Sekilas tentang Emulsi (part 1)

Salah satu sediaan farmasi berbentuk cair semi padat yang banyak digunakan adalah emulsi. Secara sederhana, emulsi dapat didefinisikan sebagai suatu sediaan cair semi padat yang terdiri atas campuran dua komponen cairan yang alaminya bersifat saling immiscible, tidak saling melarutkan serta cenderung memisah satu sama lain tetapi keduanya dapat saling campur dalam bentuk dispersi homogen dengan bantuan emulgator (Kurniasih, 2010). Emulsi terdiri atas 2 fase yaitu fase dalam vs fase luar, fase dispers vs medium dispers, fase diskontinyu vs fase kontinyu.

Meskipun farmakope Indonesia maupun Farmakope Negara – Negara lain seperti USP tidak membatasi istilah emulsi pada ranah sediaan internal, namun Marriott et al. (2010) mempersempit pengertian emulsi dengan mengatakan bahwa istilah emulsi dalam farmasi lebih sering digunakan untuk menyatakan suatu sediaan semi padat yang ditujukan untuk internal used misalnya penggunaan secara oral. Adapun emulsi yang ditujukan untuk external used disebut dengan istilah lain yang sesuai misalnya cream, lotion, dll. Merujuk pada pembatasan pengertian emulsi yang diungkapkan oleh Marriot et al. dalam buku “Pharmaceutical Compounding and Dispensing” di atas, maka pembahasan pada tulisan ini akan lebih banyak berbicara tentang emulsi farmasetis yang ditujukan untuk penggunaan secra internal, tidak akan membahas tentang sediaan kosmetik yang sejatinya banyak berbentuk emulsi.

Ada banyak pertimbangan hingga seorang Farmasis memutuskan untuk memformulasikan obat ke dalam bentuk sediaan emulsi. Masih menurut Marriot et al., pertimbangan tersebut antara lain:
• Dapat menutupi rasa obat yang tidak enak tetapi tetap harus diberikan dalam bentuk cair, misalnya minyak ikan
• Obat – obat yang larut minyak (biasanya kurang dapat diterima oleh pasien) tetapi harus diberikan dalam bentuk caira dapat diberikan dalam emulsi O/W (Oil in Water) yang relatif lebih enak
• Dapat ditambahkan rasa yang sesuai (terutama untuk anak – anak dapat diberi rasa coklat, strawberry, jeruk, atau rasa lain yang biasanya disukai anak – anak)
• Proses emulsifikasi dapat meningkatnkan absorbsi minyak dalam dinding usus halus. Mengingat secara alaminya proses pencernaan lemak juga melalui emulsifikasi dalam duodenum dengan bantuan garam empedu. Efisiensi absorbsi ini terjadi karena adanya proses homogenisasi yang memperkecil ukuran globul fase minyak.
• Dapat mengatasi problem kombinasi obat yang saling incompatible tetapi harus diberikan dalam bentuk cair: masing – masing komponen obat dilarutkan atau disuspensikan dalam fase emulsi yang sesuai
Meskipun demikian, tidak boleh dilupakan bahwa emulsi juga memiliki beberapa keterbatasan, antara lain:
• Memerlukan penggojogan sebelum dikonsumsi untuk menjamin homogenitas dosis
• Seperti layaknya sediaan cair lainnya, memerlukan sendok takar yang sesuai untuk menjamin ketepatan dosis
• Harus memperhatikan tempat penyimpanan (suhu, sinar, dsb)
• Membutuhkan tempat penyimpanan yang lebih besar daripada sediaan padat
• Rawan terhadap kontaminasi mikroba

Komponen Emulsi

Komponen utama dalam suatu emulsi adalah fase minyak, fase air, dan emulgator. Ketiga komponen tersebut dapat disatukan dalam bentuk emulsi W/O (Water in Oil), atau emulsi O/W (Oil in Water) tergantung pada kelarutan emulgator yang digunakan. Emulgator yang senderung water soluble akan menghasilkan emulsi bertipe O/W sedangkan emulgator yang bersifat lipo soluble akan menghasilkan emulsi bertipe W/O.

Fase Minyak dapat memuat semua komponen yang larut dalam lemak sedangkan fase air dapat memuat semua komponen yang larut air. Ada pun emulgator merupakan komponen yang paling menentukan tipe, penampilan, maupun stabilitas emulsi. Sifat utama suatu emulgator adalah memiliki gugus hidrofil dan gugus lipofil. Dengan adanya kedua gugus ini, suatu emulgator memiliki suatu harga keseimbangan hidrofil – lipofil atau HLB (Hydrophilic – Lipophilic Balance). HLB inilah yang sangat mempengaruhi tipe, penampilan, dan stabilitas emulsi. Misalnya emulgator dengan HLB 3 – 6 akan menghasilkan emulsi tipe O/W, sedangkan emulgator dengan HLB 8 – 18 bertipe W/O. Harga HLB juga mempnegaruhi penampilan emulsi apakah ia akan temapak seperti susu, translucent, jernih, atau bahkan seperti larutan yang sangat jernih. Pemilihan emulgator dengan harga HLB yang tepat akan menghasilkan suatu emulsi yang stabil.

Metode Pembuatan Emulsi

Dewasa ini, dikenal beberapa metode pembuatan emulsi, antara lain Metode Kontinental (Metode Gom Kering), Metode Gom Basah, dan Metode Botol Forbes.

Metode Gom Kering (Metode Kontinental)

Ada sedikit perbedaan antara Metode Gom Kering dan Metode Kontinental. Perbedaan tersebut terletak pada komposisi pembentukan corpus emulsi. Pada Metode Gom kering atau yang biasa dikenal dengan nama metode “4:2:1”, formula yang digunakan untuk membuat corpus emulsi adalah 4 bagian minyak, 4 bagian air, dan 4 bagian gom (atau emulgator). Sedangkan pada metode Kontinental, formulanya adalah “4:3:2”. Setelah corpus emulsi ini terbentuk, bahan – bahan formulatif cair lainnya yang larut dalam fase luar, ditambahkan sedikit demi sedikit sambil terus diaduk. Ada pun zat – zat formulatif lainnya yang berbentuk padat seperti pengawet, stabilizer, pewarna, perasa, dll dilarutkan dalam fase luar terlebih dahulu sebelum ditambahkan ke dalam corpus emulsi. Sedangkan zat – zat formulatif yang dikhawatirkan akan mengganggu stabilitas emulsi ditambahkan paling akhir. Howard C. Ansel dalam bukunya “Intoduction to Pharmaceutical Dosage Form” memberikan contoh tentang penambahan alkohol. Karena alkohol dapat mengendapkan gom (emulgator), maka alkohol tidak boleh dimasukkan ke corpus emulsi secara langsung karena jika hal itu dilakukan, konsentrasi alkohol dalam emulsi sangat tinggi dan dikhawatirkan dapat mengendapkan banyak emulgator sehingga emulsi yang sudah terbentuk akan pecah. Alkohol baru boleh ditambahkan ketika corpus emulsi sudah diencerkan hingga volume yang sesuai.

Metode Gom Basah

Proporsi formula untuk pembuatan corpus emulsinya sama seperti proporsi formula corpus emulsi menggunakan metode gom kering. Perbedaannya terletak pada urutan pencampurannya. Umumnya metode ini dilakukan dengan membuat musilago gom (serbuk gom kering dicampur dengan air sejumlah 2x jumlah gom), setelah itu tambahkan minyak sedikit demi sedikit sambil diaduk kuat. Tahap selanjutnya sama seperti metode Gom Kering.

Metode Botol Forbes

Metode ini cocok untuk pembuatan emulsi yang berisi minyak – minyak menguap dan mem[unyai viskositas rendah. Caranya, serbuk gom dimasukkan ke botol kering, tambah 2 bagian air dan dikocok kuat dalam keadaan botol tertutup rapat. Tambahkan minyak dan air secara bergantian sedikit demi sedikit sambil terus dikocok setiap kali dilakukan penambahan air dan minyak. Metode ini kurang cocok untuk minyak kental karena viskositasnya yang terlalu tinggi sehingga sulit untuk dikocok dan dicampur dengan gom dalam botol.

Yogyakarta, 26 Muharram 1432 H
Friday, December 31, 2010
6.35 p.m.

Haafizhah Kurniasih

Referensi:
Anonim, 1995, Farmakope Indobesia, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta
…, 2009, United State Pharmacopeia,
Ansel., H.C., 1985, Introduction to Pharmaceutical Dosage Form, Lea & Febriger,
Marriot et al., 2010, Pharmaceutical Compounding and Dispensing 2nd Ed, Pharmaceutical Press, London, Gurnee

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s