Cinta karena ALLAH

Ana uhibbuki fillah…

Sebaris kalimat itu (atau kalimat lain yang semakna) sering saya dapatkan lewat SMS, secarik surat (biasanya undangan), e-mail, atau terkadang ucapan. Dulu, saya pun sering menyampaikan kalimat itu dalam SMS, surat, bahkan sering saya ucapkan.

Ana uhibbuki fillah…

Kata yang indah memang. Penuh makna. Hati siapa sih yang tidak berbunga – bunga ketika mendapatkan kalimat itu? Begitu pun saya. Ketika awal – awal mendapatkan SMS berisi “Ana uhibbuki fillah…“, atau ada yang mengatakan itu, rasanya….

Saya pun jadi sering mengatakan itu kepada saudari / saudari saya dengan harapan ia pun akan merasakan getaran dan akan tumbuh bunga yang sama di hatinya.

Ana uhibbuki fillah…

Dulu…, saya sering mengucapkannya karena kata – kata itu sarat makna. Tapi sekarang…. justru karena saya sadar kata – kata itu sarat makna, saya sering menahan diri untuk tidak mengatakannya.

fillaah…

Kata itulah yang belakangan membuat saya menahan diri mengatakannya.

Aku Mencintaimu karena ALLAH. Kalimat yang indah, bahkan sangat indah. Namun, benarkah ketika dulu saya mengucapkannya kepada seseorang (saat itu saya sering mengatakannya kepada banyak orang), saya benar – benar mencintainya karena ALLAH dari hati yang paling dalam? Atau hanya sekadar pemanis bibir atau pembuat indah tulisan atau sekadar memanfaatkan karekter yang tersisa dalam SMS?

Mencintai karena ALLAH. Bukankah itu tingkat cinta yang tertinggi? Cinta yang akan membuat pelakunya mendapatkan naungan ALLAH di saat tak ada lagi naungan selain dari naungan – NYA.

Mencintai karena ALLAH. Bukankah itu berarti kita tak perlu lagi mengharap balasan cinta dari seseorang tersebut? Bukankah itu berarti cukup bagi kita mengharap balasan cinta dari ALLAH tanpa perlu peduli apakah orang tersebut balas mencintai kita atau tidak?

Jika itu definisinya, maka tidak pantas bagi saya untuk mengatakannya kecuali kepada beberapa orang saja.

Akhirnya, ingin saya sampaikan kepada Anda yang sering berkata, “Ana uhibbuka/i/kum fillaah…” benarkah itu lahir dari hati Anda yang paling dalam? Mari kita renungkan!

Jika benar, itu lahir dari hati yang paling dalam, SELAMAT!

Tapi… jika tidak…, marilah kita bersama – sama berusaha untuk mencintai saudara/i kita dengan tulus, dengan cinta karena ALLAH. Bukankah ALLAH dan Rasul – NYA sangat membenci orang – orang yang mengatakan sesuatu tetapi tidak melakukannya?

Yuuk… saling mencintai karena ALLAH! Sehingga kita dapat berkata “Ana uhibbukum fillah…” dengan mantap, tak hanya sekadar pemanis.

Semarang, March 27 2008

1.07 p.m

Haafizhah Kurniasih

3 thoughts on “Cinta karena ALLAH

  1. ana uhibuki fillah,,,:)
    fifi,,,
    apa kabar? maaf yah, minggu lalu emang aku pulang,, tp ke demak,, jd di rmh justru hr sabtu..:(
    cie,, blog baru nih,, ntar tukeran link ya,,:)

  2. SubhanaLLah.. sngguh aku mncintai saudari2 ku yg solehah krn ALLAh & mau b’usaha sprti mreka (solehah) Amin Ya Rabb.. ^_^ makasih ukhti atas note’a bagus bgt… AlhmduLiLah…

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s