Mengatasi Problema Peredaran Makanan Berbahaya

Anak – anak Indonesia kini tengah menghadapi bahaya serius yang seringkali tidak disadari oleh orang tua mereka. Tidak jarang, justru orang tualah yang mendekatkan mereka pada bahaya tersebut karena ketidaktahuan atau ketidakmampuan mereka. Bahaya apakah itu? Bahaya makanan. Ya, makanan berbahaya tengah mengepung anak – anak kita dari segala penjuru.
Penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Konsumen Jakarta (LKJ) pada tahun 2005 menyebutkan bahwa setidaknya terdapat 47 produk makanan anak – anak yang mengandung pemanis dan pewarna berbahaya. Beberapa di antaranya bahkan merupakan jajanan merek terkenal. Survey lainnya, seperti yang dilaporkan harian Pos Kota tertanggal 13 Januari 2010 yang mengutip pernyataan Kepala BPOM DKI Jakarta menyebutkan bahwa ada 40% makanan jajanan anak – anak yang menggunakan zat berbahaya, terutama zat pewarna. Data ini berdasarkan pada riset dan temuan BPOM DKI Jakarta akhir Desember 2009 lalu.
Jajanan – jajanan berbahaya ini sangat mudah didapatkan oleh anak – anak kita karena dijajakan di sekolah – sekolah, baik SD maupun SMP. Utamanya di sekolah – sekolah yang mayoritas siswanya berasal dari kalangan menengah ke bawah. Harganya pun relatif jauh lebih murah dibandingkan dengan makanan sejenis yang hanya menggunakan bahan – bahan yang aman.
Kondisi seperti ini tentu layak membuat kita prihatin. Lalu, apa solusinya? Sebelum kita membicarakan solusi, alangkah lebih baiknya jika kita mencoba melihat lebih dalam tentang hal ini.
Fakta Terkait Peredaran Makanan Berbahaya
1. Makanan berbahaya umumnya merupakan jajanan produk rumahan
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar makanan berbahaya tersebut berasal dari “industry” rumahan skala kecilyang dijajakan sendiri oleh produsennya—meski ada juga yang merupakan produk industry besar, tetapi hal ini jarang terjadi dan kalau pun terjadi, mudah diatasi—. Hampir bisa dipastikan, “industry” rumahan ini tidak mengantongi izin dari instansi terkait.
2. Produsen sekaligus penjaja makanan tersebut umumnya memiliki tingkat pengetahuan tentang keamanan pangan yang relatif rendah
Biasanya produsen sekaligus penjaja makanan berbahaya tersebut berasal dari kalangan menengah ke bawah yang berlatar belakang pendidikan relatif rendah. Umumnya mereka tidak mengetahui efek jangka panjang dari bahan – bahan yang mereka pergunakan dalam memproduksi makanan. Hal ini menyebabkan mereka hanya menerapkan prinsip ekonomi dengan sangat sederhana “Modal sekecil – kecilnya untuk mendapatkan Keuntungan sebesar – besarnya”. Meski memang ada beberapa produsen yang sengaja menggunaannya walaupun mereka mengetahui bahayanya tetapi kasus yang seperti tidak terlalu banyak dan biasanya dilakukan oleh industry yang lebih besar.
3. Konsumen makanan tersebut umumnya berasal dari kalangan menengah ke bawah
Mengingat harganya yang relatif murah, makanan berbahaya ini membidik pasar dari kalangan menengah ke bawah. Ada kalanya mereka memang tidak memiliki kemampuan untuk memilih makanan lain yang lebih sehat. Jadi, mengkonsumsi makanan berbahaya adalah satu – satunya alternatif yang dapat mereka pilih karena keterbatasan kemampuan. Meski tetap ada beberapa pengecualian.
4. Tingkat pengetahuan konsumen tentang keamanan pangan relatif rendah
Seringkali konsumen tetap nekat mengkonsumsi makanan berbahaya tersebut karena mereka tidak mengetahui efek jangka panjang dari makanan yang mereka konsumsi tersebut. Berdasarkan pengalaman penulis saat mengadakan edukasi kepada masyarakat yang tinggal di sekitar kampus tentang Bahan Tambahan Makanan (BTM) berbahaya, beberapa peserta menyatakan bahwa mereka tidak merasa takut atau khawatir untuk mengkonsumsinya karena toh selama ini “tidak terjadi apa – apa” saat mereka mengkonsumsinya. Mereka hanya akan menghindari makanan – makanan yang menimbulkan gejala keracunan akut. Sedangkan bahaya kronis tidak mereka pedulikan.
Pihak – pihak terkait sudah sejak lama berupaya mengatasi masalah ini tetapi sayangnya sampai saat ini belum juga berhasil. Bahkan peredaran makanan berbahaya tetap saja marak.
Beberapa Upaya yang Pernah Diusulkan (dan Beberapa di antaranya Pernah Dicoba)
1. Razia makanan berbahaya
Instansi – instansi terkait seperti BPOM (Depkes) dan LP – POM (MUI) telah bekerja keras untuk melakukan razia makanan berbahaya setiap saat. Tetapi sayangnya, upaya tersebut belum membuahkan hasil yang berarti. Hal ini wajar karena memang sifatnya razia adalah insidental (ini belum memoertimbangkan adanya kebocoran informasi). Beberapa saat setelah razia, mungkin memang tidak beredar makanan berbahaya di sekitar tempat razia. Tetapi besok, lusa, dst? Tetap kembali berproduksi dan makanan berbahaya itu pun kembali menjamur.
BPOM seringkali mengumumkan merek – merek makanan yang ditemukan mengandung bahan tambahan berbahaya. OK, upaya ini patut diapresiasi dan memang cukup memberikan dampak positif karena masyarakat menjadi lebih berhati – hari terhadap merek tersebut. Tetapi bagaimana dengan makanan – makanan yang tidak bermerek? Bukankah sebagian besar makanan berbahaya tersebut merupakan produk rumahan yang tentu saja tidak bermerek?
2. Pencabutan izin usaha
Iya, penulis akui langkah ini cukup efektif untuk mengatasi produsen makanan berizin yang nakal menyalahgunakan izin yang mereka miliki. Tetapi apakah langkah ini cukup efektif untuk menghentikan “industry” rumahan memproduksi makanan berbahaya? Bukankah dari awal mereka memang tidak pernah mengantongi izin apa pun? Dan konsumen mereka pun tidak peduli apakah makanan yang mereka konsumsi tersebut terdaftar di BPOM atau tidak. Yang penting bagi mereka adalah bisa dimakan dan enak di lidah serta kantong mereka.
3. Pembatasan peredaran bahan kimia yang sering disalahgunakan untuk makanan
Jika dua upaya di atas merupakan upaya “kuratif”, maka upaya ini dimaksudkan sebagi upaya preventif. Akan tetapi hal ini akan menimbulkan masalah yang lain. Perlu diingat penggunaan bahan – bahan tersebut dalam makanan hanyalah merupakan penyalahgunaan. Berarti sesungguhnya bahan – bahan tersebut berguna untuk keperluan yang lain. Misalnya saja Rhodamine B pewarna tekstil yang sering disalahgunakan untuk mewarnai produk pangan. Jika peredaran Rhodamine B ini dibatasi, bagaimana dengan masyarakat yang usahanya terkait dengan pewarnaan kain?
4. Edukasi dengan seminar dan poster
Seminar – seminar tentang keamanan produk pangan telah sering dilakukan sejak dahulu. Tetapi yang namanya seminar, sifatnya hanya sekadar informasi saja dan seringkali mudah dilupakan beberapa hari pasca seminar usai. Begitu pula dengan poster – poster yang ditempel di puskesmas, sekolah, balai desa, dll.
5. PTM – AS (Program Tambahan Makanan untuk Anak Sekolah)
Dulu ketika masih SD di SD tempat penulis belajar ada PTM –AS yang diberikan tiga kali per pekan (kalau tidak salah ingat, PTM – AS dilakukan pada hari Selasa, Kamis, dan Sabtu). PTM – AS ini diberikan kepada siswa SD di desa yang terkategori sebagai desa tertinggal. Menurut ayah yang juga terlibat dalam PTM – AS ini bertujuan untuk memperbaiki gizi anak sekolah dan mencegah mereka agar tidak membeli jajanan tidak sehat yang dijajakan di luar. Jika dikatakan untuk memperbaiki gizi anak sekolah, mungkin tepat tetapi jika dimaksudkan pula untuk mencegah kami mengkonsumsi jajanan tidak sehat, jelas sangat tidak efektif. Buktinya kami tetap saja membeli jajanan tidak sehat yang dijajakan di depan sekolah kami, bahkan diajajakn di dalam halaman sekolah kami oleh istri si penjaga sekolah.
Solusi yang Tepat
Masalah peredaran makanan berbahaya tidak dapat dilihat hanya dari satu sisi saja. Masalah ini harus dilihat dari berbagai sisi. Jika kita cermati, masalah ini mucul akibat rendahnya kesadaran masyarakat dan taraf ekonomi yang rendah.
Rendahnya kesadaran masyarakat lahir dari mana? Bukankah dari taraf pendidikan yang juga rendah? Harus diakui bahwa pendidikan di negeri ini sangat tidak ramah kepada masyarakat dari kalangan menengah ke bawah. Selain itu, pendidikan kita yang berbasis secularism – capitalism itu hanya berhasil mencetak peserta didiknya menjadi manusia – manusia kapitalis yang hanya mementingkan kepentingan dirinya saja. Maka, produsen – produsen yang berpendidikan rendah tetap memproduksi makanan berbahaya karena ketidaktahuan sedangkan produsen besar pun melakukannya karena keserakahan dan ketidakpeduliaan mereka pada orang lain. Yang penting untung besar!
Dilihat dari sisi ini, maka solusinya adalah dengan menciptakan sistem pendidikan yang ramah bagi siapa pun dan sanggup mencetak peserta didiknya menjadi insan seutuhnya: yang tidak hanya sekadar cerdas, tetapi juga memiliki kepekaan dan ketaqwaan. Dengan kecerdasan seseorang dapat menyejahterakan dirinya tetapi dengan kepekaan dan ketaqwaan ia dapat menyejahterakan dirinya sekaligus menyejahterakan dan melindungi masyarakat.
Mari kita lihat penyebab yang kedua: Rendahnya taraf ekonomi masyarakat berasal dari mana? Sulitnya mendapatkan lapangan pekerjaan karena sistem ekonomi yang diterapkan di negeri ini adalah sistem ekonomi ribawi yang lebih mengutamakan sektor non real yang spekulatif dan bersifat gambling dari pada sektor real yang produktif dan menyerap banyak tenaga kerja.
Jika dilihat dari sisi ini, maka solusinya adalah dengan membangun sistem ekonomi baru yang bertumpu pada sektor real serta membuang jauh – jauh sektor non real.
Persoalan selanjutnya adalah untuk membangun sistem pendidikan dan sistem ekonomi yang demikian itu sangat bergantung pada sistem politik yang diterapkan di negeri ini. Juga bergantung pada sistem hukum yang menjadi dasar sekaligus payung atas penerapan sistem – sistem tersebut. Maka sesungguhnya, jika ingin menyelamatkan anak – anak kita dari serangan makanan berbahaya, solusinya adalah dengan mengevaluasi semua sistem yang diterapkan di negeri ini dan jika perlu menggantinya dengan sistem lain yang jauh lebih baik.

Yogyakarta, 24 Dzulhijjah 1431 H
Monday, November 29, 2010
10.44 p.m.
Haafizhah Kurniasih

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s