Hanya Ingin Bercerita…

Saya seorang (calon) farmasis. Kini saya sedang menempuh pendidikan farmasi dengan bidang minat Farmasi Sains dan Industri. Itu artinya kelak (insya ALLAH) saya akan menjadi seorang farmasis saintis atau farmasis industri. Meski demikian, saya tak pernah punya keinginan untuk memiliki sebuah industry farmasi (untuk selanjutnya, yang saya maksud dengan industry farmasi adalah industry obat, bukan industry kosmetik). Bukan karena saya takut bermimpi. Ya… saya rasa kita semua tahu untuk mendirikan sebuah industry farmasi butuh modal yang tidak sedikit. Butuh rupiah berlabel “M” atau “T”. Sebuah bilangan rupiah yang saya yakin tidak banyak di anatara kita yang pernah merasainya.Tak sekadar modal, sebuah industry farmasi juga membutuhkan teknologi terapan yang sangat canggih jika tidak ingin “roboh” sebelum menikmati persaingan dengan industry farmasi dunia. Satu lagi yang tak boleh dilupakan untuk mendirikan sebuah industry farmasi: Perijinan yang sulit.
Berbagai tantangan tersebut memang sangat berat dan mungkin inilah salah satu penyebab tidak banyak farmasis yang berani bermimpi memiliki industry farmasi sendiri. Tapi percayalah, bukan karena itu saya tidak berani bermimpi memiliki sebuah industry farmasi. Jangan salah! Mimpi saya jauh lebih besar dari pada sekadar memiliki industry farmasi.

Saya tidak pernah bermimpi untuk memiliki industry farmasi karena saya ingin kelak seluruh industry farmasi dikuasai oleh Negara. Menurut saya, industry farmasi adalah industry yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Sebuah industry yang sangat menentukan tingkat kesehatan masyarakat yang pada gilirannya akan sangat menentukan ketahanan suatu Negara.
Sungguh amat berbahaya jika industry penting ini dikuasai oleh swasta, apalagi korporat asing seperti sekarang ini. Di mana letak keberbahyaannya? Swasta apalagi korporat asing bercorak kapitalis akan selalu memandang segalanya dari sudut pandang “kapitalisme”. Swasta mana pun yang menguasai industry pasti berorientasi pada profit. Sesuatu yang sangat wajar dan dapat dimaklumi karena memang itulah ladang nafkah mereka. Tetapi menurut saya kewajaran ini akan sangat berbahaya jika terjadi pada industry farmasi.
Industry lain (missal industry makanan, pakaian, alat transportasi, perhiasan, dll) boleh – boleh saja berorientasi pada profit karena pasar dari industry – industry tersebut adalah pasar yang dapat memilih. Mereka bisa memilih untuk membeli atau tidak. Berbeda halnya dengan pasar dari industry farmasi. Mereka tidak punya pilihan kecuali harus membelinya karena taruhannya adalah kesehatan bahkan nyawa mereka. Adakah yang berani mempertaruhkan kesehatan dan nyawanya hanya karena ketidakcocokan harga obat? Itulah kenapa saya tidak sepakat jika pembeli obat di apotek disebuat sebagai konsumen. Saya lebih suka menyebut mereka sebagai pasien, orang yang sakit, yang sangat membutuhkan. Konsumen punya banyak pilihan sedangkan pasien tidak punya pilihan lain kecuali harus segera sembuh dan itu artinya mau tidak mau mereka harus menebus apa pun yang dokter resepkan padanya, berapa pun harganya. Konsumen mungkin saja memiliki bargaining position yang cukup tinggi di hadapan produsen tapi tidak demikian dengan pasien.
Dengan alasan itulah, saya ingin industry farmasi dikuasai oleh Negara. Demi pasien, demi kesehatan penduduk negeri ini. Negara adalah pihak yang berkewajiban melindungi dan melayani rakyatnya tentu sudah menjadi kewajibannya untuk memberikan pelayanan kesehatan terbaik bagi rakyatnya, termasuk memberikan obat terbaik bagi mereka. Dengan dikuasainya industry farmasi oleh Negara, maka—idealnya—industry ini akan jauh dari nuansa kapitalisme yang berorientasi pada profit. Seharusnya, jika Negara menguasai sebuah industry, spiritnya adalah spirit pelayanan, bukan spirit bisnis. Dengan demikian, biaya obat (yang mencapai 40% dari total biaya perawatan kesehatan) dapat ditekan sehingga diharapkan tidak perlu ada lagi guyonan “Orang Miskin Dilarang Sakit!”.
Mungkin banyak (calon) rekan sejawat yang tidak sepakat dengan keinginan saya dengan alasan akan mematikan kreativitas dan produktivitas farmasis dengan mempertimbangkan fakta bahwa BUMN umumnya tidak kreatif dan tidak produktif, bahkan terkesan hanya mencari dana dari pemerintah saja. Tentu yang saya inginkan bukan yang seperti demikian itu. Yang saya inginkan adalah industry farmasi dikuasai oleh Negara dengan pengelolaan yang baik dan bertanggung jawab serta tetap merangsang kreativitas dan produktivitas para farmasis.
Marilah kita jujur, dengan keadaan yang seperi sekarang ini—industri farmasi dikuasai swasta bahkan korporat asing— apakah farmasis kita telah cukup kreatif dan produktif? Jika jawabannya “iya”, apa parameternya? Berapa banyak farmasis kita yang berhasil menemukan senyawa obat baru? Baik dari hasil sintesis maupun isolasi dari bahan alam, atau sekadar pengembangan dari senyawa baru yang telah ada untuk meningkatkan efikasi dan potensinya? Bukankah obat – obat yang kita produksi dan kita pasarkan selama ini lebih banyak sekadar “me too” drugs? Obat sakit kepala merk A, B, C, sampai Z isinya sama (paling – paling paracetamol lagi paracetamol lagi atau kadang – kadang asam mefenamat) bahkan formulanya pun mirip – mirip. Paling – paling ada improvisasi merk A tanpa kafein, merk B ditambah kafein supaya tidak menimbulkan kantuk. Atau merk C tabletnya berbentuk bintang – bintang, merk D berbentuk huruf alphabet, dll (mengincar pasar nak – anak).
Sedih rasanya ketika menyadari bahwa kreativitas industry farmasi kita saat ini baru sebatas pada kreativitas membuat kemasan yang menarik, yang eye catching, yang tampak elegant, atau yang tampak lucu untuk pasar pasien anak – anak. Apa sih pentingnya tampilan kemasan tersebut dalam proses penyembuhan? Tapi sayangnya justru hal inilah yang masih menjadi focus industry farmasi kita saat ini.
Banyaknya industry farmasi yang memproduksi obat yang sama “me too” drugs membuat persaingan di antara mereka sangat ketat yang akhirnya membuat mereka sibuk melakukan promosi baik promosi “kelas rendah” maupun promosi “kelas tinggi”. Baik promosi “kelas rendah” (melalui iklan di berbagai media massa dengan membayar artis) maupun promosi “kelas tinggi” yang sedikit berbau ilmiah (mislanya melalui penyelenggaraan seminar – seminar untuk dokter dan tenaga kesehatan lainnya) sama – sama menelan biaya yang besar yang akhirnya harus dibebankan kepada pasien juga. Sungguh malang nasib pasien itu! Sudahlah sakit, tidak bisa memilih, eh masih harus membayar biaya promosi! Ini belum titambah jika ada farmasis nakal yang “bermain mata” dengan dokter yang juga lemah iman. Lengkaplah sudah penderitaan pasien!
Hal – hal seperti itu tidak perlu dialami oleh pasien jika saja industry penting ini dikuasai oleh Negara yang bertanggung jawab mengurusi rakyatnya. Negara yang asanya benar. Negara yang benar – benar melindungi dan melayani rakyatnya. Negara yang pemimpin – pemimpinnya menyadari bahwa keberadaan mereka adalah perisai bagi rakyat, juga menyadari bahwa peran mereka bagaikan penggembala yang akan dimintai pertangungjawaban atas gembalaannya itu.
Aaahh… semoga kelak saya dapat merasakan hidup di Negara seperti itu…
Sebuah renungan tengah malam
Yogyakarta, 22 Dzulhijjah 1431 H
Sunday, November 28, 2010
0.04 a.m

2 thoughts on “Hanya Ingin Bercerita…

  1. “Obat sakit kepala merk A, B, C, sampai Z isinya sama (paling – paling paracetamol lagi paracetamol lagi atau kadang – kadang asam mefenamat) bahkan formulanya pun mirip – mirip. Paling – paling ada improvisasi merk A tanpa kafein, merk B ditambah kafein supaya tidak menimbulkan kantuk. Atau merk C tabletnya berbentuk bintang – bintang, merk D berbentuk huruf alphabet, dll (mengincar pasar nak – anak)”

    Apa iya hanya itu letak perbedaannya sehingga harga obat A dan B berbeda ? Bisa tunjukkan buktinya antara obat generik dengan obat bermerek yang kandungannya “sama” ? Misal garamicyn dan gentamicyn, apa bedanya?

    • Ya memang tidak se-ekstrim itu. Tentu saja ada perbedaan lain di antara obat generic (tanpa bermerk) dan obat generic bermerk (bukan obat paten karena di Indonesia hampir tidak ada obat paten). Tetapi IMHO, perbedaan – perbedaan tersebut tidak cukup untuk dapat memaklumi perbedaan harga yang sangat besar. Jika perbedaannya sekadar 50 – 100%, dapat dimaklumi tetapi jika sampai 10 kali lipat (bahkan lebih) harga obat generic tanpa merk, itu yang perlu dipertanyakan.
      Perbedaan tersebut misalnya terletak pada pemilihan bahan tambahan. Suatu obat kan tidak mungkin diberikan langsung dalam bentuk pure 100% zat aktif. Bayangkan saja, bagaimana caranya memberikan chlorpheniramin maleat yang hanya beberapa mg itu kepada pasien? Atau obat – obat glikosida jantung yang dosis terapeiknya jauh lebih kecil dari itu? Obat – obat tersebut harus diberikan dalam bentuk sediaan. Kita ambil contoh bentuk sediaan yang paling umum diberikan kepada pasien; yiatu tablet. Untuk membuat tablet kan memerlukan sejumlah bahan tambahan lain, misalnya bahan pengisi, bahan pengikat, bahan penghancur, bahan pelicin, dsb. Sebenarnya obat – obat generic bermerk lebih banyak bermain pada ranah itu, bukan pada ranah modifikasi zat aktif. Memang tidak bisa dipungkiri pemilihan bahan – bahan tersebut akan mempengaruhi kekerasan tablet, waktu hancur, proses disolusi, dsb yang pada gilirannya akan mempengaruhi profil bioavailabilitas obat.
      Tetapi—lagi-lagi— IMHO, hal tsb tidak cukup menjadi alasan untuk memaklumi adanya perbedaan harga yang sedemikian besar. Kenapa? Karena sesungguhnya semua obat yang mengantongi izin untuk beredar di pasaran telah melalui serangkaian control kualitas yang sedemikian ketat. Kontrol kualitas tersebut juga telah dirancang sedemikian rupa sehingga diprediksi akan tetap memberikan efek terapi yang optimal. Misalnya untuk tablet oral konvensional harus memiliki waktu hancur maksimal 30 menit (kalau tidak salah ingat), kekerasan antara 4 – 8 kg, fraksi obat terabsorbsi sekian persen, dsb.

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s