TABLET HISAP EKSTRAK KEMUKUS (Piper cubeba L.f) SEBAGAI EKSPEKTORAN PADA PENYAKIT BRONKITIS#

Dr. Hilda Ismail., M.S., Apt*, Fajri Nugroho^, Khafidoh Kurniasih^
# Program Kreativitas Mahasiswa Gagasan Tertulis Didanai DIKTI 2010
* Bagian Kimia Farmasi Fakultas Farmasi UGM
^ Farmasi Sains dan Industri Fakultas Farmasi UGM

RINGKASAN
Bronkitis merupakan salah satu penyakit gangguan pernafasan, yang ditandai dengan hipersekresi mukus dan batuk produktif kronis berulang-ulang minimal selama 3 bulan pertahun atau paling sedikit dalam 2 tahun berturut-turut pada pasien yang diketahui tidak terdapat penyebab lain (Anonimc), 2009). Berbagai upaya telah digunakan oleh masyarakat dalam menanggulangi penyakit ini, salah satu diantaranya dengan memakai obat tradisioanal (jamu).

Salah satu tanaman yang bisa digunakan untuk pengobatan bronkitis adalah tanaman kemukus (Piper cubeba L.f). Sumathykutty (1999) menyebutkan bahwa Piper cubeba bisa digunakan untuk pengobatan batuk, bronkitis, penyakit saluran cerna serta rematik. Heyne (1950) juga menyebutkan manfaat kemukus (Piper cubeba) sebagai stimulan ekspektoran pada membran mukosa bronkial. Masyarakat Indonesia juga telah lama menggunakan kemukus sebagai obat tradisional. Walaupun demikian keefektifan dan kualitas obat tradisional masih banyak yang belum teruji, utamanya menyangkut masalah kenyamanan (rasa) maupaun takaran dosis ekstrak yang digunakan. Hal ini sangat penting terutama untuk pengobatan yang relatif lama seperti bronkitis,diantaranya untuk mencegah kebosanan pada pasien untuk mengkonsumsi obat tradisional tersebut serta kesalahan dosis yang bisa berakibat pada efek yang tidak diinginkan.
Masalah diatas dapat diatasi dengan inovasi bentuk sediaan baru dengan memanfaatkan teknologi yang telah ada. Diantaranya adalah formulasi dalam bentuk sediaan tablet hisap. Tablet hisap merupakan jenis sediaan yang mempunyai rasa enak dan pemakainya dengan cara dihisap dalam mukut. Sediaan ini sangat cocok digunakan untuk pengobatan infeksi pada mulut maupun tenggorokan (Anonim, 1995).

Implementasi ide dapat dilakukan melalui kerjasama antara akademisi, industri farmasi dan masyarakat. Kalangan akademisi berperan dalam melakukan penelitian untuk mencari formula optimum tablet hisap dari ekstrak tanaman kemukus, yang nantinya akan diajukan kepada industri farmasi untuk dievaluasi apakah bisa untuk diproduksi secara industri. Sedangkan masyarakat bisa turut serta dalam pembudidayaan tanaman kemukus, sehingga bisa membantu dalam penyediaan bahan baku jika produksi skala industri bisa diwujudkan.

Inovasi ini diharapkan mampu mengatasi masalah-masalah pada obat tradisional. Kenyamanan pemakaian serta keamanan tablet hisap ini lebih baik sehingga dapat dikatakan lebih acceptable. Harapannya kepatuhan penggunaan obat juga akan semakin meningkat. Dengan beberapa keunggulan yang dimiliki, tablet hisap ekstrak kemukus bisa menjadi suatu alternatif baru yang prospektif dalam pengobatan bronkitis berbasis tanaman tradisioanal.

GAGASAN
A. Penyakit Bronkitis
Bronkitis merupakan gangguan hipersekresi mukus dan batuk produktif kronis berulang-ulang minimal selama 3 bulan pertahun atau paling sedikit dalam 2 tahun berturut-turut pada pasien yang diketahui tidak terdapat penyebab lain. Gejala dan tanda klinis yang timbul pada pasien bronkitis tergantung pada luas dan beratnya penyakit, lokasi kelainannya, dan ada tidaknya komplikasi lanjut. Ciri khas pada penyakit ini adalah adanya batuk kronik disertai produksi sputum, adanya haemaptoe dan pneumonia berulang. Gejala dan tanda klinis dapat demikian hebat pada penyakit yang berat, dan dapat tidak nyata atau tanpa gejala pada penyakit yang ringan (Anonimc), 2009)

Menurut buku Report of the WHO Expert Comite on Smoking Control, rokok adalah penyebab utama timbulnya bronkitis. Secara patologis rokok berhubungan dengan hiperplasia kelenjar mukus bronkus dan metaplasia skuamus epitel saluran pernafasan juga dapat menyebabkan bronkostriksi akut. Sementara itu menurut Koordinator Lembaga Penanggulangan Masalah Merokok (LM3) Fuad Baradja (2009), Indonesia merupakan negara dengan jumlah perokok terbesar nomor ketiga dari seluruh negara yang ada di dunia yaitu setelah Cina dan India (Anonimb), 2009). Dengan demikian resiko timbulnya bronkitis di Indonesia menjadi tinggi.

Obat-obat herbal menjadi salah satu alternatif pengobatan bronkitis yang banyak diminati masyarakat hingga saat ini. Selain mudah didapat, obat-obat dari bahan alam juga lebih murah sehingga terjangkau untuk masyarakat luas. Selain itu banyak juga masyarakat yang masih menganggap obat tradisional lebih aman dibandingkan dengan obat-obatan sintetik, padahal anggapan itu tidak sepenuhnya benar karena dalam dosis yang tidak sesuai obat tradisional juga bisa menyebabkan efek yang tidak dikehendaki.

Kaitannya dengan bronkitis, masyarakat Indonesia telah lama mengenal tanaman kemukus (Piper cubeba) sebagai salah satu obat tradisional pilihan. Buah kemukus merupakan salah satu bahan obat alam yang banyak digunakan sebagai pengobatan penyakit asma (Syamsuhidayat dan Hutapea, 1991). Buah kemukus selain digunakan sebagai rempah juga telah digunakan pada pengobatan asma, diarhea, disentri, gonorrhea, enteritis dan siphilis (Eisai, 1995; Sastroamidjojo, 1997) dan telah dilaporkan memiliki efek inhibitor protease pada virus hepatitis C (Januario dkk, 2002). Selain itu menurut Sthal (1985), kemukus dapat berkhasiat sebagai antiseptikum saluran kencing, karminativa dan ekspektoran pada bronkitis. Sumathykutty (1999) juga menyebutkan bahwa Piper cubeba bisa digunakan untuk pengobatan batuk, bronkitis, penyakit saluran cerna serta rematik. Heyne (1950) juga menyebutkan manfaat kemukus (Piper cubeba) sebagai stimulan ekspektoran pada membran mukosa bronkial.

Banyaknya khasiat dari buah kemukus disebabkan oleh kandungan senyawa kimianya yang sangat bervariasi. Beberapa kandungan senyawa kimia dari buah kemukus telah dilaporkan di antaranya minyak atsiri (10-20 %), asam kubebat (1%), damar (2,5-3,5%), kubebin (0,3-3%), piperin (0,1-0,4%), di samping beberapa saponin dan flavonoid (Syamsuhidayat dan Hutapea, 1991). 5

Senyawa aktif yang kemungkinan memiliki aktivitas sebagai ekspektoran pada Piper cubeba adalah cubebin. Cubebin merupakan suatu lignan yang banyak ditemukan pada buah kemukus. Dari penelitian yang dilakukan Wahyuono dkk (1999) diketahui bahwa kubebin mempunyai aktivitas sebagai trakeospasmolitik yang dapat bermanfaat bagi pengobatan asma. Berdasarkan penelitian Wahyonob) dkk (2003) didapatkan bahwa 2 senyawa aktif sebagai trakeospasmolitik yang utama adalah dihydroxycubebin dan cubebin (gambar 3).

Di sisi lain, dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang farmasi mendorong inovasi baru dalam pembuatan suatu formulasi yang tepat untuk mengolah bahan alam menjadi bentuk sediaan yang mudah di terima oleh masyarakat. Dengan demikian diharapkan dapat meningkatkan minat masyarakat dalam mengkonsumsi obat-obat dari bahan alam. Pengobatan bronkitis relatif memerlukan waktu yang cukup lama. Untuk itu diperlukan suatu cara untuk meningkatkan kenyamanan dan kepatuhan dalam mengkonsumsi tanaman tradisional sebagai obat. Salah satu formulasi yang tepat adalah dalam bentuk tablet hisap.

B. Tablet Hisap Ekstrak Kemukus (Piper cubeba)
Tablet hisap adalah sediaan padat yang mengandung satu atau lebih bahan obat, umumnya dengan bahan dasar beraroma dan manis yang dapat membuat tablet melarut atau hancur perlahan dalam mulut (Anonim, 1995). Tablet hisap umumnya ditujukan untuk pengobatan iritasi lokal atau infeksi mulut atau tenggorokan tetapi dapat juga mengandung bahan aktif yang ditujukan untuk absorbsi sistemik setelah ditelan (Anonim, 1995).

Tablet hisap merupakan suatu bentuk sediaan yang biasa digunakan sebagai anestetik lokal, berbagai antiseotik dan anti bakteri, demulsen, astringen, dan antitusif (Banker dan Anderson, 1986). Pemilihan formulasi ekstrak buah kemukus dalam bentuk tablet hisap ini sangat cocok bila diterapkan untuk pengobatan bronkitis yang memerlukan waktu relatif lama. Dengan rasa yang enak dan menyenangkan maka akan meningkatkan kepatuhan pasien dalam mengkonsumsi obat tersebut. Selain itu dengan adanya formulasi ini dosis ekstrak yang dipakai juga bisa dikuantifikasi secara tepat sehingga efek 6 dan keamanan yang dihasilkan akan lebih baik dibandingkan jika hanya dikonsumsi secara tradisional seperti dalam bentuk jamu.

Berikut ini adalah formula untuk tablet hisap kemukus (Piper cubeba) tiap tablet 600 mg :
Ekstrak buah kemukus (Piper cubeba) 250 mg
Laktosa 200 mg
Manitol 120 mg
Gelatin 10 % (b/v) 25 mg
Talk 5 % 5 mg

Laktosa merupakan bahan pengisi yang paling banyak dipakai karena tidak bereaksi dengan hampir semua bahan obat, baik yang digunakan dalam bentuk hidrat atau anhidrat. Sedangkan manitol digunakan sebagai bahan pengisi sekaligus pemanis yang memiliki rasa enak dimulut dan relatif tidak higroskopis (Anonim, 1995). Pada tablet hisap ini digunakan kombinasi pengisi berupa laktosa-manitol dengan tujuan untuk mengurangi biaya produksi karena manitol merupakan gula yang mahal. Manitol biasa digunakan untuk formulasi tablet multivitamin yang tidak higroskopis, dan rendah kalori. Bahan pengisi yang berasa manis dapat meningkatkan rasa atau menutupi rasa ekstrak yang mungkin kurang menyenangkan.

Gelatin digunakan sebagai bahan pengikat yaitu agar antara bahan yang satu dengan yang lain dapat bergabung saat dikempa menjadi tablet. Gelatin pada pembuatan tablet mempunyai konsentrasi 2-7 % dari formula tablet, pelarut yang digunakan yaitu air dan biasanya pada granulasi basah gelatin dibuat solutio, musilago, atau suspensi (Sulaiman, 2007). Bahan pelicin yang digunakan berupa talk. Bahan ini mencegah terjadinya pelekatan antara tablet dan mesin pencetak saat proses pengempaan tablet. Selain menggunakan bahan-bahan seperti diatas maka dapat pula ditambahkan bahan lain untuk meningkatkan rasa antara lain berupa perasa mentol. Perasa ini cocok dengan formula tablet hisap ini karena mempunyai efek melegakan tenggorokan, sehingga sesuai untuk pengobatan pada bronkitis.

C. Proses Pembuatan Tablet Hisap Ekstrak Kemukus (Piper cubeba)
Proses pembuatan tablet hisap dimulai dari penyiapan bahan-bahan seperti ekstrak buah kemukus. Ekstrak ini diperoleh dengan menyari serbuk buah kemukus yang telah dikeringkan dengan menggunakan metode perkolasi dan ekstrak cair yang didapat diuapkan sampai menjadi ekstrak kental. Metode pembuatan tablet hisap yang dipakai adalah granulasi basah, yang sesuai untuk bahan/zat aktif yang bersifat cair. 7

Langkah selanjutnya adalah pencampuran ekstrak kental buah kemukus dengan bahan pengisi, pencampuran dilakukan dengan cara menambahkan bahan pengisi (laktosa) ke dalam ekstrak kental sampai didapatkan campuran yang lebih kering. Kemudian ditambahkan bahan pengisi-pemanis (manitol), serta bahan pengikat gelatin yang telah dibuat musilago dengan air. Jika campuran telah homogen, maka langkah selanjutnya adalah dilakukan pengayakan basah, sehingga menghasilkan granul dengan ukuran tertentu. Granul yang didapatkan kemudian dikeringkan pada suhu tertentu sehingga menghasilkan granul dengan kelembaban yang sesuai dan tidak terlalu kering.

Granul yang telah kering kemudian diayak kembali dengan ayakan yang sesuai, kemudian ditambahkan bahan pelicin (talk) dan dicampur hingga homogen. Granul ini kemudian dikempa dengan tekanan tertentu pada mesin pencetak tablet. Setelah proses pembuatan selesai, maka dapat dilanjutkan dengan uji kualitas dan sifat fisis tablet yang bertujuan untuk mengetahui apakah formula yang dibuat telah optimum. Beberapa uji tersebut antara lain uji waktu hancur, kekerasan dan kerapuhan tablet, keseragaman bobot serta uji tanggapan rasa. Uji tanggapan rasa sangat penting karena berkaitan dengan kenyamanan dalam penggunaannya, apakah tablet telah memiliki rasa yang sesuai (enak) atau belum.

Langkah-langkah pembuatan tablet hisap ini sangat mudah untuk diterapkan serta tidak terlalu panjang, dengan demikian proses produksi akan lebih murah. Bahan-bahan yang digunakan mudah didapat serta relatif murah kecuali bahan pemanis manitol yang memiliki harga mahal. Namun demikian masalah ini dapat diatasi dengan mengatur perbandingan komposisi bahan pengisi laktosa-manitol, sehingga penggunaaan manitol bisa ditekan sekecil mungkin.

Beberapa kendala yang mungkin timbul dalam proses pembuatan tablet hisap ini antara lain terjadinya :
1. Capping dan laminating
Capping adalah keadaan dimana bagian atas atau bawah tablet terpisah sebagian atau seluruhnya dari tablet. Laminating adalah pemisahan tablet menjadi dua atau lebih lapisan-lapisan yang berbeda. Capping dan laminatingi segera terlihat setelah pencetakan, tetapi dapat juga terjadi setelah satu jam atau satu hari. Capping dan laminating terjadi karena karena granul terlalu kering, tekanan yang tinggi, granul terlalu besar, kecepatan mesin yang terlalu tinggi (Lachman dkk, 1994). Masalah ini dapat diatasi dengan pengaturan tekanan mesin tablet yang sesuai serta pengeringan tablet yang tidak terlalu lama.

2. Pengelupasan dan penempelan
Pengelupasan adalah istilah untuk menerangkan permukaan bahan dari suatu tablet yang menempel dan dipisahkan dari permukaan tablet oleh punch. Penempelan adalah saat pengeluaran tablet dari punch menghasilkan sisi yang kasar. Keadaan ini disebabkan oleh granul 8 terlalu basah, jumlah bahan pelicin yang kurang, punch yang sudah rusak, kelembaban yang tinggi (Lachman dkk, 1994). Masalah ini dapat diatasi dengan penambahan bahan pelicin yang tepat serta pengurangan kelembaban granul.

3. Mottling
Mottling adalah keadaan dimana distribusi warna tablet tidak merata, dengan terdapatnya bagian-bagian terang dan gelap pada permukaan yang seragam. Penyebab mottling adalah berbedanya warna obat dengan bahan tambahan atau bila hasil urai obatnya berwarna (Lachman dkk, 1994).

Referensi:
Anonim. 1995. Farmakope Indonesia. Edisi IV. Departemen Keseharan RI. Jakarta.
Anonim. 2008. http://medicafarma.blogspot.com/2008/08/pil-pillulae.html. diakses tanggal 10 Maret 2010.
Anonima). 2009. http://chestofbooks.com/health/materia-medica-drugs/Textbook-Materia-Medica/Cubebs-Fructus-Cubebae.html. diakses tanggal 12 Maret 2010.
Anonimb).2009.http://www.mediaindonesia.com/read/2009/12/21/112792/92/14/Jumlah-Perokok-di-Indonesia-Terbesar-Ketiga-. diakses tanggal 12 Februari 2010.
Anonimc). 2009. http://www.medicastore.com/Bronkitis. diakses tanggal 13 Maret 2010.
Anonim. 2010. http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/bronchitis.html. diakses tanggal 13 Maret 2010.
Banker, G.S. & Anderson, N.R. 1986. Tablet, in Lachman L., Lieberman, H.A., Kanig, J.L., The Theory and Practice of Industrial Pharmacy,3rd Ed. 683 703. Lea and Febinger. Philadelphia.
Donatus, I.A., Gunawan, D., dan Mulyono. 1983. Risalah Simposium Tanaman Obat edisi 5, Penerbit Fakultas Farmasi UGM, Yogyakarta.
Eisai, P.T,. 1995. Medicinal Herb Index in Indonesia, 2nd edition. Dian Rakyat. Jakarta, 21 pp.
Handa, Sukhdev.,S, Dev Dutt Rakesh dan Karan.,V. 2006. Compendium of Medicinal and Aromatic Plants volume II. ICS UNIDO. Trisete, Italy.
Heyne, K. 1950. De Nuttige Planten van Indonesia, en twee delen. N.Vuitgeverij W. van Hoeve-s-Grovenhage.
Januario AH, Rodrigues Filho R, Pietro RCLR, Kashima S, Sato DN and Franca SC. 2002. Antimycobacterial physalins from Physalis angulata L. (Solanaceae). Phytotherapy Research 16:445-448.
Lachman, L., dan Lieberman H.A. 1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri edisi 3 jilid 2. UI Press. Jakarta.
Marrie TJ. 1998. Acute bronchitis and community acquired pneumonia. In: Fishman AP, Elias JA, eds. Fishman’s Pulmonary diseases and disorders. 3d ed. New York: McGraw-Hill,:1985-95. 11
Ngatijan. 1996. Tumbuhan Obat Hasil Penelitian, Sifat – sifat dan Penggunaan. 112–117. PPOT – UGM. Yogyakarta.
Prabhu. B.R. and Mulchandani, M.B. 1985. Lignans from Piper cubeba, Phytochemistry,. 24, 329-331.
Sastroamidjojo, S. 1997. Obat Asli. Dian Rakyat. Jakarta. pp 149.
Stahl, E. 1985. Analisis Obat Secara Kromatografi dan Mikroskopi. Diterjemahkan oleh Padmawinata, K., dan Sudiro, L., Edisi II. 206 – 209. Penerbit ITB. Bandung.
Sudarsono, Pudjoarinto, A., Gunawan, D., Wahyuono, S., Donatus, I.A., Drajat, M., Wibowo, S., Syamsuhidayat, S.S., Hutapea, J.R. 1991. Inventaris Tanaman Obat (I). 456 – 457. Departemen Kesehatan RI. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Jakarta.
Sulaiman, T.N.S. 2007. Teknologi dan Formulasi Sediaan Tablet. Pustaka Laboratorium Teknologi Farmasi Fakultas Farmasi UGM. Yogyakarta..
Sumathykutty, M.A., J. Madhusudang Rao, K.P. Padmakumari dan C.S. Narayanan. 1999. Essential oil constituents of some Piper species. Flavour and Fragrance Journal. John Wiley & Sons.
Syamsuhidayat, S.S., dan Hutapea, J.R. 1991. Inventaris Tanaman Obat (I), 456- 457. Departemen Kesehatan RI, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Jakarta.
Wahyonoa), L. Hakim, S. Wahyuono, A. Mursyidi, R. Verpoorte,H. Timmerman. 2003. Isolation of Tracheospasmolytic Compounds from Piper Cubeba Fruits, Indon. J.Ph. 14 (3), 119-123.
Wahyonob), L. Hakim, S. Wahyuono, A. Mursyidi, R. Verpoorte,H. Timmerman. 2003. Pengaruh antagonistik isolat buah kemukus (Piper cubeba) terhadap respon kolinergik pada trakea marmut terisolasi. Prosiding makalah penelitian “Seminar Ilmiah Nasional” dengan tema Penelitian Farmasi Masa Mendatang Berbasis Diversitas Hayati Indonesia. Universitas Sanata Dharma. Yogyakarta.
Wahyuono, S, Mulyono, Wahyono, Mursyidi, A. 1999. Tracheospasmolytic Activity of Piper cubeba L.f. Fructus, Indon.J.Ph., 10(1), 48-56.
Wijayakusuma, H.N.M., Dalimartha, S., Wirian, A.S. 2002. Tanaman Berkhasiat Obat di Indonesia. 83-84. Pustaka Kartini. Jakarta.
Yardley, Katolen. 2004. Alternative Treatments for Bronchitis and Lower Respiratory Infections. National Institute of Medical Herbalists Anson Avenue. BC.

17 thoughts on “TABLET HISAP EKSTRAK KEMUKUS (Piper cubeba L.f) SEBAGAI EKSPEKTORAN PADA PENYAKIT BRONKITIS#

  1. asalamualaikum,,,
    maaf ne mba sbelumny,,
    ngga ada niat dihati buat ngoreksi,, karena saya blum ckup ilmu buat jadi korektor,,,
    saya cuma mau tanya,,
    itu formula tabletnya ngga pake surfaktan ya,,???
    mhon dijawab,, lewat email sya aja,,,,jwaban mba sgt mmmbantu saya,, sya sdg studi penelitian,,,
    makasii,,
    wasalmualikummm,,,

    • Wa’alaykumussalam
      Terima kasih sudah berkunjung…🙂
      Terkait penggunaan surfaktan, dalam pandangan kami hal itu tidak diperlukan dalam produksi tablet hisap ini.
      Sebagaimana namanya, surfaktan adalah akrononim yang diindonesiakan dari bahasa Inggris surfactant alias SURFace ACTive AgeNT, fungsinya adalah untuk mengurangi tegangan permukaan antara fase lipid dan fase air.
      Memang, zat aktif dalam kemukus yang dimanfaatkan sebagai ekspektoran ini relatif non polar dan diperkirakan larut dalam lipid, tidak larut air.
      Tetapi…
      Bukankah hasil akhir yang diinginkan dalam bentuk padat, bukan bentuk cair maupn semi padat?
      Coba dicermati proses produksinya…
      Ekstrak kental kemukus dicampur dengan laktosa dan manitol. Itu kan hasil akhirnya granul kan?
      Penggunaan air di sini hanya sebagai “pelarut” gelatin, tidak digunakan untuk melarutkan kubebin. Lagipula air ini pun nantinya dihilangkan dengan pengeringan. Jadi, penggunaan surfaktan tidak diperlukan.
      Kalau menurut Mba sendiri penggunaan surfaktan dalam formulasi tablet hisap ini fungsinya untuk apa?

      Jawaban via imel insya ALLAH akan segera saya kirim dengan lebih lengkap…

  2. oh,, iya,, saking pusingnya,, saya kira judulnya tablet effervecent,, ternyata tabket hisab,, maaf..

    sekalian deh,, mau tanya lg bole ya mba?

    kalau buat tablet effervecent itu surfaktan yang paling stabil dan tepat apa ya mba,,?
    buat ekstrak belimbing wuluh,,,
    makasii banyak ya mba,, saya sangat tertolong,,,
    salaamm,,^_^

    • Hehe…🙂
      Wuih…, ekstrak belimbing wuluh?
      Aksi yang diinginkan apa nih? Antidiabetes/bukan?
      Zat aktifnya non polar ya?
      Saya juga lagi tertarik eksplorasi belimbing tapi fokus saya sebagai antihipertensi…
      Saya juga masih bingung milih bentuk sediaannya (curcol deh… hehehe…🙂 )
      Terkait surfaktan yang cocok, coba check di Pharmaceutical Excipient dan di Solvent Systems and Their Selection in Pharmaceutics and Biopharmaceutics.
      Kedua ebook tsb bisa didonlod secara gratis. Googling aja…
      Yang pasti, dalam pemilihan surfaktan jangan lupa pertimbangkan inkom baik sec farmasetis maupun farmakologis, toxisitas, dan… tentu saja harga…
      Maaf, ga bisa banyak bantu…

  3. iya,, ekstak belimbing wuluh,,
    tpi saya lebih mengambil khasiat panas dalam nya,,,
    dan vit c nya,,,
    dimulai dari yg ringan dulu aja deh,,,

    sama donk mba,,

    btw,, mba lgi penelitian juga ya,,,,?
    program apa??
    sukses ya mba..

    mkasii banyk ya mba,,,,
    tadi saya dah sempet liat pharmaceutical excipient nya di perpustakaan hya belum spet baca,,,,,
    insyaAllah besok mau kesana lgi,,

    mhon do’anya ya mba,,,

    eh iya nnti klo sari pya msalah lagi boleh tnya lagi ya mba,,,,,?
    hehe ^_^

    • Insya ALLAH, selama saya masih bisa jawab…
      Ilmu saya juga masih sangat sedikit…
      Hehehe…
      Saling sharing ilmu aja ya…

  4. Maaf mbk sblmnya …gini mbk saya tertarik dengan penelitian mbk tentang tablet hisap dengan variasi pengisi …rencananya saya jg ingin meneliti itu mbk…mohon bantuannya mbk…saya mau tanya formulasi 2 mbk wktu pnlitian tdlu? terima ksh sblmnya

    • Wa’alaykumussalaam wa rahmatullaah…
      Hehehe…
      Jadi malu…
      Saya belum melakukan penelitian ttg tablet hisap kemukus…
      Tu hanyalah cuplikan naskah PKM GT yang saya kirimkan ke DIKTI dan alhamdulillah diterima…
      PKM GT itu sifatnya ya hanya sebatas gagasan baru yang belum pernah dimunculkan sebelumnya…
      Silakan kalau Mba mau mengembangkan gagasan kami…

  5. oo..jd mbak blm menyusun formulasi yg berbeda beda ya mbak?

    recananya saya ingin meneliti tablet hisap dengan var.pengisi jg tp saya terbentur masalah formula dan alsan knp mengkombinasikan dan memilih msg 2 zat pengisi tersebut?…serta saya sering melihat byk penelitian klo mengkombinasikan 2 zat biasanya menggunakan metide simplex latice design utk memilih formula yg optimum…saya msh bingung dg metode itu…
    bhn penjelasannya mbk klo gk keberatan…

    o y mbk saya lihat julh gelatin itu 25 mg ,emg persentase ny brp mbk? bgtu jg dengan talk?
    terima ksh

    • Ya, optimasi kombinasi 2 zat biasanya pake SLD.
      Prinsipnya SLD itu mirip2 dngn pelajaran Matematika jaman kelas XII (Kelas 3 SMA) tpi saya lupa nama babnya apa.. Hehe…
      Yang ada fungsi Z (alias fungsi tujuan), dan fungsi pembatas itu…
      Pokoknya kalau paham pelajaran itu waktu SMA, insya ALLAH pasti bisa menggunakan SLD..,
      Misalnya gini:
      Kita akan menggunakan bahan pengisi kombinasi laktosa (L) dan amilum (A)
      Di sisi lain, kita dibatasi oleh standar kualitas tablet yang mencakup waktu hancur, kekerasan, disolusi, dll, dst…
      Kita buat beberapa kombinasi L dan A, misalnya sebagai berikut:
      Formula 1: 10% L + 90% A
      Formula 2: 20% L + 80% A
      Formula 3: 30% L + 70% A
      Formula 4: 40% L + 60% A
      Formula 5: 50% L + 50% A
      Formula 6: 60% L + 40% A
      Formula 7: 70% L + 30% A
      Formula 8: 80% L + 20% A
      Formula 9: 90% L + 10% A

      Semua formula tsb kita evaluasi sesuai batasan standar kualitas yang ditetapkan. Dari hasil evaluasi itu, kita pilih deh mana yang paling sesuai dengan standar kualitas kita…
      Memang tidak ada yang perfect. Seperti yang kita tahu kalau kita terlalu mengutamakan kekerasan tablet, nanti malah waktu hancurnya lama. Begitu juga sebaliknya kalau kita terlalu fokus pada waktu hancur dan disolusi, bisa2 tablet kita terlalu rapuh…
      Pada posisi seperti ini, kita harus mengorbankan salah satu atau salah 2 kriteria yang kurang penting. Penentuan penting / kurang penting tentu saja ditentukan oleh jenis tablet kita…
      Begitu yang saya tau…
      Lebih jelasnya baca saja di buku2 teknologi dan formulasi sediaan farmasi. Seingat saya punya ebook yang membahas SLD tapi saya lupa itu judulnya apa sehingga saya belum bisa memberikan rekomendasi buku bacaan untuk Mba…
      Maaf ya…

  6. oke mbk… mgkin sy akn mencoba mencari2..

    o y mbk alasan yg paling mendasar untuk mengkombinasikan pengisi apa y ?

    …Trus klo mau melihat keuntungan dan kekurangan masing2 pengisi dbuku pa y mbk?… klo bisa yg dpt didownload di internet…
    terima ksh

    • Pertimbangannya macam2, antara lain:
      1. Interaksi baik antar sesama pengisi, bahan tambahan lainnya maupun dengan zat aktif
      2. Stabilitas
      3. Harga
      4. Keamanan (toxisitas)
      5. Sifat / kualitas tablet yang diinginkan, dll
      (Urutan di atas tidak menunjukkan prioritas). Menurut saya, mungkin yang paling utama adalah sifat tablet yang diinginkan dan interaksi.

      Untuk mengetahui karakteristik pengisi, bisa dilihat di Handbook of Pharmaceutical Excipient terbitan PhP (Pharmaceutical Press).
      Saya punya yang edisi ke-5, terbit tahun 2005. Di sana cukup lengkap dan detil Bisa didonlod. Coba Googling aja…

      Kalau boleh tau, ni penelitian untuk skripsi atau untu apa ya?
      Hehehe…

  7. oke mbk…wah penjelasannya sungguh lengkap…..hehehe
    …..oh ya Mbk saya belum kenalan dg mbk…

    kenalkan mbak nama saya dewi komala sari …saya mahasiswa poltekkes palembang….senang berkenalan dg mbk….

    ooh ini utk KTI ,Dewi Baru D3….
    O y mbk mw nanya lg.. g mannitol &laktosa di penelitian mb t brp persen y mbk ?
    Terima ksh ..

    • Salam kenal juga…
      Saya Fifi, mahasiswi Fakultas Farmasi UGM bidang minat Farmasi Sains dan Industri

      Hehehe…
      Saya belum penelitian, Mba…
      Cuma sering “main”2 aja di Lab Teknologi Sediaan Farmasi waktu praktikum.
      Namanya juga praktikum, kan “main”2, jadi ya… suka2 kami mau pake berapa persen. Kalau hasilnya tidak memuaskan, ya tinggal dibahas aja kenapa bisa begitu…
      Hehehe…

  8. ooo,,,kirain mbk udah lulus s1 …heheeee
    …o y mbk klo mau akses skripsi UGM hrus dr perpus nya ya? cz saya kan mw cr formulasi nya trus ada judul yg sm n metode ny jg sm…tp cm jdlny aja n penelitinya ..

  9. assalamu’alaikum.ba’, sy mw tnya..qr2 bwt tblet hisap dr yoghurt bs gk ya?itu kn efek’y sistemik..kl cr bwt memprthankn bkteri’y spy gk mati pas pmbuatan tblet gmana?tolong jwb’y ya..makasih🙂

    • Wa’alaykumussalaam
      Pertama… Saya ucapkan selamaat ke MBa Fey karena komentar Mba adalah komentar ke-100 di blog saya. Angka cantik… Semoga ujiannya juga selalu dapat 100. Hehehe…😀😀😀
      Tablet hisap dari yoghurt ya? Koq saya belum kebayang gimana caranya ya… Apalagi kalau ingin mempertahankan bakterinya tetap hidup… Bakteri kan butuh air yang cukup untuk hidup sedangkan tablet hidap itu kan harus kering… Kalau cuma utk mempertahankan kandungan yoghut yang lain spt kalsium, dll sih mungkin bisa dibuat tablet hisap…
      Kalau yoghut-nya dibuat es krim saja gimana? Kurang unik ya?

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s