Selesaikan Masalah Pembajakan dengan Syariah dan Khilafah!

Ketika melihat rak buku, saya terkejut. Ternyata hamper semua buku kuliah saya adalah buku bajakan! Ingatan saya pun langsung terbang ke masa – masa SMA lalu berhenti pada obrolan dua orang teman ADS. Sebut saja mereka sebagai Xxx dan Yyy. Saya lupa bagaimana persisnya obrolan mereka berdua itu. Seingat saya, dengan bahasa daerah kami yang khas, Xxx pura – pura bertaya pada Yyy “Yyy, asline hukum tuku bajakan kuwe pimen sih?” Yyy pun menjawab “Asline tah ora olih. Tapi ya…piben maning ya? Butuh sih! Pan tuku buku asline, regane larang, yaw is ngopi bae!” Xxx menimpali “Sing aku ngerti ya kayak kuwe (bahwa membeli barang bajakan adalah tindakan tidak terpuji, dilarang –pen), mugane aku heran bisane ente sering ngopi buku? Ilmune ora berkah keh, merampas hak orang lain. Hehe..”

Saat itu saya hanya bias tersenyum menyimpan banyak tanggapan atas statement mereka berdua. Saya tidak punya hak memberikan komentar karena memang saya tidak terlibat dalam obrolan itu. Saya hanya mendengarnya karena obrolan itu dilakukan tepat di depan bangku saya. Benarkah pembajakan dalam konteks tersebut dilarang (diharamkan)?

Pembajakan Dianggap sebagai Masalah. Kenapa?

Saat ini pembajakan dianggap sebagai sebuah masalah serius di negeri ini, bahkan maslah bagi dunia. Setelah saya cermati, ternyata mereka yang menganggap pembajakan sebagai suatu masalah adalah karena mereka menganggap bahwa pembajakan akan mengakibatkan 3 hal berikut:
1. Ketidakadilan: Pemilik karya memperoleh keuntungan materil lebih kecil dari pada penyalur bajakan!
Pean itulah yang saya tangkap dari statement beberapa orang dosen yang juga penulis buku ketika melihat fakta bahwa lebih banyak mahasiswanya yang memiliki hasil bajakan karya mereka dari pada mahasiswa yang memegang karya asli (bukan bajakan) mereka. Salah seorang dosen berujar “Saat ini saya sedang mempersiapkan ebuah buku tapi tidak akan saya bocorkan dulu, khawatir seperti yang sudah – sudah, penerbitnya saja belum mengedarkan. Eeh… bukunya sudah bias kalian dapatkan di Terban dan Shopping (maksudnya Shopping Centre, keduanya adalah pusat buku murah di Jogja –pen) dengan harga yang sangat murah. Kan sya yang rugi! Tapi ya sudahlah, ga apa – apa… Ilmu yang bermanfaat kan pahalanya akan terus mengalir. Iya ga?”
Alasan itu pala lah yang saya tangkap dari pelarangan membajak yang tertulis di beberapa buku keagamaan. Dalam salah satu buku pendidikan anak secara Islami, sya temukan sebuah larangan pembajakan ini dengan redaksi yang sangat menarik “Tidak patut soerang Muslim mengambil hak saudaranya tanpa seizing darinya!”

2. Mematikan Kreativitas
Matinya kreativitas merupakan dampak lanjutan yang muncul akibat terjadinya ketidakadilan secara materi seperti pada point pertama. Hal ini terjadi karena kebanyakan manusia berkarya dengan motivasi untuk mendapatkan materi / kekayaan sehingga ketika ternyata materi itu tidak berhasi mereka raih, maka ia akan berhenti berkarya.

3. Mengurangi Pendapatan Negara
Sudah menjadi rahasia umum bahwa sumber pendapatan terbesar Negara ini adalah pajak yang dipungut dari rakyatnya. Salah satu di antaranya adalah PPN atau PPn BM. Barang – barang yang diproduksi dan diedarkan secara resmi akan dikenai pajak sedangkan barang – barang hasil pembajakan –karena tidak terdeteksi– akan lolos dari pajak. Sehingga, jika pembajakan meraja lela, akan mengakibatkan hilangnya salah satu sumber pendapatan Negara.

Ayo Kita Selesaikan!
1. Pembajakan Menimbulkan Ketidakadilan?
Ketidakadilan secara ekonomi yang timbul akibat pembajakan tidak akan terjadi jika pemerintah memberikan perhatian yang cukup besar bagi insan – insan kreatif. Bentuk perhatian itu bias berupa fasilitas dan kesempatan seluas – luasnya kepada insan kreatif untuk berkarya (selama ini yang saya tahu, penelitian – penelitian lebih banyak dibiayai oleh perusahaan – perusahaan swasta atau bahkan dibiayai sendiri oleh peneliti). Pemerintah juga perlu memberikan penghargaan dan memperhatikan kesejahteraan kepada para insan kreatif. Contoh praktisnya mungkin bisa kita tiru dari apa yang dilakukan Khalifah terhadap para ilmuwan. Pada masa keemasan Kekhilafahan Islam, Khalifah akan memberikan penghargaan pada setiap warga negaranya yang mampu menghasilkan karya yang berguna bagi kehidupan dan karya tersebut dapat dituangkan menjadi sebuah buku, berupa emas seberat buku yang berhasil ia tulis. Kemudian, siapa pun berhak menggandakannya dna mengedarkannya kepada masyarakat luas.
Jika hal ini telah dilakukan oleh pemerintah, maka saya yakin para insan kreatif itu tidak akan lagi merasa diperlakukan tidak adil dan dizhalimi secara ekonomi dan masyarakat pun akan semakin mudah mengakses ilmu serta berbagai kemudahan yang telah dihasilkan oleh para insan kreatif. Jika itu terjadi, maka masyarakat akan menjadi semakin cerdas dan taraf kehidupannya akan meningkat tanpa harus membayar mahal karena Negara lah yang telah membayar proses kreatif para insan kreatif itu bagi masyarakat. Bukankah salah satu tugas Negara adalah mencerdaskan rakyatnya? (Dalam Pembukaan UUD 1945 disebut dengan istilah “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”).
Penghargaan kepada Dinas Pendidikan saya tujukan pada Dinas Pendidikan yang kini telah mulai meretas jalan kea rah sana dengan membeli hak cipta atas beberapa buku teks pelajaran SD, SMP dan SMA. Semoga langkah ini bisa terus dikembangkan ke seluruh bidang ilmu yang lain sehingga insan – insan kreatif di negeri ini tak perlu lagi merasa dirugikan oleh pembajakan.

2. Pembajakan Mematikan Kreativitas?
Dalam kehidupan bercorak Kapitalisme seperti sekarang ini, ketika masyarakat menganggap standar kebahagiaan berbanding luru dengan dengan jumlah materi yang terkumpul, maka seluruh aktivitasnya berorientasi pada satu titik: Mengumpulkan materi sebanyak – banyaknya! Maka tidak mengherankan jika proses kreatif itu akan segera terhenti mana kala proses kreatif itu tidak dapat menghasilkan materi.Dalam system kehidupan seperti ini, sangat wajar jia dikatakan bahwa pembajakan akan mematikan kreativitas karena udahlan Negara tidak peduli—apalagi memberikan penghargaan—kepada para insan kreatif, ternyata mereka pun hanya berorientasi pada materi. Maka, lengkap sudah seluruh factor yang akan mematikan kreativitas itu berkumpul!
Berbeda halnya dengan apa yang terjadi dalam kehidupan yang bernafaskan Islam, ketika masyarakatnya berpandangan bahwa yang dapat membahagiakan bukanlah materi, tetapi kebahagiaan itu akan tercapai jika dan hanya jika ridha ALLAH telah tergapai. Dalam keadaan demikian, maka seluruh aktivitas manusia akan berorientasi pada pencapaian ridwanullah, bukan sekadar meraih materi! Memang, ALLAH pun memerintahkan kita untuk mengumpulkan materi (QS. Al Jumu’ah [62] ayat 10), tetapi bukan tujuan utama.
Insan – insan kreatif yang hidup dalam naungan Islam tidak akan silau dengan kemewahan, mereka akan merasa cukup dengan penghargaan yang diberikan oleh Negara atas karyanya. Mereka tidak perlu lagi mengejar royalty dari perusahaan karena yang mereka kejar adalah “royalty” dari ALLAH, Sang Pemilik seluruh Kekayaan berupa pahala yang akan terus mengalir dan keridhaan – NYA. Itulah yang akan membuat mereka puas dan bahagia. Mereka tidak akan pernah berhenti berkarya meskipun materi yang dihasilkan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan primer dan beberapa kebutuhan sekunder mereka tanpa pernah bisa menyentuh kebutuhan tersier mereka. Mereka akan terus berkarya dengan dorongan keimanan. Mereka sangat meyakini kebenaran hadits Rasul yang menyatakan bahwa salah satu amal shalih yang pahalanya tak akan terputus oleh kematian adalah ilmu yang bermanfaat. Dengan dorongan itulah mereka akan terus mengembangkan ilmunya kemudian menungkannya dalam sebuah karya dengan harapan ilmunya itu dapat menjadi lmu yang bermanfaat dan mengalirkan pahala yang tak akan pernah berhenti.
Sehingga, tidak ada cerita pembajakan akan mematikan kreativitas insan – insan kreatif dalam kehidupan Islam

3. Pendapatan Mengurangi Pendapatan Negara?
Ingatlah, Negara memiliki banyak sumber pendapatan lain di samping pajak! Ingatlah, Negara bukan hanya sekadar ketua RT atau ketua kelas yang tidak memiliki kewenangan apa pun mengelola kekayaan sehingga untuk melangsungkan kehidupan Negara, satu – satunya sumber danganya berasal dari iuran yang dipungut dari warganya! Negara memiliki kewenangan mengelola SDA yang melimpah ruah di negeri ini. Seharusnya, sumber pendapatan utama Negara ini berasal dari SDA yang melimpah ruah itu. Seharusnya yang dilakukan untuk menambah penghasilan Negara adalah optimalisasi pengelolaan SDA, bukan malah menjual kepada pihak asing kemudian menarik pajak besar – besaran dari masyarakat dangan alasan untuk melaksanakan pembangunan! Bukankah dalam UUD 1945 pun disebutkan dengan jelas bahwa bumi, air, serta kekayaan yang ada di dalamnya dikuasai oleh Negara dan digunakan sebesar – besarnya untuk kemakmuran rakyat?! Jika hal itu telah dilakukan, saya yakin Negara tidak perlu lagi malarang pembajakan (baca: menghalangi rakyatnya memperoleh ilmu dan menikmati fasilitas yang telah diupayakan oleh insan kreatif) hanya demi pajak!

Lalu, apa kaitan antara Pembajakan dengan Syariah dan Khilafah?

Dari uraian di atas, dapat kita simpulkan bahwa solusi untuk mengatasi pembajakan adalah terkait dengan kepedulian Negara, mengubah motivasi dan standar kebahagiaan masyarakat, serta system pengelolaan ekonomi Negara. Mari kita telaah lebih jauh!
• Negara dengan ideology seperti apa yang mampu memberikan perhatian yang begitu besar bagi kreativitas warga negaranya?Sistem Kapitalismekah? Tidak, karena dalam system Kapitalisme, Negara hanya diposisikan sebagi ketua RT, bahkan “ketua kelas” yang membiarkan rakyatnya berusaha sendiri, dengan kemampuannya sendiri dengan dalih “menciptakan kemandirian rakyat”. Negara dalam system ini tidak akan pernah bersedia repot – repot memfasilitasi proses kreatif rakyatnya dan memikirkan bagaimana caranya agar rakyat semakin mudah mengakses ilmu. Sistem Sosialisme kah? Juga tidak karena system ini menghendaki “keadilan” yang sama rata, sama rasa. Negara dalam system ini akan memberikan penghargaan yang sama porsinya kepada setiap warga negaranya. Bagaimana mungkin system ini mampu memotivasi manusia untuk terus berkarya jika pada akhirnya penghargaan yang diterima oleh mereka yang rajin berkarya sama dengan dengan penghargaan yang diterma oleh meraka yang hanya berdiam diri? Hanya Islam lah satu – satunya ideology yang akan membuat Negara memberikan penghargaan yang setinggi – tingginya kepada insan kreatif lagi berilmu karena Islam mendorong pemeluknya untuk memuliakan orang berilmu. Negara dalam system Islam akan senantiasa memuliakan ahli ilmu karena ALLAH memerintahkannya demikian:
“… Niscaya ALLAH akan meninggikan orang – orang yang beriman di antara kamu dan orang – orang yang berilmu pengetahuan beberapa derajat..” (QS. Al Mujadilah [58]: 11)
Rasulullah pun bersabda “Kelebihan orang mu’min yang berilmu dangan orang mu’min yang ‘abid (ahli ibadah) adalah 70 derajat.” (HR. Abu Hurairah)

• Sistem kehidupan seperti apa pula yang mampu melahirkan masyarakat yang yang memiliki standar kebahagiaan berupa tercapainya ridha ALLAH dan motivasi berbuat berupa motivasi keimanan, bukan sekadar terpenuhinya kebutuhan hidup den tersalurkannya naluri – naluri? Bukankah masyarakat yang demikian hanya akan lahir dari system Islam? Bukankah hanya masyarakat yang telah dididik dengan system pendidikan Islam—yang menekankah Tauhid serta ruh alias idrak silatu billah (hubungannya dengan ALLAH)—yang akan bergerak hanya atas dorongan keimanan, bukan dorongan materi?! Bukankah hanya dalam masyarakat yang telah menerapakan pola interaksi antar anggota masyarakat dengan pola interaksi Islami – lah yang akan membuat individu – individu tidak silau pada kemewahan? Bukankah hanya mayarakat yang demikianlah yang mempunyai standar kebahagiaan berupa tercapainya ridha ALLAH?

• Sistem ekonomi seperti apa pula yang menjadikan suatu Negara menjadi Negara yang kaya lagi sejahtera—sehingga dapat memfasilitasi segala macam proses kreatif warganya—dengan kemampuannya sendiri tanpa menjajah Negara lain? Bukankah hanya Negara yang menerapkan system ekonomi Islam yang mampu berbuat demikian? Hanya Negara yang menerapakan ekonomi Islam –lah yang tidak akan membiarkan kilang minyaknya dikuasai swasta apalagi dijarah oleh Negara lain. Hanya Negara dengan system ekonomi Islam – lah yang tidak akan menjadikan pajak sebagai sumber pendapatan utamanya.

Kesimpulan
Bukankah system pendidikan Islam, system ekonomi Islam, pola interaksi antar anggota masyarakat yang Islami, system pemerintahan islam dan system – system lain yang mendukung hanya dapat diterapkan secara sempurna dlam bingkai Khilafah Islamiyyah? Maka, jika Anda memang serius ingin menyelesaikan masalah pembajakan ini, mari perjuangkan penerapan Islam secara sempurna di bawah naungan Khilafah Rasyidah!

Ingatlah, wahai kaum Muslimin! Gagasan – gagasan tentang hak cipta selian merupakan bentuk kebingungan pengemban Kapitalisme untuk mengatasi ketidakadilan ekonomi yang dialami oleh insan – insan kreatif meraka juga merupakan jebakan agar kita semakin sulit mengakses ilmu dan produk – produk keilmuan yang memudahkan kehidupan kita sehingga—harapan mereka—kita akan semakin tertinggal dari mereka dan tetap silau memandang kemajuan yang mereka capai! Wahai kaum Muslimin, perhatikanlah! Siapa pemegang hak cipta itu? Bukankah perusahaan – perusahaan besar milik para Kapitalis itu? Lalu, bukankah kebanyakan negeri – negeri Islam adalah negeri miskin dan dihuni oleh kaum Muslimin yang juga miskin? Dan bukankah produk – produk yang dihasilkan oleh para pemegang hak cipta itu mahal harganya? Dengan gagasan – gagasan tentang HAKI merka berusaha menghalagi kemajuan kita, Saudaraku….!

Yogyakarta, zhuhur pertama di bulan Rajab 1430 H
Wednesday, June 24, 2009

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s