Emulsi Ummat Islam

Senin, 20 April 2009 aku dan 3 orang teman sekelompokku melakukan pembuatan emulsi minyak ikan. Aku jadi bertanya penuh heran. Jika minyak dan air saja mempu disatukan dengan kehadiran emulgator, kenapa kaum Muslimin saat ini tidak bisa disatukan? Padahal kita tahu bahwa minyak dan air memiliki sifat – sifat yang sangat jauh berbeda. Dari segi polaritas, air bersifat sangat polar sementara minyak bersifat non polar. Air merupakan senyawa anorganik sedangkan minyak merupakan senyawa organik. Dari segi ukuran molekul, air berukuran relatif kecil dibandingkan dengan minyak yang “gendut”. Dari segi kerapatan (bobot jenis), keduanya juga sangat jauh berbeda. Sehingga wajar saja jika tegangan anta muka di antara keduanya sangat besar karena memang perbedaan di antara keduanya sangat besar. Tapi toh nyatanya keduanya dapat disatukan dengan kehadiran Pulvis Gummi Arabici (PGA) sebagai emulgator dan pengadukan yang cepat, kuat, serta searah.

Aku jadi bertanya sebenarnya seberapa besar perbedaan – perbedaab yang ada di antara fraksi – fraksi kaum Muslimin? Apakah perbedaan tersebut jauh lebih besar dari pada perbedaan yang ada di antara air dan minyak (yang saking besarnya sampai – sampai orang awam mengatakan keduanya tidak mungkin disatukan)? Ternyata tidak, bahkan sebaliknya, justru perbedaan itu sangat kecil. Bukankah perbedaan di antara mereka sebatas perbadaan suku bangsa, perbedaan madzhab dan perbedaan organisasi? Bukankah perbedaan itu seharusnya tidak menjadi masalah? Tapi kenapa tegangan anta muka di antara mereka sangat besar sehingga mereka sulit sekali disatukan?

Jika untuk menyatukan air dan minyak diperlukan adanya PGA sebagai emulgator, maka sesungguhnya ada banyak sekali “emulgator” di antara fraksi – fraksi kaum Muslimin yang seharusnya dapat menyatukan mereka. Bukankah mereka menyembah Tuhan yanga sama? Sama – sama menyembah ALLAH kan? Bukankah mereka memiliki kitab rujukan yang sama? Sama – sama merujuk pada Al Qur’an kan? Bukankah mereka memiliki panutan yang sama? Sama – sama mengklaim diri mengikuti Rasulullah kan? Bukankah ketika shalat mereka menghadap kiblat yang sama? Sama – sama menghadp Ka’bah kan? Dan bukankah ketika berhaji mereka berkumpul di tempat yang sama pada waktu yang sama? Seharusnya semua itu sudah cukup menjadi “emulgator” bagi ummat Islam. Bahkan sesungguhnya daya “emulgator” itu jauh lebih kuat dari pada apa yang bisa dilakukan PGA terhadap minyak dan air. Tapi kenapa fraksi – fraksi kaum Muslimin belum juga dapat disatukan meskipun di tengah – tengah mereka terdapat “emulgator” yang sangat kuat?

Aku semakin keras berfikir hingga menjelang jam praktikum berakhir, aku membandingkan emulsi yang aku hasilkan dengan yang dihasilkan oleh teman – temanku yang lain. Aku membandingkan emulsiku dengan emulsi milik A. Emulsiku berwarna kekuningan sedangkan milik A berwarna putih susu, cantik sekali. Lalu aku bertanya kepada Laboran yang bertugas “Pak, emulsi saya koq warnanya jelek ya? Milik A itu koq warnanya cantik. Itu kenapa ya?” Ternyata laboran itu menjawab “Ooo… praktikan golongan sebelum kalian memakai mortirmu untuk menggerus sulfur. Mungkin ia tidak mencucinya sampai bersih sehingga emulsimu jadi kuning.” Selanjutnya aku melihat B yang gagal membuat emulsi. Aku tanyakan kenapa ia gagal. Ternyata jawabannya karena tadi ia kurang kuat ketika mengaduknya.

Sekarang pertanyaanku hampir terjawab. Mungkinkah itu jawabannya? Mungkinkah itu yang terjadi di antara fraksi – fraksi kaum Muslimin? Mereka sulit sekali disatukan meskipun ada banyak “emulgator” kuat karena kita sebagai pengemban da’wah kurang kuat dalam berusaha menyatukan mereka? Atau mungkin kita kurang cepat meng- counter isu – isu yang dapat merusak persataun ummat yang tengah dirajut? Atau karena kerja kita sebagai aktivis da’wah tidak searah? Aktivis da’wah yang satu menyerukan agar ummat melakukan A sedangkan aktivis da’wah yang lain justru sama sekali tidak menyerukan agar ummat melakukan A. Atau mungkin kalau pun kita telah bekerja keras dan cepat, niat kita kurang bersih sehingga kalau pun terjadi persatuan di anatara kaum Muslimin hanya merupakan persatuan semu, persatuan yanga hanya karena ada kepentingan – kepentingan sesaat? Persatuan yang sama sekali tidak menujukkan keindahan. Atau karena cara yang kita lakukan tidak benar – benar bersih dari ma’siyat? Sebagaimana emulsiminyak dan air juga tidak akan terbentuk dengan tampilan yang cantik kecuali dengan adanya emulgator, pengadukan yang kuat, cepat, dan searah serta alat – alat yang bersih.

Jawablah wahai para pengemban da’wah!!!

Senja pertama di bulan Mei 2009
(6 Jumadil Awwal 1430 H)
Di sebuah kamar paling nyaman di sudut Jogja.

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s