Janji Perubahan Demokrasi

Dulu aku berpikir bahwa Demokrasi –yang diwakili dengan pemilunya– tidak menjanjikan perubahan apa pun. Tak ada sesuatu pun yang berubah setelah pemilu usai. Tapi sekarang aku berubah pikiran. Kini aku sadar, banyak hal yang bisa diubah oleh Demokrasi. Mulai dari tataran individu, masyarakat, bahkan negara.

Dalam tataran individu misalnya, lihatlah perubahan yang dialami oleh para caleg yang gagal. Bandingkanlah keadaan mereka sebelum dan sesudahpemilu berlangsung. Banyak di antara mereka yang semula sehat jiwa dan raganya tetapi setelah melewati pemilu keadaan kejiwaan mereka berubah menjadi stress, depresi, atau gila. Bahkan tak sedikit yang semula bernyawa berubah menjadi sesosok manusia tak bernyawa setelah pemilu usai.(Kisah “perubahan – perubahan” yang dialami para caleg dapat dibaca di Tabloid Media Ummat Edisi 12; 12 – 25 Jumadil Awwal 1430 H). Bukankah ini merupakan salah satu contoh perubahan dahsyat yang dihasilkan oleh pesta demokrasi?

Sekarang mari kita lihat perubahan apa saja yang berhasil diciptakan oleh demokrasi dalam tataran masyarakat. Telah kita saksikan Demokrasi melalui mekanisme pesta demokrasinya sering kali sukses mengubah kondisi masyarakat yang aman dan rukun menjadi penuh konflik. Lihatlah konflik – konflik yang dihasilkan oleh serangkaian pilkada di berbagai daerah di negeri ini! Di Tuban, kantor Bupati dibakar massa. Di Maluku Utara, dua kubu sampai sekarang (April 2009) masih terus bermusuhan, tidak hanya di level elite politik, tapi juga di level grass root dan bersifat fisik. Perang antar kampung hampir menjadi pemandangan sehari – hari di sana. Juga lihatlah apa yang telah berhasil diubah oleh pesta demokrasi yang menelan dana milyaran rupiah dalam pilkada Jatim! Bukankah ini juga merupakan ”prestassi gemilang” yang berhssil ditorehkan oleh Demokrasi dalam mengusung perubahan?

Pada tataran negara, Demokrssi juga telah dengan sukses mengubah keadaan suatu bangsa dari keadan aman, tenteram, dan terkendali menjadi penuh konflik, peperangan, dan mencekam. Kali ini memang tidak terkait dengan hingar bingar pesta demokrasi. Bukankah invasi AS dan sekutunya ke Iraq juga mengatasnamakan proses demokratisasi Iraq? Bukankah invasi itulah yang telah menghancurleburkan negeri seribu satu malam itu?

Contoh lain, Demokrasi jugalah yang telah mencabik – cabik negeri ini (meski proses pencabik – cabikan itu belum selesai)? Ingatkah kita pada proses lepasnya provinsi Timor Timur dari pangkuan Indonesia? Bukankah atas nama Demokrasi pula ”rakyat” Timor Timur diberi hak untuk menentukan nasibnya sendiri (yang sebenarnya hanyalah perangkap) dan akhirnya melepaskan diri dari Indonesia? Kemudian apa yang terjadi? Timor Timur (kini bernama Timor Leste) berubah dari wilayah yang semula cukup sejahtera di bawah naungan Indonesia menjadi salah satu negeri termiskin di dunia? Bukankah ini juga merupakan perubahan – perubahan yang berhasil dicetak oleh Demokrasi yang tak boleh diabaikan? Berhati – hatilah karena Demokrasi akan terus berusaha mencetak prestasi dalam membentuk perubahan – perubahan serupa! Waspadalah karena Demokrasi belum puas dengan prestasinya di Timor Timur, ia akan berusaha berprestasi di NAD dan Papua sebagaimana ia telah berprestasi di Timor Timur!

Jika telah begitu banyak prestasi yang berhasil ditorehkan oleh Demokrasi dalam mengubah individu, masyarakat, maupun negara seperti ini, masihkah kita hendak berkata ”Demokrasi Tidak menjanjikan perubahan apapun!” ?

Sungguh Maha Benar ALLAH atas firman – NYA: ”Dan sekiranya penduduk negeri beriman, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan Bumi tetapi mereka mendustakan (ayat – ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (TQS. Al – A’raf [7]: 96).

Sekiranya negeri ini berpaling dari Demokrasi menuju ke ketatan pada syariah ALLAH dan mengembalikan kedaulatan ke tangan syara’, maka insya ALLAH perubahan – perubahan seperti yang telah dipaparkan di atas tidak akan terjadi lagi dan pitu keberkahan dari labgit dan Bumi pun akan segera dibukakan oleh – NYA.
Wallahu ’A’lam

Pagi yang mendung dan dingin di sudut Jogja
17 Jumadil Awwal 1430 H
Tuesday, May 12, 2009
8:40 a.m.

Referensi
Untaian kata paling indah Al Quran Al Karim
Majalah Pembangun Kesadaran Ummat Al Wa’ie edisi April 2009
Tabloid Media Ummat Edisi 12
Bulletin Al – Islam edisi 447/XV “Demokrasi Bukan Jalan Perubahan Hakiki”
Bulletin Al – Islam edisi 451/XV “’Pesta Demokrasi’: Bukan ‘Pesta Perubahan’”

NB:
Jazaakillahu khayr untuk sseorang yang meninggalkan Media Ummat

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s