Terapi Anti Dot

Definisi: Tata cara yang secara khusus digunakan untuk membatasi intensitas efek toksik zat kimia atau untuk menyembuhkan sehingga bermanfaat dalam mencegah timbulnya bahaya lebih lanjut.
Ketoksikan suatu zat beracun ditentukan oleh antar aksi, absorbsi, dan disposisi.Ada pun sasaran dari terapi anti dot adalah menurunkan jumlah zat beracun dalam sel sasaran.
Strategi Terapi Anti Dot:
1. Penurunan Aktivitas Absorbsi
2. Penghambatan Proses Distribusi
3. Induksi Proses Eliminasi
Jika akan mengintervensi proses metabolisme, perhatikan karakteristik metabolitnya. Apakah relatif kurang toksik atau malah relatif leih toksik dari pada senyawa induk.
4. “Penaikan” KTM
Sesungguhnya KTM bersifat tetap tetapi dalam hal ini yang dimaksudkan adalah menaikkan daya tahan tubuh pasien sehingga fungsi – fungsi pertahanan dalam dirinya mampu mengatasi dampak buruk dari efek toksik tersebut. Strategi ini disebut juga terapi supportive. Inilah strategi yang dapat digunakan untuk semua kasus keracunan, pada waktu apa pun.
Untuk strategi 1, 2, dan 3 perlu diperhatikan Kisaran Waktu Terapi (KWT) yaitu waktu sejak pasien terpejan zat beracun hingga siap diterapi. Hal ini terkait denga t½ eliminasi zat beracun sehingga dapat ditentukan zat beracun dalam tubuh pasien sudah berada pada fase apa. Jangan sampai zat beracun sudah masuk pada fase eliminasi tetapi diberikan terapi untuk menurunkan absorbs. Tabdzir!
Metode Strategi Terapi Anti Dot
Terdiri atas Metode Umum (Tak Khas) dan Metode Khas.
1. Metode Umum (Tak Khas)
Metode ini dapat digunakan untuk sebagian besar kasus kercunan. Strateginya antara lain:
a. Pergeseran kurva absorbsi kea rah kanan
Prinsipnya: Cegah zat beracun terabsorbsi ke sirkulasi sistemik
• Emetika (rangsang muntah kimiawi)
Prinsipnya: segera keluarkan zat beracun yang terlanjur masuk ke dalam tubuh dan masih berada di dalam lambung. Jika tersedia, gunakan sirup ipekak. Jika tidak tersedia, gunakan zat – zat yang memiliki rasa sangat ekstrim. Misalnya sangat pahit, sangat manis, sangat asin, sangat amis, dan sangat kental. Zat – zat yang umumnya tersedia di rumah dan dapat digunakan untuk terapi ini misalnya kecap kental, susu kental manis tanpa dicairkan, sirup tanpa dicairkan, larutan garam dapur kental, minyak ikan, dsb. Khusus untuk penggunaan garam dapur kental, perlu diperhatikan apakah pasien mengidap hipertensi atau tidak. Jika pasien mengidap hipertensi, jangan gunakan larutan garam.
• Rangsang Muntah Mekanik
Rangsangan muntah dilakukan bukan dengan zat kimia tetapi dengan rangsangan mekanik. Intinya: gunakan benda padat tumpul untuk “menyentuh” kerongkongan hingga pasien muntah. Perlu diperhatikan: Jangan gunakan jari untuk merangsang muntah pasien yang kejang karena jika tergigit dapat putus! Gunakan benda lain yang aman untuk pasien dan pemberi terapi. Misalnya pangkal pensil yang dibalut dengan kain lembut, dsb.
Baik rangsang muntak mekanik maupun kimiawi hanya dapat dilakukan apabila pasien dalam keadaan sadar. Pasien yang pingsan tidak boleh dirangsang untuk muntah karena berisiko terjadinya aspirasi pneumonia (muntahan masuk ke saluran nafas).
• Pembilasan Lambung (hanya dapat dilakukan di Rumah Sakit dengan pengawasan ketat tenaga medis)
Syarat:
 Cairan pembilas bersifat netral (exp. Aquadest atau larutan NaCl 0,9%)
 Gunakan cairan pada suhu kamar (bukan air es atau air panas). Pengecualian untuk kasus hematomesis (muntah darah) dapat digunakan air dingin (dengan pengawasan ketat tenaga medis) untuk penghentian darah.
Dapat juga dilakukan penyerapan zat beracun menggunakan arang aktif atau penetralan kimia menggunakan ammonium chloride (NH4Cl)  lambung menjadi netral sehingga obat – obat asam lemah tidak terabsorbsi.
Jika terpejan senyawa asam / basa kuat, tidak boleh dilakukan penetralan atau pemuntahan karena asam / basa kuat bersifat korosif. Pada kasus seperti itu, dilakukan strategi pengenceran, dapat menggunakan aquadest atau larutan fisiologis (NaCl 0,9%).
b. Pergeseran kurva distribusi ke arah kanan
Prinsipnya: Menghalangi agar zat beracun tidak dapat mencapai sel sasaran. Dapat dilakukan dengan cara:
• Penjeratan ion dengan mengubah pH darah
Menggunakan prinsip like dissolves like. Jika obat tidak larut dalam darah, ia tidak akan smapi ke sel sasaran. Sehingga, perhatikan sifat fisiko – kimia zat racun yang terpejan.
• Penggantian tempat ikatan racun
Ingat bahwa hanya senyawa bebas yang dapat terikat dengan reseptor dan menimbulkan efek. Di sisi lain, protein albumin dalam darah dapat mengikat senyawa tersebut sehingga tidak menimbulkan efek. Solusi: gunakan infuse albumin (tetapi sangat mahal) atau gunakan putih telur atau ikan kutuk. Putih telur mudah didapat dan relatif murah. Sedangkan ikan kutuh beraksi “ganda”: merangsang muntah (karena baunya yang sangat amis) dan kandungan proteinnya mengikat zat beracun.
c. Pergeseran kurva eliminasi ke arah kiri
Prinsipnya: Merangsang percepatan proses eliminasi (metabolisme dan ekskresi). Dapat dilakukan dengan cara:
• Hemodialisis (dilakukan di rumah sakit)
• Dialisis peritoneal (dilakukan di rumah sakit)
• Penyesuaian pH
• Diuresis paksa
Dapat dilakukan dengan pemberian larutan gula atau sari tebu.
• Pemberian induktor / inhibitor enzim (tergantung prediksi sifat metabolitnya)
Induktor Cyt-P450: Phenobarbital. Inhibitornya: curcumin atau simetidin
d. Penaikkan ambang toksik
Prinsipnya: memperbaiki kondisi tubuh dan daya tahan pasien. Dapat dilakukan dengan cara:
• Pemeliharaan oksigen darah (bantuan pernafasan)
• Pemeliharaan sirkulasi darah
• Pemeliharaan sirkulasi elektrolit dengan pemberian infuse kristaloid
• Pemeliharaan fungsi organ
2. Metode Khas
Hanya dapat dilakukan jika zat beracundiketahui dengan pasti dan anti dot-nya tersedia. Strateginya antara lain:
a. Pergeseran kurva absorbsi ke arah kanan
Lakukan khelat sehingga ukuran molekul menjadi lebih besar dan sulit diabsorbsi. Misalnya:
• Keracuan besi (Ferri, valensi 3), berikan sodium bicarbonate sehingga terbentuk Ferro karbonat (besi valensi 2, tidak toksik)
• Keracuna besi (Ferri, valensi 3), berikan diferoksamin sehingga terbentuk besi khelat (ukuran molekul besar, absorbs terhalang)
• Keracunan perak nitrat, berikan garam dapur (NaCl) sehingga terbentuk AgCl (endapan tidak larut sehingga tidak dapat diansorbsi)
• Keracunan nikotin, berikan KMnO4 sehingga terbentuk suatu produk oksidasi
• Keracunan fluoride (misalnya dalam pasta gigi), berikan kalsium laktat sehingga terbentuk kalsium klorida yang berukuran besar.
b. Pergeseran kurva distribusi ke arah kanan
• Keracunan methanol, berikan ethanol. Sebenarnya ethanol juga toksik tetapi relatif kurang toksik dibandingkan methanol. Ethanol kurang polar dibandingkan dengan methanol sehingga enzim lebih tertarik untuk memetabolisme ethanol dari pada methanol (hambatan bersaing). Ingat, yang toksik sebenarnya bukan ethanol / methanolnya sendiri melainkan hasil dari metabolisme keduanya. (Methanol menghasilkan formaldehid, lalu membentuk asam format sedangkan ethanol menghasilkan asetaldehid, lalu asam asetat)
• Keracunan sianida, berikan senyawa nitrit. Sebenarnya nitrit juga toksik tetapi relatif kurang toksik dibandingkan senyawa sianida

c. Pergeseran kurva eliminasi ke arah kiri
Prinsipnya: Peningkatan ekskresi atau pembentukan metabolit kurang toksik dengan cara kelasi (pembentukan kelat) atau kompleksasi.
d. Penurunan Ambang Toksik
• Penggunaan antagonis farmakologi
• Penggunaan jalur pengganti

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s