Solusi Penanggulangan HIV / AIDS

2010 akan segera berakhir dalam beberapa hari ke depan. Namun, banyak persoalan yang masih belum terselesaikan, termasuk di bidang kesehatan. Salah satu masalah di bidang kesehatan yang masih membutuhkan penyelesaian sesegera mungkin adalah penanggulangan HIV / AIDS. Dalam situs resmi yang dikelola IDI untuk penanggulangan HIV / AIDS, disebutkan bahwa selama beberapa tahun ini Indonesia mengalami percepatan laju penularan HIV. Selain itu, Indonesia juga menghadapi masalah epidemi pengunaan napza (narkoba dan zat adiktif), yang masih menjadi kontribusi utama penularan HIV, ditambah lagi adanya peningkatan transmisi dari blood-borne virus, seperti penularan HIV. Perluasan transmisi semakin kompleks karena penularan seksual yang tidak dapat dihentikan. Bahkan, Harian Republika mengutip pernyataan Menko Kesra Agung Laksono pada peringatan puncak Hari Kesehatan Nasional ke-46 dan peringatan puncak Hari AIDS se-Dunia di Jakarta (3 Desember 2010) yang menyebutkan bahwa tertanggal 30 September 2010, jumlah kasus AIDS secara kumulatif tercatat 22.726 kasus yang tersebar di 32 propinsi di 300 kabupaten/kota. “Dari jumlah itu, masih didominasi oleh kelompok usia produktif yakni (20-29) 47,8 %, kelompok umur (30-39) 30,9 %, dan kelompok umur (40-49) sebanyak 9,1 %,”. Demikian ungkap Pak Menko Kesra.

Besarnya jumlah kasus HIV / AIDS di tengah kerasnya upaya penanggulangan yang terus dilakukan menimbulkan tanda tanya besar: tepatkah solusi penanggulangan yang selama ini ditawarkan dan bahkan telah dilakukan? Tepatkah tawaran solusi penanggulangan HIV / AIDS yang telah menyedot perhatian dan energi banyak kalangan ini? Atau adakah yang kurang? Di manakah letak kekurangan itu?

Tepat atau tidaknya suatu solusi dapat dilihat dari keterkaitannya dengan penyebab. Sebagaimana diketahui bahwa penyebab utama penularan HIV / AIDS adalah perilaku seks yang menyimpang (mencapai 51.3 %) dan penggunaan jarum suntik secara bergantian di kalangan pengguna narkoba (39,6 %) (Kompas, 26 November 2010). Selain itu, sebagai seorang Muslim, upaya yang harus kita lakukan untuk menanggulangi maslah HIV / AIDS ini adalah upaya – upaya yang sesuai dengan tuntunan aqidah kita.

Oleh karenanya, maka solusi yang paling tepat adalah dengan menghilangkan penyebab utama penyebab penularan HIV / AIDS tersebut; yakni dengan menghentikan perilaku seks yang menyimpang dan menghentikan penggunaan narkoba.

Kampanye kondomisasi dan penggunaan jarum suntik steril bukanlah solusi yang tepat karena nyata – nyata tidak melarang perzinaan dan konsumsi narkoba yang diharamkan ALLAH. Padahal perzinaan dan konsumsi narkoba adalah dosa besar di hadapan ALLAH yang dosa dan bahayanya justru jauh lebih besar dari pada HIV / AIDS itu sendiri. Terlebih lagi, program – program ini justru membuat para pelaku kemaksiyatan merasa aman karena seolah – olah bisa menghindarkan diri dari penyakit mematikan ini. Padahal, dugaan tersebut tidaklah benar serta sebagai seorang Muslim, seharusnya focus utama kita adalah menghindari kemurkaan ALLAH karena perilaku kemaksiyatan, bukan sekadar menghindari penyakit – penyakit yang timbul dari kemaksiyatan tersebut.

Demikian juga dengan program ‘Komunikasi Informasi dan Edukasi tentang HIV/AIDS’. Program ini juga bukan solusi karena tampak seperti propaganda penyimpangan seksual yang mengarahkan generasi muda pada sikap pengakuan terhadap kelompok yang dilaknat oleh ALLAH seperti gay, lesbian, dan waria. Selain itu, ditengah serbuan arus pornografi dan pornoaksi, informasi tentang segala aktivitas yang bisa menularkan / tidak menularkan HIV diiringi pelatihan penggunaan kondom justru mendorong perilaku seks bebas karena menginformasikan cara-cara menghindarkan diri dari Infeksi menular seksual dan kehamilan, tidak membangun sikap taqwa dan takut pada adzab Allah. Sehingga, program – program ini harus segera dihentikan.

Kita juga harus mewaspadai dan kritis terhadap program penanggulangan HIV/AIDS yang dipromosikan oleh berbagai lembaga internasional yang berbasis pandangan sekuler- liberal. Termasuk yang paling utama, memberikan perlakuan istimewa kepada ODHA sangat berpotensi mengabaikan hak orang sehat untuk terhindar dari penularan HIV/AIDS. Hal ini tidak bisa diartikan bahwa kita tengah melakukan diskriminasi terhadap ODHA tetapi justru kita berupaya untuk melindungi masyarkat dari penularan HIV / AIDS.

Dan, yang paling utama dari semua itu adalah menyadari bahwa kemuliaan dan kehormatan manusia hanya bisa diperoleh dengan kembali pada hukum-hukum Allah agar diimplementasikan pada semua aspek kehidupan dalam naungan khilafah Islamiyah. ALLAHU A’lam.

Yogyakarta, 14 Muharram 1432 H
Sunday, December 19, 2010
7.54 p.m.

Haafizhah Kurniasih

Referensi:
http://hizbut-tahrir.or.id/2010/12/01/siaran-pers-muslimah-hisbut-tahrir-indonesia-aksi-peduli-stop-propaganda-penyimpangan-seksual/ (diakses tanggal 19 Desember 2010)

http://idi.aids-ina.org/ (diakses tanggal 19 Desember 2010)

http://hizbut-tahrir.or.id/2010/12/04/kasus-hivaids-di-indonesia-22-ribu-lebih/ (diakses tanggal 19 Desember 2010)

Dan berbagai sumber lainnya.

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s