Jilbabku, Jilbabmu, Jilbab Kita Semua…


Tulisan ini tidak sedang membicarakan “jilbab milik bersama” apalagi “jilbab umum” seperti halnya sepeda hijau di kampus saya yang bertuliskan “FREE FOR USE” (Pertanyaannya: Emang ada ya jilbab umum? Hehehe…). Bukan… Bukan itu! Saya menulis ini karena geli aja mengingat beberapa kisah berikut:
Kisah 1:
(Percakapan melalui SMS dengan seorang teman di luar kota)
Saya: Koq dia bisa tau aku temanmu? Kan dia ga pernah lihat kita bareng?
Teman: Kan pakean kita sama, Fi… Sama – sama pake jilbab..
[Dalam hati saya jadi mikir “dikira jilbab tu kayak seragam sekolah apa ya?”]

Kisah 2:
(Seorang teman mengisahkan tentang adek ngaji-nya)
Temannya si Adek: Eh, kamu ngaji sama Mba Fulanah1 ya? Gimana? Enak / ga?
Si Adek: Enak sih…, penjelasannya mudah dipahami tapi ya… itu kalo ngaji sama Mba Fulanah1, nanti disuruh pake gamis… (maksudnya jilbab—pen.)

(Kisah yang hamper serupa: Kisah seorang teman yang baru mau ngaji)
Si Teman itu bercerita bahwa ketika dia sedang berada di Masjid Kampu seusai ngaji dengan Mba Fulanah2, tiba – tiba dia didatangi oleh seorang perempuan berkerudung yang mengaku sebagai mahasiswi FKG.
Mahasiswi FKG: Mba kenal Mba Fulanah2 dari mana?
Teman: Aku ngasi sama dia.
Mahasiswi FKG: Ngaji sama dia? Yang bener?
Teman: Iya. Emang knapa?
Mahasiswi FKG: Terus, ga dipaksa pake gamis (jilbab—pen.)?

Kisah 3:
(KIsah ini yang menurut saya paling aneh karena melibatkan orang – orang yang juga sudah ngaji.)
Seorang teman menceritakan pengalamannya dulu ketika awal ngaji dan masih tinggal di salah satu kontrakan Akhawat (samacam wisma atau rumah binaan gitu deh…).
Teman: Kenapa sih Mba gamisnya disobek sampingnya?
Si Akhawat: Iya soalnya kalo gamisnya ga ada belahan sampingnya itu kayak akhawat partai XXX.
[GUBRAK!!! Hwekekekek…]

Waduh – waduh.., koq kayaknya banyak orang mengira jilbab (atau orang biasa menyebutnya gamis) itu identik dengan suatu kelompok tertentu ya? Benarkah dugaan tersebut?

Untuk Apa dan Siapa Kita Berpakaian?
Sekadar mengingatkan saja.. Setiap hari, setiap jam, bahkan hampir setiap detik kita berpakaian. Massa’ iya kita tidak mempunyai alasan apa pun untuk sesuatu yang kita lakukan dengan sadar di hampir sepanjang hidup kita itu? Pasti ada alasan tertentu ketika kita memilih pakaian seperti apa yang akan kita kenakan. Apakah agar tampil cantik? Atau apakah agar tampak “berkelas”? Atau agar tampil modis? Atau apa?
Sebagai seorang Muslimah, rasanya rugi sekali jika kita memilih pakaian hanya karena alasan – alasan seperti itu. Kita telah menjadi seorang Muslimah, yang dengannya berarti kita telah memperoleh kesempatan untuk mengumpulkan pahala dan keridhaan ALLAH dalam segala hal yang kita pilih secara sadar. Hanya dua syaratnya: memilihnya karena ALLAH dan memilih dengan benar. Bayangkan, sepanjang hari kita berpakaian. Jika kita memilihnya karena ALLAH dalam rangka mematuhi perintah – NYA untuk mendapatkan keridhaan – NYA dan pilihan itu benar, maka insya ALLAH selama kita mengenakan pakaian tersebut, maka selama itu pula dinilai sebagai pahala di sisi ALLAH. Jangan sia – siakan kesempatan berharga ini, kawan!

Pakaian yang ALLAH Perintahkan
Ternyata ada beberapa perbedaan terkait dengan pakaian seperti apa yang ALLAH perintahkan agar kita mengenakannya ketika kita di wilayah kehidupan khusus (kalau bahasa kerennya hayaul khas) dan ketika kita berada di wilayah kehidupan umum (hayatul ‘aam). Hayatul Khas adalah wilayah yang untuk memasukinya kita harus mendapatkan izin terlebih dahulu dari penghuninya, misalnya: rumah atau kamar kos. Sedangkan hayatul ‘aamm adalah kebalikan dari hayatul khas, yaitu wilayah yang untuk memasukinya kita tidak perlu meminta izin terlebih dahulu kepada penghuninya, misalnya masjid, pasar, jalan, sekolah, Rumah Sakit, dll. (Penjelasan selengkapnya terkait hayatul khas dan hayatul ‘aamm bisa dibaca di “Sistem Kehidupan dalam Islam” atau kalau bisa berbahasa Arab dan mau langsung merujuk ke buku aslinya, ga mau yang terjemahan, bisa cari “Nizhamul Ijtima’iy fiil Islam” karya Taqiyuddin An Nabhani).
Karena kisah – kisah yang mendorong saya menulis adalah terkait dengan hayatul ‘aamm, maka kali ini saya hanya akan membicarakan tentang pakaian yang ALLAH perintahkan untuk kita kenakan dalam hayatul ‘aamm. Seperti apa sih pakain itu? Mari kita lihat dari Al – Qur’an dan As – Sunnah sebgai firman ALLAH dan penjelasan dari Rasulullaah.
Dalam Al – Qur’an terdapat 2 ayat yang menjadi panduan bagi Muslimah untuk memilih pakaian yang akan dikenakannya di hayatul ‘aamm. Kedua ayat tersebut adalah:
QS. Al Ahzab [33]: 59

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Serta QS. An – Nuur [24]: 31

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.
Sedangkan dalam As – Sunnah terdapat benyak sekali penjelasan tentang pakaian wanita dalam hayatul ‘aamm. Di antaranya adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Bakar yang bersumber dari Ibnu Jurayj. Ia menuturkan bahwa ‘Aisyah pernah berkata “….Rasulullaah bersabda “Jika seorang wanita telah mengalami haidh, ia tidak boleh menampakkan tubuhnya kecuali wajah dan ini”. Beliau berkata demikian sambil menggenggan tangannya dan membiarkan jari – jemarinya sanling menggenggam satu sama lain.” Juga hadits serupa yang berbunyi:
«قَالَ يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلاَّ هَذَا وَهَذَا وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ»
“Wahai Asma’, sesungguhnya seorang wanita, apabila telah balig (mengalami haid), tidak layak tampak dari tubuhnya kecuali ini dan ini (seraya menunjuk muka dan telapak tangannya).” (HR Abu Dawud).
Kawan, perhatikanlah! Ada dua kata yang berbeda dalam kedua ayat tentang pakaian di atas: yang satu menggunakan kata “jalaabiibihinna” (QS. Al Ahzab [33]: 59) dan “khumurihinna” (QS. An Nuur [24]: 31). Itulah dua kata kunci tentang pakaian yang harus kita kenakan. Sementara itu, ada fakta yang tidak terbantahkan bahwa setiap kata dalam Al – Qur’an itu semuanya berbahasa Arab. Seperti yang dinyatakan oleh ALLAH “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa al-Quran denganberbahasa Arab.” (TQS. Yusuf [12]: 2). Tidak terkecuali dua kata tersebut.
Karena Al – Qur’an berbahasa Arab dan dirurunkan kepada Rasulullaah yang juga berbiacara dengan bahasa Arab. Maka, untuk mengetahui arti kata apa pun yan ada dalam Al – Qur’an tidak bisa tidak harus merujuk pada bagaimana masyarakat Arab mengartikannya. Setuju? Massa’ iya kita mau mengartikan kosa kata bahasa Arab tapi merujuk pada bagaimana masyarakat Prancis mengartikannya? Apalagi merujuk pada masyarakat Indonesia?!
Sekarang mari kita lihat bagaimana masyarakat Arab pada masa turunnya Al – Qur’an mengartikan kata “jalaabib” (bentuk jamak dari kata jilbaab). Tapi jangan khawatir! Kita tidak perlu repot – repot mencari mesin waktu untuk kembali ke masa itu karena sudah sejak berabad – abad lalu para ulama telah menyusun Kamus mu’tabar demi menjaga pengertian lafadz – lafadz dalam Al – Qur’an. Mari kita merujuk pada kamus – kamus tersebut:
Di dalam Kamus Al Muhiith, Fairuz Abaadiy mengatakan:
القَمِيصُ: ثَوبٌ واسِعٌ للمرأة دون المِلحَفَة أو ما يُغَطّى به ثِيابَها من فوقُ كالملحفة أو هو الخمار
(Jilbab adalah) gamis (al qomiish) pakaian yang luas, tapi selain selubung/selimut (al mihafah), atau sesuatu yang dipakai olehnya untuk menyelimuti pakaiannya mulai dari atas seperti selubung/selimut (al mihafah). Atau, dia adalah al khimar (penutup kepala).
Di dalam Kamus Lisanul ‘Arob, Ibnu Mandzur mengatakan:
والجلباب: القميص. والجلباب: ثوب واسع أوسع من الخمار دون الرداء تُغطّى به المرأةُ رأسها و صدرها .و قيل هو: ثَوبٌ واسِعٌ تلبسه المرأة دون المِلحَفَة . و قيل هو ما يطِّى به المرأة الثياب من فوق … و قيل هو الملحفة … . قال إبن العربي: الجلباب: الإزار … وقيل: جلباب المرأة ملَاءَتُها الّتي تَشتَمِلُ بها.
“Dan al-jilbab = al-qomish (baju panjang). Dan al jilbab = pakaian luas, lebih luas dari khimar (penutup kepala), selain ar ridaa (mantel), yang digunakan oleh wanita untuk menutupi kepala dan dadanya. Dikatakan juga bahwa dia adalah pakaian luas yang digunakan oleh wanita, selain milhafah (selimut/selubung badan). Dikatakan juga bahwa dia adalah apa yang digunakan oleh wanita untuk menyelimuti pakaian rumahnya mulai dari atas. Dikatakan juga bahwa dia adalah milhafah (selubung/selimut)… Ibnul ‘Arobi berkata: al jilbab adalah al izaar (selubung/seperti jubah). Dikatakan juga bahwa jilbab wanita adalah selubung (al-mula’ah) yang digunakannya untuk menyelimuti dirinya”.
Di dalam Kamus Ash Shihaah, secara ringkas Al Jauhariy mengatakan:
الجِلباب: المِلحفة.
“Al jilbab adalah al milhafah (selubung/selimut)”.
Tuh, ternyata masyarakat Arab saat itu (bahkan hingga saat ini) tidak mengartikan jilbab sebagaimana orang Indonesia yang menyamakannya dengan kerudung. Namun, sebelum kita memutuskan mana makna jilbab sebenarnya, ada baiknya kita ketahui dahulu makan kata yang dianggap sebagai sinonim ari kata jilbab:
1. Al Qomiish
Menurut Al Munawwir, al qomish adalah : gamis, kemeja, baju. Menurut Al Mawridh, arti dari al qomiish adalah shirt (baju).
2. Al Milhafah
hMenurut Al Munawwir, al milhafah adalah: selimut, mantel. Sedangkan dalam Mu’jam Lughoh al fuqohaa (arab-inggris) dikatakan bahwa al milhafah adalah: cloak, yang berarti: jubah, mantel atau jas panjang (pakaian yang menyelubungi), yaitu pakaian yang digunakan oleh wanita untuk menutupi pakaian rumahnya, seperti halnya jilbab.
3. Al Mulaa’ah
Menurut Al Munawwir, al mulaa’ah adalah: baju wanita yang panjang. Menurut Al Mauridh, al mulaa’ah adalah : wrap, veil (selubung). Dalam Mu’jam Lughotil Fuqohaa dikatakan bahwa al mula’ah adalah wrap (selubung), yakni “pakaian yang terdiri dari satu potong kain, yang memiliki dua lengan yang seimbang, yang dipakai di atas pakaian keseharian (ats tsaub)”.

4. Al Izaar
Al Izar menurut Kamus Al Munawwir adalah : kain penutup badan, atau sinonim dengan al milhafah : selimut, pakaian sejenis jubah. Sedangkan Al Izar menurut Al Mauridh adalah : wraparound (pakaian yang digunakan untuk menyelubungi). Sementara menurut Mu’jam Lughotil Fuqohaa, al izaar adalah: veil (selubung), dan di sana diterangkan bahwa al izar adalah pakaian yang meliputi seluruh badan bagian bawah (selain kepala -pent).
Dari sejumlah pengertian di atas, bahwa masyarakat Arab pada saat turunnya Al – Qur’an memahami jilbab sebagai “baju terusan panjang yang luas (seperti daster) yang digunakan oleh wanita untuk menutupi pakaian rumahnya. (ats tsaub)”. Inilah pengertian yang dipilih oleh penulis Mu’jam Lughoh Al Fuqohaa’ ketika dia mendefinisikan kata al jilbab, al milhafah, al mula’ah dan al izaar.
Walhasil, jilbab itu bukanlah kerudung, melainkan baju panjang dan longgar (milhafah) atau baju kurung (mula`ah) yang dipakai menutupi seluruh tubuh di atas baju rumahan. Pengertian seperti dapat ditemukan juga dalam Tafsir Jalalain (lihat Tafsir Jalalain, jld. III, hal. 1803) yang diartikan sebagai kain yang dipakai seorang wanita untuk menutupi seluruh tubuhnya.
Taqiyuddin An – Nabhani dalam Nizhamul Ijtima’i bahwa jilbab wajib diulurkan sampai bawah (bukan baju potongan lalu disambung dengan rok panjang). Pun mengulurkannya tidak boleh hanya sebagian lalu sisanya ditutup dengan yang lain misalnya sepatu atau kaos kaki tetapi jilbab harus diulurkan sampai menutup bagian kaki paling bawah (telapak kaki, bukan mata kaki) sebab hanya dengan cara inilah dapat diamalkan firman Allah (artinya) “mengulurkan jilbab-jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.”

Dengan baju potongan, berarti jilbab hanya menutupi sebagian tubuh, bukan seluruh tubuh. Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu abbas dan juga dapat dipahami dari nash-nash “yudnîna ‘alaihinna min jalabibihinna” di sini bukan menunjuk sebagian tetapi untuk menjelaskan, sedangkan makna yudnîna adalah yurkhîna ila asfal (mengulurkan sampai ke bawah/kedua kaki). Jadi kesimpulannya jilbab harus diulurkan langsung ke bawah (tidak potong-potong/atas bawah) sampai menutup dua telapak kaki (bukan mata kaki). Hal ini diperkuat oleh hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar. Ibnu Umar berkata: Rasulullah bersabda:
“Barangsiapa yang menyeret pakaiannya dengan sombong maka Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat.” Ummu Salamah bertanya: “Bagaimana yang harus diperbuat para wanita terhadap ujung baju (jilbab) mereka?” Rasulullah menjawab: “Hendaklah mereka mengulurkan sejengkal.” Ummu Salamah bertanya lagi: “Kalau demikian terlihat kaki mereka.” Rasulullah menjawab: “Hendaklah mengulurkan bajunya sehasta dan jangan lebih dari itu.”
Dari sini jelas bahwa jilbab tidak boleh diulurkan bagian per bagian misalnya baju potongan, tetapi diulurkannya langsung dari atas ke bawah. Selain itu mengulurkannya harus sampai telapak kaki (bukan mata kaki), tidak boleh kurang dari itu, oleh karena itu apabila jilbabnya terulur sampai mata kaki dan sisanya (telapak kaki) ditutup dengan kaos kaki/sepatu, maka hal ini tidak cukup menggantikan keharusan irkha’ (terulurnya baju sampai ke bawah). Dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah adanya irkha’, yaitu jilbab harus diulurkan sampai menutupi kedua telapak kaki sehingga dapat diketahui dengan jelas bahwa baju itu adalah baju di kehidupan umum. Apabila jilbabnya sudah terulur sampai ujung kaki tetapi jika berjalan kakinya masih terlihat sedikit seperti ketika menerima tamu, berjalan di sekitar rumah, maka hal ini tidak apa-apa walaupun tetap dianjurkan untuk ‘iffah (berhati-hati/menjaga diri). Hanya saja apabila aktivitas wanita tersebut membuat kakinya banyak terlihat semisal mengendarai sepeda, motor dan lain-lain maka diwajibkan untuk menggunakan penutup kaki apa saja seperti kaos kaki, sepatu dan lain-lain.
Jilbab ini merupakan busana yang wajib dipakai dalam kehidupan umum, seperti di jalan atau pasar. Adapun dalam kehidupan khusus, seperti dalam rumah, jilbab tidaklah wajib. Yang wajib adalah perempuan itu menutup auratnya, yaitu seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan, kecuali kepada suami atau para mahramnya (lihat QS An-Nur : 31).
Itulah pengertian jilbab yang dimaksud oleh ALLAH dalam QS. Al – Ahzab [33]: 59. Jadi, jilbab tidak sama dengan kerudung.
Sekarang mari kita lihat arti kata kunci kedua “Khumur” (QS. An – nuur [24]: 31). Khumur merupakan bentuk jamak dari khimar. Dalam Kamus Al Munawwir dikatakan bahwa al khimar adalah: kerudung: maa tughoththiy al mar’atu ar ra’sahaa (yang digunakan oleh wanita untuk menutupi kepalanya). Sedangkan menurut Mu’jam Lughoh Al Fuqohaa’, al khimar adalah : veil (penutup), yaitu yang digunakan oleh wanita untuk menutup kepala dan sebagian wajahnya.
Kerudung ini harus diulurkan menutupi kepala, leher, dan diulurkan hingga ke dada seperti yang ALLAH perintahkan dalam QS. An – Nuur [24]: 31 di atas.
Satu lagi yang perlu diingat! Perintah menutup aurat dan perintah berjilbab adalah dua perintah yang berbeda tetapi berkedudukan sama. Keduanya harus dilaksanakan. Tidak bisa saling menggantikan satu sama lainnya. Tidak bisa dikatakan “Yang penting menutup aurat tak peduli bentuk pakaiannya seperti apa” karena kita ke luar menuju hayatul ‘aamm hanya dengan meutup aurat tanpa menggunakan jilbab, maka berarti kita baru melaksanakan perintah ALLAH dalam QS. An – Nuur [24]: 31 tetapi belum melaksanakan perintah ALLAH dalam QS. Al – Ahzab [33]: 59. Kenapa kita jadi memilih – memilih ayat seperti ini? Bukankah kedudukan satu ayat dalam Al – Qur’an itu sama / sejajar dengan ayat lainnya? Yaitu sama – sama harus dilaksanakan?
Jadi, menggunakan jilbab (gamis) sejatinya adalah perintah ALLAH dan identitas seorang Muslimah seperti yang ALLAH nyatakan sendiri salam QS. Al – Ahzab [33]: 59 di atas “…Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal,” dan bukan identitas apalagi “seragam” suatu kelompok!
Yogyakarta, 14 Dzulhijjah 1431 H
Saturday, November 20, 2010
3. 23 p.m

Haafizhah Kurniasih

Referensi:
Asy Syakhshiyah Al Islamiyah karya Taqiyuddin An – Nabhani
Artikel “Berpakaian Sesuai tuntunan Syariat ISLAM” karya Muhammad al-Fakkar (http://pemikir-ideologis.blogspot.com/2010/11/berpakaian-sesuai-tuntunan-syariat.html) diakses tanggal 20 November 2010
Artikel “Jilbab Dan Khimar, Busanah Muslimah Dalam Kehidupan Umum” karya M. Shiddiq Al – Jawi (http://khilafah1924.org/index.php?option=com_content&task=view&id=92&Itemid=47) diakses tanggal 20 November 2010
Artikel “Apa itu Jilbab? Apa Pengertian Jilbab? Definisi Jilbab; Bagaimana Bentuk Jilbab Syar’i?” karya Titok Priastomo.
Artikel “Antara Kerudung dan Jilbab” karya Mardiani Safitri Syimmi. (http://rahmahsari.wordpress.com/2010/07/02/antara-kerudung-dan-jilbab/) Diakses tanggal 20 November 2010.

3 thoughts on “Jilbabku, Jilbabmu, Jilbab Kita Semua…

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s