Sekadar Cerita

Suatu senja, di tengah lelah yang teramat sangat setelah seharian berkutat dengan tikus – tikus farmakologi, aku menemukan selembar pesan terselip di pintu kamarku.

“To: Fifi Cantik
Dek, ini Mba Nia. HPmu kenapa? Dihubungi ga bisa – bisa.
Tadi Mba ke sini 2x, mau minta contoh PKM tapi Adek ga ada.
Boleh minta soft file contoh PKM? Kalau boleh, tolong kopikan ke Flash ini.
Syukran Fifi cantik…
Mba Nia”


Begitu kurang lebih sisi pesan tersebut. Di sampingnya dilampirkan sebuah flash berwarna hitam. Pesan yang manis. Membaca pesan itu, aku teringat dengan salah seorang saudariku yang lain. Di kalangan kami memang terbiasa menyampaikan pesan dengan kata – kata yang manis. Tapi ada yang lain dari saudaraiku yang satu. Aku suka dengan caranya meminta bantuan. Begini kurang lebih kata – kata “andalan”-nya:

“Ukhtiy Shalihah…
Mohon keridhaannya untuk bla… bla… bla…
Syukran ya Shalihah…
Semoga dimudahkan dan semoga menjadi amal shalih yang akan menjadi pemberat timbangan amal shalih kita di yaumil hisab kelak…”

Jujur, menurutku itu adalah kata – kata “rayuan” yang sangat dahsyat. Aku tak pernah bisa menolak apa pun permintaannya ketika dibungkus dengan kata – kata itu. Sapaan “Ukhtiy Shalihah” adalah sapaan yang sangat indah karena aku memaknainya sebagai sebuah doa dari si penyapa agar aku menjadi perempuan yang shalihah. Menjadi perhiasan terbaik di dunia. Menjadi perempuan yang layak bersanding dengan ‘abdullaah yang shalih. Shalihah adalah predikat terbaik yang didambakan setiap muslimah. Menjadi Muslimah Shalihah adalah prestasi tertinggi bagi seorang perempuan di dunia yang kelak akan menghantarkannya menuju kedudukan mulia di jannah – NYA.

Kata – kata berikutnya yang membuatku tambah tak bisa menolak permintaannya adalah doa yang dia ucapkan “semoga dimudahkan, semoga menjadi amal shalih…”. Doa yang indah dan itu cukup bagiku sebagai “imbalan” atas apa yang dia minta dariku. Bukankah apa pun yang kita lakukan di dunia ini hanya akan berarti jika itu terhitung sebagai amal shalih di hadapan ALLAH?

Bagiku, kata – kata itu bahkan lebih dari sekadar “rayuan” agar permintaan tolongnya dikabulkan. Itulah cara dia mengingatkan saudarinya agar selalu menjaga kemurnian niat: hanya mengharap ridha ALLAH. Juga mengingatkan bahwa “imbalan” yang paling berarti adalah “imbalan” yang diberikan oleh – NYA di akhirat kelak…

Yogyakarta, 13 Muharram 1432 H
Sabtu malam di sudut Jogja,
December 18, 2010
9.07 p.m.

Haafizhah Kurniasih

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s