Menyikapi World Class University

Arus globalisasi kian menderas di semua bidang, tak terkecuali dalam bidang pendidikan. Sejalan dengan itu, perguruan tinggi – perguruan tinggi di Indonesia pun berlomba untuk mendaparkan predikat World Class University (WCU). Sebuah predikat yang terdengar sangat prestigious. Tak hanya perguruan tinggi yang sibuk meraih predikat WCU para mahasiswa dan calon mahasiswa pun berlomba untuk dapat mengenyam pendidikan di perguruan tinggi berpredikat WCU. Siapa yang tidak bangga menjadi bagian dari perguruan tinggi berkelas dunia yang kualitasnya diakui di seluruh dunia? Namun sayangnya, dari 500 perguruan tinggi yang dinilai sebagai perguruan tinggi terbaik di dunia, mayoritas berada di Negara – Negara Barat. Sedangkan di Indonesia hanya ada 4 perguruan tinggi yang masuk dalam Top 500 perguruan tinggi dunia versi QS World University Rankings 2010. Keempat perguruan tinggi tersebut adalah UI (peringkat 236), UGM (peringkat 321), ITB (peringkat 401 – 450) dan Unair (peringkat 450 – 500). Ranking tersebut berdasarkan atas survey yang dilakukan oleh Quacquarelli Symonds Ltd.
Sebenarnya ada banyak versi pemeringkatan perguruan tinggi dunia tergantung pada lembaga surveyor – nya (antara lain: THES, WQA, ARWU, Webomatrics, dll) namun secara umum, kriteria yang digunakan oleh lembaga surveyor untuk menilai kurang lebih sama, antara lain: rasio jumlah peminat dan kursi yang tersedia, banyaknya publikasi internasional dan indeks sitasi karya ilmiah, kualitas tenaga pengajar, jumlah mahasiswa asing, jumlah kelas internasional, dan kualitas lulusan (penyerapan tenaga kerja di pasar global).

Mendudukkan World Class University
Fenomena WCU harus dipandang dari berbagai sisi. Semangat untuk meningkatkan mutu pendidikan tinggi memang perlu diapresiasi, bahkan didukung. Tidak ada yang salah dengan perjuangan memajukan mutu pendidikan. Bekerja keras dalam penelitian dan menghasilkan banyak publikasi ilmiah internasional merupakan hal yang memang diperlukan. Membangun imej yang baik bagi institusi perguruan tinggi di mata masyarakat internasional pun bukan hal yang salah.
Namun di sisi lain, di tengah arus kapitalisme dan liberalisme institusi pendidikan terpaksa harus berjuang sendiri untuk menyejajarkan diri dengan institusi pendidikan berkelas dunia dan meraih predikat sebagai WCU. Apalagi berdasarkan General Agreement on Tariff and Services (GATS) pendidikan merupakan salah satu dari 12 sektor jasa yang harus diliberalisasi. Hal ini karena dalam pandangan ala Kapitalisme—seperti yang diungkapkan Prof. Dr. Sofian Effendi—pendidikan merupakan salah satu industry sektor tersier yang komoditasnya adalah jasa transformasi orang yang tidak berpengetahuan dan tidak berketerampilan menjadi orang yang berpengetahuan dan berketerampilan. Dengan cara pandang demikian, maka penyelenggaraan pendidikan tak ubahnya seperti industry pada umumnya yang sangat bergantung pada kemauan pasar dan berorientasi profit. Bahkan dengan spirit GATS itu pula pemerintah memasukkan pendidikan sebagai salah satu bidang usaha yang terbuka untuk penanaman modal asing dengan penyertaan modal maksimum 49% dalam Perpres No 77/2007 yang kemudian diperbarui menjadi Perpres no.111/2007 (lampiran pada item ke-72, 73, dan 74).
Padahal sudah kita ketahui bersama bahwa pemerintah mengaku belum mampu membiayai pendidikan secra optimal hingga akhirnya beberapa perguruan tinggi seperti UI, UGM, ITB, dll diubah statusnya menjadi BHMN dan terpaksa harus membiayai sebagian kebutuhannya sendiri. Berdasarkan hal tersebut, maka wajar jika muncul kekhawatiran bahwa para pemodal asing dapat menjual ideologi, pandangan hidup (worldview), dan nilai – nilai (values) serta memasarkan standar moral yang dianutnya melalui pendidikan yang mungkin saja tidak sejalan dengan karakter dan nilai – nilai yang selama ini dianut bangsa ini. Transfer of values ini bisa dilakukan secara langsung atau tersamar melalui lembaga pendidikan.
Selain itu, beberapa kriteria WCU seperti banyaknya publikasi internasional, kelas internasional, proporsi mahasiswa asing, serta program dual degree menunjukkan betapa terbukanya perguruan tinggi terhadap asing. Mengingat perguruan tinggi merupakan institusi pencetak SDM – SDM unggul, pencetus konsep – konsep dan arahan strategis untuk mengatur masyarakat, maka keterbukaan tersebut akan meniscayakan banyaknya pihak yang mampu mengaksesnya dan mempengaruhi arah kebijakan kampus sesuai dengan kepentingannya. Sebagai contoh: luasnya kerja sama internasional meniscayakan berbagai penelitian strategis akan dengan mudah diadapatkan oleh para pemodal hanya dengan biaya yang relatif kecil dibandingkan dengan keuntungan yang akan mereka raih. Hanya dengan memberikan dana penelitian sekadarnya kepada civitas akademika para pemodal akan dapat secara leluasa mengakses hasil penelitian tersebut. Dalam nuansa Kapitalisme seperti ini, siapa lagi yang paling diuntungkan dengan keterbukaan ini selain para pemodal kelas dunia?
Program dual degree dan kelas internasional juga akan membuka peluang bagi mahasiswa dan intelektual Negara maju untuk bisa masuk dan mempelajari kondisi social – politik negeri ini. Tentu saja hal ini sangat bermanfaat untuk mengokohkan cengkeraman penjajahan atas negeri ini.
Selain itu, parameter WCU selanjutnya adalah kemampuan lulusan untuk bersaing dan terserap dalam bursa tenaga kerja global. Hanya sebagai pekerja. Tentu saja hal ini memuluskan agenda Kapitalisme untuk mendapatkan tenaga kerja yang relatif murah namun tetap qualified. Walhasil, sejatinya trend WCU saat ini cenderung menguntungkan para Kapitalis dari Negara maju dan faktanya Negara – Negara berkembang seperti Indonesia selalu berada pada posisi sebagai sasaran strategis dari kaum kapitalis tersebut. Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka meski puluhan kampus di Indonesia sudah bertaraf internasional, tidak akan menjamin bahwa hal tersebut akan berkorelasi posistif pada penyelesaian permasalahan bangsa yang sesungguhnya karena kampus tersebut berada pada pusaran kepentingan kaum kapitalis global.
Islam Memandang Pendidikan Tinggi
Berbeda dengan Kapitalisme yang memandang pendidikan sebagai komoditas dalam industry tersier, Islam memandang bahwa pendidikan merupakan hak dan kewajiban masyarakat. Bahkan ilmu—sebagai hasil dari proses pendidikan—ditempatkan layaknya “saudara kembar” iman. Maka, Negara – lah yang bertanggungjawab penuh atas penyelenggaraan pendidikan. Negara tidak diperkenankan melepaskan tanggung jawabnya apalagi membiarkan pemodal asing memasuki dunia pendidikan, termasuk perguruan tinggi. Hal ini bertujuan agar penyelenggaraan pendidikan tinggi dapat mencapai tujuan utamanya, yaitu untuk meningkatkan kualitas kepribadian dari mahasiswa, agar mereka bisa menjadi pemimpin dalam memantau dan menyelesaikan permasalahan – permasalahan crucial (qadhaya mashiriyah) bagi ummat. Selain itu, perguruan tinggi dituntut unti melahirkan para peneliti yang kompeten dalam ilmu teori dan praktek guna menciptakan berbagai sarana dan teknologi yang terus berkembang di berbagai bidang, serta dituntut untuk melahirkan politikus, scientist, dan orang – orang yang mampu memberikan pengajaran serta ide – ide yang ditujukan untuk kemaslahatan ummat. Diharapkan juga dapat melahirkan orang – orang yang diperlukan dalam mengelola urusan ummat seperti guru, dokter, hakim, apoteker, teknokrat, akuntan, dll.
World Class University Menurut Islam
Untuk menjadi perguruan tinggi berkelas dunia, sudah selayaknya kita tidak perlu mengikuti standar yang ditentukan oleh Barat karena Islam memiliki standar sendiri seperti apa kualitas manusia yang ingin dicetak oleh sebuah universitas. Mereka tidak cuma harus mumpuni secara intelektual, namun juga memiliki kedalaman iman, kepekaan nurani, kesalehan sosial dan keberanian dalam menegakkan amar ma’ruf – nahi munkar serta siap mati syahid dalam jihad fii sabilillah. Untuk menghasilkan out put yang demikian, Negara harus mengelola pendidikan tingginya dengan cara:
1. Mendanai pendidikan sepenuhnya, ditopang oleh sistem ekonomi yang kuat dan mandiri
2. Menetapkan standar mutu terhadap dosen, riset, serta sarana dan prasarana (akses internet, perpustakaan, laboratorium, dsb) ditentukan oleh Negara
3. Penentuan standar mutu terhadap dosen, riset, serta sarana dan prasarana diambil berdasarkan 3 kebutuhan yang diatur oleh Negara, yaitu:
a. pemenuhan kebutuhan pokok umat,
b. pembangunan industri strategis mandiri, dan
c. pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
Telah terbukti bahwa dengan standar mutu dan pengelolaan pendidikan tinggi seperti itu, perguruan tinggi di Negara Islam—pada masa kejayaannya—mampu menjadi mercusuar perguruan tinggi dunia. Tengoklah keadaan pendidikan dunia pada masa sekitar 1000 tahun yang lalu. Maka akan kita dapati bahwa universitas yang paling top di dunia saat itu tak pelak lagi ada di Gundishapur, Baghdad, Kufah, Isfahan, Cordoba, Alexandria, Cairo, Damaskus dan beberapa kota besar Islam lainnya. Perguruan tinggi di luar Daulah Islam jumlahnya bisa dihitung dengan jari, yaitu hanya ada di Konstantinopel yang saat itu masih menjadi ibukota Romawi Byzantium, di Kaifeng ibu kota China saat itu atau di Nalanda, India. Selain itu, termasuk di Eropa Barat, seribu tahun yang lalu belum ada perguruan tinggi. Di Amerika Serikat apa lagi. Benua itu baru ditemukan tahun 1492.
Sudah saatnya kita sebagai intelektual menyadari posisi strategis kita dalam penyelesaian permasalahan umat dan bangsa. Kaum intelektual tidak selayaknya terperangkap dalam pusaran trend kapitalisme yang dimodifikasi dalam berbagai wadah yang tampak bergengsi namun bisa merugikan bagi bangsa dan umat ini. Sebaliknya, melalui peningkatan kualitas keimanan, kesadaran sebagai seorang intelektual muslim sejati ditumbuhkan terus-menerus sehingga mereka menjadi garda terdepan yang melawan arus kapitalisme dalam berbagai bentuk modifikasinya serta memperjuangkan tertancapkannya ideologi Islam secara menyeluruh. ALLAHU A’lam.

Di tempat “pengungsian” akibat Letusan Merapi
Tegal, 4 Dzulhijjah 1431 H / Nobember 11, 2010
10.59 a.m

Khafidoh Kurniasih

Daftar Rujukan:
Abu Yasin, ‘Strategi Pendidikan Negara Khilafah’, Pustaka Thariqul Izzah
Dani Setiawan. Artikel “Liberalisasi Pendidikan dan WTO”
Hikmatul Fitriyah, 2010, Makalah “Mendudukkan WCU”
http://famhar.multiply.com/journal/item/189 Artikel “Universitas Kelas Dunia” (Diakses tanggal 11 November 2010)
http://www.universityrankings.ch/en/methodology/times_higher_education (Diakses tanggal 9 November 2010)
QS World University Rankings 2010. Tersedia online di http://www.topuniversities.com/university-rankings/world-university-rankings/home
Levin, Henry M., et al. 2006. What Is World Class University?, Conference of the Comparative & International
Education Society, Honolulu, Hawaii, March16, 2006.
Uta Ulien Nuha Zuhroh, 2010, Makalah “The Real ‘The Real World Class University’”

One thought on “Menyikapi World Class University

  1. menjadi tugas bagi generasi saat ini untuk bisa memikirkan dan berbuat apa yang akan terjadi pada generasi yg akan datang bila sistem pendidikan barat terus dijadikan acuan.

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s