Perempuan Teraniaya

(Dimuat di INSANI dengan sedikit pengeditan)

Pernah nonton film berjudul “Perempuan Teraniaya” ga? Itu tuh film yang diputar tiap pekan jam 9 malam di SCTV. Format penayangannya seperti Rahasia Ilahi di TPI, punya sub judul yang sekali tayang habis.

Film ini menceritakan tentang realitas kehidupan perempuan – perempuan yang teraniaya dalam kehidupan rumah tangganya. Katanya sech, akhir – akhir ini marak terjadi penindasan terhadap perempuan (baca: istri) yang dilakukan oleh laki – laki yang seharusnya melindunginya (baca: suami). Nah, film ini mencoba mengupas tentang hal itu serta kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) lainnya.

Menurut penulis, film ini layak untuk ditonton karena bisa menambah pengetahuan kita tentang kehidupan para perempuan di era modern ini yang ternyata masih harus mengalami perlakuan seperti perempuan – perempuan pada masa “jahiliyah”. Film ini juga dapat membuka mata kita sehingga kita tahu bahwa ternyata system hidup yang menaungi kita saat ini tidak mampu melindungi perempuan. Mau tau penderitaan apa saja yang dialami perempan – perempuan tersebut?

Pada edisi perdananya yang tayang pada hari Senin, 10 Juli 2006, dikisahkan seorang istri yang dijual suminya hanya untuk membayar hutang – hutangnya. Diceritakan bahwa perempuan tersebut mengalami tekanan batin yang sangat dahsyat karena kejadian yang menimpanya tersebut (ya jelaslah, perempuan mana yang rela untuk diperdagangkan?). Pernah suatu ketika dia memprotes tindakan suaminya tersebut, tetapi yang ia dapatkan malah penganiayaan. Pernah juga dia mencoba melarikan diri tetapi gagal karena suaminya mengetahui.

Kemudian pada edisi kedua (Senin, 17 Juli 2006) diceritakan tentang seorang perempuan yang bersuamikan seorang homo sex. Mulanya kehidupan rumah tangga mereka sangat harmonis dengan dua orang anak. Tetapi kehidupan rumah tangga mereka mulai goyah saat sahabat suaminya (sahabatnya ini adalah seorang laki – laki bernama Indra) si suami mulai sering bermalam di rumah mereka. Dan akhirnya rumah tangga mereka benar – benar hancur ketika si suami secara terang – terangan mengakui bahwa ada orang lain yang telah menggantikan posisi sang istri di hatinya, dan orang tersebut adalah Indra. Bahkan dia mengatakan, “Secara fisik, Indra memang laki – laki, tapi bagiku dia lebih perempuan dari pada kamu.”.

Lalu pernah juga dikisahkan seorang perempuan yang dipaksa oleh suaminya untuk terus melahirkan anak laki –laki untuk kemudian dijual kepada orang – orang kaya. Tak hanya itu, sang istri hanya boleh melahirkan anak laki – laki dengan alasan anak laki – laki memiliki harga jual yang lebih tinggi dari pada anak perempuan.

Inilah Potret Buram Capitalism dan Secularism!

Ya, inilah salah satu dari sekian banyak produk Kapitalisme dan Sekularisme yang membawa bencana bagi kehidupan manusia. Mungkin di antara SoNI ada yang bertanya, “Lho, apa hubungannya dengan Kapitalisme dan Sekularisme?”. Hubungannya adalah karena Kapitalisme telah membuat manusia berppandangan bahwa kebahagiaan adalah banyaknya materi yang terkumpul. Jadi banyak materi (uang, perhiasan, dll) berarti bahagia, sedangkan sedikit materi alias miskin harta berarti menderita. Pandangan seperti inilah yang membuat manusia menganggap materi adalah segala – galanya. Bahkan, apa pun akan dikomersilkan demi mendapatkan materi yang berlimpah seperti pada kasus pertama dan ketiga dalam tulisan ini. Bayangkan saja, istri dan anak saja dijual demi mendapatkan setumpuk materi! Padahal, binatang sekalipun tidak pernah menjual pasangan atau anaknya! Betapa Kapitalisme telah menjadikan harkat dan martabat manusia lebih rendah dari binatang.

Hal ini tentu saja sangat berbeda jika system hidup yang diterapkan adalah Islam. Kebahagiaan dalam Islam adalah tercapainya ridha ALLAH, dan untuk mencapainya adalah dengan melaksanakan seeluruh perintah dan menjauhi larangan – NYA. Lalu, adakah perintah ALLAH yang merendahkan martabat manusia? TIDAK! Islam memandang perempuan sejajar dengan laki – laki dalam berbagai hal. Perempuan bukanah atasan atau pun budak laki – laki, perempuan adalah pasangan laki – laki yang harus dihormati (tentu saja perempuan juga wajib menghormati laki – laki). Islam juga memandang anak sebagai amanat yang harus dijaga dengan baik karena akan dipertanggunjawabkan di akhirat kelak.

Lalu hubungannya dengan Sekularisme? Pertanyaan bagus. Sekularisme atau pandangan tentang pemisahan agama dari kehidupan telah membuat manusia menganggap bahwa aturan Tuhan hanya berlaku dalam ibadah ritual saja. Dalam pandangan kaum secular, aturan agama hanya berlaku di masjid, gereja, pura, dan tempat ibadah lainnya. Agama tidak berlaku dalam kehidupan publik. Agama tidak boleh dibawa ke pasar, kantor, sekolah, apalagi negara! Sekularisme juga bersahabat karib dengan Liberalisme yang sangat menjunjung tinggi kebebasan individu (termasuk di dalamnya kebebasa beragama, berperilaku, dan berpendapat). Pandangan inilah yang akhirnya membuat homosexual dianggap sebagai suatu pilihan yang juga harus dihormati dan diterima oleh masyarakat karena merupakan bagian dari kebebasan berperilaku.

Lagi – lagi hal ini sangat berbeda dengan Islam. Dalam Islam, agama justru harus diterapkan atas seluruh aspek kehidupan karena aturan agama merupakan aturan terbaik karena dibuat oleh sang Pencipta manusia dan seluruh alam. Siapakah yang lebih mengetahui tentang manusia dan alam ini dari pada Penciptanya?

Dalam Islam diakui adanya kebebasan, tetapi tidak didewakan sebagaimana dalam Secularism. Lagipula jika kebebasan terlalu dijunjung tinggi hanya akan menimbulkan kekacauan di sana – sini? Sebagai contoh jika homosexual harus diakui karena merupakan kebebasan, bukankah hal itu akan mengacaukan kehidupan? Bahkan mungkin akan mengakibatkan musnahnya manusia. Oleh karena itulah, Islam meberikan sanksi yang tegas pada pelakunya; yaitu hukuman mati.

Saudaraku, percayalah! Hanya Islam yang sanggup mengatur kehidupan ini.

Thursday, August 24, 2006

04.45 p.m.

Haafizhah Kurniasih

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s