Aku Mencintaimu….

Aku Mencintaimu…

 

Hari ini seseorang telah mengatakan kepadaku “Uhibbuki fillaah…” tetapi aku tak bisa mengucapkan kalimat yang sama kepadanya. Bukan karena aku tidak mencintainya. Sungguh bukan karena itu. (ALLAH Maha Mengetahui apa yang ada dalam hatiku dan juga apa yang ada di dalam hatinya). Tetapi… karena kalimat tersebut sungguh agung. Tidak main – main, dalam sebuah hadits dikatakan


Siapa yang mencintai seseorang karena ALLAH, kemudian seseorang yang dicintainya itu berkata, ‘Aku juga mencintaimu karena ALLAH’. Maka keduanya akan masuk surga. Orang yang lebih besar cintanyaakan lebih tinggi derajatnya dari pada yang lainnya, ia akan digabungkan dengan orang –orang yang mencintai karena ALLAH.” (HR. Al Bazaar dengan sanad hasan dari Abdullah bin Amir).

Siapa yang tidak mau dimasukkan ke surga “hanya” dengan sebuah ucapan cinta?

Sungguh, aku pun tahu bahwa mengucapkan cinta kepada saudaranya dan membalas ucapan cinta itu adalah sunnah Rasulullaah…

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At Tirmidzi dari Miqdad bin Ma’di dari Nabi saw., beliau bersbda,

Jika seseorang mencintai saudaranya karena ALLAH, maka kabarkanlah bahwa ia mencintainya.

Disebutkan pula dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah (yang bersumber dari sabda Rasulullah saw) bahwa salah satu dari 7 golongan ayang akan dinaungi ALLAH pada hari tidak ada naungan selain naungan itu adalah golongan oarang – orang yang saling mencintai karena ALLAH, keduanya berkumpul dan berpisah karena ALLAH.

Dan yang paling dahsyat—menurutku—adalah apa yang dikatakan dalam hadits dari Umar bin Khaththab ra. yang diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Bar dalam at-Tahmid, Rasulullah saw bersabda:

ALLAH mempunyai hamba – hamba yang bukan nabi dan bukan syuhada, tetapi para nabi dan syuhada tertarik oleh kedudukan mereka di sisi ALLAH.” Para shahabat berkata, ‘Wahai Rasulullah, siapakah mereka dan bagaimana amal mereka? Semoga saja kami bisa mencintai mereka.’ Rasulullah bersabda, “Mereka adalah suatu kaum yang saling mencintai dengan karunia ALLAH. Mereka tidak memiliki hubungan nasab dan tidak memiliki harta yang mereka kelola bersama. Demi ALLAH, keberadaan mereka adalah cahaya dan mereka kelak akan ada di atas mimbar – mimbar dari cahaya. Mereka tidak merasa takut ketika banyak manusia merasa takut. Mereka tidak bersedih ketika banyak manusia bersedih.” Kemudian Rasulullah membaca firman ALLAH QS. Yunus [10]: 62.

Siapa pun pasti mau mendapatkan kedudukan istimewa itu, kedudukan yang membuat para Rasul dan Syuhada tertarik. Tak terkecuali aku.

Tetapi… aku tak ingin sembarangan mengatakan itu. Bukan karena aku tak tertarik dengan kedudukan yang ALLAH janjikan tapi karena aku takut akan makna kalimat itu. Penjelasan tentang makna cinta dan benci karena ALLAH dalam kitab Min Muqawwimat an Nafsiyah al Islamiyah membuatku tak berani lagi mengatakan “Aku mencintaimu karena ALLAH” atau “Aku membencimu karena ALLAH” selain kepada orang – orang yang aku telah mengetahui dengan pasti kesesuaian / pertentangan perilakunya dengan hukum ALLAH. Dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa mencintai seseorang karena ALLAH adalah mencintai seseorang karena ketaatannya kepada ALLAH, karena kita meridhai bahwa perbuatannya adalah sesuai dengan apa yang ALLAH gariskan. Mencintai seseorang karena kita yakin seluruh—atau setidaknya hampir suluruh—perbuatannya diridhai oleh ALLAH. Dia bergerak karena ALLAH memerintahkannya bergerak, dia diam karena ALLAH memerintahkannya diam, dia berbicara karena ALLAH memerintahkannya berbicara, dia membangun sesuatu karena ALLAH memerintahkannya membangun, dia menghancurkan sesuatu karena ALLAH memerintahkannya menghancurkan. Dengan kata lain, di setiap perbuatannya ada ruh (daalm artian idrak silatahu billaah). Mencintai seseorang karena kita yakin di setiap desah nafasnya, di setiap gerak tubuhnya adalah wujud pangabdian kepada ALLAH seperti yang ALLAH inginkan dalam QS. Adz Dzariyah: 56.

Poin berikutnya dalam pembahasan Cinta dan Benci karena ALLAH ditekankan bahwa cinta kepada saudara perlu dibuktikan dengan lantunan doa di saat ghaib-nya. Disebutkan dalam sebuah hadits riwayat Muslim dari Ummi Darda, ia berkata: Aku diceritakan suatu hadits oleh majikanku, sesungguhnya ia mendengar Nabi saw. bersabda:

Barangsiapa yang mendoakan saudaranya pada saat ia tidak bersamanya, maka malaikat yang diserahi untuk menjaga dan mengawasinya berkat, ‘Semoga ALLAH mengabulkan, dan bagimu semoga mendapat yang sepadan’”.

Bukti cinta yang selanjutnya adalah menziarahi orang yang dicintai, duduk bersamanya, saling menjalin persaudaraan, dan saling memberi karena ALLAH, setelah mencintai – NYA. Imam Muslim telah meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda:

Sesungguhnya ada seseorang yang mengunjungi saudaranya di kota lain. Kemudian ALLAH memerintahkan malaikat untuk mengikutinya. Ketika malaikat sampai kepadanya, ia berkata, ‘Hendak ke mana engkau?’ Orang itu berkata. ‘Aku akan mengunjungi saudaraku di kota ini.’ Malaikat berkata ‘Apakah ada hartamu yang dikelola olehnya?’ Ia berkata, ‘Tidak ada. Hanya saja aku mencintainya karena ALLAH‘. Malaikat itu berkata, ‘Sesungguhnya aku adalah utusan ALLAH kepadamu. Aku diperintahkan bahwa ALLAH sungguh telah mencintaimu sebagaimana engkau telah mencintai saudaramu itu karena ALLAH’.

Lebih lanjut, dalam sebuah kajian yang membahas tentang Cinta karena ALLAH dijelaskan bahwa ketika kita mencintai seseorang, maka kita harus senantiasa melakukan amar ma’ruf nahy munkar kepada. Memberikan haknya untuk memperoleh nasihat dan peringatan. Jagalah ia dari api neraka. Jangan biarkan ia terpeleset dalam kelalaian yang akan menjerumuskannya pada kema’siyat dan pembangkangan pada ALLAH.

Karena makna yang begitu mendalam dan tuntutan bukti itulah aku tak ingin sembarangan membalas pernyataan cinta dari saudar/i-ku. Bukan karena aku meragukan cintanya apalagi meragukan ketaatannya kepada ALLAH.

Bagaimana mungkin aku akan berkata cinta jika aku masih sering melalaikan haknya untuk mendapatkan nasihat dan peringatan dariku? Bagaimana mungkin aku akan berkata cinta jika begitu jarang aku mengunjunginya tanpa keperluan lain? Juga bagaimana mungkin aku berhak mengklaim cinta jika….. aahh… terlalu banyak bukti yang belum dapat aku hadirkan untuk mengklaim cintaku…

Aku tidak ingin membuat saudara/i-ku “melayang” dengan kebohongan tentang cinta yang tanpa bukti. Lebih dari itu, aku tak ingin menipu ALLAH dengan claim cinta karena – NYA yang belum sanggup aku buktikan.

Satu pernyataan yang menarik dari seorang teman ketika menghadiri majelis ilmu yang membahas Cinta karena ALLAH. Ia berkata (yang intinya), “Aku sering mendapatkan SMS ‘Uhibbuki fillaah’ atau ‘Luv U cz ALLAH’ atau yang semakna dengannya tapi ga ada rasanya. Bahkan lama – lama aku jadi ‘eneg’ karena seakan – akan pernyataan cinta itu hanya basa – basi belaka. Amar ma’ruf nahy munkar kepadaku, ga pernah. Memberikan kepedulian juga ga pernah. Mana buktinya? Masa iya katanya cinta koq di belakang menghalang – halangi usahaku?!

Sungguh, aku tidak ingin menjadi bagian dari orang – orang itu. Aku tidak ingin menjadi bagian dari mereka yang menjadikan kalimat agung ini tidak bermakna kecuali sebatas pemanis bibir saja. Aku ingin ketika suatu saat aku berkata “Uhibbuka/i fillaah, ya Xxx” saat itu aku benar – benar telah mempu membuktikan cintaku bukan sekadar claim semata. Dan tentu saja aku berharap si Xxx itu pun akan membalas “Uhibbuki fillaah” dengan segenap bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.

Pun aku ingin ketika suatu ketika ada seseorang yang mengabarkan cintanya kepadaku karena ALLAH, saat itu aku bisa menjawabnya “Uhibbuka/i lillaah” dengan segenap bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.

 

 

Mulai ditulis di

Sleman, 28 Syawwal 1430 H (ba’da ashar)

Saturday, October 17, 2009 M

Diselesaikan di

Sleman, 5 Dzul Qa’dah 1430 H

Friday, October 23, 2009 M (8:50 p.m)

 

(Ditulis di 2 tempat: Pandega dan Mushala Pasca Sarjana UGM)

<a

2 thoughts on “Aku Mencintaimu….

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s