KRR – ICPD dan Penghancuran Generasi


Saudari – Saudariku yang dimuliakan ALLAH…
Seperti yang telah dinyatakan Saudari kita sebelumnya, banyak remaja Muslim yang telah terjerumus dalam kenistaan dan kehinaan yang luar biasa. Kehidupan mereka jauh dari ridha ALLAH, bahkan mereka akrab dengan aktivitas – aktivitas yang mengundang murka ALLAH: tayangan – tayang porno telah biasa mereka saksikan, mengumbar aurat adalah kebiasaan, minuman keras dan narkoba telah menjadi hidangan favorit, pacaran terlanjur menjadi simbol harga diri, bercumbu menjadi aktivitas rutin, bahkan ML tak jarang menjadi bumbu penyedap dalam pacaran. Selanjutnya, jika jika kebobolan, aborsi pun telah menjadi pilihan yang tak lagi dianggap tabu!
Akibatnya,mereka pun dikepung bahaya yang sungguh mengerikan: PMS selalu mengintai, suramnya masa depan hingga kematian di meja aborsi akibat pilihan mereka yang terlanjur mengalami kehamilan akibat hubungan seks pranikah untuk membunuh calon anaknya—sungguh suatu perbuatan yang bahkan binatang pun tidak pernah melakukannya!—dengan dalih Kehamilan Tidak Diinginkan. Entah bagaimana mereka akan mempertanggungjawabkan perbuatannya itu kelak “… apabila bayi – bayi perempuan yang dikubur hidup – hidup ditanya, karena dosa apa mereka dibunuh?” (TQS. At – Takwir [81]: 8 – 9).
Untuk mengatasi persoalan ini, pemerintah pun menggulirkan program Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) yang lahir berdasarkan arahan International Conference of Population Development (ICPD) yang yang diharapkan mampu melindungi remaja dari berbagai masalah kesehatan reproduksi. Namun harapan itu tinggallah harapan karena ternyata program ini tidak berbuah manis! Jangankan mencegah seks pranikah, justru menjerumuskan remaja pada gaul bebas. Seks bebas yang jadi pangkal masalah kesehatan reproduksi remaja, justru makin lekat dengan kehidupan mereka. KRR dan ICPD telah membuat perilaku seks remaja semakin liar! Disadari atau tidak, Program KRR dan ICPD telah menjerumuskan remaja ke jurang kenistaan yang semakin dalam. Buktinya, pelaku seks pranikah di kalangan remaja meningkat tajam, justru setelah ada program KRR. Berdasarkan penelitian YKB di 12 kota besar di Indonesia pada 1992—jauh sebelum ICPD digelar—pelaku seks pra nikah berkisar antara 10 hingga 31%. Hasil penelitian Komisi Nasional Perlindungan Anak (KPA) di 33 provisi paa 2008 juga menyebutkan pada 2008—atau 14 tahun setelah ICPD digulirkan—pelaku seks pra nikah justru meningkat tajam menjadi 62,7%. artinya, sekitar 26,23 juta remaja hidup bergelimang syahwat!Masih berdasar survei KPA 2008 itu, 25% atau sekitar 7 juta remaja yang melakukan seks pranikah dan hamil, memilih aborsi. Angka itu meroket lebih dari 50 persen dibanding 2002 –sebelum ada KRR–, dimana janin yang diaborsi “baru” 3 juta kasus (Media Indonesia, 2/10/02).
Saudari – Saudariku Rahimakunallah…
Inilah yang menimpa teman – teman kita di luar sana akibat keputusan ICPD yang terus dipaksakan untuk ditepakan di negeri kita tercinta ini dalam bentuk program KRR! Sesungguhnya bukanlah sesuatu yang mengherankan jika penerepan program KRR ini justru semakin menjerumuskan remaja Muslim ke dasar jurang kehinaan yang paling dalam karena sejatinya program KRR ini digagas berdasarkan paham kebebasan, yaitu organ reproduksi harus dikendalikan sesuai keinginan masing – masing individu. Reproduksi sehat ala ICPD berbunyi “Setiap individu harus memegang kendali atas tubuhnya sendiri melalui pilihan – pilihan yang dipahami dan bertanggung jawab dalam hubungan seksual. Ini membawa ke tingkat seksualitas yang sehat yang merupakan bagian penting dari kespro,” (Depkes, 2003). Tak heran jika salah satu konten KRR adalah penjelasan tentang bagaimana proses reproduksi terjadi, kehamilan dan cara mencegah kehamilan tidak diinginkan (KTD), aborsi “aman”, seks bebas “aman” (safe sex), desakan untuk mengakui homo dan lesbi sebagai identitas seksual, bukan sebagai penyimpangan seksual, dll. Bahkan salah satu prinsip dalam pendidikan reproduksi ala kespro adalah pendidikan seksualitas harus didasarkan pada penghormatan atas hak reproduksi dan seksualitas remaja untuk mempunya pilihan (apakah akan melakukan hubungan seksualitas atau tidak, kapan, dengan siapa, dst).
Saudari – Saudariku yang diberkahi ALLAH…
Terkait dengan seks bebas yang “aman”, KRR menawarkan konsep ABCD; yaitu A: Abstinence (menahan diri untuk tidak melakukan hubungan seks). Tapi bagaimana mungkin remaja mampu menahan diri untuk tidak melakukan hubungan seks jika mereka terus menerus dikepung oleh media – media sampah yang menyajikan materi – materi porno, mempropagandakan bahwa jilbab dan kerudung sebagai identitas teroris, sementara hot pan,tank top dan model – model pakaian yang menampakkan sebagian besar tubuh perempuan dianggap sebagai simbol kemodernan dan kebebasan? Padahal aurat yang terumbar itu lah yang memicu birahi.
Sungguh Maha Mengetahui ALLAH yang telah memerintahkan kita menutup aurat kita dangan jilbab (gamis) dan kerudung:
“Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri – istrimu, anak – anak perempuanmu, istri – istri orang Mu’min “Hendaklah mereka menutupkan jilbab ke seluruh tubuh mereka!”. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan ALLAH Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (TQS. Al – Ahzab [33]: 59)
“…Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya) kecuali yang biasa terlihat!…” (TQS. An – Nuur [24]: 31)
Di saat yang sama diopinikan bahwa seharusnya bukan perempuan yang diwajibkan menyembunyikan keindahan tubuhnya di balik jilbab dan kerudung tetapi laki – laki lah yang harus menahan diri! Padahal bagaimana mungkin juga remaja—laki – laki dan perempuan—mampu menahan diri untuk tidak melakukan hubungan seks jika bercanda tawa, berangkulan, bahkan berpelukan antara laki – laki dan perempuan telah menjadi sesuatu yang lumrah bahkan mereka yang menjaga jarak dengan lawan jenis dianggap sok suci, kampungan, sok jual mahal, dan sederet stigma negatif lainnya! Padahal dari interaksi penuh keakraban dan kebebasan antara laki – laki dan perempuan itulah yang dapat membangkitkan rangsangan – rangsangan syahwat!
Sungguh betapa sempurnanya Islam yenga telah mengatur detil pergaulan antara laki – laki dan perempuan sehingga kita sebagai pemeluknya terlindungi dari bahaya pergaulan bebas dan derivat – derivatnya!
Lalu bagaimana jika remaja tidak mampu menahan diri—dan memang sengaja didesign agar remaja tidak mampu menahan diri—dan tetap ingin melakukan hubungan seks? KRR ICPD menawarkan alternatif kedua dari konsep ABCD-nya: yaitu B: Be Faithful alias setia pada pasangan! Tentunya kata “pasangan” pada alternatif ini tidak selalu merujuk pada pasangan yang halal alias suami/istri karena ternyata KRR ICPD mengutuk penikahan di usia remaja dengan berbagai alasan ngawur! Mereka mengatakan secara psikis remaja belum cukup matang untuk membina rumah tangga. Sejatinya alasan ini membuktikan kelemahan sistem pendidikan sekuleristik yang gagal mendewasakan manusia pada saat yang seharusnya dia telah matang secara fisik dan psikis! Mereka juga mengatakan bahwa pernikahan di usia remaja berbahaya bagi perempuan karena organ reproduksinya belum matang. Alasan ini jelas – jalas ngawur karena faktanya di buku – buku text untuk mahasiswa Kedokteran pun disebutkan bahwa menstruasi adalah bukti kematangan organ reproduksi baik secara fisiologis maupun anatomis (Ganong, 1994). Maka mereka pun merancang UU Perlindungan Anak yang salah satu isinya adalah melarang pernikahan usia muda. Jadilah usia minimal menikah adalah 20 tahun. Padahal naluri seks remaja telah dirangsang sejak usia belasan tahun!
Lagi – lagi harus kita akui betapa sempurnanya Islam dan betapa Maha Penyayangnya ALLAH kepada kita yang tidak pernah membatasi usia pernikahan. Islam hanya mengatur tentang hubungan laki – laki dan perempuan. Jika memang seseorang telah ingin menikah dan mampu menikah—dalam arti fisik dan psikis, bukan dalam arti materi—maka, Islam menganjurkannya menyegerakan pernikahan. Dalam QS. An – Nuur ayat 32 ALLAH menegaskan “ Dan nikahkanlah orang – orang yang sendirian di antara kamu dan orang – orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang laki – laki dan hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, maka ALLAH memampukan mereka dengan karunia – NYA! Dan ALLAH Maha Luas (pemberianNYA) lagi Maha Mengetahui.”
Program KRR ICPD sengaja membiarkan remaja Muslim terangsang syahwatnya hingga merasa butuh melakukan hubungan seks segera tetapi di saat yang sama mereka dicegah bahkan dihalangi untuk memperoleh pemenuhan hubungan seks yang halal dan aman (baca: pernikahan). Lalu bagaimana remaja harus menyelesaikan permaslahannya ini? Jelaslah bahwa sesungguhnya alternatif B yang ditawarkan oleh KRR ICPD sesungguhnya berbunyi “Kalau kamu mau ngeseks, yasudah silakan! Tapi ngeseks-lah dengan pacarmu! Ga perlu nikah, yang penting kalian sama – sama setia!”
Padahal dalam Islam, jelas dinyatakan bahwa hubungan seks yang diperbolehkan hanyalah yang dilakukan oleh pasangan suami istri, bukan pasangan di luar itu (termasuk pacar). Hubungan seksual di luar lembaga pernikahan meski pun dilakukan hanya dengan pacarnya seorang, tetap saja dikatakan sebagai zina, sebuah dosa besar yang pelakunya diancam dengan hukuman cambuk (jika pelakunya masih lajang) atau hukuman rajam sampai mati (jika pelakunya sudah pernah menikah).
Saudari – Saudariku yang dirahmati ALLAH…
Fakta menunjukkan bahwa interaksi yang penuh keakraban dan kebebasan antara laki – laki dan perempuan memungkinkan terangsangnya syahwat tidak hanya oleh pacar tetapi juga oleh orang lain. Lalu bagaiman jika seorang remaja teragsang syahwatnya oleh selain pacarnya dan ia sangat terdorong untuk melakukan hubungan seks dengannya? KRR ICPD menawarkan alternatif selanjutnya dari konsep ABCD, yaitu: C: condom! Alias pakailah kondom agar aktivitas seksualmu tetap aman tanpa dihantui kehamilan tidak diinginkan (KTD) maupun terjangkit Penyakit Menular Seksual (PMS) seperti HIV / AIDS dll!
Jika kita perhatikan, faktanya alternatif C alias kondomisasi inilah yang menjadi bintangnya atau poin terpenting dari konsep ABCD yang ditawarkan oleh KRR ICPD. Hampir tak pernah terdengar para pengusung KRR ICPD mengkampanyekan alternatif A yaitu Abstinence alias menyerukan agar kita menahan diri dari aktivitas seks di luar nikah. Alternatif B alias seruan untuk setia pada pasangan pun jarang kita dengar. Yang sering kita dengar justru adalah seruan untuk mengenakan kondom jika akan melakukan hubungan seks (baca: Silakan melakukan seks dengan siapa pun, kapan pun dan di mana pun asalkan memakai kondom agar tetap aman!). Sejak dicanangkan 100% kondom oleh KPAI, kondom—dan alat kontrasepsi lainnya—semakin mudah didapat di apotek dan toko – toko obat, disediakan di laci – laci kamar hotel, dibagikan di mal – mal, dan bahkan beberapa waktu yang lalu sempat berdiri ATM kondom beraneka rasa di beberapa kota di Indonesia. Akhirnya, remaja Muslim pun semakin terjerumus dalam kebiasaan seks bebas karena difasilitasi.
Seruan memakai kondom untuk melindungi diri dari KTD dan PMS adalah seruan yang menyesatkan karena pada faktanya kondom terbuat dari materi yang rentan robek. Selain itu, ternyata diameter pori – pori kondom masih memungkinkan lolosnya sperma, apalagi virus – virus penyebab PMS yang ukurannya jauh lebih kecil dari pada ukuran sperma. Sehingga, meskipun telah mengenakan kondom tetap memungkinkan terjadinya kehamilan dan tertular PMS.
Selanjutnya, jika upaya kondomisasi pun tetap gagal, dan terjadi kehamilan tidak diinginkan (KTD), maka solusi yang ditawarkan oleh KRR ICPD adalah aborsi “aman”. Artinya, jika para pelaku seks bebas mengalami KTD, mereka berhak melakukan aborsi demi terciptanya mental yang sehat sebagaimana definisi sehat reproduksi ala ICPD. Sehingga, mereka harus difasilitasi dalam memenuhi haknya untuk mengakhiri hasil perzinahannya secara “aman”.
Sebagaimana telah kami nyatakan di atas, kelahiran KRR ICPD didasari oleh paham kebebasan. Sehingga KRR ICPD memandang bahwa tubuh seorang manusia adalah miliknya sendiri secara mutlak. Pandangan ini membawa konsekuensi bahwa seseorang berhak melakukan apa pun atas tubuhnya, termasuk remaja putri yang di dalam rahimnya terlanjur tumbuh janin akibat perzinahan berhak melakukan apa pun terhadap calon anaknya. Dengan didasari semangat liberalisme, KRR ICPD memapropandakan bahwa seorang perempuan bebas memilih apakah akan melanjutkan kehamilannya atau kah akan mengakhirinya. Mereka menganggap bahwa itu merupakan haknya sebagai sebagai manusia merdeka.
Konsekuensi selanjutnya adalah karena menggugurkan kandungan adalah hak, maka mereka menuntut agar pemerintah memfasilitasi pemenuhan hak tersebut. Mereka menuntut agar pemerintah menyediakan fasilitas yang memungkinkan para pezina itu memperoleh haknya untuk membunuh calon anaknya itu dengan aman dan nyaman. Mereka juga menyerukan agar aborsi tidak lagi dianggap sebagai tindakan tidak berperikemanusiaan dan tidak beradab!
Saudari – Saudariku yang Dilindungi ALLAH…
Telah jelas betapa buruk tidak beradabnya gagasan tentang KRR dan ICPD! Para pengusung KRR ICPD berusaha menjerumuskan kita ke jurang kehinaan dan kenestapaan yang dalam lagi kelam!
Saudari – Saudariku, pehatikanlah!
Mereka sengaja meyebut perzinaan sebagai safe sex alias seks aman dan menyebut pembunuhan terhadap janin dengan kata aborsi aman untuk mengaburkan fakta zina dan pembunuhan! Perhatikanlah, wahai Saudariku! Bukankah kata “aman” cenderung diartikan dengan makna “boleh”? Dengan kata seks aman dan aborsi aman mereka mencoba mengubah tentang pandangan masyarakat—yang mayoritas beragama Islam—agar mereka memandang zina adalah sesuatu yang boleh saja dilakukan asalkan menggunakan kondom, juga agar masyarakat menaganggap aborsi itu boleh asalkan dilakukan oleh tenaga medis yang profesional—kan aman!—dan tidak lagi memandang zina dan aborsi sebagai perbuatan keji.
Saudari – Saudariku yang Shalihah…
Sejatinya ICPD dengan KRR-nya hanyalah alat kaum kafir Barat untuk menghancurkan dan memusnahkan generasi kaum Muslimin! Jika menilik data di atas, maka setidaknya setiap tahun ada sekitar 26 juta remaja—yang sebagian besar adalah Muslim—yang melakukan perzinaan dan tertular berbagai macam PMS, termasuk yang paling mematikan, yaitu HIV/AIDS! Masih berdasarkan hasil survei Komnas Perlindungan Anak pada tahun 2008, setidaknya setiap tahun ada 7 juta remaja putri yang melakukan aborsi karena KTD. Padahal, aborsi aman adalah omong kosong karena setiap pelaku aborsi berisiko mengalami kemandulan dan mengalami keguguran pada kehamilan berikutnya. Belum lagi risiko gangguan mental, bahkan kematian akibat peluruhan kehamilan yang dipaksakan. Itu artinya setiap tahun ada 7 juta janin yang terpaksa tidak sempat dilahirkan, ada 7 juta remaja putri yang mempertaruhkan nyawanya di meja aborsi dan dirusak motensi reproduksinya.
Selain itu, adanya pembatasan usia pernikahan—yaitu minimal 20 tahun—serta usia maksimal melahirkan—yaitu 30 tahun—dan pembatasan jumlah anak dengan slogan “2 anak lebih baik!” semakin memperkecil kemungkinan lahirnya bayi – bayi dari rahim Muslimah. Jika sudah demikian, dari mana dapat diharapkan lahirnya generasi ummat Islam yang akan memperjuangkan agama ini?
Ini jelas bahwa KRR ICPD adalah sebuah genosida yang dirancang sangat cantik sehingga mampu mengelabui banyak pihak, termasuk sebagian oknum kaum Muslimin yang awam terhadap agamanya sendiri!
Saudari – Saudariku yang Dilindungi ALLAH!
Analisis tentang genosida ini bukanlah sekadar isapan jempol semata! Sebuah dokumen rahasia pemerintah AS, National Security and Study Memorandum (NSSM) menyatakan bahwa “Depopulasi harus merupakan prioritas tertinggi politik luar negeri AS terhadap negara – negara dunia ketiga (baca: dunia Islam). Pengurangan penduduk negara – negara ini adalah persoalan keamanan nasional AS yang vital. Ekonomi AS akan membutuhkan berbagai mineral alam jumlah besar dan terus meningkat dari luar negeri, khususnya dari negara – negara kurang maju. Kenyataan ini menjadikan AS sangat berkepentingan dengan stabilitas politik, ekonomi, dan sosial negara – negara tersebut” (Emerging Viruses, hlm 572). Dokumen tersebut juga menyebutkan bahwa Indonesia merupakan salah satu dari 13 negara target depopulasi AS. (www.hli.org/nssm_200_exposed.html). Dan aborsi merupakan salah satu teknik depopulasi yang penting dan dibahas dalam pertemuan – pertemuan internasional seperti ICPD di Kairo 1994 lalu. Bahkan, menurut pengakuan para peneliti HIV / AIDS adalah penyakit yang sengaja dibuat untuk menghabisi komunitas tertentu (Cantwell, Horowitz, Douglass, and Graves 2008). Dan cara paling ampuh untuk menyebarkan HIV / AIDS adalah dengan memfasilitasi seks bebas! Salah satunya dengan cara menggulirkan program KRR ini!
Saudari – Saudariku Rahimakunallaah…
Telah nyata bahwa ICPD dengan KRRnya merupakan agenda kaum Kafir untuk menghancurkan generasi Islam, maka tidak pantas kita sebagai seorang Muslim sekadar berdiam diri dan membiarkan agenda KRR ini terus dijalankan!

Sleman, 14 Ramadhan 1430 H
Friday, September 4, 2009
11:53 a.m.

Haafizhah

(Disampaikan pada:
Orasi Peradaban Islam “Telaah Kritis atas Pergaulan Bebas Remaja”
presented by: KAMMI, Jamaah Shalahudin, IMM, KOMMIT, dll
Masjid Kampus UGM, 15 Ramadhan 1430 H )

(lebih tepatnya rancangan makalah yang disampaikan pada acara di atas karena setelah simulasi, terpaksa harus di-cut sana – sini karena terlalu panjang. Selanjutnya makalah ini pun mengalami “penghalusan” diksi sebelum disampaikan)

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s