Senyum di Balik Duka

Dari dulu aku sangat mengagumi mereka yang selalu bisa menutupi duka di balik senyumnya seperti dia. Dia yang aku kenal beberapa tahun lalu. Apa pun yang terjadi padanya, dia akan tetap berusaha menampakkan keceriaan di wajahnya.

Pernah suatu kali aku mendapatinya di salah satu sudut mushala. Saat itu mushala sepi karena memang bukan waktu shalat fardhu. Seingatku hanya ada beberapa gelintir orang di sana yang masing – masing sibuk “bercengkerama” dengan Tuhan – NYA dalam sujud. Aku dapati dia tengah menangis. Bukan tangisan yang sekadar meneteskan air mata tapi air matanya benar – benar menderas membasahi tempat sujudnya. Entah apa yang dia tangisi. Pemandangan yang begitu kontras terjadi beberapa menit sebelum dia memasuki mushala tersebut. Beberapa menit sebelum itu dia masih tampak sangat ceria. Pun ketika dia melangkahkan kaki keluar dari mushala. Sebelum meninggalkan tempat sujudnya dia benar – benar berusaha menghapus bekas air mata dari wajahnya dan kembali menampakkan keceriaan seperti sebelumnya.

Pada kesempatan yang lain, au kembali mendapatinya tengah menangis sama seperti sebelumnya. Tapi kali ini ada dua orang yang “memergokinya”. Mereka pun menanyakan apa yang membuatnya menangis tetapi dia hanya menjawab dengan senyum yang dipaksakan.

Satu kejadian lagi yang membuat kekagumanku padanya semakin bertambah. Petang itu aku mendapatinya tengah menangism sejadi – jadinya. Air matanya menderas membanjiri lantai tempatnya bersujud. Kerudung dan jilbabnya nya pun basah oleh mata. Dia memang menghindari penggunaan mukena dalam shalat. “Saya ingin mengedukasi masyarakat bahwa tidak ada pakaian khusus dalam shalat bagi wanita. Pakaian wanita di dalam shalat adalah sama seperti pakaian yang harus ia kenakan ketika berada di tempat yang memungkinkannya terlihat oleh laki – laki asing.” Begitu katanya…

Sungguh, wajahnya begitu muram ketika itu. Kesedihan terlukis jelas di wajahnya. Matanya sembab, hidungnya pun basah. Suaranya bergetar. Tissue – tissue yang telah basah berserakan di lantai kamarnya. Beberapa lama dia dalam keadaan seperti itu. Baru setelah dia puas menumpahkan air matanya di hadapan Tuhan – NYA, mengadukan semua dukanya kepada Tuhan – NYA, dia segera menghapus air matanya. Mematut – matut diri seadanya di depan cermin. Menunggu sejenak sampai suaranya tak lagi terdengar bergetar, lalu keluar menemui teman – temannya.

Pemandangan yang berbeda 180 derajat dari pemandangan yang aku saksikan beberapa menit sebelumnya. Sama sekali tidak nampak adanya bekas kesedihan di wajahnya. Dia bernyanyi – nyanyi kecil dan menari – nari untuk menutupi bekas tangisnya. Dan apa hasilnya? Tak ada satu pun dari mereka yang menyadari beberapa sebelum itu dia tengah menangis sejadi – jadinya mengadukan dukanya. Bahkan, beberapa dari mereka mengira dia sedang sangat bahagia. Lihatlah bagaimana komentar mereka “Kamu lagi jatuh cinta ya? Kayaknya bahagia banget?!” teman lainnya menimpali “Iya tuh, lagi jatuh cinta kali sama si Sobri!” (Sobri adalah nama fiktif—pen.). Sungguh luar biasa kemampuannya menyembunyikan duka.

Aku sungguh penasaran dengan sikapnya itu. Suatu hari aku beranikan diri bertanya kepadanya. Dia tersenyum dan berkata “Saya ingin mengamalkan perintah Rasulullaah untuk selalu menampakkan wajah berseri di hadapan saudara. Selain itu, saya percaya hanya ALLAH –lah sebaik – baik tempat mengadu”. Dia pun menyodorkan sebuah hadits

عَنْ أبي ذر رَضِيَ اللَّهُ تعالى عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ، وَأَمْرُكَ بِالْمَعْرُوفِ وَنَهْيُكَ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ،
وَإِرْشَادُكَ الرَّجُلَ فِي أَرْضِ الضَّلاَلِ لَكَ صَدَقَةٌ، وَبَصَرُكَ لِلرَّجُلِ الرَّدِيءِ الْبَصَرِ لَكَ صَدَقَةٌ،
وَإِمَاطَتُكَ الْحَجَرَ وَالشَّوْكَةَ وَالْعَظْمَ عَنِ الطَّرِيقِ لَكَ صَدَقَةٌ،
وَإِفْرَاغُكَ مِنْ دَلْوِكَ فِي دَلْوِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ.

“Dari Abu Dzar (Jundub bin Junadah) Radhiyallahu Ta’ala ‘anhu berkata: bersabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam: “Engkau tersenyum dihadapan wajah saudaramu adalah shadaqah, dan engkau memerintahkan kebaikan serta melarang kemungkaran adalah shadaqah, dan engkau membimbing pemuda yang tersesat di jalannya adalah shadaqah, dan engkau memandang pemuda berpandangan jelek dengan pandangan baik adalah shadaqah, dan engkau menyingkirkan batu, duri serta tulang belulang dari jalan adalah shadaqah, dan engkau mengkosongkan embermu untuk ember saudaramu adalah shadaqah”. (Dikeluarkan oleh Imam Bukhary Rahimahullahu di AdabulMufrad dan Tirmidzi serta Ibnu Hibban).”

Aaahh…, ternyata itu alasannya…
Aku pun semakin mengaguminya dan orang – orang yang seperti dia. Mereka –lah yang benar – benar memahami bahwa hanya ALLAH tempat terbaik untuk mengadu. Mereka lah para dermawan dari sisi yang lain. Sungguh tidak mudah menampakkan keceriaan di tengah duka yang menyelimuti. Sungguh tidak mudah menampakkan senyum di tengah air mata yang terus mendesak di sudut – sudut mata.

Ukhtiy…
Semoga ALLAH menghitung upaya kerasmu menutupi duka dengan keceriaan sebagai shadaqah. Semoga ALLAH menerimanya sebagai bukti ketaatanmu pada – NYA. Semoga ALLAH menjadikan itu sebagai bukti betapa engkau berusaha keras mengikuti sunnah RAsul – NYA, termasuk dalam hal – hal “kecil” sekalipun.
Dan… Wahai Ukhtiy, aku ingin belajar banyak darimu tentang keceriaan, tentang ketegaran, dan tentang keramahan…

Yogyakarta, 6 Muharram 1432 H
Sunday, December 12, 2010
2.45 p.m.
Haafizhah Kurniasih

3 thoughts on “Senyum di Balik Duka

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s