. Untuk dapat diabsorbsi, dia harus larut. Jika tidak larut, mustahil kurkumin akan terabsorbsi dan tentu saja mustahil pula dapat memberikan efek analgetika (pereda nyeri). Nah, sayangnya kelarutan kurkumin sangat rendah jika tanpa disertai oleh zat–zat penyerta yang dianggap “tidak berguna” dalam terapi itu! Kurkumin murni hanya akan larut pada pH yang sangat rendah (sangat asam). Bahkan, nano partikel kurkumin pun (FYI: senyawa yang berukuran nano biasanya akan mudah larut dan kelarutannya jauh lebih tinggi dari pada senyawa yang sama jika tidak dalam ukuran nano) hanya bisa larut pada pH sekitar 3 (atau bahkan lebih rendah lagi). Bayangkan! Mungkinkah kita meminum obat dengan pH 3? Apa yang akan terjadi dengan lambung kita jika kita memaksakan diri minum obat dengan pH 3?</p>
<p>Hal yang sangat berbeda terjadi jika kurkumin diberikan lengkap beserta zat penyerta yang “tidak berguna” itu. Kurkumin beserta zat pelengkap yang “tidak berguna” itu dapat larut pada pH yang cukup sedikit asam saja dan itu tidak akan membahayakan lambung, justru member efek segar. Fenomena inilah yang dipahami oleh nenek moyang kita, yang akhirnya mengajari kita untuk meminum kunyit asam jika nyeri haidh menyerang. Nenek moyang kita mengajari kita untuk mengkonsumsi kunyit satu paket lengkap dengan zat penyertanya yang “tidak berguna” itu. </p>
<p>Kembali teringat dengan kata–kata dosen saya. Beliau mengatakan bahwa itulah herbal. Kita dapat mengetahui senyawa apa yang bertanggung jawab atas aksi farmakologisnya. Tetapi sering kali, kita tidak akan mungkin mengisolasi senyawa tersebut dan mengkonsumsinya tanpa disertai zat–zat penyertanya yang tidak memiliki efek farmakologis apa pun. Karena zat–zat penyerta itu memang tidak berguna secara farmakologis akan tetapi mereka memilki peran yang besar dalam menimbulkan efek farmakologis. Peran itu dapat berupa membantu kelarutan (seperti pada kasus kurkumin tadi), membantu proses absorbsi, meningkatkan efek dengan kerja sinergis, dan sebagainya. Maka, herbal harus diberikan satu paket utuh, bukan hanya dengan memberikan esensinya (zat aktifnya) saja.</p>
<p>Begitu juga dengan Islam. Islam harus diambil secara utuh, satu paket. Bukan hanya diambil esensinya saja. Sebagian orang menganggap esensi diterapkannya Islam adalah agar tercipta keadilan dan kesejahteraan sehingga meskipun bukan dalam sistem Islam 100% asalkan bisa tercipta keadilan dan kesejahteraan, tidak menjadi masalah. Izinkan saya untuk sedikit menganalogikan antara Islam dan herbal. Meski saya sadar, analogi ini mungkin tidak sepenuhnya tepat. </p>
<p>Anggaplah saya setuju (meski sebenarnya tidak) bahwa terciptanya kehidupan yang adil dan sejahtera adalah efek yang diinginkan dari diterapkannya Islam. Mari kita cari ajaran apa dari Islam yang diduga kuat bertanggung jawab atas efek “kehidupan yang adil dan sejahtera” sebagaimana kita mencari zat apa yang bertanggung jawab atas efek analgetik dan antiinflamasi pada kunyit. Orang ekonomi mungkin akan menyimpulkan bahwa yang bertanggung jawab adalah ajaran tentang larangan riba dan ajaran zakat. Mereka berpendapat bahwa dengan dihapuskannya riba, kesejahteraan akan dicapai. Dengan mendorong pelaksanaan zakat, keadilan (setidaknya dalam aspek ekonomi) akan tercapai. Lalu, sebagian orang berfikir, “<em>OK, karena esensi dari Islam adalah agar tercipta kehidupan yang adil dan sejahtera. Dan ternyata ajaran yang akan membawa kita pada kehidupan yang adil dan sejahtera itu adalah larangan riba dan ajaran zakat. Maka, mari kita focus pada penghapusan riba dan mendorong masyarakat untuk membayar zakat! Tidak perlu memikirkan sistem seperti apa yang digunakan para penguasa kita untuk memimpin pemerintahannya!</em>”</p>
<p>Lalu, sebagian dari mereka pun dengan sepenuh tenaga dan insya ALLAH hati yang ikhlas berupaya untuk menghapuskan riba di tengah sistem yang saat ini ada. Berbagai lembaga keuangan “syari’ah” pun mereka dirikan. Ada bank syari’ah, BMT, dan lain sebagianya. Mungkin mereka lupa, tanpa mengubah sistem ekonomi yang diterapkan oleh negara, riba tidak akan pernah terhapus. Bukankah saat ini palaku riba terbesar adalah negara dengan sistem ekonominy yang Kapitalistik? Bank–bank “syari’ah” boleh saja menjamur tetapi bank central (baca: Bank Indonesia) tetap saja bank ribawi… Dan kalaupun sistem ekonomi itu diganti, misalnya saja dicangkokkan sistem ekonomi Islam ke dalam tubuh sistem Kapitalisme, maka sistem ekonomi Islam dijamin tidak akan pernah bisa tumbuh dengan baik, apalagi mensejahterakan tanpa didukung sistem–sistem Islam yang lain, misalnya sistem politik, hukum, pemerintahan, pendidikan, dll.</p>
<p>Sebagian yang lain sangat berkonsentrasi untuk menggalakkan zakat dan juga shadaqah. Lagi–lagi, tanpa melirik upaya perubahan dari sistem–sistem yang lain. Dari hitung–hitungan di atas kertas, mereka memprediksi jika semua Muslim di Indonesia sadar zakat, maka zakat itu cukup untuk mensejahterakan Indonesia. Maka mereka pun sangat bersemangat. Maraklah gerakan zakat, lembaga penyalur zakat pun bermunculan. Mungkin mereka lupa, seberapa besar kekuatan yang mereka miliki untuk memaksa seluruh Muslim di Indonesia membayar zakat tanpa adanya payung hukum tentang zakat? Sebagian mereka yang ingat, lalu mencoba mengupayakan agar kewajiban membayar zakat dibuatkan semacam undang–undang atau minimalnya Keppres. Tapi mereka lupa lagi bahwa asas negara ini adalah sekuler (meski pun negara ini malu–malu untuk mengakuinya). Ingat masalah penghapusan “7 kata dalam piagam Jakarta”? Bagaimana bisa mencantumkan kewajiban zakat dalam undang–undang? Mungkin mereka juga lupa kalaupun mereka berhasil membuat undang–undang tentang zakat, mungkinkah undang–undang itu ditaati oleh segenap masyarakat tanpa didasari penanaman aqidah yang kuat bahwa zakat merupakan kewajiban yang diberikan ALLAH kepadanya, dan bahwa dia harus memenuhinya sebagai bukti ketundukannya pada Tuhannya? Bukankah sudah menjadi rahasia umum bahwa rakyat negeri ini (bahkan penguasanya) sering melanggar hukum? Seolah–olah hukum itu dibuat untuk dilanggar. Dari sini saja tampak bahwa “sekadar” untuk menarik zakat saja butuh perubahan dalam banyak hal. Di antaranya perubahan sistem pendidikan agar berlandaskan aqidah Islam, sehingga ketika disampaikan suatu kewajiban dari ALLAH, maka tidak akan ada niatan untuk mengingkarinya, yang ada hanya patuh untuk melaksanakan. Butuh perubahan sistem hukum, bahkan butuh mengubah dasar negara yang sekuler ini. Hehehe…</p>
<p>Dari sini saya menemukan kemiripan antara Islam dan herbal. Keduanya sama–sama harus diberikan utuh, satu paket. Tidak bisa hanya diberikan esensinya saja jika ingin memberikan efek yang diinginkan. Jika kita menginginkan kesejahteraan, maka terapkanlah Islam secara utuh, kaaffah, bukan hanya sistem ekonominya saja, atau sistem pendidikannya saja. Apalagi jika kita menginginkan ridha ALLAH. Jelas, kita harus menerapkan Islam secar utuh, satu paket!</p>
<p>Terjebak Hujan di Malam Hari<br />
Baitul Muta’alim Al–Quran, Yogyakarta, 23 Safar 1433H<br />
Monday, January 16, 2012<br />
8.57 p.m.</p>
<p>Haafizhah Kurniasih</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/coretanfifi.wordpress.com/494/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/coretanfifi.wordpress.com/494/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/coretanfifi.wordpress.com/494/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/coretanfifi.wordpress.com/494/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/coretanfifi.wordpress.com/494/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/coretanfifi.wordpress.com/494/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/coretanfifi.wordpress.com/494/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/coretanfifi.wordpress.com/494/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/coretanfifi.wordpress.com/494/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/coretanfifi.wordpress.com/494/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/coretanfifi.wordpress.com/494/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/coretanfifi.wordpress.com/494/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/coretanfifi.wordpress.com/494/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/coretanfifi.wordpress.com/494/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=coretanfifi.wordpress.com&amp;blog=2895410&amp;post=494&amp;subd=coretanfifi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://coretanfifi.wordpress.com/2012/01/17/antara-herbal-dan-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ede271432351bc4005e771958e3a0675?s=96&#38;d=retro&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Fifi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Selamatkan Revolusi Timur Tengah dari Tangan Barat, Si Pembajak!</title>
		<link>http://coretanfifi.wordpress.com/2012/01/09/selamatkan-revolusi-timur-tengah-dari-tangan-barat-si-pembajak/</link>
		<comments>http://coretanfifi.wordpress.com/2012/01/09/selamatkan-revolusi-timur-tengah-dari-tangan-barat-si-pembajak/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Jan 2012 04:07:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fifi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[revolusi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://coretanfifi.wordpress.com/?p=491</guid>
		<description><![CDATA[Sejak awal tahun 2011 lalu, kawasan Timur Tengah memanas. Bahkan, deisebut–sebut tidak ada kawan lain di dunia yang pernah bergejolak sepanas gejolak Timur Tengah yang dimulai awal tahun lalu dan masih berlangsung hingga kini. Seluruh dunia pun menatap dengan penuh perhatian, kecemasan, dan perhatian ke arah Timur Tengah. Gejolak ini ini diyakini akan membawa angin [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=coretanfifi.wordpress.com&amp;blog=2895410&amp;post=491&amp;subd=coretanfifi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sejak awal tahun 2011 lalu, kawasan Timur Tengah memanas. Bahkan, deisebut–sebut tidak ada kawan lain di dunia yang pernah bergejolak sepanas gejolak Timur Tengah yang dimulai awal tahun lalu dan masih berlangsung hingga kini. Seluruh dunia pun menatap dengan penuh perhatian, kecemasan, dan perhatian ke arah Timur Tengah. Gejolak ini ini diyakini akan membawa angin perubahan yang cukup kencang bagi dunia. Apa yang sebenarnya terjadi di Timur Tengah? Dan ke arah mana angin perubahan itu bertiup? <span id="more-491"></span><br />
Pemicu Gelombang “Revolusi”<br />
Gelombang besar itu dipicu oleh aksi bakar diri seorang pedagang sayur bernama Mohammed Bouazizi sesaat setelah dirinya dilarang berdagang oleh aparat di Tunisia. Aksi ini menyulut kemarahan warga yang memang sudah lama merasakan kezhaliman penguasa. Rakyat yang telah muak menyaksikan arogansi serta ketidakpedulian penguasa pun merespon dengan tuntutan kesejahteraan dan keadilan. Penguasa Tunisia, Ben Ali pun tumbang.<br />
Peristiwa ini menginspirasi aksi serupa di berbagai negara Timur Tengah lainnya yang juga telah muak dengan sistem pemerintahan dictator dan sekuleristik yang diterapkan selama ini. Berawal dari Tunisia, gelombang ini menyeret Mesir yang akhirnya melengserkan Hosni Mubarak. Dilanjutkan dengan Suriah dan Libya. Gelombang di Libya bahkan menewaskan Muammar Kaddafi dalam keadaan hina. Penguasa Suriah dan Yaman kini tengah menunggu giliran untuk digulingkan paksa.<br />
Dari sini terlihat bahwa gelombang tuntutan perubahan yang terjadi di Timur Tengah dilatarbelakangi oleh dorongan emosional karena perasaan tertindas. Gelombang yang terjadi ini belum dilandasi oleh kesadaran aqidah yang benar. Karena berlandaskan dorongan emosional, maka gelombang ini mudah ditumpangi oleh siapa pun. Dan dalam hal ini Barat adalah pihak yang paling berpeluang untuk menunggangi bahkan membelokkan arah gelombang tuntutan ini. Karena Baratlah satu–satunya pihak yang mengemban ideologi dalam skala negara yang kuat.<br />
Ancaman Pembajakan Revolusi oleh Barat<br />
Barat membajak gelombang revolusi timur tengah dengan berbagai jalan, antara lain: memanfaatkan politisi boneka, utang, intervensi militer, propaganda Islam moderat, dan perang opini di media masa.<br />
a.	Memanfaatkan Politisi Boneka<br />
Menempatkan politisi boneka merupakan salah satu cara yang sering dimainkan oleha Barat untuk mengendalikan negara–negara di dunia Islam. Dalam “revolusi” Timur Tengah ini pun Barat masih menggunakan permainan ini. Tengoklah para penguasa negeri–negeri Muslim saat ini, bisa dikatakan semua penguasa negeri–negeri Muslim saat ini adalah boneka Barat, baik dari kubu Eropa maupun kubu Amerika. Bahkan para mantan penguasa yang telah digulingkan dalam “revolusi” ini pun sejatinya adalah para boneka mereka. Setelah boneka lama ditimbangkan, mereka pun telah bersiap memasang boneka baru. Lihatlah pengganti Ben Ali: Moncef Marzouki yang selama ini menjalankan peran politiknya di Prancis . Tanyakanlah juga siapa Jenderal Sulaiman yang de facto menjadi pemimpin sementara Mesir pasca turunnya Mubarak?! Dia adalah tokoh yang sangat dekat dengan Amerika. </p>
<p>b.	Jerat Utang atas nama Bantuan Keuangan<br />
Barat dengan instrument lembaga keuangan dunianya selalu menggunakan tawaran manis “bantuan keuangan untuk pembangunan” guna menjerat negara–negara dunia Islam hingga negara–negara tersebut kehilangan independensinya dan tunduk pada pada arahan “pembangunan” dari Barat.<br />
Pasca “revolusi”, Mesir dan Tunisia tengah masuk dalam jerat hutang ini dengan disetujuinya bantuan dana lebih dari 20M US $ dari Negara G–8 dengan berbagai syarat yang mematikan. Jerat hutang ini tentu saja akan membuat Tunisia dan Mesir tetap berada dalam dominasi ekonomi kapitalis ribawi. IMF pun tak ketinggalan untuk memperkuat jeratan hutang tersebut dengan memberikan utang 3M US $ berbunga 3% untuk menutup defisit APBN dan defisit perdagangan luar negeri Mesir .</p>
<p>c.	Intervensi Militer<br />
Intervensi Militer oleh Barat sangat jelas terlihat dalam “revolusi” Libia. Beberapa negara Eropa yang tergabung dalam NATO terlibat langsung dalam sandiwara mendukung perjuangan ummat menggulingkan Kaddafi. NATO yang didominasi oleh Prancis mengerahkan tentara bersenjata untuk membantu pihak oposisi menggulingkan Kaddafi. Dalam waktu beberapa bulan, tentara oposisi Libya yang didukung NATO berhasil memenangkan pertarungan dengan tewasnya Muammar Qhadafi pada Jum’at (21/10) lalu .<br />
Bantuan Barat dalam penggulingan Kaddafi sejatinya hanyalah untuk mewujudkan keipentingan Barat, bukan untuk membantu rakyat Libya meraih apa yang diinginkannya. Kepentingan Barat menggulingkan Kaddafi setidaknya ada dua, yakni membalas dendam kepada Kaddafi yang selama ini dianggap belum cukup membayar ganti rugi bagi korban peledakan pesawat Lockerby serta untuk menguasai minyak Libya yang sangat berlimpah2.<br />
d.	Propaganda Islam Moderat<br />
Barat menyadari bahwa perasaan keislaman ummat Islam masih terlalu tinggi untuk ditentang secara terang–terangan atau dengan ide–ide liberal yang vulgar. Tetapi Barat juga tidak rela membiarkan kaum Muslimin memegang Islamnya. Maka, Barat pun memformulasikan strategi untuk mengelabui ummat sehingga ummat merasa masih memegang Islam tetapi sejatinya apa yang ummat pegang bukanlah Islam. Untuk tujuan ini, Barat mempromosikan Islam moderat dan menyokong partai–partai Islam moderat untuk mendapatkan dukungan ummat. Lihatlah partai–partai berlabel Islam yang ada di berbagai negara Muslim saat ini. Bagaimanakah hubungan meraka dengan Barat? Dalam konteks “revolusi” Timur Tengah, lihatlah siapa pemenang pemilu Mesir? Pemenang pemilu Mesir diyakini oleh banyak pengamat akan tetap melakukan kerja sama dengan kelompok–kelompok sekuler untuk meredam kekhawatiran di dalam negeri dan negara–negara Barat tentang bangkitnya Islam di Mesir .<br />
e.	Perang Opini di Media Massa<br />
Barat dengan penguasaan modalnya yang luar biasa besar sanggup mengendalikan arus informasi yang beredar di media massa. Media massa yang ada seperti televisi, warta digital, Koran, radio, dsb tidak selalu menayangkan realitas apa yang sebenarnya terjadi secara objektif tetapi mereka selalu menanyangkan apa yang mereka inginkan. Sebagai contoh, selama ini media selalu mewartakan bahwa para pengunjuk rasa dalam gelombang “revolusi” itu menuntut demokratisasi tanpa pernah ada satu pun yang media massa (kecuali media massa milik ormas atau partai Islam) yang mewartakan adanya tuntutan penerapan syari’ah Islam. Padahal faktanya, tuntutan tersebut selalu ada dalam setiap arus revolusi Timur Tengah ini. Hal ini seperti yang terjadi pada Jumat 18 November 2011 di Lapangan Tahrir ketika ribuan demonsran mengibarkan arroya sebagai symbol keinginan mereka untuk hidup di bawah naungan Islam . Demikian juga dengan berbagai seruan kepada Islam yang diserukan Tunisia, Suriah, dan lainnya .<br />
Adanya pembajakan arah “revolusi” Timur Tengah bukan hanya sebatas prasangka buruk kaum Muslimin terhadap Barat saja, melainkan juga pengakuan Barat sendiri. Mantan MenLu AS era Goerge W. Bush; Condoleezza Rice memperkenalkan sebuah istilah “Timur Tengah Baru” pada tahun 2006. Program “Timur Tengah Baru” ini bertujuan untuk melemahkan rezim berkuasa dan dan mengantarkan kelompok oposisi ke tampuk kepemimpian . Tujuan utama dari proyek ini adalah menciptakan Timur Tengah yang baru, yang tunduk dan patuh pada Amerika dengan kedok penyebaran demokrasi di wilayah Timur Tengah .<br />
Akibat pembajakan ini, maka wajar jika hingga saat ini—setelah hampir satu tahun gelombang “revolusi” berjalan—ummat belum juga mendapatkan apa yang mereka tuntut. Yang terjadi hanyalah pergantian kepemimpinan tanpa disertai perubahan yang berarti dalam sistem pemerintahannya. Tentu saja hal ini tidak akan membawa banyak perubahan dalam kehidupan ummat. Besar kemungkinan jika hal ini dibiarkan begitu saja, maka yang akan terjadi di Tunisia, Mesir, Libya, dan lain – lain ttidak akan jauh berbeda dengan apa yang pernah terjadi di Indonesia pasca reformasi 1998 yang menumbangkan rezim Soeharto dan membawa Indonesia ke dalam keterpurkan yang semakin memprihatinkan saat ini.<br />
Selamatkan Revolusi!<br />
Jika ummat menginginkan perubahan yang akan membawa ke keadaan yang lebih baik, maka perubahan yang dilakukan harus memenuhi 2 (dua unsur); pertama menjadikan Islam secara utuh sebagai panduan ideologis dalam kehidupan bernegara, dan yang kedua menolak segala bentuk intervensi asing dalam kehidupan bernegara2. Selama ummat tidak memenuhi kedua unsur ini dalam perjuangan “revolusi”–nya, maka ummat tidak akan mendapatkan apa–apa dari setiap tetes darah yang terkucur dan dari setiap nyawa yang terkorbankan. Akan tetapi, ummat tidak akan pernah dapat memenuhi kedua unsur tersebut sebelum mereka memahami Islam secara utuh sebagai sebuah agama sekaligus ideologi.<br />
Maka, inilah tugas kita untuk memahamkan ummat tentang ideologi Islam yang dengannya ummat akan menjadi semakin cerdas dalam melihat setiap peristiwa terjadi dan tidak mudah dikelabui apalagi dikendalikan oleh Barat yang sangat memusuhi Islam. Menyadarkan ummat di segala lini karena revolusi itu digerakkan oleh semua kalangan. Menyadarkan ummat di setiap wilayah karena Islam adalah untuk seluruh dunia…</p>
<p>Yogyakarta, 11 Safar 1433 H<br />
Thursday, January 05, 2012<br />
9.51 p.m.</p>
<p>Haafizhah Kurniasih</p>
<p>====<br />
Disampaiakan dalam &#8220;Diskusi Progresif&#8221; Eksakta UGM</p>
<p> 1. http://waspada.co.id/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=169154:-tokoh-oposisi-duduki-kursi-ben-ali&amp;catid=16:internasional&amp;Itemid=29<br />
 2. Al –Wa’ie No. 136 Tahun XII, halaman 9–12<br />
 3. http://sacafirmansyah.wordpress.com/2011/10/22/revolusi-timur-tengah-dan-kepentingan-dunia-barat/<br />
 4. http://www.tempo.co/read/news/2012/01/04/115375246/Pemilu-Mesir-Ikhwanul-Muslimin-Tetap-Unggul<br />
 5. http://syabab.com/akhbar/ummah/2147-panji-panji-khilafah-berkibar-di-pusat-revolusi-mesir-tahrir-square-perubahan-menuju-khilafah-semakin-dekat-f.html<br />
 6. Al – Wa’ie No. 129 Tahun XI, Mei 2011 halaman 26–26<br />
 7. http://www.tribunnews.com/2011/02/27/revolusi-timur-tengah-didalangi-amerika<br />
 8. http://www.suaramedia.com/berita-dunia/timur-tengah/39350-kerusuhan-bentukan-as-untuk-ciptakan-qtimur-tengah-baruq.html</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/coretanfifi.wordpress.com/491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/coretanfifi.wordpress.com/491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/coretanfifi.wordpress.com/491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/coretanfifi.wordpress.com/491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/coretanfifi.wordpress.com/491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/coretanfifi.wordpress.com/491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/coretanfifi.wordpress.com/491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/coretanfifi.wordpress.com/491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/coretanfifi.wordpress.com/491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/coretanfifi.wordpress.com/491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/coretanfifi.wordpress.com/491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/coretanfifi.wordpress.com/491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/coretanfifi.wordpress.com/491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/coretanfifi.wordpress.com/491/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=coretanfifi.wordpress.com&amp;blog=2895410&amp;post=491&amp;subd=coretanfifi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://coretanfifi.wordpress.com/2012/01/09/selamatkan-revolusi-timur-tengah-dari-tangan-barat-si-pembajak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ede271432351bc4005e771958e3a0675?s=96&#38;d=retro&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Fifi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nasyid dan Jihad</title>
		<link>http://coretanfifi.wordpress.com/2011/12/21/nasyid-dan-jihad/</link>
		<comments>http://coretanfifi.wordpress.com/2011/12/21/nasyid-dan-jihad/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Dec 2011 07:48:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fifi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://coretanfifi.wordpress.com/?p=488</guid>
		<description><![CDATA[[sebuah kisah fiktif…] Suatu hari di sebuah kamar kos… Tiga orang Muslimah sibuk dengan aktivitasnya masing–masing. Dua orang di antaranya tampak sibuk di hadapan dua buah laptop, sedangkan satu orang sisanya tampak rebahan sambil melakukan aktivitas yang lain. Dari salah satu laptop terlantunlah lagu–lagu (mereka menyebutnya nasyid) pembakar semangat. Ada lagu–lagunya IzIs (Izzatul Islam), ada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=coretanfifi.wordpress.com&amp;blog=2895410&amp;post=488&amp;subd=coretanfifi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>[sebuah kisah fiktif…]<br />
Suatu hari di sebuah kamar kos…<br />
Tiga orang Muslimah sibuk dengan aktivitasnya masing–masing. Dua orang di antaranya tampak sibuk di hadapan dua buah laptop, sedangkan satu orang sisanya tampak rebahan sambil melakukan aktivitas yang lain. Dari salah satu laptop terlantunlah lagu–lagu (mereka menyebutnya nasyid) pembakar semangat. Ada lagu–lagunya IzIs (Izzatul Islam), ada lagu–lagunya Shoutul Khilafah, dll. Semuanya lagu tentang perjuangan yang membakar semangat. Mereka pun asyik menirukan lagu yang terlantun… <span id="more-488"></span></p>
<p>Hayya Hayya Ya Rijal Hayya Bil Jihaad…<br />
Hayya Hayya Ya Rijal, Hayya Bil Kifah…</p>
<p>Tiba – tiba, salah seorang di antara mereka berkomentar, yang akhirnya berlangsunglah percakapan berikut:<br />
Nia: Nyanyinya aja hayya bil jihad! Tapi aktivitasnya malah ngegame… Kagak nyambung, Jeng…</p>
<p>Fitri: Lho, kan nyanyinya “hayya hayya ya Rijal, hayya bil jihad!”, yang diseru kan rijal (laki–laki –red), saya kan nisa’ (perempuan—red)! Tidak masuk dalam golongan yang diseru tho?! [sambil asyik melanjutkan permainan mencocokkan gambar di depan laptopnya, bahkan dia berkomentar tanpa sedikit pun berpaling dari laptop].</p>
<p>Nia: Iya, yang diseru jihad oleh Izis emang rijal tapi bukan berarti nisa’ bisa berlepas diri dari aktiitas jihad! Semua elemen kaum Muslim dan Muslimah harus turut menyukseskan jihad… Kita harus menyiapkan suami, putra–putra, ayah, dan saudara– saudara kita agar dapat maksimal dalam berjihad. Kita harus mengokohkan keyakinan suami, putra– putra, ayah, dan saudara– saudara kita tentang kemulian jihad dan mati syahid, serta meyakinkan mereka bahwa keadaan rumah beserta penghuninya akan baik– baik saja ketika ditinggal ke medan jihad. Jangan sampai performance mereka dalam berjihad tidak maksimal hanya gara–gara mengkhawatirkan keadaan kita.</p>
<p>Azka: Ini kami juga sedang berjihad lho…! [sambil asyik memainkan Feeding Frenzy di laptopnya]. Bersungguh–sungguh memenangkan game ini! Jihad artinya bersungguh–sungguh tho? Berarti kami bisa dunk dikatakan sedang berjihad kan kami sedang bersungguh–sungguh?! Hahaha….</p>
<p>Nia: Hussh!! Sembarangan!!!</p>
<p>Fitri: Jika jihad diartikan sebagai “bersungguh–sungguh” seperti yang banyak dipahami dan dida’wahkan oleh sebagian besar saudara–saudara kita, maka… berarti itu si Inul Daratista bisa disebut sebagai seorang Mujahidah! Dia pasti bersungguh–sungguh hingga dia bisa mencapai posisi yang dia raih sekarang. Tidak mudah menciptakan trend goyang ngebor dan menjadi pedangdut tenar seperti itu. Semua itu saya yakin tidak akan bisa diraih tanpa kesungguhan berusaha. Lalu, si Ayu Ting Ting juga Mujahidah. Dia itu sangat bersungguh–sungguh dalam berkarier di dunia dangdut! Bayangin aja lagunya yang sekarang tenar “Alamat Palsu” itu sudah dia release sejak tahun 2007 tapi baru tenar akhir 2011! Apa itu namanya ga bersungguh–sungguh? Bersungguh–sungguh, penuh kesabaran, dan pantang penyerah! Berarti dia berjihad! Terus, itu Nunun Nurbaeti juga bisa disebut Mujahidah karena dia bersungguh– sungguh sembunyi dari aparat kepolisian dan KPK, sampe kabur ke luar negeri berbulan–bulan segala! Semua itu mustahil jika tidak dilakukan dengan sungguh–sungguh! Dia bersungguh–sungguh, berarti dia berjihad! Nazaruddin juga Mujahid berarti. Dia kan bersungguh–sungguh “menipu” negara dan memperkaya dirinya sendiri dengan uang negara! Tidak mudah menjadi milyarder (atau bahkan mungkin trilyuner) pada usia semuda itu. Dia pasti melakukannya denga penuh kesungguhan, berarti dia berjihad dalam korupsi! Banyak Mujahidin dan Mujahidah sekarang berarti yah? Luar biasa! [dengan gaya sok serius]</p>
<p>Nia: Iya, benar sekali! Itu jika kita mereduksi makna jihad menjadi sekadar bermakna bersungguh–sungguh. Jadilah ada istilah jihad akademik, jihad profesi, jihad melawan korupsi dan sebagainya. Ga kebayang jika seandainya pemahaman itu benar. Dan seandainya saya menjadi Hamzah atau salah seorang dari para syuhada perang Uhud, perang Badar, perang Khandaq, dll. Saya pasti ga terima!!! Enak aja! Saya ini bermandikan keringat dan darah, penuh luka, bahkan mempersembahkan nyawa untuk memperjuangkan Islam [dalam per-andai-an sebagai Hamzah atau salah satu syuhada perang di atas]! Sedangkan mereka bermandikan harta, kemewahan, ketenaran, dan fasilitas yang memudahkan kehidupan. Berbeda 180 derajat! Eh, kedudukan kami mau disamakan, sama–sama sebagai mujahid dan mujahidah??? Sori–sori lah ya! Kagak terima!</p>
<p>Fitri: Iya yah? Kasian Hamzah dan kawan–kawannya [dengan gaya sok polos]. Seharusnya kita tidak perlu malu untuk menyerukan bahwa makna seruan jihad adalah seruan qital (perang) baik defensif maupun ofensif atas nama negara untuk melawan hambatan da’wah dan menyebarkan Islam. Jangan karena kita merasa menjadi pihak tertuduh atas stigmatisasi terorisme dan War On Terror kita lantas mereduksi makna jihad hanya sebatas “bersungguh–sungguh”!</p>
<p>=== Bersambung===<br />
Maksudnya kembali melanjutkan nge-game&#8230;<br />
Glodaks&#8230;.</p>
<p>Yogyakarta, 25 Muharram 1433 H<br />
Wednesday, December 21, 2011<br />
2.32 p.m.<br />
Semoga kami diberi kekuatan untuk menjadikan penghuni rumah ini sebagaimana nama yang kami berikan pada rumah ini “Rumah Orang–Orang yang Mempelajari Al–Qur’an”: Mempelajari Al–Qur’an, Menghafal, dan Mengajarkannya…. Menjadi wanita – wanita yang terjaga dengan Al–Qur’an dalam hatinya…</p>
<p>Haafizhah Kurniasih</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/coretanfifi.wordpress.com/488/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/coretanfifi.wordpress.com/488/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/coretanfifi.wordpress.com/488/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/coretanfifi.wordpress.com/488/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/coretanfifi.wordpress.com/488/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/coretanfifi.wordpress.com/488/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/coretanfifi.wordpress.com/488/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/coretanfifi.wordpress.com/488/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/coretanfifi.wordpress.com/488/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/coretanfifi.wordpress.com/488/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/coretanfifi.wordpress.com/488/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/coretanfifi.wordpress.com/488/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/coretanfifi.wordpress.com/488/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/coretanfifi.wordpress.com/488/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=coretanfifi.wordpress.com&amp;blog=2895410&amp;post=488&amp;subd=coretanfifi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://coretanfifi.wordpress.com/2011/12/21/nasyid-dan-jihad/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ede271432351bc4005e771958e3a0675?s=96&#38;d=retro&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Fifi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Belajar dari Tikus….</title>
		<link>http://coretanfifi.wordpress.com/2011/12/08/belajar-dari-tikus/</link>
		<comments>http://coretanfifi.wordpress.com/2011/12/08/belajar-dari-tikus/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Dec 2011 16:27:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fifi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berbagi Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Farmasis Profetik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://coretanfifi.wordpress.com/?p=484</guid>
		<description><![CDATA[Subhanallaah… Maha Besar ALLAH yang telah menciptakan kita lengkap dengan akal yang berfungsi dengan baik… Dengan akalnya, manusia bisa mengambil pelajaran dari mana pun, dari siapa pun, kapan pun, dan di mana pun. Ketika dia sedang tidur, dia bisa mengambil pelajaran dari tidurnya. Ketika dia sedang makan, dia bisa mengambil pelajaran dari makanannya. Ketika dia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=coretanfifi.wordpress.com&amp;blog=2895410&amp;post=484&amp;subd=coretanfifi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://coretanfifi.files.wordpress.com/2011/12/kar-cmc.jpg"><img src="http://coretanfifi.files.wordpress.com/2011/12/kar-cmc.jpg?w=150&#038;h=112" alt="" title="kar cmc" width="150" height="112" class="alignleft size-thumbnail wp-image-485" /></a>Subhanallaah…</p>
<p>Maha Besar ALLAH yang telah menciptakan kita lengkap dengan akal yang berfungsi dengan baik… Dengan akalnya, manusia bisa mengambil pelajaran dari mana pun, dari siapa pun, kapan pun, dan di mana pun. Ketika dia sedang tidur, dia bisa mengambil pelajaran dari tidurnya. Ketika dia sedang makan, dia bisa mengambil pelajaran dari makanannya. Ketika dia sedang berjalan, dia bisa mengambil pelajaran dari apa pun atau siapa pun yang ditemuinya sepanjang perjalanannya. <span id="more-484"></span>Apalagi ketika dia sedang melakukan penelitian, dalam rangka apa pun hibah, TA, skripsi, thesis, disertasi, atau apa pun. Seharusnya dia mampu mengambil pelajaran dari banyak hal yang dia lakukan selama proses itu. Terlebih lagi, jika dia adalah seorang Muslim. Seorang Muslim haruslah senantiasa menggunakan akalnya untuk mengambil pelajaran dari setiap peristiwa yang dialaminya. Mengambil pelajaran untuk semakin memperkuat keimanannya pada agama ALLAH, semakin meyakini keagungan – NYA, <em>qiyaaman wa qu’uudan…</em></p>
<p>Makhluk kecil itu bernama tikus. Makhluk kecil yang sering kali dipandang sebelah mata, bahkan dengan pandangan jijik oleh sebagian besar orang kecuali mereka yang terbiasa dengan pekerjaan uji pre klinik. Makhluk kecil itu telah membantuku mengambil pelajaran tentang betapa Islam memuliakan manusia. Ketika itu kami sedang mencari tikus jantan galur wistar atau SD. Seorang teman tiba–tiba berkata [kurang lebih] “Kenapa tidak menggunakan tikus got atau tikus rumah? Karena mereka ‘nasab’-nya tidak terjaga. Kalau mau kawin, asal kawin aja mereka. Ketemu tikus got, ayo! Ketemu tikus sawah, ayo juga! Ketemu tikus wirog, langsung embat! Berbeda dengan tikus yang kita cari. Mereka terjaga ‘nasab’-nya. Garis keturunannya jelas, bisa ditelusuri!&#8221;</p>
<p>Tikus saja terpelihara “nasab”–nya. Hanya tikus dengan “nasab” yang jelas saja yang akan mendapatakn perlakuan “mulia”. Lihatlah kehidupan tikus yang nasabnya terjaga! Secara umum mereka diperlakukan dengan lebih baik dibandingkan dengan tikus yang nasabnya tidak terjaga. Tikus yang terpelihara “nasab”–nya, hidupnya relatif lebih bermanfaat bagi dunia. Kematiannya relatif lebih “terhormat”.</p>
<p>Maka sungguh betapa ALLAH memuliakan kita ketika DIA memerintahkan kita untuk menjaga nasab… Sungguh, segenap aturan pergaulan laki–laki dan perempuan untuk menjamin terjaganya nasab adalah sebentuk pemuliaan yang ALLAH berikan kepada kita. Maka, janganlah menghinakan diri sendiri dengan merusak nasab (exp. Berzina, dsb, dst).</p>
<p>Tikus dan semua yang ada di dunia ini memang telah ditaklukkan untuk manusia, untuk kesejahteraannya. Ya, fithrah mereka memang diciptakan untuk kesejahteraan manusia. Akan tetapi, mereka juga punya “perasaan” (dalam tanda “…”). Mereka akan bersikap manis jika kita memperlakukan mereka dengan manis. Itulah kenapa, ada panduan bagaimana menangani hewan uji. Salah satu tipsnya adalah jangan ragu untuk mengajak bicara / ngobrol hewan uji.</p>
<p>Suatu hari (saat itu masih hari tasyrik dan bertepatan dengan penyembelihan hewan “qurban” di fakultas), mencit kami “rewel”, berkali–kali dia berontak. Saya pun mencoba tips “ngobrol” dengan mencit. Sambil mengelus–elus kepalanya, saya berkata “Cit, kamu itu harus patuh sama ALLAH. Kamu itu memang diciptakan untuk kesejahteraan kami. Yang nurut yah… Ga sakit koq… Cuma disuntik doank…”. Teman saya (sebut saja Bunga) menimpali “Iya Cit… Tuh lihat, kambing sama sapi aja mau disembelih! Jadi hewan qurban!” Saya pun menimpali “Iya Cit… Sapi sama kambing aja disembelih. Lha, kamu Cuma disuntik aja koq ya… Ayo ah yang nurut!” Tak disangka, teman saya yang lain (sebut saja Mawar) menyahut (seolah–olah mewakili suara “hati” mencit) “Sakit tau, Mba?! Hayoo, Mba-nya mau/ga disuntik?!” dan saya menyahut “Lho, itu kan fithrahnya mencit! “Ibadah”nya mencit ya begitu, diapain aja untuk kesejahteraan manusia!” Mawar menyahut lagi “Iya, tapi kan…”. Dia tidak melanjutkan kata–katanya. Tapi justru dengan terhentinya kalimat tersebut, saya jadi merenung….</p>
<p>Mencit dan seluruh makhluq ALLAH yang lain (selain manusia dan jin) senantiasa patuh menjalani fithrahnya sebagai hamba, bahkan ketika mereka ditetapkan sebagai pemenuh kebutuhan manusia, dipergunakan untuk kesejahteraan manusia. Mereka melakukannya tanpa protes. Tanpa membangkang meski mereka harus kehilangan nyawanya. Sementara kita? Manusia yang seringkali mengklaim diri sebagai makhluq paling mulia, paling terhormat justru seringkali membangkang secara sadar. Kita begitu fasih ketika berkata “ALLAH tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada–NYA!” tetapi seringkali menolak beribadah (dari segenap aspeknya). Kita tahu bahwa salah satu bentuk ibadah adalah menerapkan hukum ALLAH dalam kehidupan, dan kita pun mengetahui ada begitu banyak hukum ALLAH yang tidak mungkin tegak tanpa adanya institusi yang menegakkannya. Tapi…, ingatkah kita berapa kali kita merasa malas untuk mendakwahkan Islam, mendakwahkan penerapan Islam dalam seluruh aspek kehidupan? Tidak ingat? Karena terlalu seringnya? Bahkan… betapa banyak di antara kita (semoga itu bukan kita) yang menolah penerapan Islam dalam kehidupan bernegara. Padahal, itulah bentuk “penyempurnaan” ibadah kita.  Padahal, itulah bukti ketundukan kita pada–NYA. </p>
<p>Yogyakarta, 14 Muharram 1433 H<br />
Thursday, December 08, 2011<br />
11.18</p>
<p>Belum bisa tidur….</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/coretanfifi.wordpress.com/484/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/coretanfifi.wordpress.com/484/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/coretanfifi.wordpress.com/484/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/coretanfifi.wordpress.com/484/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/coretanfifi.wordpress.com/484/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/coretanfifi.wordpress.com/484/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/coretanfifi.wordpress.com/484/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/coretanfifi.wordpress.com/484/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/coretanfifi.wordpress.com/484/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/coretanfifi.wordpress.com/484/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/coretanfifi.wordpress.com/484/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/coretanfifi.wordpress.com/484/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/coretanfifi.wordpress.com/484/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/coretanfifi.wordpress.com/484/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=coretanfifi.wordpress.com&amp;blog=2895410&amp;post=484&amp;subd=coretanfifi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://coretanfifi.wordpress.com/2011/12/08/belajar-dari-tikus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ede271432351bc4005e771958e3a0675?s=96&#38;d=retro&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Fifi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://coretanfifi.files.wordpress.com/2011/12/kar-cmc.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">kar cmc</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sebuah Rasa</title>
		<link>http://coretanfifi.wordpress.com/2011/11/30/sebuah-tasa/</link>
		<comments>http://coretanfifi.wordpress.com/2011/11/30/sebuah-tasa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Nov 2011 08:29:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fifi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berbagi Kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://coretanfifi.wordpress.com/?p=480</guid>
		<description><![CDATA[Masih tentang sebuah rasa Rasa yang tak mudah untuk diterka Ketika gelisah tak berarti musibah Pun ketika ketenangan berarti kemenangan Ketika gundah adalah anugerah Ketika resah adalah hadiah Ketika sakinah berarti musibah Rasa apakah ini? Jika rasa ini adalah sinyal hati, ku harap rasa ini akan terus teramplifikasi hingga mutasi satu basa saja akan sanggup [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=coretanfifi.wordpress.com&amp;blog=2895410&amp;post=480&amp;subd=coretanfifi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Masih tentang sebuah rasa<br />
Rasa yang tak mudah untuk diterka<br />
Ketika gelisah tak berarti musibah<br />
Pun ketika ketenangan berarti kemenangan<br />
Ketika gundah adalah anugerah<br />
Ketika resah adalah hadiah<br />
Ketika sakinah berarti musibah<span id="more-480"></span></p>
<p>Rasa apakah ini?<br />
Jika rasa ini adalah sinyal hati, ku harap rasa ini akan terus teramplifikasi hingga mutasi satu basa saja akan sanggup memunculkan rasa ini dengan kuat&#8230;<br />
Duhai hati, lakukanlah tugasmu dengan baik&#8230;<br />
Jagalah aku dengan sekuat tenagamu&#8230;</p>
<p>Jika rasa ini adalah bukti cinta–NYA, ku harap rasa ini akan terus menguat&#8230;<br />
Duhai hati, lakukanlah tugasmu dengan baik&#8230;<br />
Bantulah aku untuk semakin mencintai–NYA dan membuat–NYA semakin mencintaiku&#8230;</p>
<p>Duhai hati&#8230;<br />
Aku memang terganggu dengan rasa ini..<br />
Aku memang tersiksa dengan rasa ini&#8230;<br />
Tapi jangan kasihani aku&#8230;<br />
Jangan kau hilangkan rasa ini&#8230;<br />
Jangan biarkan terjadi Silent Mutation dalam diriku&#8230;<br />
Sekecil apa pun&#8230;<br />
Karna sekecil apa pun mutasi itu kelak akan ku pertanggungjawabkan&#8230;</p>
<p>Duhai hati&#8230;<br />
Jangan kau hilangkan rasa ini hingga kau pastikan tak ada mutasi dalam diriku meski hanya satu basa&#8230;<br />
Jangan kau hilangkan rasa ini hingga kau yakin tak ada satu pun dalam diri ini yang berpotensi mengalami mutasi&#8230;</p>
<p>Duhai hati&#8230;<br />
Biarkan aku tersiksa dengan rasa ini jika memang rasa ini yang akan menjagaku&#8230;<br />
Jika memang rasa ini yang akan membuatku semakin peka terhadap mutasi yang mungkin terjadi&#8230;</p>
<p>Yogyakarta, 4 Muharram 1433 H	7.43 p.m.<br />
Tuesday, November 29, 2011</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/coretanfifi.wordpress.com/480/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/coretanfifi.wordpress.com/480/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/coretanfifi.wordpress.com/480/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/coretanfifi.wordpress.com/480/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/coretanfifi.wordpress.com/480/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/coretanfifi.wordpress.com/480/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/coretanfifi.wordpress.com/480/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/coretanfifi.wordpress.com/480/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/coretanfifi.wordpress.com/480/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/coretanfifi.wordpress.com/480/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/coretanfifi.wordpress.com/480/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/coretanfifi.wordpress.com/480/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/coretanfifi.wordpress.com/480/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/coretanfifi.wordpress.com/480/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=coretanfifi.wordpress.com&amp;blog=2895410&amp;post=480&amp;subd=coretanfifi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://coretanfifi.wordpress.com/2011/11/30/sebuah-tasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ede271432351bc4005e771958e3a0675?s=96&#38;d=retro&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Fifi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PEMANFAATAN POTENSI ALAM INDONESIA: TABLET EKSTRAK BIJI BUNCIS (Phaseolus vulgaris) SEBAGAI FOOD SUPLEMENT PENDAMPING TERAPI DIABETES MELLITUS</title>
		<link>http://coretanfifi.wordpress.com/2011/09/29/pemanfaatan-potensi-alam-indonesia-tablet-ekstrak-biji-buncis-phaseolus-vulgaris-sebagai-food-suplement-pendamping-terapi-diabetes-mellitus/</link>
		<comments>http://coretanfifi.wordpress.com/2011/09/29/pemanfaatan-potensi-alam-indonesia-tablet-ekstrak-biji-buncis-phaseolus-vulgaris-sebagai-food-suplement-pendamping-terapi-diabetes-mellitus/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Sep 2011 14:29:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fifi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Farmasis Profetik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://coretanfifi.wordpress.com/?p=466</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah naskah PKM GT 2011 yang disusun oleh: Khafidoh Kurniasih dan Mita Amalia Raraswati (Kelas Farmasi Sains dan Industri Fakultas Farmasi UGM) Di bawah bimbingan dari Teuku Nanda Saifullah Sulaiman, M.Si., Apt. (Laboratorium Teknologi dan Formulasi Sediaan Farmasi Bagian Farmasetika Fakultas Farmasi UGM) Latar Belakang Diabetes Mellitus (DM) merupakan suatu gangguan kesehatan yang ditandai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=coretanfifi.wordpress.com&amp;blog=2895410&amp;post=466&amp;subd=coretanfifi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://coretanfifi.files.wordpress.com/2011/09/buncis.jpg"><img src="http://coretanfifi.files.wordpress.com/2011/09/buncis.jpg?w=490" alt="" title="buncis"   class="alignleft size-full wp-image-469" /></a>Ini adalah naskah PKM GT 2011 yang disusun oleh:<br />
Khafidoh Kurniasih dan Mita Amalia Raraswati<br />
(Kelas Farmasi Sains dan Industri Fakultas Farmasi UGM)<br />
Di bawah bimbingan dari<br />
Teuku Nanda Saifullah Sulaiman, M.Si., Apt.<br />
(Laboratorium Teknologi dan Formulasi Sediaan Farmasi Bagian Farmasetika Fakultas Farmasi UGM)</p>
<p><strong>Latar Belakang</strong></p>
<p>Diabetes Mellitus (DM) merupakan suatu gangguan kesehatan yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa darah yang melebihi normal atau hiperglikemi (Anonim, 2011). Keadaan ini dapat meningkatkan risiko terjadinya kerusakan mikrovaskuler seperti retinopathy, nephropathy dan neuropathy, kerusakan makrovaskuler seperti stroke, dan lain–lain sehingga menurunkan kualitas hidup dan menurunkan angka harapan hidup (WHO, 2006).<span id="more-466"></span><br />
Sampai saat ini, DM masih menjadi permasalahan serius di dunia. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa pada tahun 2010 terdapat sedikitnya 221 juta orang yang menderita DM diseluruh dunia (Konkon dkk., 2010). Dari tahun ke tahun jumlah penderita DM di seluruh dunia terus meningkat dan diprediksikan pada tahun 2030 jumlah penderita DM diseluruh dunia akan meningkat hingga mencapai angka 366 juta (Wild dkk., 2004).<br />
Di Indonesia pun DM masih mengancam. Data yang dikeluarkan oleh International Diabetes Federation (IDF) menyebutkan bahwa pada tahun 2003 Indonesia menduduki peringkat kelima dalam jumlah penderita DM terbesar di dunia dan naik menjadi peringkat ketiga pada tahun 2005 dengan jumlah penderita mencapai 13 juta orang. Dari jumlah tersebut, 650 ribu di antaranya adalah anak – anak yang umumnya menderita DM tipe 2 (Anonim, 2008 dan Anonima, 2009). Menurut peneliti dari Pusat Diabetes dan Nutrisi (PDN) RS Dr. Soetomo Surabaya, jumlah ini terus meningkat dengan peningkatan rata – rata mencapai 5,6% per tahun. Bahkan di beberapa kota Besar seperti Jakarta, peningkatan dapat mencapai 12% per tahun. Kondisi ini sangat memprihatinkan mengingat angka kematian akibat DM cukup tinggi. Sebagai gambaran, 6 orang meninggal tiap menit akibat komplikasi DM di seluruh dunia (Anonimb, 2009).<br />
Upaya terapi yang biasa dilakukan para penderita DM selama ini adalah dengan mengkonsumsi Obat Hipoglikemik Oral (OHO) sintetis seperti golongan sulfonilurea, biguanida, dan inhibitor glukosidase. Namun, dewasa ini ada kecenderungan adanya penolakan penggunaan obat–obat sintetis di tengah masyarakat. Alasannya selain karena harganya yang relatif mahal, juga karena berpotensi menimbulkan adverse effect yang tidak ringan. OHO golongan sulfonilurea seperti glibenklamid misalnya dapat menimbulkan adverse effect berupa mual, diare, sakit perut, hipersekresi asam lambung, gangguan susunan syaraf pusat, leukopenia, trombositopenia, agranulositosis, anemia aplastik, serta hipoglikemi berlebih.<br />
Kini ada kecenderungan masyarakat lebih memilih untuk beralih ke obat–obatan yang terbuat dari bahan alam karena adverse effect yang relatif ringan serta harganya yang murah. Salah satu bahan alam yang digunakan untuk pengobatan DM adalah buncis (Phaseolus vulgaris). Secara ilmiah, Phaseolus vulgaris telah terbukti mampu menurunkan kadar glukosa darah.<br />
Beberapa bukti ilmiah yang menguatkannya antara lain penelitian yang dilakukan oleh Atchibri dkk. (2010), Pari dan Venkateswaran (2003), serta Roman-Ramos R, dkk. (1995). Atchibri dkk. (2010) memperkirakan bahwa efek antihiperglikemik yang dimiliki oleh Phaseolus vulgaris adalah karena adanya senyawa terpenoid dan saponin di dalamnya. Meskipun mekanisme aksi Phaseolus vulgaris dalam menurunkan kadar glukosa darah belum diketahui secara pasti, namun para ahli memperkirakan efek penurunan kadar glukosa darah terjadi karena ekstrak Phaseolus vulgaris memicu peningkatan sekresi insulin dari sel β-Langerhens atau meningkatkan sensitivitas insulin di jaringan perifer seperti jaringan adiposa, otot, dan liver (Atchibri dkk., 2010 dan Pari dan Venkateswaran, 2003).<br />
Selama ini masyarakat penderita DM mengkonsumsi buncis dengan cara yang sederhana, yaitu dibuat juice dan diminum sesaat sebelum makan. Konsumsi buncis dengan cara seperti ini memiliki banyak kekurangan, antara lain takaran dosis yang tidak dapat ditentukan, tidak praktis, serta rasa yang tidak menyenangkan sehingga sangat menyulitkan pasien, apalagi jika harus dikonsumsi dalam waktu yang lama mengingat DM merupakan penyakit degeneratif yang belum dapat disembuhkan secara total.<br />
Perkembangan teknologi farmasi diharapkan mampu mengatasi persoalan tersebut dengan memunculkan inovasi baru dalam formulasi pengolahan bahan alam menjadi bentuk sediaan yang praktis dan lebih acceptable bagi masyarakat, yaitu dengan dibuat sediaan tablet. Selain karena lebih praktis, sediaan tablet mempunyai kestabilan fisika-kimia yang lebih baik bila dibandingkan sediaan yang lain, memberikan takaran dosis yang tepat, biaya pembuatan yang lebih murah, serta mudah dalam pengemasan dan distribusi. Dengan demikian potensi buncis sebagai agen antihiperglikemik dapat dimanfaatan secara optimal. </p>
<p><strong>Tujuan Penulisan</strong><br />
1.	Tujuan Umum<br />
a.	Mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam Indonesia untuk pengobatan penyakit Diabetes Mellitus;<br />
b.	Memaksimalkan pemanfaatan teknologi farmasi untuk mengolah sumber daya alam Indonesia, khususnya tanaman obat.<br />
2.	Tujuan Khusus<br />
a.	Memanfaatkan tanaman buncis (Phaseolus vulgaris) sebagai alternatif dalam pengobatan Diabetes Mellitus;<br />
b.	Mengembangkan ekstrak tanaman buncis (Phaseolus vulgaris) menjadi bentuk sediaan yang lebih  acceptable dan praktis dalam upaya pengobatan penyakit Diabetes Mellitus.</p>
<p><strong>Gagasan</strong><br />
A.	Penyakit Diabetes Mellitus<br />
Diabetes Mellitus (DM) merupakan suatu gangguan metabolisme dalam sistem endokrin yang meliputi gangguan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein yang terkait dengan produksi dan sensitivitas insulin serta ditandai dengan keadaan hiperglikemik. Keluhan yang biasanya dialami oleh penderita DM antara lain polidipsi, polifagi, poliuria, pruritus, dan penurunan berat badan. Hingga saat ini, penyebab DM belum diketahui secara pasti meski pun telah dapat diduga bahwa faktor genetik dan faktor gaya hidup merupakan faktor risiko DM (Atchibri dkk., 2010 dan Donga dkk., 2010). DM terbagi menjadi DM tipe 1 dan DM tipe 2. DM tipe 1 terkait faktor genetik dan ketidakmampuan sel–sel β pankreas memproduksi insulin. Sedangkan DM tipe 2 adalah DM yang terkait dengan kurangnya produksi insulin oleh sel – sel β pankreas, kurangnya sensitivitas insulin atau gabungan dari keduanya. Di seluruh dunia, jumlah penderita DM tipe 2 lebih banyak dari pada jumlah penderita DM tipe 1 (Votey, 2010).</p>
<p>B.	Buncis (Phaseolus vulgaris)<br />
Dewasa ini, dunia mulai melirik penggunaan obat herbal dalam terapi DM karena alasan adverse effect yang relatif lebih ringan (Donga dkk., 2010). Salah satu obat herbal yang telah terbukti secara ilmiah dapat digunakan dalam terapi DM adalah buncis (Phaseolus vulgaris). Hasil riset yang dilakukan oleh Atchibri dkk. (2010) terhadap sekelompok tikus wistar jantan membuktikan bahwa Phaseolus vulgaris memiliki efek antihiperglikemik. Hasil riset yang dilakukan oleh L. Pari dan S. Venkateswaran (2003) juga menyimpulkan hal yang sama. Demikian pula riset yang dilakukan oleh Roman–Ramos dkk. (1995) juga menyimpulkan bahwa ekstrak air biji buncis memiliki aktivitas antihiperglikemik.<br />
Zat yang diduga bertanggungjawab atas aksi antihiperglikemik tersebut adalah alkaloid, flavonoid, tannin, terpenoid, dan saponin yang banyak terkandung dalam buncis. Namun, dugaan selanjutnya lebih mengarah pada terpenoid dan saponin. (Sharma dkk, 2003; Murakami dkk., 2001 dan Kambouche dkk., 2009). Dugaan ini diperkuat dengan fakta bahwa tanaman yang mengandung terpenoid pada umumnya memiliki aksi antidiabetes (Malviya dkk., 2010). Selian itu, saponin dilaporkan menunjukkan efek penurunan glukagon yang dapat meningkatkan penggunaan glukosa, sehingga dapat menurunkan kadar glukosa darah pada penderita DM. Beberapa saponin juga ditemukan dapat menstimulasi pelepasan insulin dari isolat islet pankreas tikus (Hussein, 2006). Sebaliknya, flavonoid dapat menghambat aktivitas aldolase reduktase yang mengkonversi glukosa dan galaktosa menjadi bentuk-bentuk poliolnya (Buhler, 2000 dan Linder, 2006).  </p>
<p>Mekanisme aksi antihipergliklemik buncis diprediksi melalui stimulasi sekresi insulin dari sel β pankreas atau meningkatkan sensitivitas insulin pada jaringan perifer (Atchibri dkk., 2010).<br />
Mengingat pengobatan DM memerlukan jangka waktu yang lama, maka sangat diperlukan upaya untuk meningkatkan kenyamanan dan kepatuhan pasien. Salah satu upaya yang dapat ditempuh adalah dengan memanfaatkan teknologi farmasi untuk mengolah buncis menjadi sediaan yang praktis dan mudah diterima masyarakat. Sediaan tersebut adalah tablet.</p>
<p>C.	Tablet Ekstrak Biji Buncis (Phaseolus vulgaris)<br />
Ekstrak merupakan sediaan sari pekat tumbuh-tumbuhan atau hewan yang diperoleh dengan cara melepaskan zat aktif dari masing-masing bahan obat menggunakan pelarut yang cocok, uapkan semua atau hampir semua dari pelarutnya dan sisa endapan atau serbuk diatur untuk ditetapkan standarnya (Ansel, 1995). Dalam hal ini, ekstrak yang akan digunakan berupa ekstrak kental.<br />
Farmakope Indonesia Edisi IV mendefinisikan tablet sebagai sediaan padat yang mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahn pengisi dan dibuat dengan cara pengempaan atau pencetakan. (Anonim, 1995). Pada umumnya, tablet digunakan untuk pemakaian oral dan dibuat dengan penambahan zat warna, perasa, dan lapisan tertentu jika diperlukan (Ansel, 1985). Tablet biasa digunakan untuk tujuan pengobatan sistemik.<br />
Pemilihan formulasi ekstrak buncis dalam bentuk tablet ini sangat cocok untuk pengobatan DM yang memerlukan jangka waktu lama, penggunaan obat yang relatif sering dan teratur. Formulasi ini akan menghasilkan suatu sediaan yang praktissert dapat menutupi rasa dan aroma yang tidak enak dari buncis jika dikonsumsi secara tradisional. Selain itu, dengan formulasi ini dosis ekstrak yang digunakan dapat dikuantifikasi secara tepat sehingga efek antihiperglikemiknya pun dapat lebih dapat dikendalikan.<br />
Formulasi obat dalam sediaan yang praktis dengan rasa yang relatif lebih acceptable, akan meningkatkan kenyamanan dan kepatuhan pasien dalam mengkonsumsi obat. Dengan demikian, diharapkan dapat mengurangi risiko kerusakan lebih lanjut dan dapat meningkatkan kualitas hidup diabetisi.<br />
Berikut ini merupakan formula tablet ekstrak buncis (Phaseolus vulgaris) tiap tablet 500mg:<br />
Ekstrak biji buncis (Phaseolus vulgaris)	300 mg<br />
Kalsium karbonat	120 mg<br />
Cellulose, powdered	37,5 mg<br />
PVP 1% (b/v)	37,5 mg<br />
Talk 5%	5 mg</p>
<p>Kegunaan utama kalsium karbonat adalah sebagai bahan pengisi tablet (Rowe dkk., 2006). Dalam formulasi ini sengaja tidak menggunakan laktosa sebagai pengisi untuk meminimalisasi penggunaan gula mengingat tablet ini ditujukan bagi diabetisi. PVP dalam larutan 1% digunakan sebagai bahan pengikat. Penggunaan PVP pada konsentrasi 0,5-2% pada pembuatan tablet ekstrak tanaman dapat menghasilkan tablet yang mempunyai kekerasan yang cukup, kerapuhan yang rendah dan waktu hancur yang lama (Setyarini, 2004). Digunakan PVP dan bukan gelatin sebagai bahan pengikat karena pertimbangan pasar obat Indonesia yang mayoritas Muslim dan cenderung menolak penggunaan gelatin. Cellulose powder digunakan sebagai bahan penghancur tablet sedangkan talk digunakan sebagai bahan pelicin. Talk dapat mencegah pelekatan tablet pada mesin pencetak saat proses pengempaan tablet. </p>
<p>D.	Proses Pembuatan Tablet Ekstrak Biji Buncis (Phaseolus vulgaris)</p>
<p>&#8211;&gt; MOHON MAAF, KHUSUS BAGIAN YANG INI, SENSOR YA&#8230;<br />
Ini &#8220;rahasia perusahaan&#8221; eee&#8230;<br />
Insya ALLAH nanti saya produksi kalau sudah berada di industri. Harapannya sih industrinya Dawlah Khilafah, gitu&#8230; hehe&#8230;.<br />
Doakan ya&#8230;.</p>
<p><strong>Implementasi Gagasan</strong><br />
Produksi tablet ekstrak buncis ini dapat dilakukan dengan kerjasama yang baik antara industri farmasi dan masyarakat petani buncis sebagai penyedia bahan utama serta kalangan akademisi sebagai.<br />
Beberapa peranan yang dapat dilakukan oleh masing–masing pihak antara lain:<br />
1.	Akademisi<br />
Kalangan akademisi memegang peran penting dalam mengembangkan formulasi tablet ekstrak buncis yang optimal. Untuk mewujudkannya, mutlak diperlukan keterlibatan akademisi yang kompeten teknologi dan formulasi obat serta memiliki keahlian yang cukup tentang herbal. Selain berperan dalam pengembangan formulasi, akademisi juga berperan dalam penjaminan efek terapi dan keamanan obat ini sehingga tablet ekstrak buncis yang dihasilkan benar–benar acceptable dan dapat memberikan efek farmakologi yang diinginkan dengan keamanan yang terjamin.<br />
2.	Industri Farmasi<br />
Setelah didapatkan formula tablet ekstrak buncis yang optimal, tahap selanjutnya adalah pengenalan manfaat dan prospeknya baik secara farmakologis maupun secara ekonomis kepada industri farmasi sehingga industry farmasi tertarik untuk memproduksinya dalam skala industri. Industri farmasi juga berperan dalam menekan biaya produksi serta biaya pemasaran agar tablet yang dihasilkan dapat dijangkau oleh masyarakat luas tanpa mengurangi kualitasnya.<br />
3.	Masyarakat<br />
Dalam industrialisasi tablet ekstrak buncis, masyarakat khususnya petani buncis dapat berperan sebagai penyedia bahan baku berupa buncis. Industrialisasi tablet ekstrak buncis ini akan sangat membantu para petani buncis mengingat produksi buncis yang mencapai 302.624 ton (data tahun 2000) namun konsumsi buncis masyarakat Indonesia relatif rendah dan hanya sebatas untuk makanan dengan nilai ekonomi yang rendah (Adiyoga et al., 2004). Dengan industrialisasi tablet ekstrak buncis ini, maka permintaan buncis akan meningkat sehingga diharapkan penghasilan para petani buncis pun dapat meningkat.<br />
Setelah terjalin kerjasama yang baik dan tablet ekstrak buncis telah diptoduksi, langkah selanjutnya adalah pengenalan dan pemasaran produk ke masyarakat luas, terutama para diabetisi dan tenaga kesehatan. Pengenalan ini dapat dilakukan baik melalui iklan di media massa maupun sosialisasi kepada para tenaga kesehatan. Pengenalan produk merupakan salah satu tugas bagian pemasaran industri farmasi. Namun, sebelum dipasarkan produk ini harus didaftarkan terlebih dahulu ke BPOM sebagai kelengkapan administratif dan untuk mendapatkan jaminan keamanan dari BPOM. Dengan jaminan keamanan ini, diharapakan masyarakat dan kalangan tenaga kesehatan tidak ragu untuk menggunakan tablet ekstrak buncis ini.<br />
Formulasi tablet ekstrak buncis ini diharapkan dapat menjadi terobosan baru dalam pengobatan DM yang lebih acceptable dan menarik bagi masyarakat sehingga akan meningkatkan kepatuhan para diabetisi dalam mengkonsumsi obat. Dengan demikian, tujuan terapi akan lebih mudah dicapai.<br />
 Beberapa keunggulan tablet ekstrak buncis bila dibandingkan dengan konsumsi buncis secara tradisional antara lain:<br />
1.	Penggunaan lebih praktis dan mudah dibawa kemana-mana<br />
2.	Tidak menimbulkan aroma dan rasa yang tidak enak<br />
3.	Penetapan dosis dapat dilakukan secara tepat sehingga dapat disesuaikan dengan tujuan terapi<br />
4.	Stabilitas dan daya tahan lebih lama<br />
   Keunggulan–keunggulan tersebut memberi nilai tambah bagi tablet ekstrak buncis sehingga diprediksi produk ini akan memberikan prospek yang bagus bila benar–benar direalisasikan. Selain itu, produk ini dapat menjadi solusi yang baik bagi penanganan penyakit DM sehingga dapat meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. </p>
<p>Referensi:<br />
&#8211;&gt; Sensor juga aja kali ya&#8230;<br />
Terlalu banyak&#8230;<br />
Kalau ada yang butuh, nanti saya kirim via e-mail aja ya&#8230;<br />
Hehehe&#8230;.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/coretanfifi.wordpress.com/466/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/coretanfifi.wordpress.com/466/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/coretanfifi.wordpress.com/466/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/coretanfifi.wordpress.com/466/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/coretanfifi.wordpress.com/466/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/coretanfifi.wordpress.com/466/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/coretanfifi.wordpress.com/466/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/coretanfifi.wordpress.com/466/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/coretanfifi.wordpress.com/466/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/coretanfifi.wordpress.com/466/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/coretanfifi.wordpress.com/466/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/coretanfifi.wordpress.com/466/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/coretanfifi.wordpress.com/466/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/coretanfifi.wordpress.com/466/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=coretanfifi.wordpress.com&amp;blog=2895410&amp;post=466&amp;subd=coretanfifi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://coretanfifi.wordpress.com/2011/09/29/pemanfaatan-potensi-alam-indonesia-tablet-ekstrak-biji-buncis-phaseolus-vulgaris-sebagai-food-suplement-pendamping-terapi-diabetes-mellitus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ede271432351bc4005e771958e3a0675?s=96&#38;d=retro&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Fifi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://coretanfifi.files.wordpress.com/2011/09/buncis.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">buncis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perempuan, Anak, dan Karir</title>
		<link>http://coretanfifi.wordpress.com/2011/09/11/perempuan-anak-dan-karir/</link>
		<comments>http://coretanfifi.wordpress.com/2011/09/11/perempuan-anak-dan-karir/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Sep 2011 23:08:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fifi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://coretanfifi.wordpress.com/?p=464</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai seorang perempuan, saya sering sedih ketika melihat saudari–saudari saya “bingung” menentukan pilihan antara anak dan karir. Banyak kasus saya temui, baik dulu ketika saya menjadi pengajar di sebuah lembaga bimbingan belajar, selama KKN, maupun tadi malam ketika tetangga saya bercerita tentang salah seorang teman kecil saya. Selain yang saya sebut tadi sebenarnya ada lebih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=coretanfifi.wordpress.com&amp;blog=2895410&amp;post=464&amp;subd=coretanfifi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai seorang perempuan, saya sering sedih ketika melihat saudari–saudari saya “bingung” menentukan pilihan antara anak dan karir. Banyak kasus saya temui, baik dulu ketika saya menjadi pengajar di sebuah lembaga bimbingan belajar, selama KKN, maupun tadi malam ketika tetangga saya bercerita tentang salah seorang teman kecil saya. Selain yang saya sebut tadi sebenarnya ada lebih banyak kasus yang saya temui tetapi kasus-kasus tadi adalah yang paling berkesan.<br />
<span id="more-464"></span><br />
Perempuan (sebagaimana juga laki–laki Muslim) merupakan korban dari sistem yang tidak manusiawi, Kapitalisme. Kapitalisme yang menumbuhsuburkan paham feminism dan emansipasi membuat banyak saudari–saudari saya yang “terpaksa” berlomba–lomba meninggalkan rumahnya dan bersaing dengan partnernya, pelindungnya, laki–laki untuk mendapatkan sedikit rupiah. Penyebabnya adalah masyarakat telah terlanjur menganggap kemuliaan dan derajat seseorang merupakan sesuatu yang ditentukan oleh banyaknya materi yang dia miliki. Di alam bawah sadarnya pun, masyarakat perlahan tapi pasti mulai tidak lagi membedakan peran antara laki–laki dan perempuan. Perempuan dan laki–laki sama–sama dituntut untuk berperan di ranah publik dengan peran yang sama besarnya. Jika ingin “dipandang” di tengah masyarakat, maka laki–laki maupun perempuan harus memiliki peran yang besar di ruang publik, dan tentu bukan sembarang peran, melainkna peran yang mampu mendatangkan materi yang melimpah, simple-nya harus memilki karir yang bagus. Sedangkan peran di ranah domestic, sebesar apa pun peran itu, tetap dipandang sebelah mata, bahkan terkadang sama sekali tidak dipandang.</p>
<p>Akibat pandangan masyarakat yang demikian dan dorongan untuk menunjukkan eksistensi diri yang kadang tidak dikendalikan oleh pemahaman yang benar, akhirnya banyak di antara saudari–saudari saya yang mati–matian mengejar peran di ranah publik meski harus mengorbankan peran utama mereka di domestik. Mereka mengejar karir meski harus mengabaikan peran mereka di ranah domestik ata pun “sekadar” menyerahkan tugas dan peran mereka di ranah domestik kepada orang lain, yang saya yakin orang diserahi tugas dan peran itu tidak akan mungkin melakukannya sebaik jika saudari–saudari saya itu melakukannya sendiri. </p>
<p>Di sini saya tidak berdiri sebagai pihak yang melarang perempuan berperan di ranah publik, saya tidak melarang perempuan berkarir, apalagi mengharamkannya. Tidak sama sekali. Berkarir di ruang publik bagi seorang perempuan, hukum asalnya adalah mubah jika serangkaian “syarat dan ketentuannya” telah dipenuhi. Sesuatu yang mubah ya seharusnya ditempatkan sebagaimana posisinya mubah. Pelaksanaan sesuatu yang mubah tidak boleh mengorbankan sesuatu yang sunnah, apalagi wajib. Demikian juga, pelaksanaan sesuatu yang mubah tidak boleh mengabaikan adanya sesuatu yang makruh atau haram yang mungkin mengkontaminasi aktivitas mubah itu. Itulah yang ingin saya tekankan.</p>
<p>Islam telah menegaskan bahwa tugas utama seorang perempuan adalah sebagai ummu wa rabatun bayt (ibu dan pengatur rumah tangga). Sedangkan hak seorang perempuan adalah dilindungi dan dinafkahi. Tugas laki–laki adalah melindungi dan menafkahi perempuan. Sebenarnya perempuan sama sekali tidak punya kewajiban untuk menafkahi dirinya sendiri, apalagi menafkahi keluarganya. Tetapi sayang sekali pemahaman ini seringkali terkalahkan oleh pandangan masyarakat yang telah teracuni oleh paham feminisme dan emansipasi. Akhirnya, banyak perempuan yang lebih memilih untuk berjibaku di ranah publik meski harus mengorbankan sebagian perannya di ranah domestik.</p>
<p>Kasus pertama yang menarik adalah apa yang saya temui ketika saya menjadi pengajar di sebuah lembaga bimbingan belajar, tepatnya tahun 2008 silam. Saat itu saya mengajar Matematika dan IPA untuk SD. Salah satu anak murid saya adalah seorang anak laki–laki kelas IV SD (usianya sekitar 9 atau 10 tahun), sebut saja namanya Dani. Dia mengalami kesulitan dalam berhitung. Dia susah sekali berkonsentrasi untuk menghitung, meski hanya hitungan sederhana saja yang saya rasa untuk anak seusianya seharusnya tidak seperti itu. Saya jadi tertarik untuk mengetahui keadaan keluarganya, kenapa dia seperti itu. Saya pun bertanya “Mas Dani berangkat ke sini sama siapa?”<br />
“Dianter sama Abi…”<br />
“Ooo… Kalau Ummi ke mana?”<br />
“Ummi lagi ngajar.”<br />
“Ngajar apa?”<br />
“Ngajar matematika di sana [menyebut salah satu nama lembaga bimbingan berhitung cepat untuk anak–anak berlabel “Islami”]”<br />
Saya pun kaget. Ibunya seorang pengajar trik dan tips berhitung cepat untuk anak–anak tapi anak kandungnya sendiri belum bisa menghitung sampai usia 9 tahun. Saya pun penasaran dan menanyakan “Masa Dani ga belajar matematika sama Ummi?” dan dia pun menggeleng “Enggak…”. Astaghfirullaah…</p>
<p>Seberapa banyak sih kepuasan dan rupiah yang bisa diraih dengan menjadi guru bagi anak–anak orang lain? Sebandingkah kepuasan dan nilai rupiah itu dengan harga yang harus dibayar ketika anaknya sendiri terabaikan? Iya, saya akui ada kepuasan tersendiri ketika anak didik kita (meskipun itu anak orang lain) menjadi “bintang”, menjadi anak yang cerdas, berprestasi. Tapi bukankah lebih membanggakan jika yang menjadi “bintang”, yang cerdas penuh prestasi adalah anak kita sendiri? Dan bukankah kepuasan menjadikan anak orang lain sebagai “bintang” tidak ada artinya sama sekali jika anak kita sendiri justru miskin prestasi, bahkan tertinggal? Bukankah itu menyedihkan? OK, benar dengan berkarir, meng–“upgrade” anak orang lain, kita bisa mendapatkan sejumlah rupiah tapi cukupkah rupiah itu untuk membayar kerugian karena anak–anak kita menjadi “tertinggal” hanya gara–gara kurangnya perhatian dan bimbingan dari ibunya?</p>
<p>Kisah serupa tetapi lebih menyedihkan saya temui ketika KKN. Salah satu kegiatan KKN kami adalah membantu mengajar di PAUD atau mungkin lebih tepatnya ikut bermain–main bersama adik–adik PAUD. Salah satu peserta PAUD yang menarik perhatian kami adalah Dek Damai (sebut saja demikian), seorang bayi perempuan yang dititipkan di PAUD sejak dia berusia dua bulan. Dia dititipkan di PAUD setiap hari kerja mulai pukul 7 pagi hingga sore. Dia ditipkan dalam keadaan belum dibersihkan, apalagi dimandikan. Kalau orang Tegal bilang, masih crumut. Dan tahukah di mana ibunya? Ibunya mengajar anak–anak orang lain di TK! Astaghfirullaah…</p>
<p>Bukankah seorang guru TK seharusnya memahami betul tentang periodisasi tumbuh kembang anak, tentang golden age dan kebutuhan anak pada tiap–tiap periode itu? Berapa sih rupiah yang bisa dia peroleh dari mengajar TK hingga dia rela “menelantarkan” anak bayinya? Kenapa dia begitu peduli pada anak–anak orang lain daripada anak kandungnya sendiri?</p>
<p>Dua kisah di atas, saya tidak tahu persis apa dorongan mereka memilih semua itu. Apakah murni dorongan dari diri mereka sendiri atau ada tekanan dari pihak lain. Beberapa hari yang lalu saya mendengar perempuan yang dipaksa berkarir, justru dari orang yang seharusnya tidak memaksanya berkarir. “Kebetulan” (saya tulis “kebetulan” diapit tanda petik karena sejatinya tidak ada yang kebetulan di dunia ini) ibu saya adalah Ketua Pengelola PAUD, TK, dan RA milik salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia se–Kabupaten. Beberapa waktu yang lalu ada seorang Ibu Mertua yang meminta kepada Ibu saya agar beliau menerima menantu perempuannya untuk bekerja di salah satu TK / RA yang Ibu saya kelola. Kata Ibu saya, si Ibu Mertua tersebut setengah memaksa agar menantunya diterima. Saya penasaran, apa alasan si Ibu Mertua tersebut, eh ternyata alasannya cukup menggelikan. Katanya, dia malu punya menantu sarjana tetapi menganggur (dalam artian tidak berkarir). Katanya, dia khawatir menantu perempuannya jadi bahan gunjingan tetangga. Nah lho?! Perempuan menempuh pendidikan tinggi itu bukan hanya sekadar untuk berkarir, Bu… Melainkan untuk menjadi sekolah terbaik bagi anak–anaknya. Untuk memberikan pendidikan terbaik, bermutu tinggi kepada anak–anaknya. Agar dia bisa menyiapkan anak–anaknya menjadi manusia–manusia hebat yang akan membuat mata dunia tercengang atas karya dan prestasi yang ditorehkannya. Lagi pula, yang seharusnya berkewajiban menafkahinya kan suaminya (dalam hal ini adalah putra si Ibu Mertua itu), bukan malah si Menantu! Si Menantu tugasnya adalah menyiapkan putra dan cucu–cucu Ibu kelak agar siap terjun dan berkarya di tengah masyarakat dengan sebaik–baiknya.</p>
<p>Kasus lainnya adalah teman kecil saya sendiri, sebut saja namanya Diana. Alhamdulillah, Diana masuk kuliah 2 tahun lebih awal dari pada saya. Sekarang dia sudah mendapat gelar Sarjana Pendidikan dari salah satu universitas pendidikan ternama di negeri ini. Dia juga mendapatkan tekanan untuk segera bekerja dari orang tuanya. Dia dipaksa mengajar. Dari cerita yang saya peroleh dari tetangga (dia adalah teman dekat orang tua Diana), Diana mendapatkan dua paksaan dari orang tuanya. Paksaan pertama, dia harus bekerja dan paksaan kedua dia harus menjadi guru. Diana mencoba menjadi anak yang patuh pada orang tuanya, dia mengikuti kemauan oarng tuanya untuk mendaftar sebagai guru bantu di sebuah SMK (dulu disebut STM), tentu atas “rekayasa” dari orang tuanya juga sehingga dia bisa mengajar di sana. Tetapi kemudian ternyata dia tidak tahan karena yang namanya siswa–siswa STM itu kan tidak bisa melihat perempuan cantik yang masih muda (fresh graduate). Katanya Diana sering digoda oleh para siswanya, bahkan ketika sedang mengajar di dalam kelas. Dia tidak tahan dan memutuskan untuk mengundurkan diri, tetapi sebelumnya tentu dia membicarakan keputusannya itu kepada orang tuanya. Eh, orang tuanya malah marah dan menyebutnya sebagai anak yang susah diatur. Mereka melarang anaknya mengundurkan diri dari STM tersebut. Astaghfirullaah…</p>
<p>Saya tidak habis pikir, apa sih yang membuat orang tua Diana sedemikian kuat memaksa anaknya untuk bekerja? Padahal ayah–ibunya masih lengkap, dan setahu saya kehidupan ekonominya juga lumayan. Rumahnya masih besar, masih ada mobil, masih ada motor, dan masih ada perabotan–perabotan lainnya. Penghasilan orang tuanya juga lumayan. Tega sekali memaksa anaknya untuk terus bertahan bahkan ketika anaknya dilecehkan, dilukai harga dirinya sebagai seorang Muslimah di depan kelas. Meskipun berkarir bagi seorang Muslimah adalah mubah tetapi jika hal itu mengakibatkan kehormatannya sebagai seorang Muslimah terluka, maka tidak seharusnya kita membiarkannya terus bertahan dalam kondisi seperti itu. Seharusnya orang tua atau walinya melindungi dia dari hal–hal semacam itu.</p>
<p>Sungguh, Kapitalisme beserta sepaket paham turunannya telah merenggut kehormatan, harga diri dan kemuliaan perempuan. Kapitalisme dan paham turunannya telah membuat lingkungan di sekitar perempuan menjadi lingkungan yang tidak ramah bagi perempuan, bahkan menjadi lingkungan yang tidak aman baginya. Kapitalisme dan paham turunannya pun telah merampas hak anak–anak kita, membuat mereka kehilangan sebagian besar kasih sayang dan perhatian ibunya. Sudah saatnya kita campakkan Kapitalisme beserta seluruh paham turunannya untuk mengembalikan kemuliaan dan kehormatan kaum perempuan sekaligus mengembalikan hak anak–anak kita.</p>
<p>Curahan hati sambil menghitung mundur detik–detik menjelang keberangkatanku ke Nagari Ngayogyakarrta Hadiningrat untuk menempa diri dan mempersiapkan diri menjadi sekolah terbaik bagi anak–anakku kelak.</p>
<p>Tegal, 10 Syawwal 1432 H<br />
Thursday, September 08, 2011<br />
3.20 p.m.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/coretanfifi.wordpress.com/464/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/coretanfifi.wordpress.com/464/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/coretanfifi.wordpress.com/464/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/coretanfifi.wordpress.com/464/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/coretanfifi.wordpress.com/464/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/coretanfifi.wordpress.com/464/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/coretanfifi.wordpress.com/464/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/coretanfifi.wordpress.com/464/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/coretanfifi.wordpress.com/464/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/coretanfifi.wordpress.com/464/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/coretanfifi.wordpress.com/464/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/coretanfifi.wordpress.com/464/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/coretanfifi.wordpress.com/464/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/coretanfifi.wordpress.com/464/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=coretanfifi.wordpress.com&amp;blog=2895410&amp;post=464&amp;subd=coretanfifi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://coretanfifi.wordpress.com/2011/09/11/perempuan-anak-dan-karir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ede271432351bc4005e771958e3a0675?s=96&#38;d=retro&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Fifi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Beberapa Episode Menuju Sardonoharjo</title>
		<link>http://coretanfifi.wordpress.com/2011/09/11/beberapa-episode-menuju-sardonoharjo/</link>
		<comments>http://coretanfifi.wordpress.com/2011/09/11/beberapa-episode-menuju-sardonoharjo/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Sep 2011 22:58:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fifi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berbagi Kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://coretanfifi.wordpress.com/?p=462</guid>
		<description><![CDATA[Mohon maaf pembaca, saya masih ingin bercerita tentang KKN (Kuliah Kerja Nyata). Sebuah “mata praktikum” 3 SKS yang menyedot banyak biaya, energi, pemikiran, dan bahkan perasaan. Pelaksanaan KKN memang hanya dua bulan tetapi tahap persiapannya bisa memakan waktu lebih dari satu semester, terutama bagi yang mengambil KKN tematik dan mengajukan tema sendiri, bukan sekadar memilih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=coretanfifi.wordpress.com&amp;blog=2895410&amp;post=462&amp;subd=coretanfifi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://coretanfifi.files.wordpress.com/2011/09/turen.jpg"><img src="http://coretanfifi.files.wordpress.com/2011/09/turen.jpg?w=150&#038;h=100" alt="" title="Turen" width="150" height="100" class="alignleft size-thumbnail wp-image-475" /></a>Mohon maaf pembaca, saya masih ingin bercerita tentang KKN (Kuliah Kerja Nyata). Sebuah “mata praktikum” 3 SKS yang menyedot banyak biaya, energi, pemikiran, dan bahkan perasaan. Pelaksanaan KKN memang hanya dua bulan tetapi tahap persiapannya bisa memakan waktu lebih dari satu semester, terutama bagi yang mengambil KKN tematik dan mengajukan tema sendiri, bukan sekadar memilih tema yang ditawarkan oleh LPPM. Dan… pada mulanya saya termasuk di antara mereka yang mengambil KKN tematik dengan mengajukan tema sendiri. Ehhhmmm…, mungkin lebih tepatnya turut merancang dan menyempurnakan tema yang diusung oleh mahasiswa lainnya. <span id="more-462"></span></p>
<p>Pelaksanaan KKN memang selama bulan Juli–Agustus tetapi persiapan sudah kami lakukan sejak bulan Februari, bahkan akhir Januari banyak di antara kami yang sudah mulai heboh merancang tema KKN. Sejak usai UAS (Ujian Akhir Semester) genap sekitar medio Januarai 2011 teman–teman saya sudah pada heboh merancang tema KKN atau setidaknya berburu tim KKN yang sudah punya tema dan kekurangan anggota.</p>
<p>Kalau saya sendiri sih lumayan agak lebih santai karena mendapatkan info dari kakak–kakak angkatan yang dari fakultas lain bahwa mahasiswa/i kesehatan tidak perlu khawatir tidak mendapatakan tim KKN. Mereka mengatakan biasanya teman–teman kesehatan selalu bisa mendapatakan tim KKN dengan tema yang mereka inginkan dan di tempat yang mereka inginkan karena teman–teman kesehatan selalu menjadi “primadona” yang selalu dicari oleh tim KKN, apalagi anak Farmasi. Gitu katanya. Berbekal informasi tersebut, saya menjadi santai dalam “memilih” tema KKN yang banyak ditawarkan. Boleh dikata saya ini cukup selektif dalam memilih tema dan tempat. Pokoknya saya tidak mau bergabung dengan tim KKN yang mengusung tema yang agak berbahaya, baik secara pemikiran maupun dalam pelaksanaan teknisnya. Dan saya juga tidak mau bergabung dengan tim KKN yang memilih lokasi KKN jauh dari kampus. Saya sama sekali tidak melirik tawaran KKN yang mengusung tema berbau demokratisasi, emansipasi, multikulturalisme, biogas, dan local wisdom (meskipun sebenarnya local wisdom untuk kesehatan masih relatif aman karena biasanya hanya terkait dengan madaniyah aamm tetapi tetap saya menolak karena pasti melibatkan local wisdom dari cluster lain yang membawa tsaqafah asing dan / atau hadharah asing) meskipun lokasinya dekat dengan kampus. Saya juga tidak melirik tawaran KKN dengan tema semenarik apa pun jika lokasinya jauh dari kampus. Saya ga mau repot harus ngurus pindah halqah dan sebagainya. Intinya saya sok jual mahal banget deh… Hehehe… Jujur saja, waktu itu saya berfikir “Saya akan orang farmasi, semua tim KKN pasti membutuhkan saya (dalam kapasitas sebagai mahasiswi Farmasi)”. Dan benar saja, setiap kali ada open recruitment tim KKN, selalu saja tertulis “Dibutuhkan mahasisw/i Farmasi”.</p>
<p>Tentang pemilihan tim KKN ini saya benar–benar merasakan skenario ALLAH yang luar biasa. Saya benar–benar merasakan penjagaan ALLAH atas diri saya melalui jalan yang tidak terduga–duga. Mulanya saya memilih (dan otomatis diterima, secara mahasiswi Farmasi gitu loh… Hehehe…) tim KKN dengan tema pengelolaan sampah terpadu dan berlokasi di KOPMA (Koperasi Mahasiswa) UGM. Bayangkan! Betapa dekatnya! KOPMA UGM itu hanya terletak beberapa meter dari kampus Farmasi. KOPMA terletak di seberang jalan tepat di depan kampus FMIPA Selatan. Dekat sekali! Saya memilih tim ini dengan pertimbangan aman secara tema dan dekat lokasinya sehingga tidak perlu melakukan re-schedule halqah maupun agenda da’wah lainnya.</p>
<p>Sebelum saya bertemu dengan anggota tim KKN yang lain, saya mencari informasi sebanyak–banyaknya tentang aktivitas KKN baik dari kakak–kakak tingkat di UGM maupun dari teman–teman di kampus saya yang dulu, UNDIP yang juga sedang KKN. Saya dengar teman–teman UNDIP 2007 baru menjalani KKN awal tahun 2011 ini. Saya pun mulai “bergentayangan” di jejaring sosial mencari tahu bagaimana keadaan KKN teman–teman UNDIP 2007. Meski memang pasti temanya berbeda (saya dengar KKN UNDIP focus pada pemberantasan buta aksara) tetapi saya yakin interaksi sosialnya mirip–mirip, bahkan mungkin sama. Saya “mengintai” kegiatan KKN teman–teman “aamm”. Umumnya mereka sangat menikmati KKN, menikmati keakraban di antara tim KKN, keakraban yang menurut saya (dilihat sepintas dari statements mereka di jejaring sosial), bukanlah keakraban yang terpuji. Sampai–sampai KKN sering dipelesetkan menjadi Kisah Kasih Nyata atau Kuliah Kerja Nikah. Hal ini karena memang banyak yang menemukan “pasangan” pasca KKN.</p>
<p>Setelah “mengintai” kegiatan KKN teman–teman “aamm”, saya mulai mencari tahu pengalaman KKN dari teman–teman pengemban da’wah secara umum (ideologis, maupun bukan). Beberapa di antara mereka juga menikmati KKN, ada juga yang menikmati keakraban dalm tim KKN. Terutama para laki–laki. Saya simak status–status maupun komentar–komentar mereka banyak yang bercerita tentang keasyikan KKN. Untuk pengemban da’wah yang perempuan, sepertinya lebih banyak diam, tidak terlalu banyak bercerita tentang KKN. Atau mungkin sebenarnya bercerita tetapi dengan bahasa bersayap.</p>
<p>Kemudian, saya pun mulai “mengintai” para pengemban da’wah ideologis. Kali ini saya lebih banyak mengintai pengemban da’wah ideologis yang perempuan (karena hanya mereka yang bisa saya pastikan sebagai pengemban da’wah ideologis, secara saya kenal mereka di dunia nyata…) meski saya juga mengintai laki–laki yang saya duga kuat sebagai pengemban da’wah ideologis. Pengemban da’wah yang perempuan, meski dengan kalimat bersayap, saya bisa menangkap maksudnya bahwa mereka tidak menikmati KKN. Apalagi alasannya selain karena interaksi yang kelewatan?! Sedangkan yang laki–laki agak sedikit berbeda. Tidak puas dengan hasil pengintaian itu, saya pun menghubungi saudari–saudari saya pengemban da’wah ideologis itu via SMS. Hampir semalaman saya SMSan “hanya” untuk meminta mereka berbagi pengalaman KKN (terima kasih, Ukht…). Dari ceritanya, saya simpulkan bahwa interaksi dalam tim KKN memang “horror”, saya pun bertanya “Koq ketho’e horror banget tho KKN-mu?”. Tahukah kalian jawaban apa yang saya dapat? “[Aku] kabur terus ning Semarang, jilbab tidak pernah lepas meski pun ning kamar, Fi! Mung ning kamar mandi thoq copote Fi! Wah, pokoke ati2 baen Fi, LEBIH HOROR DARI PADA KETEMU POCONG ATAUPUN NONTON FILM SYETAN!”Saya ngekek baca SMS itu, tapi sebenarnya takut juga harus mengalami KKN yang demikian.</p>
<p>Lalu… tibalah saatnya koordinasi perdana dengan tim KKN KOPMA (kami menyebutnya begitu). Hari itu saya berhalangan hadir karena berbarengan dengan acara Dialog Negeriku (DN) IV yang mengangkat tema terkait Comprehensive Partnership di Bidang Pendidikan Antara US dan Indonesia. Jelas saja saya lebih memilih DN karena saya punya amanah di sana dan acara tersebut lingkupnya adalah provinsi DIY! Tidak mungkin saya harus meninggalkan amanah saya tersebut hanya demi koordinasi KKN. Satu pekan berikutnya, dilakukan koordinasi kedua di tempat yang sama, KPTU Fak. Teknik. Kali ini saya datang dan itulah kali pertama saya bertemu dengan tim KKN KOPMA. Eng… Ing… Eng… Koq saya merasa asing? Sepertinya dunia mereka sangat berbeda dengan dunia saya setidaknya dilihat dari penampilan dan interaksi mereka. Ah…, tapi saya berusaha cuek. Biarkan saja! Saya berusaha menyamankan diri dalam kondisi seperti itu tapi tetap tidak bisa! Koordinasi hari itu selesai. Diputuskan untuk koordinasi lagi setelah menghubingi pihak mitra (dalam hal ini KOPMA dan dusun terkait).</p>
<p>Beberapa hari kemudian saya menerima undangan koordinasi lagi via SMS. Kali ini malam pukul 18.30 di cafeteria KOPMA. Dalam hati saya berfikir, “ini pasti nanti nabrak isya’ dan ga tau nabraknya berapa jauh” akhirnya saya jawab “Insya ALLAH hadir tapi izin telat, mau shalat isya dulu cz pasti nanti nabrak isya’.” Sampai di sana, ternyata interaksinya lebih parah dari pada waktu koordinasi di FT.</p>
<p>Beberapa hari berlalu tanpa undangan koordinasi dengan tim KKN KOPMA. Saat itu saudari–saudari pengemban da’wah UGM yang juga mau KKN semakin gencar mengajak saya membentuk tim KKN sendiri dengan alasan demi keamanan interaksi. Waktu itu mereka berencana untuk mengambil tema recovery merapi dengan pendekatan spiritual. Mereka juga telah membidik beberapa dosen yang juga pengemban da’wah ideologis untuk menjadi DPL (Dosen Pembimbing Lapangan), apalagi kami dekat dengan putri salah satu dosen tersebut (putrinya juga pengemban da’wah ideologis sih…). Mereka mengajak saya menuangkan ide mereka ke dalam proposal usulan KKN. Sebenarnya saat itu semuanya telah tersedia, tinggal kemauan saja. Syarat utama pengajuan proposal KKN adalah diusulkan oleh minimal tiga cluster yang berbeda dan saat itu kami malah dari empat cluster (artinya lengkap, mewakili seluruh cluster yang ada di UGM). Saya mewakili cluster kesehatan (FK, FKG, Farmasi), seorang teman mewakili cluster Saintek (MIPA, Bio, Geo, Teknik), seorang teman mewakili cluster Sosio Humaniora (FIB, Filsafat, FISIP, FE, FH, dkk), dan dua orang teman mewakili cluster Agro Kompleks (F.Pertanian, FTP, Kehutanan, FKH, Peternakan, dll). Mereka juga mengajak saya untuk meminta bantuan Ustadzah Fulanah (sebut saja begitu ya…) agar beliau meminta bantuan suaminya (sebut saja Ustadz Fulan) untuk meminta data pengemban da’wah laki–laki yang mau KKN semester ini. Intinya kami ingin membentuk KKN pengemban da’wah deh… Kontennya da’wah, DPLnya ustadz, timnya para pengemban da’wah.</p>
<p>Saat itu saya tidak begitu bersemangat menyambut ajakan tersebut. Bukan karena saya tidak mau dengan tema yang diajukan. Recovery Merapi! Jelas saya mau apalagi saya merasa “berhutang” pada masyarakat merapi karena saya “kabur” ketika mereka benar–benar membutuhkan saya akhir tahun lalu. Bukan pula karena lokasinya yang jauh. Tidak! Lereng Merapi itu relatif dekat dengan UGM dan saya yakin saya masih bisa halqah dengan baik tanpa harus me-reschedule-nya. Bukan pula karena saya malas menyusun proposal (meski iya juga, sedikit… tapi sungguh! Itu bukan alasan saya!). Alasan saya adalah karena saya ingin menjaga hati! Saya takut akan ada hati yang terkotori jika rencana ini benar–benar terlaksana. Mungkin interaksi memang terjaga. Pengemban da’wah pasti tahu benar batasan aurat, tahu mana wilayah khas dan mana wilayah aamm. Pengemban da’wah pasti tahu persis batasan interaksi yang diperbolehkan antara laki–laki dan perempuan. Tapi justru ini yang saya takutkan! Ketika laki–laki dan perempuan yang memiliki pemikiran dan perasaan yang sama (dan mnginginkan tegaknya aturan yang sama. Lho?!) “dipaksa” berinteraksi secara intens (meski tidak akrab) selama dua bulan, bukan tidak mungkin timbul pemikiran–pemikiran nakal yang dapat mengotori hati, merusak niat (I’m sure that you know what I mean).</p>
<p>Bagi saya, berinteraksi dengan laki–laki pengemban da’wah ideologis jauh lebih berbahaya daripada berinteraksi dengan selain mereka. Memang, keduanya sama–sama memungkinkan timbulnya rasa tertentu tetapi terhadap selain pengemban da’wah ideologis (apalagi laki–laki aamm), rasa itu bisa dengan mudah disingkirkan “hanya” dengan meyakinkan diri sendiri bahwa kami beda dunia (maksudnya beda visi–misi, gitu)! Dan saya kira laki–laki yang bukan pengemban da’wah ideologis pun akan berfikir demikian tentang saya “dunia kami berbeda!”. Sampai di sana, masalah selesai, Tidak akan ada hati yang terkotori lebih lanjut. Tetapi ketika berinteraksi dengan sesama pengemban da’wah ideologis? Koq sepertinya lebih menakutkan?!</p>
<p>Dengan pertimbangan demikian, saya putuskan untuk lebih memilih menjaga aurat lebih kuat dan menjaga interaksi lebih ketat. Meski itu sulit tetapi insya ALLAH tanpa ada risiko terkotorinya hati. Saya pun memilih tetap bergabung dengan KKN KOPMA. Ternyata mungkin ALLAH juga berkehendak untuk menjaga kesucian hati para pengemban agama–NYA. Rencana saudari–saudariku tersebut tidak pernah terlaksana. Teman dari Agro Kompleks memutuskan untuk KKL dulu, teman dari Saintek terlambat revisi KRS untuk memasukkan “mata praktikum” KKN. Teman dari FIB, tidak mungkin bergerak sendiri. Dia memilih untuk bergabung dengan tim lain yang didominasi pengemban da’wah juga (meski bukan pengemban da’wah ideologis).</p>
<p>Saya semakin sering berkoordinasi dengan tim KKN KOPMA (meski sering juga bolosnya) dan semakin hari saya semakin merasa bahwa ini bukan duniaku. Interaksinya semakin tidak saya suka rasanya. Saya ingin mundur, tapi alasannya apa? Dan saya mau ke mana jika saya mundur di tengah–tengah begini? Mau gambling dengan mendaftar KKN di LPPM tanpa kelompok dan membiarkan LPPM mem-plotting saya di mana pun LPPM suka? Saya tidak berani! Iya kalau mendapat tim KKN yang lebih “shalih”, kalau tidak? Horror!</p>
<p>Usai UTS (Ujian Tengah Semester) saya sempatkan berkunjung ke Tembalang, mengunjungi saudari–saudari di sana meski hanya 1 malam plus beberapa jam. Saya gali selengkap–lengkapnya info terkait interaksi selama KKN. Dan… saya merasa semakin horror ketika bergabung dengan tim KKN yang dunianya berbeda dengan kita. Tak bisa saya bayangkan selama dua bulan saya harus tidur dengan pakaian lengkap (jilbab + kerudung + kaos kaki + mihnah yang juga tidak bisa sembarangan) dan selalu “ketakutan” kalau–kalau ada laki–laki iseng yang masuk atau “sekadar” mengintip kamar kami (katanya banyak kejadian seperti itu di KKN). Ngeri!</p>
<p>Saya pun berdoa agar ALLAH memberi saya yang terbaik, menempatkan saya dalam tim KKN yang baik, yang terjaga. Dan… Subhanallaah… ALLAH Menjawab doa saya! Sekitar 2–3 hari sebelum batas akhir pengumpulan proposal, kami mendapat berita “buruk” (bagi teman–teman KKN KOPMA), beberapa mitra (yaitu dusun–dusun sekitar kampus) menolak bekerja sama, yang artinya kami tidak bisa melakukan KKN di sana (hanya KOPMA yang bersedia menerima kami). Kami harus mencari tempat yang lain! Dan tempat penggantinya cukup jauh. Yes! Saya punya alasan untuk keluar! Kan waktu saya bergabung, saya sampaikan bahwa alasan saya bergabung adalah karena lokasinya yang dekat! Mungkin di mata teman–teman KKN KOPMA saya tidak setia kawan, mungkin saya dianggap mau enak sendiri. Tapi mau bagaimana lagi? Saya takut dengan interaksi yang terjadi.</p>
<p>Pertanyaan selanjutnya adalah, setelah saya keluar, saya mau ke mana? Di masa–masa akhir seperti ini, masih adakah tim yang membutuhkaan anggota? Saya pun menghubungi saudari saya yang dari FIB (sebut saja Bunga, bukan korban penculikan. Hehehe…). Ternyata dia pun baru keluar dari tim KKN-nya yang lama karena pihak mitra (dalam hal ini dusun yang ditempati) tidak mengizinkan dia untuk “turun gunung” tiap pekan untuk halqah. Tapi bedanya, dia sudah mendapatkan pengganti tim KKN yang lain yang juga didominasi oleh pengemban da’wah (meski bukan pengemban da’wah ideologis). Di sini, qadha ALLAH yang “berkata”, ternyata tim KKN ini (dikemudian hari kami menyebutnya KKN Unit 57 Sardonoharjo) belum memilki anggota dari Farmasi. Sacara otomatis, di sini saya diterima dengan sangat baik karena mereka sengat membutuhkan anggota dari Farmasi. Sehari kemudian via SMS saya diminta untuk mengirimkan CV (Curriculum Vitae) lengkap ke sebuah alamat e–mail untuk melengkapi data base tim KKN dan diminta untuk mengunjungi blog KKN agar mendapatkan gambaran apa yang akan saya lakukan saat KKN kelak. Saya pun mengirimkannya plus melihat–lihat blog KKN. Dari sana baru saya tahu bahwa tema KKN ini adalah “Peningkatan kualitas SDM dan SDA untuk mengembangkan Desa Wisata Berbasis Teknologi Informasi”. Tahukah kalian, apa yang saya tulis di kolom “Motivasi Bergabung dengan Tim KKN ini” di CV? Dengan tanpa basa–basi, saya sama sekali tidak menyinggung ketertarikan saya pada tema (di saat kepepet seperti ini, tema apa pun asalkan “aman” baik secara pemikiran maupun teknis, OK saja lah) saya malah menulis “Saya ingin mendapatkan tim KKN yang bisa menjaga interaksi antara laki–laki dan perempuan dengan baik, sesuai hukum syara’”. </p>
<p>Beberapa hari kemudian saya mendapatkan undangan koordinasi via SMS. Koordinasi dilakukan di tempat “nongkrong” para pengusung tema KKN ini (yaitu mahasiswa Ilmu Komputer (ilkom), Elektronika dan Instrumentasi (Elins), dan Statistik) di Selasar F.MIPA Utara (tepat di sebelah utara kampus saya). Saya datang paling awal, belum ada orang lain di sana. Saya pun menghubungi si pengirim undangan untuk mengkonfirmasi keberadaan mereka di mana. Ternyata dia izin terlambat, ada masalah dengan motornya, katanya. Setelah menunggu cukup lama sambil muter–muter F.MIPA Utara (sambil refreshing, gitu…) saya kembali lagi ke tempat acara, ternyata di sana sudah berkumpul beberapa orang (tapi acara belum dimulai). Saya pun mulai melancarkan jurus SKSD kepada mereka (tentu hanya kepada yang perempuan dan memang tidak tampak ada laki–laki di sana). Tidak lama kemudian, segerombolan laki–laki yang dari tadi berada di sudut yang lain menginstruksikan untuk membentuk forum. Saya pun kaget, secara otomatis forum cukup terkondisikan. Laki–laki dan perempuan duduk terpisah dengan jarak yang lumayan lah meski tanpa hijab. Alhamdulillaah…, saya sangat bersyukur… Penjagaan–MU kepadaku luar biasa.</p>
<p>Dari pertemuan perdana itu (bagi saya perdana, bagi mereka itu sudah koordinasi yang ke berapa, entah) saya tahu sebenarnya tidak semuanya pengemban da’wah. Hanya beberapa gelintir saja tetapi merekalah yang menjadi tim pengusul tema sehingga otomatis menduduki posisi penting dan membuat pengaruh di dalamnya. Pengemban da’wah yang ada di sana berasal dari KaLAM (ROHISnya Fakultas Kedokteran Umum), KMFM (Keluarga Muslim Fakultas MIPA), JS (Jamaah Shalahudin, ROHISnya UGM), IM3 (Ikatan Mahasiswa Masyarakat Madani) dan KAMMI (yang ini sudah pada tahu kan ya?). Dari awal, saudari saya Bunga mengatakan bahwa kemungkinan kami tidak akan satu sub unit, kemungkinan besar kami akan di tempatkan di dusun yang berbeda karena sudah diplotkan pada koordinasi sebelumnya. Kami pun merancang strategi untuk bisa pergi halqah dan agenda da’wah lainnya mengingat ada keterbatasan dalam hal kendaraan (dan tentu saja di sana tidak ada angkot). Namun ternyata… lagi–lagi qadha ALLAH bermain dengan sangat indah. Pemimpin rapat koordinasi siang itu mengumumkan bahwa ada perubahan formasi tim KKN dan tahukah? Saya dan Bunga ditempatkan dalam satu sub unit yang sama! Satu rumah! Dan setelah kami cermati (lebih tepatnya Bunga yang mencermati karena dia yang telah mengenal tim KKN ini), ternyata terjadi “lokalisasi” pengemban da’wah di sub unit kami! Subhanallaah…</p>
<p>Kabarnya sejak koordinasi siang itu terjadi beberapa kali re-arrangement formasi tim KKN kami tapi Alhamdulillaah saya dan Bunga tetap dalam satu sub unit. Pun sub unit kami tetaplah sub unit yang didominasi pengemban da’wah.</p>
<p>Lalu tibalah saatnya penerjunan KKN. Kami mulai menempati rumah–rumah di dusun (sub unit) masing–masing. Saya menempati dusun Turen bersama tujuh orang lainnya. Kami berdelapan (6 orang perempuan dan 2 orang laki–laki) tinggal di rumah Pak Dukuh. Alhamdulillaah, interaksi kami lumayan terjaga meski memang tidak bisa dipungkiri, yang namanya laki–laki dan perempuan ketika “dipaksa” tinggal dalam satu rumah, sulit sekali untuk terus menjaga interaksi. Kadang kala terjadi juga interaksi yang tidak diperlukan. Sesekali terjadi gurauan yang tidak sepantasnya meski didominasi pengemban da’wah. Saat–saat rawan adalah ketika sarapan dan makan malam (atau ketika buka dan sahur). FYI: Di sub unit kami “diwajibkan” makan bersama dengan alasan untuk menjalin komunikasi yang baik. Memang harus diakui juga, kami sempat “kecolongan” beberapa kali. Sempat terjadi kasus pelanggaran hukum syara’ yang cukup berat. Namun, karena memang basic-nya adalah pengemban da’wah, maka anggota tim yang lain bisa dengan leluasa menegurnya dengan ‘senjata andalan’ menggunakan bahasa–bahasa aqidah, bahkan tak jarang mengeluarkan dalil. </p>
<p>Satu hal lagi yang membuat saya merasa sangat beruntung adalah kemudahan izin meninggalkan rumah (lokasi KKN) untuk agenda da’wah. Di saat teman–teman di sub unit lain kesulitan izin sehingga harus membolos liqa’, mentoring, ta’lim atau apalah namanya. Kami di sini sangat leluasa. Cukup kami meminta izin (atau mungkin lebih tepatnya hanya sekadar memberi tahu) kepada Kormasit (Koordinator Mahasiswa Sub Unit) dengan mengatakan “Mas, turun! Halqah” atau “Mas, turun! Ziyadah!” atau “Mas, turun! Mutaba’ah!” kami sudah bisa meninggalkan lokasi KKN dengan leluasa. Biasanya yang “dimintai” izin hanya menjawab “Ya! Hati–hati ya!” atau kadang kalau lagi iseng tanya “Ziyadah apa? Tambahan apa?”, yasudah tinggal saya jawab saja “Ziyadah kitab ini, Mas!”. Pernah juga ketika kami tidak turun (karena ada beberapa agenda yang diubah jadwalnya), kami malah ditanya “Kalian ga turun? Ga ziyadah?”. Atau ketika Bunga turun sedangkan saya tidak atau sebaliknya, biasanya ada yang bertanya “Bunga ziyadah, kamu ga?”</p>
<p>Hal lain yang juga patut disyukuri adalah suasana ibadah mahdhah yang cukup semarak di sub unit ini. Shalat berjamaah menjadi sesuatu yang seolah “wajib” dilakukan di rumah bagi kami (tentu maksudnya untuk yang perempuan, yang laki–laki sudah pasti harus ke masjid). Puasa sunnah juga sering dilakukan. Tilawah pasti jalan. Budaya menasihati juga tumbuh dengan cukup baik. Bahkan, ketika forum sharing unit ada salah seorang (tentu dari sub unit lain) yang berkomentar “… ketika berkunjung ke Turen, maka hal yang paing terasa adalah suasana relijiusnya…”. </p>
<p>Subhanallaah… wal hamdulillaah… Skenario–MU, Penjagaan–MU padaku sungguh luar biasa. Engkau Menempatkanku di tengah tim KKN yang sangat memudahkan aktivitasku, yang mendekatkanku kepada–MU.</p>
<p>Dari pengalaman ini saya semakin meyakini bahwa ketika kita benar–benar bertekad untuk menjaga diri, insya ALLAH, DIA akan memudahkan kita. DIA akan menyediakan scenario terbaik untuk menjaga kita…</p>
<p>Di kamar penuh cinta<br />
Tegal, 9 Syawwal 1432 H<br />
Tuesday, September 06, 2011<br />
9.48 p.m.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/coretanfifi.wordpress.com/462/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/coretanfifi.wordpress.com/462/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/coretanfifi.wordpress.com/462/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/coretanfifi.wordpress.com/462/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/coretanfifi.wordpress.com/462/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/coretanfifi.wordpress.com/462/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/coretanfifi.wordpress.com/462/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/coretanfifi.wordpress.com/462/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/coretanfifi.wordpress.com/462/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/coretanfifi.wordpress.com/462/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/coretanfifi.wordpress.com/462/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/coretanfifi.wordpress.com/462/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/coretanfifi.wordpress.com/462/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/coretanfifi.wordpress.com/462/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=coretanfifi.wordpress.com&amp;blog=2895410&amp;post=462&amp;subd=coretanfifi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://coretanfifi.wordpress.com/2011/09/11/beberapa-episode-menuju-sardonoharjo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ede271432351bc4005e771958e3a0675?s=96&#38;d=retro&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Fifi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://coretanfifi.files.wordpress.com/2011/09/turen.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Turen</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sepenggal Episode di Sardonoharjo</title>
		<link>http://coretanfifi.wordpress.com/2011/09/02/sepenggal-episode-di-sardonoharjo/</link>
		<comments>http://coretanfifi.wordpress.com/2011/09/02/sepenggal-episode-di-sardonoharjo/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Sep 2011 10:32:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fifi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berbagi Kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://coretanfifi.wordpress.com/?p=459</guid>
		<description><![CDATA[Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan sebuah pembelajaran yang sungguh berkesan dan membuka mata saya tentang banyak hal. Melalaui interaksi selama KKN baik dengan sesame mahasiswa dari disiplin ilmu yang berbeda, interaksi dengan institusi terkait, maupun dengan masyarakat sekitar saya semakin menyadari bahwa masing–masing bidang ilmu apalagi profesi memiliki tantangannya masing–masing. Setiap disiplin ilmu memainkan peran [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=coretanfifi.wordpress.com&amp;blog=2895410&amp;post=459&amp;subd=coretanfifi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://coretanfifi.files.wordpress.com/2011/09/digotong.jpg"><img src="http://coretanfifi.files.wordpress.com/2011/09/digotong.jpg?w=300&#038;h=224" alt="" title="Digotong" width="300" height="224" class="alignleft size-medium wp-image-473" /></a>Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan sebuah pembelajaran yang sungguh berkesan dan membuka mata saya tentang banyak hal. Melalaui interaksi selama KKN baik dengan sesame mahasiswa dari disiplin ilmu yang berbeda, interaksi dengan institusi terkait, maupun dengan masyarakat sekitar saya semakin menyadari bahwa masing–masing bidang ilmu apalagi profesi memiliki tantangannya masing–masing. Setiap disiplin ilmu memainkan peran pentingnya masing–masing dalam kehidupan yang sama–sama penting. Tidak ada satu biang ilmu pun atau satu profesi pun yang berhak mengaku sebagai bidang ilmu atau profesi paling penting atau paling unggul. Semuanya diperlukan dalam kehidupan.<span id="more-459"></span></p>
<p>Pekan pertama pasca perkebunan kami lebih banyak berinteraksi dengan sesama mahasiswa KKN untuk mengakrabkan diri. Kami lebih banyak berdiskusi di dalam rumah membahas program–program kerja yang akan dilaksanakan pada pekan–pekan berikutnya. Di dalam rumah, saya mengakui kehebatan masing–masing teman dari empat cluster yang berbeda: Kesehatan, Agro Kompleks, Saintek (Sains [F.MIPA, F.Biologi, F.Geografi, dan F.Teknik), dan Sosio Humaniora. Seorang teman dari Agro Kompleks yang mengambil jurusan Perikanan, dia begitu lihai mengolah ikan menjadi aneka makanan lezat yang tidak membosankan. Dia pun mengajari kami bagaimana membuat stick nugget, bakso ikan, dan lain–lain. Seorang teman dari cluster Saintek membuat saya terdiam karena saya tidak mengerti apa–apa tentang program yang dia buat juga istilah–istilah yang dia gunakan dalam pemrograman. Yang lainnya dari Sosio Humaniora membuat saya terkesan dengan mudahnya dia memahami situasi politik yang terjadi dibandingkan teman–teman yang berasal dari cluster lainnya.</p>
<p>Pekan kedua, kami mulai menjalankan program yang berkaiatan dengan masyarakat sekitar. Program pertama yang kami jalankan adalah program gabungan yang melibatkan seluruh mahasiswi (mahasiswanya tidak terlibat secara langsung) peserta KKN. Program tersebut kami laksanakan di SD Negeri 1 Sardonoharjo selama kurang lebih dua pekan. Selama dua pekan itu kami “berperan” seolah–olah menjadi gurus SD. Saya dan seorang teman lainnya yang juga dari cluster Kesehatan mengajar tentang PHBS. Teman yang dari Agro mengajar tentang GEMAR IKAN (Sampai sekarang pun saya belum tau GEMAR IKAN itu kepanjangannya apa. Hehehe…). Sedangkan yang dari Sosio Humaniora mengajar Bahasa Jepang dan PRAMUKA. Sebenarnya semua itu hanya masalah PJ dan konseptor saja karena ketika terjun mengajar, semuanya terlibat di hampir seluruh kegiatan. Saya ikut mengajar GEMAR IKAN, Bahasa Jepang, juga PRAMUKA. Demikian juga mereka. Mereka pun terlibat dalam PHBS (tentu sebelum terjun di-training dulu di rumah).</p>
<p>Pengalaman pertama mengajar SD adalah membantu mengajar Bahasa Jepang di Kelas IV. Busyeett… susah bener anak–anak ini diajak mendengarkan. Ribut mulu…. (salah seorang teman menyebut mereka sebagi rocker karena sikapnya seperti penyenyi rock yang lagi manggung, teriak–teriak, jingkrak – jingkrak ga jelas…). Ngajarnya cuma satu jam, lelahnya masya ALLAH… Hausnya minta ampun karena harus saingan suara, ikutan teriak–teriak.</p>
<p>Selesai pelajaran Bahasa Jepang, selanjutnya saya membantu teman mengajar GEMAR IKAN melalui kegiatan mewarnai gambar ikan (sebenarnya saya juga agak bingung. Nyambungnya koq kayaknya jauh gitu ya antara mewarnai gambar ikan dengan tujuan utama supaya mereka doyan makan ikan. Tapi ya sudahlah…) yang sesuai jadwal seharusnya dilakukan di kelas VI, menggantikan mata pelajaran kesenian yang kebetulan guru pengampunya sedang mengikuti semacam seminar atau apa gitu… Belum aja masuk kelas, kami sudha disambut muka masam sebagian siswi kelas VI. Dengan nada tidak suka, beberapa dari mereka mengatakan “Mau ngajarin nggambar, Mba? Ya Ampuun… Nggambar? Kayak anak SD aja!” Giliran saya yang bingung. Lha?! Ni anak ga ngerasa kalau dirinya masih SD ya? Dikira dia sudah SMA kali ya? Perasaan sampai SMP juga masih ada pelajaran menggambar dan mewarnai. Bahkan SMA pun seingat saya masih ada pelajaran menggambar…</p>
<p>Begitu masuk kelas, kami disambut dengan muka – muka yang masam luar biasa. Mereka menolak pelajaran menggambar dan “mengusir” kami dengan alasan jam pelajaran kesenian sudah selesai padahal pihak sekolah sudah member kuasa kepada kami untuk mengambil jam itu jika jam kesenian tidak mencukupi. Tapi ya sudahlah sepertinya ga asyik juga memaksakan diri mengajar orang yang menolak diajar. Akhir penanggung jawab program GEMAR IKAN ini pun memutuskan untuk membatalkan mengajar GEMAR IKAN di kelas VI hari itu.</p>
<p>Tak bisa dibayangkan kalau saya benar–benar jadi guru SD menghadapi anak–anak yang demikian setiap hari, sendirian pula (FYI, selama KKN kami mengajar satu kelas di-handle oleh dua orang). Bisa kurus kering saya, padahal sekarang juga sudah kurus. Hehehe…</p>
<p>Pada saat evaluasi program hari itu, ternyata yang “mengeluh” bukan hanya saya tetapi teman–teman KKN yang lain juga “mengeluh”. Bahkan saking sebelnya, salah seorang teman sampai berujar “Coba ya mereka anak SMA, pasti sudah aku jawab ‘Heh, lo ngarep kan pake ini?!’ [sambil nunjuk jas almamater berlogo surya binolong]. Senga’ banget tu anak! Tapi sayangnya mereka masih anak SD. Yasudahlah…, sabar saja…”</p>
<p>Hari – hari berikutnya kami memang sudah tidak disambut dengan sikap senga’ seperti itu lagi (karena kami “meninggalkan” kelas VI memang. Hehehe…). Tantangan kami sedikit berkurang, kami hanya harus menyiapkan energi ekstra untuk menghadapi para rocker yang ada di setiap kelas (lebih tepatnya kami harus menghadapi kelas rocker karena jumlah rockernya jauh lebih banyak daripada yang bukan rocker). Melihat kenyataan yang demikian itu, ketika tiba saatnya pelatihan cuci tangan dan gosok gigi yang melibatkan seluruh siswa dalam satu waktu yang sama, yang itu artinya mau tidak mau hari itu kami harus menghandle tiap kelas seorang diri (dan saya penanggungjawab plus konseptornya!), saya pun berbuat “curang”. Saya sengaja melibatkan mahasiswa (awalnya yang terlibat hanya mahasiswinya saja) peserta KKN untuk meng-handle kelas yang kami rasa paling “bermasalah” yaitu kelas VI dan Kelas IV. Saya dan teman–teman mahasiswi “bersekongkol” untuk membuat mereka merasakan bagaimana rasanya mengahdapi anak–anak SD karena sebelumnya mereka selalu “berisik” dengan mengatakan “Kalian bikin program di SD tidak melibatkan kami! Seolah – olah yang KKN Cuma kalian berenam, putri semua! Yang putra tidak dilibatkan! Kita kan di sini berdelapan. Bukan cuma kalian berenam!”. Maka, saya (dengan persetujuan teman–teman putri yang lain) pun sengaja menempatkan mereka di kelas paling bermasalah.</p>
<p>Dan hasilnya adalah…. Salah seorang dari mereka mengatakan “Haduh! Cukup sekali saja aku diajak ngajar SD! Terima kasih kalian tidak melibatkan aku dalam program kalian di SD!” Selanjutnya mereka tidak pernah mau lagi diajak ke SD. Kapok. Hahaha…</p>
<p>Pengalaman yang seru lagi ketika kami mengajar PRAMUKA. Hari itu benar–benar crowded banget. Terjadi perkelahian kecil antara Fidan dan Hafidz (mereka siswa kelas III) di kelas. Biasa lah…, anak laki–laki. Terjadi dorong–mendorong di sekitar “guru” (maksudnya mahasiswi KKN, gitu…). Fidan jatuh dan secara tidak sengaja lehernya terkena ujung pena Bu “Guru” sampai terluka (sedikit berdarah), Fidan nangis. Nah, anak–anak ramai menyalahakan Hafidz. Dia dituduh mendorong Fidan hingga terkena ujung pena Bu “Guru”. Hafidz merasa tidak bersalah karena bukan dia yang mendorong Fidan. Entah bagaimana ceritanya, tiba – tiba ada siswa kelas V bernama Arief yang masuk dan turut menyalahkan Hafidz. Pertengkarannya sekarang berubah, bukan lagi antara Hafidz dan Fidan tetapi antara Hafidz dan Arief. Masalah antaraFidan dan Hafidz sudah selesai dengan Hafidz meminta maaf pada Fidan meskipun dia tetap merasa tidak bersalah. Yang jadi masalah adalah kenapa Arief ikut–ikutan dan dai tidak mau menerima permintaan maaf dari Hafidz. Ada maslah apa di antara mereka berdua? Saya juga bingung… Ada tokoh satu lagi yang terlibat dalam pertengkaran itu, yaitu Dwi. Saya juga tidak tahu apa peran Dwi dalam kasus ini. Entahlah… Pokoknya dia terlibat.</p>
<p>Nah, yang lucu dari kasus ini adalah…. Si Bu “Guru” ikutan nangis! Dan teman Bu “Guru” yang juga ngajarb di Kelas III juga ikutan nangis. Jadi, di kelas itu ada 4 (empat) orang yang nangis: Fidan (korban), Hafidz (korban juga, karena dia menjadi tertuduh padahal menurut dia, dia tidak bersalah), dan dua orang gurunya. Hahaha… Jadilah itu satu sekolahan heboh dengan sesuatu yang bermula hanya dari perkelahian kecil antara Fidan dan Hafidz. Mana ada guru SD ikutan nangis ketika ada muridnya yang nangis gara–gara berkelahi?</p>
<p>Hari berikutnya, waktu itu sudah akhir–akhir nih… Sudah cukup lama dan cukup capek ngajar di SD. Kami sudah kewalahan menghadapi anak–anak kelas VI yang memang tidak pernah ramah pada kami. Mereka itu dipersilakan masuk kelas susahnya minta ampun…. Di saat kami menyerah dan membiarkan mereka melakukan semau mereka, tiba – tiba datanglah Guru SD yang asli. Beliau Cuma berkata “Sekarang pelajarannya apa?” sambil berjalan dan ajaibnya mereka pun langsung menjawab “IPS, Bu…” sambil berjalan masuk ke kelas. Padahal yang ngomong tadi pun bukan guru kelas mereka, pun bukan guru IPS yang seharusnya mengajar mereka saat itu. Melihat peristiwa itu, kami hanya bisa saling menatap dan heran, koq bisa ya? Semudah itu?</p>
<p>Dari dua pekan interaksi kami bersama anak–anak SD kami harus mengakui guru–guru SD tidak bisa dipandang sebelah mata. Mereka memiliki skill yang tidak kami miliki. Mereka bisa mengendalikan anak–anak SD dengan begitu mudah sementara kami seringkali (atau bahkan selalu?) kewalahan menghadapinya. Dengan semua yang saya rasakan di SD, saya menjadi semakin bangga dengan Mamih, Ibundaku yang berprofesi sebagai guru SD. I’m proud to be your daughter, Mamih…   </p>
<p>Di atas kain ungu di kamar penuh cinta<br />
Tegal, 3 Syawwal 1432 H<br />
Wednesday, August 31, 2011<br />
10.24 p.m.</p>
<p>Haafizhah Kurniasih</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/coretanfifi.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/coretanfifi.wordpress.com/459/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/coretanfifi.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/coretanfifi.wordpress.com/459/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/coretanfifi.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/coretanfifi.wordpress.com/459/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/coretanfifi.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/coretanfifi.wordpress.com/459/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/coretanfifi.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/coretanfifi.wordpress.com/459/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/coretanfifi.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/coretanfifi.wordpress.com/459/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/coretanfifi.wordpress.com/459/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/coretanfifi.wordpress.com/459/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=coretanfifi.wordpress.com&amp;blog=2895410&amp;post=459&amp;subd=coretanfifi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://coretanfifi.wordpress.com/2011/09/02/sepenggal-episode-di-sardonoharjo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ede271432351bc4005e771958e3a0675?s=96&#38;d=retro&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Fifi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://coretanfifi.files.wordpress.com/2011/09/digotong.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Digotong</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Antara Miss World, Miss Universe dan Miss Ethawa</title>
		<link>http://coretanfifi.wordpress.com/2011/09/02/antara-miss-world-miss-universe-dan-miss-ethawa/</link>
		<comments>http://coretanfifi.wordpress.com/2011/09/02/antara-miss-world-miss-universe-dan-miss-ethawa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Sep 2011 10:27:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fifi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berbagi Kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://coretanfifi.wordpress.com/?p=457</guid>
		<description><![CDATA[Kuliah Kerja Nyata (KKN) adalah salah satu “mata praktikum” pembelajaran berinteraksi dengan masyarakat yang sangat berkesan. Ada berbagai kesan baik, juga kesan buruk yang mungkin tak sedikit. Itu pula yang saya rasakan setelah menyelesaikan “praktikum” KKN di Desa Sardonoharjo Kecamatan Ngaglik, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta beberapa hari yang lalu. KKN yang dilakukan selama kurang lebih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=coretanfifi.wordpress.com&amp;blog=2895410&amp;post=457&amp;subd=coretanfifi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://coretanfifi.files.wordpress.com/2011/09/ettawa-1.jpeg"><img src="http://coretanfifi.files.wordpress.com/2011/09/ettawa-1.jpeg?w=150&#038;h=119" alt="" title="ettawa-1" width="150" height="119" class="alignleft size-thumbnail wp-image-471" /></a>Kuliah Kerja Nyata (KKN) adalah salah satu “mata praktikum” pembelajaran berinteraksi dengan masyarakat yang sangat berkesan. Ada berbagai kesan baik, juga kesan buruk yang mungkin tak sedikit. Itu pula yang saya rasakan setelah menyelesaikan “praktikum” KKN di Desa Sardonoharjo Kecamatan Ngaglik, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta beberapa hari yang lalu. KKN yang dilakukan selama kurang lebih dua bulan itu meninggalkan banyak pelajaran berharga untukku. <span id="more-457"></span></p>
<p>Kegiatan mahasiswa KKN pada pekan pertama pasca penerjunan adalah “observasi wilayah”. Kalau mau jujur, istilah observasi sebenarnya hanyalah akal–akalan saja supaya tampak “keren” sedikit karena sesungguhnya lebih tepat disebut sebagai “jalan–jalan” mengelilingi desa sambil menikmati alam pedesaan yang menawan. Itu pula yang kami lakukan pada pekan pertama menginjakkan kaki di Desa Sardonoharjo Kecamatan Ngaglik Kabupaten Sleman. Desa yang terletak di kaki Merapi ini menyajikan pemandangan alam yang cukup indah, wajar jika pemerintah desa setempat mencanangkan desa ini untuk menjadi desa wisata. Pekan pertama kami berkeliling menikmati persawahan (meski sebenarnya sawah adalah hal yang biasa bagi saya karena di depan rumah orang tua saya juga sawah, hanya saja yang berbeda adalah hawa dingin di sini yang sampai membuat mulut kami berasap ketika berbicara), kolam budi daya ikan, budi daya jamur, sungai khas pegunungan, air terjun, bumi perkemahan, peternakan kambing perah, dan lain–lain.</p>
<p>Ada kisah menarik ketika kami mengunjungi peternakan kambing perah ethawa. Pagi itu saya bersama seorang teman dari cluster sosio humaniora dan seorang teman dari cluster agro kompleks mengunjungi Kelompok Ternak Sakinah yang mengembangkan kambing perah Peranakan Ethawa (PE). Kami ditemui oleh salah seorang peternak, tapi saya lupa namanya siapa. Masing–masing dari kami menanykan banyak hal yang terkait dengan asal cluster kami, mencari celah barangkali ada kebutuhan meraka yang bisa menjadi program kerja KKN kami. Obrolan terasa mengalir begitu saja karena si Mas peternak sangat terbuka, memberikan informasi apa pun yang kami butuhkan bahkan tanpa ditanya pun beliaunya bercerita sendiri. Hobby cerita kayakanya memang. Hehehe…</p>
<p>Yang menarik adalah ketika si Mas Peternak (sebut saja begitu yak arena saya lupa nama Mas-nya siapa) bercerita tentang “Miss Ethawa”. Kami bertiga sempat kaget, koq seperti kontes kecantikan saja? Dan ternyata memang benar, itu adalah ajang kontes kecantikan khusus kambing keturunan Ethawa. Si Mas Peternak bercerita dengan penuh semangat tentang cita–cita kelompok ternaknya untuk bisa menjuarai kontes kecantikan tersebut. Parameter penilaiannya pun ternyata mirip–mirip dengan parameter penilaian kontes–kontes kecantikan wanita. Beberapa yang saya ingat nih, tinggi badan (diukur dari ujung kaki hingga punggung kambing) syarat minimalnya berap gitu, saya lupa. Mirip banget kan dengan kontes kecantikan wanita yang mempersyarakatkan tinggi badan minimal (kalau ga salah) sekitar 170 cm? Paramenter selanjutnya adalah linggar perut dan lingkar dada. Tambah mirip lagi deh tuh. Berat badan dan panjang badan juga. Aduh… mirip banget dengan kontes kecantikan wanita.</p>
<p>Si Mas Peternak melanjutkan ceritanya bahwa kambing yang telah mendapat gelar “Miss Ethawa” bisa mendapatkan hadiah jutaan rupiah dan bisa dihargai hingga puluhan juta rupiah. Katanya, harga kambing penyandang gelar “Miss Ethawa” memang tidak masuk akal karena itu sudah terkait hobby. Miss Ethawa tidak lagi dihargai karena kemampuannya menghasilkan susu (kemampuan utama kambing Ethawa) atau kesuburannya. Dia semata–mata dinilai karena “kecantikannya”. Nah, jadi semakin mirip dengan para pemenang Miss – Miss lainnya. Miss World, Miss Universe, atau turunannya di berbagai negeri. Mereka memang dihargai sangat tinggi, bahkan dengan harga yang tidak masuk akal. Namun sayang, harga yang mereka dapatkan bukanlah harga atas karya mereka, bukan harga atas sumbangsih mereka untuk masyarakat, bahkan bukan harga atas sisi–sisi yang menjadikan mereka sebagai manusia. Semua itu hanyalah harga atas kecantikan dan kemolekan tubuh mereka yang dengan “ikhlas hati” mereka pertontonkan di depan umum. Sangat mirip dengan Miss Ethawa.</p>
<p>Nah, masih mau jadi Miss – Miss seperti itu?<br />
Siap–siap aja deh untuk bersaing dengan kambing milik Mas Peternak itu….<br />
Hehehe….</p>
<p>Menikmati kehangatan keluarga dan rumah yang penuh kenyamanan (insya ALLAH rumah yang penuh barakah yang selalu aku rindukan)<br />
Tegal, 29 Ramadhan 1432 H<br />
Sunday, August 28, 2011<br />
8.02 p.m.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/coretanfifi.wordpress.com/457/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/coretanfifi.wordpress.com/457/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/coretanfifi.wordpress.com/457/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/coretanfifi.wordpress.com/457/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/coretanfifi.wordpress.com/457/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/coretanfifi.wordpress.com/457/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/coretanfifi.wordpress.com/457/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/coretanfifi.wordpress.com/457/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/coretanfifi.wordpress.com/457/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/coretanfifi.wordpress.com/457/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/coretanfifi.wordpress.com/457/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/coretanfifi.wordpress.com/457/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/coretanfifi.wordpress.com/457/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/coretanfifi.wordpress.com/457/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=coretanfifi.wordpress.com&amp;blog=2895410&amp;post=457&amp;subd=coretanfifi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://coretanfifi.wordpress.com/2011/09/02/antara-miss-world-miss-universe-dan-miss-ethawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ede271432351bc4005e771958e3a0675?s=96&#38;d=retro&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Fifi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://coretanfifi.files.wordpress.com/2011/09/ettawa-1.jpeg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">ettawa-1</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
