Sekilas tentang Obat dan Reseptor *)

Obat merupakan suatu senyawa kimia yang dapat berinteraksi dengan sistem biologi tertentu secara spesifik hingga menghasilkan suatu efek (baik efek terapetik maupun efek toksik). Untuk dapat menghasilkan efek tersebut, obat harus mengalami serangkaian proses Absorbsi, Distribusi dan / atau Metabolisme yang intinya obat harus mencapai tempat aksinya dalam keadaan aktif. Untuk memudahkan dalam mempelajari segala sesuatu tentang obat, obat dapat dikelompokkan berdasarkan suatu kategorisasi tertentu, misalnya.

Kategorisasi Obat berdasarkan Efek Farmakologi. Kategorisasi ini sangat sesuai digunakan untuk kepentingan terapi. Misalnya, ada obat golongan antihipertensi, antidislipidemia, antiepiliepsi, antibiotik, dll.

Kategorisasi Obat berdasarkan Struktur Kimia. Berdasarkan struktur kimianya, dapat kita jumpai misalnya obat golongan steroid, dll. Kategorisasi ini sangat penting untuk mempelajari kemungkinan terjadinya reaksi alergi, idiosinkrasi, dan berbagai adverse effect lainnya. Hal ini karena senyawa – senyawa yang memiliki kemiripan secara struktur kimia dapat memberikan efek yang sama. Dengan alasan ini pula, maka seringkali muncul penggolongan obat berdasarkan efek farmakologi sekaligus struktur kimianya. Misalnya antibiotik golongan sulfa, antidepresan trisiklik, dll.

Kategorisasi Obat berdasarkan Tempat Aksinya. Kategorisasi ini baru muncul setelah pengetahuan tentang aspek molekular dalam farmakologi berkembang pesat. Kepentingannya adalah untuk usaha pengembangan obat baru. Berdasarkan tempat aksinya, akan kita jumpai obat yang beraksi pada kanal ion, enzim, protein pembawa, serta reseptor. Sebagian besar tempat aksi obat ini berada di membrane sel (kecuali enzim dan reseptor intraseluler) yang melintasi membrane (trans membrane).

Pada artikel ini, kita akan lebih banyak membicarakan tentang reseptor sebagai target aksi obat. Reseptor pula lah yang masih menjadi focus utama dalam investigasi tentang efek suatu obat dan mekanisme aksinya karena dianggap sebagai faktor yang paling bertanggungjawab atas terjadinya suatu efek terapetik maupun efek toksik pada pasien.

Reseptor merupakan suatu makromolekul seluler yang dapat berikatan dengan suatu ligan secara langsung dan spesifik untuk memicu terjadinya proses biokimiawi hingga menimbulkan efek dengan melibatkan suatu second messenger tertentu. Sebagian besar reseptor merupakan senyawa protein. Katzung (2007) memprediksi hal ini disebabkan oleh struktur polipeptida yang memungkinkan terjadinya keragaman (diversity) dan spesifisitas bentuk serta muatan elektronik sehingga muncullah banyak reseptor yang satu sama lain saling berbeda dalam strukturnya.

Suatu ligan dapat beraksi sebagai agonis maupun sebagai antagonis bagi reseptornya. Beraksi sebagai agonis jika ligan tersebut memiliki afinitas (kemampuan beriktan dengan reseptor) sekaligus memiliki efikasi (kemampuan intrinsic untuk menimbulkan efek jika berikatan dengan reseptor) sehingga ikatan ligan – reseptor ini akan memicu terjadinya suatu respon biokimia tertentu hingga memunculkan suatu efek. Sedagkan jika ligan tersebut hanya memilki afinitas saja tanpa memilki efikasi sehingga ikatannya dengan reseptor tidak akan menimbulkan efek apa pun, maka dia beraksi sebagai antagonis.

Afinitas antara ligan dan reseptornya sangat bergantung pada kesesuaian antara kedua molekul tersebut. Semakin sesuai, maka afinitasnya semakin besar. Berdasarkan hal ini, dapat dikatakan bahwa masing – masing ligan – reseptor memiliki spesifisitas tertentu. Artinya, suatu ligan hanya dapat berikatan dengan satu tipe reseptor tertentu saja. Sedangkan bila suatu ligan dapat berikatan dengan lebih dari satu tipe reseptor, dikatakan ligan tersebut bersifat kurang spesifik. Spesifisitas ini dapat bersifat kimiawi maupun biologis. Spesifisitas kimia maksudnya perubahan sedikit saja pada konformasi kimia atau stereoisomerisasi ligan maupun reseptor dapat mengubah kekuatan ikatan di antara keduanya yang pada gilirannya dapat mempengaruhi efek farmakologinya. Sedangkan spesifikasi bilogis maksudnya ikatan antara ligan dan reseptor yang sama dapat menimbulkan efek dengan kekuatan yang berbeda jika terjadi pada jaringan yang berbeda.
Berdasarkan sistem transduksi sinyalnya, reseptor dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu:

1. Reseptor Kanal Ion
Reseptor ini desebut juga sebagai reseptor ionotropik. Reseptor kanal ion merupakan suatu reseptor membrane yang langsung terhubung dengan suatu kanal ion dan memperantarai aksi sinaptik yang cepat. Contohnya adalah reseptor asetilkolin nikotinik, reseptor GABAa, dan reseptor glutamate.

2. Reseptor Terikat Protein G
Reseptor terikat protein G atau GPCR (G-Protein Coupled Receptor) atau 7TM Receptor (7 Trans Membrane Receptor) ini merupakan golongan reseptor yang memiliki jumlah anggota yang paling banyak. Sesuai dengan namanya, rangkaian peptida penyusun reseptor ini melintasi membrane sebanyak tujuh kali dan terikat dengan sistem efektor yang disebut protein G. reseptor ini memperantarai beberapai aksi neurotransmitter dan hormon secara lambat. Contoh reseptor ini misalnya reseptor asetil kolin muskarinik, reseptor adrenergic, reseptor histamine, reseptor dopaminergik, dan reseptor serotonin.

3. Reseptor Tyrosine Kinase
Reseptor ini merupakan reseptor single trans membrane (hanya melintasi membrane satu kali) yang memiliki aktibitas kinase dalam transduksi sinyalnya. Cobtoh dari reseptor ini adalah reseptor sitokinin, reseptor growth factor, dan reseptor insulin.
Ketiga reseptor di atas terletak di membrane sel dan melintasi membrane.

4. Reseptor Intra Seluler
Reseptor intra seluler merupakan satu – satunya kelompok reseptor yang tidak terletak di membrane sel tetapi terletak di dalam sitoplasmik atau nukleus. Reseptor ini beraksi dalam mengatur transkripsi gen yang menentukan sintesis protein.

Yogyakarta, 3 Safar 1432 H
Friday, January 07, 2011
10.28 p.m.

Haafizhah Kurniasih

*) Artikel ini hanya merupakan bagian dari proses belajar saya dalam menyiapkan UAS. Jadi, sifatnya hanya ulasan dari bahan ajar yang tertuang dalam buku “Pengantar Farmakologi Molekuler” karya Prof. Zullies Ikawati, Ph.D., Apt (Gadjah Mada University Press, 2008) dan sedikit tambahan dari “Basic and Clinical Pharmacology” yang ditulis oleh Bertram B. Katzung (The McGraw-Hill Companies, 2007)

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s