Tampilan Tak Selalu Menunjukkan Sesuatu

Sering kali kita “ditebak” atau dinilai lewat tampilan atau pakaian kita. Saya pun sering mengalami hal ini. Pakaian saya sering dikomentari, pun saya sering mendengar teman – teman saya berkomentar tentang pakaian orang – orang di sekeliling kami. Menurut saya, hal ini cukup menggelitik. Kenapa sih kita sering “menghakimi” orang karena pakaian atau tampilannya? Padahal tak selamanya tampilan menggambarkan yang sebenarnya. Apa lagi kalau sudah dikaitkan dengan tingkat keshalihan atau “ngaji” di mana.

Yang sering saya alami adalah saya disamakan dengan orang – orang yang ngaji di harakah tertentu. Suatu ketika saya mengenakan pakaian yang tidak seperti pakaian yang biasa saya pakai (yang insya ALLAH tidak akan saya pakai kecuali pada keadaan seperti waktu itu). Teman saya spontan berkomentar, “Fifi kayak Mba – Mba yang ngaji di harakah X ya?”. Dalam hati saya bertanya, “Emangnya yang pake ginian cuma Mba – Mba yang harakah X? Ga juga! Lagi pula Mba – Mba harakah X juga banyak yang mengenakan pakaian seperti yang biasa aQ pakai!”

Di lain kesempatan, saya mengenakan kerudung hitam yang panjangnya kurang lebih selutut.  Seorang yang sangat saya kenal menatap saya dengan tatapan yang berbeda. Saya tanya, “Kenapa, Mba?”. Si Mba itu “Kamu kayak orang – orang harakah Y!” Saya cuma tersenyum tapi lagi – lagi hati ini bertanya, “Emangnya cuma orang – orang harakah Y saja yang pakaiannya seperti ini?!”

Lain lagi ketika saya pulang kampung. Seorang tetangga saya berkata, “Orang – orang harakah Z itu cirinya selalu pake tas punggung karena bawaan mereka banyak…”. Saat itu saya cuma tersenyum, tapi dalam hati saya kembali bertanya, “Emangnya cuma mereka yang sering pake tas punggung. Kalo kuliah, aQ juga sering pake tas punggung! Wah, bisa – bisa Q dikira bagian dari harakah Z, dunk! Padahal aQ sama sekali tidak pernah berinteraksi dengan orang – orang dari harakah Z!”

Saya pun bertanya kepada seorang kakak, “Mba, tetangga Mba ada yang pake cadar tapi kainnya bermotif bunga – bunga ya? Rumahnya di mana?” si Mba menjawab, “Ooo… di situ! Kayaknya sih dia orang harakah A!” Saya bertanya dari mana ia mempunyai kesimpulan seperti itu. Ia pun berkata, “…Orang – orang harakah A itu, emang seperti itu. Pake jilbab (baca: gamis), kerudungnya panjang banget, tapi masih mau pake kain bermotif. Ga kayak orang – orang harakah Y. Mereka berkeruung panjang, bercadar dan selalu pake warna gelap.”

Waktu awal kuliah, ketika ada interview untuk pengelompokan halaqah, pakaian saya juga dikomentari. Mba ROHIS yang menginterview saya menduga saya ngaji di harakah B karena ia sering melihat saya mengenakan jilbab (baca: gamis).

Teman saya juga ada yang mengalaminya. Suatu hari ia berkata, “Fi, kenapa ya Mba – Mba itu mengira aQ bagian dari harakah B hanya karena aQ pake jilbab?

Lain lagi komentar seorng temn sekelas saya. Ia berkata, “Wah, kelas kita bahaya, Fi! Masa’ ikhwannya cuma satu? Cuma Fulan!” Saya bingung karena kenyataannya di kelas saya ada belasan laki – laki! Saya pun bertanya, “Lha, trus itu Imam, Romi, Chandra, Arief, dll bukan ikhwan? Lalu apa dunk? Akhawat? Masa lay out kayak gitu dibilang  akhawat?!” Teman saya itu lalu meralat kata – katanya, “Maksudnya ikhwan yang akrab dengan masjid, sering ngaji, gitu deh…!” Saya tambah bingung, Wah, kalo itu aQ ga tau! Dari mana kamu tau?”. Dengan enteng ia menjawab, “Dari penampilannya! Pakaiannya Fulan kan gitu – gitu, kayak ikhwan – ikhwan ROHIS gitu deh… Keliatannya shalih!” Gubrak!!!!

Kepada mereka yang sering menilai, menebak, (atau apalah namanya) seseorang dari pakaian dan penampilannya, saya ingin sekali bercerita pengalaman saya yang menunjukkan bahwa pakaian dan penampilan tak selalu menunjukkan sesuatu, apalagi jika dikaitkan dengan keshalihan atau “ngaji” di mana.

Pertama, saya sendiri sering berpakaian berbeda – beda tiap hari. Kadang mnyerupai orang – orang harakah X, kadang seperti harakah Y, kadang, seperti harakah Z, atau yang lainnya. Padahal saya sama sekali tidak terlibt dalam harakah tersebut.

Kedua, seorang teman pernah bercerita bahwa ia kaget sekali ketika melihat seorang laki – laki yang penampilannya seperti ikhwan aktivis dakwah Islam lengkap dengan jenggot dan celana di atas mata kaki keluar dari gereja sambil membawa Injil.

Ketiga, suatu hari sepulang kajian di Masjid SMP Al Azhar Semarang, seorang ikhwan yang juga keluar dari masjid yang sama, seusai mengikuti kajian yang sama menawari teman saya, “Perlu diantar, Mba?” Padahal penampilan si ikhwan itu “masjid banget” (berjenggot, celana di atas mata kaki, plus mengenakan jaket bertuliskan sebuah lajnah da’wah). Saya dan teman saya itu sangat shock melihat kejadian iu. Untung saja, bukan saya yang ditawari! Kalau saya yang ditawari, mungkin sepatu saya sudah melayang ke muka si ikhwan itu!

So, Kenapa kita masih suka “menebak” seseorang dari tampilannya?

Semarang, April 11 2008

12.30 p.m.

 

Haafizhah Kurniasih

 

 

NB:

Bukan berarti saya mengatakan bahwa ikhwan – ikhwan yang penampilannya” masjid banget” alias seperti ikhwan ROHIS itu ga shalih, lho… Insya ALLAH masih banyak yang shalih.

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s