Izinkan aku berbagi…

Kawan, izinkan aku berbagi rasa denganmu…
Rasa yang membuat dada ini sesak
Rasa tentang seseorang yang sempat aku kagumi dan aku iri padanya
Tentang seseorang yang bahkan sering dibanggakan dan dijadikan contoh dalam halqah

Sungguh menjadi istiqamah bukanlah hal yang mudah
Sungguh bisikan syaithan itu luar biasa
Sungguh, tak pernah aku sangka sebelumnya bahwa beginilah dia yang sekarang
Sosok yang sempat membuatku iri karena ketaatannya, karena totalitasnya kni berubah nyaris 180 derajat.

Rasa sesak ini bermula ketika aku diam – diam menelusuri halaman jejaring social miliknya. (Sungguh, tak ada maksud untuk memata – matainya. Namun, tahulah… Kekaguman dan cinta pada seseorang akan membuatnya tertarik untuk mengetahui keadaan orang yang dikagumi).

Status pertamanya yang terasa janggal adalah (kurang lebih) “Seandainya dulu bapakku tidak mengajariku mencitai ***** (menyebutkan salah satu nama club sepak bola)…, mungkin aku tidak akan seperti ini..”

Beberapa hari berikutnya dia masih membicarakan tentang club sepak bola tersebut di statusnya. Bahkan dia mendoakan kemenangan club sepak bola tersebut di statusnya. Awalnya aku fikir itu sekadar lucu – lucuan dan tak lebih dari itu. Sama seperti beberapa temanku di sini yang sering guyonan “Nanti aku nikah sama Lee Min Ho (terkadang juga nama artis laki – laki yang lain)!” tapi setelah mengatakan itu disambung dengan pernyataan “Maksudnya kalo dia taubat terus masuk Islam, terus ngaji, terus jadi pengemban da’wah…” lalu ditimpali oleh teman yang lain (dengan lucu – lucuan juga) “Kalau pun itu terjadi, masih tersisa satu pertanyaan ‘apakah dia mau sama kamu?’ dan sebenarnya inilah masalh terbesarnya”. Meski sebenarnya aku tak suka dengan candaan yang seperti itu, tapi aku memaklumi dan tidak mempermasalahkannya. Toh tidak ada pelanggaran hukum syara’ di dalamnya. Aku menganggap ucapan mereka hanya sebatas harapan bahwa mereka menginginkan pasangan hidup dengan kriteria fisik seperti artis yang disebutkan tetapi dengan syarat utama Muslim pengemban da’wah. Bukankah itu sesuatu yang wajar?! Apalagi itu hanya candaan di kalangan terbatas.

Karena aku menganggap statusnya itu hanya sekadar lucu – lucuan, aku pun menanggapinya dengan lucu – lucuan pula.

Di penghujung tahun lalu barulah kecurigaanku semakin menjadi ketika dia meng – upload foto dirinya ber – sweater merah dengan lambang garuda di dadanya. Dalam foto tersebut sweater dikenakan di atas kerudung (kerudung dimasukkan ke sweater) dan dia mencium lambang garuda. Aku mulai bertanya “Ada apa ini?”

Berikutnya, dia mem – publish note tentang persahabatannya dengan beberapa orang. Beberapa nama di antaranya seperti nama laki – laki. Aku add salah satu di antaranya. Benar, ternyata dia memang laki – laki. Aku masih berusaha husnuzhan, mungkin sebenarnya memang ada hubungan mahram di antara mereka tapi ternyata tidak ada hubungan mahram.

Hari berikutnya profile picture-nya berganti. Gambar dia, seorang perempuan dan beberapa laki – laki di depan sebuah tempat seperti tempat karaoke malam hari. Tampak kerudungnya lebih kecil. Lagi – lagi aku masih mencoba untuk husnuzhan. Ah kan masih menutup bagian jilbab yang terpotong (sekitar leher dan dada) meski aku tak yakin apakah yang dikenakannya adalah jilbab.

Hari berikutnya saya menanyakan kepada teman – teman yang lain apakah mereka masih kontak dengan Fulanah, mereka mengatakan tidak. Mereka malah balik tanya “Memangnya ada apa?” aku hanya menjawab, “buka saja **nya”. Belum sampai selesai loadingnya, salah seorang teman (yang tadi menjawab sudah tidak kontak dengan Fulanah) mengatakan bahwa Fulanah sudah tidak ngaji. Innalillaahi, aku benar – benar kaget. Bagaimana bisa dia yang dulu begitu mengagumkan (bukan hanya aku yang kagum padanya, bahkan dalam halqah pun dia sering dijadikan teladan).

Hari – hari berikutnya thread dari dia yang muncul di home page jejaring social milikku semakin membuatku sesak. Teman laki – lakinya yang aku add meng-upload foto mereka dalam suasana ikhtilath yang luar biasa. Ku lihat ada Fulanah di tengah – tengah mereka. Aku telusuri satu per satu foto mereka dan dadaku pun semakin sesak…
Sakit…
Sedih…
Kecewa…

Ataghfirullaah…
Di manakah pemahamannya tentang pergaulan laki – laki perempuan yang selama ini dia emban? Bukankah dulu dia begitu fasih menda’wahkan itu?

Aku pun menemukan beberapa foto yang sungguh mengenaskan: dia hanya mengenakan celana + kaos pendek + kerudung sangat pendek sedang bersama dengan teman – temannya (laki – laki dan perempuan) di sebuah arena bermain air (semacam kolam renang, tapi bukan kolam renang, hanya tergenang air). Kembali aku beristighfar. Ke mana kah pemahamannya tentang jilbab, tentang aurat? Teringat bagaimana dulu dia begitu fasih menjelasakan batasan – batasan aurat, pun sangat fasih menjelaskan perbedaan jilbab dan kerudung. Tapi kini? Semua itu serasa menguap entah ke mana…

Sungguh, semua yang aku saksikan itu membuatku ketakutan, sangat ketakutan. Takut mengalami hal itu (na’udzubillaah…). Percayakah? Beberapa hari aku sempat bermimpi buruk. Sungguh, bayangan tentang musibah besar yang dia alami itu sangat menghantuiku…

Setelah mimpi – mimpi itu, aku ingat bahwa dia punya hak untuk mendapatkan teguran dariku. Lalu, ku beranikan diri untuk mengomentari salah satu fotonya yang “mengenaskan” tapi dia hanya diam. Tidak ada tanggapan. Beberapa hari kemudian, aku mencoba membuka percakapan dengannya meski hanya melalui situs jejaring social. Aku masih pura – pura tidak tahu apa pun tentangnya saat ini. Aku pura – pura tidak tahu bahwa sekarang dia telah meninggalkan da’wah. Pesan terakhir yang aku sampaikan padanya dalam obrolan itu adalah “Eksmud yang pengemban da’wah atau pengemban da’wah yang eksmud nih? Semoga tetap bisa proporsional ya Mba…”

Aku menulis ini bukan karena aku merasa suci atau merasa memiliki pemahaman yang lebih baik dari dirinya… Bukan! Bukan karena itu…
Aku menulis ini hanya untuk mengingatkan diriku sendiri agar jangan samapi aku mengalami apa yang dia alami saat ini. Sungguh, hal itu merupakan musibah yang teramat sangat besar. Hilangnya hidayah merupakan musibah yang sangat buruk, bahkan lebih buruk daripada kehilangan dunia dan seisinya…

Rabbanaa… Laa tuzigh qulubanaa ba’da idzhadayntana wa hablanaa min ladunka rahmah… Innaka Ant Al – Wahhab…

Yogyakarta, 10 Safar 1432 H
Friday, January 14, 2011
9.51 p.m.

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s