Penawar Lelah

Maka, berlelah – lelahlah dalam ketaatan, karena itulah yang akan kita banggakan di hadapan ALLAH kelak dan itulah yang akan menyelamatkan kita dari api neraka…

Seorang Muslim, terlebih lagi seorang pengemban da’wah memang unik. Dia selalu bisa memandang semua yang dialaminya dari sisi positif dan karenanya ia selalu dapat menemukan “penawar” atas apa pun yang tidak ia sukai. Wajar jika dia seolah tak pernah kehabisan energy. Dia selalu tampak bersemangat bagaimana pun beratnya hari yang dia hadapi. Bagaimana pun lelahnya dia. Karena dia memliki satu rahasia yang mungkin tidak dimiliki oleh mereka yang bukan pengemban da’wah, apalagi bukan Muslim.

Apakah rahasia itu? Belajar dari pengalaman dan penuturan beberapa orang saudari, kira – kira inilah rahasianya:

Ketika pagi – pagi merasa kurang bersemangat, dia ingat bahwa hari ini ummat menantinya. Ummat menunggu dia untuk memberikan pencerdasan kepada mereka, untuk membebaskan mereka dari penghambahaan terhadap sesama makhluq menuju penghambaan hanya kepada ALLAH. Dia pun ingat, bahwa seandainya seseorang berhasil mengambil hidayah ALLAH melalui perantaraan dirinya itu lebih baik baginya dari pada dunia dan seisinya. Jika seseorang melakukan amal shalih yang dia serukan dan dia contohkan, maka dia akan mendapatkan pahala amal shalih sama seperti yang didapatkan orang tersebut tanpa mengurangi pahala amal shalih orang tersebut. Maka dia pun menjadi bersemangat memulai hari ini.

Ketika pagi–pagi (bahkan belum sempat sarapan) dia telah menyempatkan diri memenuhi aqad dengan mad’u dengan persiapan yang matang, datang ke tempat aqad sesuai waktu yang dijadwalkan, bahkan lebih awal dari itu. Menunggu dengan kesabaran di tempat aqad hingga tiba waktu yang dijadwalkan tetapi mad’u belum juga datang. Mencoba SMS, tetapi tidak dibalas. Telepon tidak diangkat. Terus menunggu hingga berjam – jam. Mad’u tidak juga datang. Berjam – jam kemudian, barulah ada SMS konfirmasi dari mad’u mengabarkan dia lupa bahwa ada aqad hari itu. Di saat seperti itu, dia tetap ingat bahwa semua yang dia lakukan pagi itu tidak sia – sia. Kalau pun dia tidak mendapatakan pahala menyampaikan, setidaknya dia telah mendapatkan pahala mempersiapkan materi yang akan disampaikan, pahala memenuhi aqad serta pahala menunggu. Dia pun yakin insya ALLAH setiap langkahnya hingga sampai di tempat aqad telah bernilai pahala. Maka, dia pun tetap bisa tersenyum. Tak ada keluhan di hatinya, apalah lagi sampai keluar keluh kesah dari lisannya. Tidak sama sekali. Untuk apa berkeluh kesah? Toh semuanya telah bernilai pahala di sisi ALLAH.

Ketika lelah di tengah hari padahal masih banyak agenda menunggu untuk dilakukan, maka dia pun ingat bahwa agenda yang akan dia lakukan adalah agenda ketaatan yang dengannya dia akan mendapatkan keridhaan Tuhan – NYA. Dia ingat bahwa Tuhan sendiri – lah yang kelak akan “membayar” kerjanya itu. Dia pun ingat bahwa inilah salah satu cara untuk menunjukkan ketaatan kepada Tuhan – NYA. Menunjukkan bahwa dia adalah hamba yang taat yang layak mendapatkan ridha dan ampunan dari – NYA. Dia sadar bahwa mungkin justru agenda inilah yang akan menjadi amal shalih yang kelak dapat dia banggakan di hadapan Tuhan – NYA dan menyelematkannya dari siksa neraka. Maka, dia pun seolah mendapatkan recharge energy baru untuk dapat menuntaskan agendanya hari itu dengan penuh semangat.

Ketika kelelahan yang teramat sangat menyergapnya di penghujung hari, dia merenungi apa saja yang telah dilakukannya seharian ini. Untuk apa saja waktunya dia habiskan hari itu. Lalu, dia pun menemukan bahwa seharian ini waktunya habis untuk melakukan berbagai macam ketaatan. Dia juga menemukan bahwa segala aktivitasnya hari ini dia lakukan dalam kerangka ketaatan beribadah kepadanya. Beribadah dalam segala akspek: ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah. Menemukan bahwa hari ini telah dia habiskan untuk membela agama ALLAH, meninggikan kalimat ALLAH, dan meneruskan aktivitas para Rasul: berda’wah menyampaikan risalahnya. Lalu, dia pun menyadari bahwa tidak ada satu pun aktivitasnya yang sia – sia karena semuanya dilakukan dalam kerangka mengabdi kepada – NYA. Dia yakin bahwa setiap peluh yang menetes hari ini bernilai di sisi ALLAH. Setiap penat yang ditanggungnya diiringi dengan keridhaan ALLAH atas aktivitasnya. Dia yakin bahwa rasa lelah yang dirasakannya akan diganti dengan kenikmatan surga kelak di hari pembalasan.

Maka, hilanglah semua kelelahan yang dia rasa. Berganti dengan kepuasan dan keridhaan. Dia puas telah menjalani hari ini dalam ketaatan. Dia ridha energinya hari ini dihabiskan untuk ditukar dengan pahala dari – NYA.

Apalagi ketika dia sadar bahwa yang bukan pengemban da’wah pun sering kali merasakan lelah yang sama seperti lelah yang dia rasakan. Bukankah da’wah bukan satu – satunya aktivitas yang bisa membuat seseorang kelelahan? Setiap aktivitas apa pun yang kita lakukan dapat menyebabkan kelelahan. Bahkan mereka yang hanya bermain – main ke sana ke mari pun juga merasakan lelah. Tetapi mereka tidak mendapatkan apa yang dia dapatkan: keridhaan Tuhan – NYA dan kenikmatan surga yang telah dijanjikan. Maka, dia pun semakin bersyukur bahwa kelelahannya hari ini tidak sia – sia tidak seperti mereka yang berlelah – lelah untuk hal yang tidak jelas.

Maka, berlelah – lelahlah dalam ketaatan, karena itulah yang akan kita banggakan di hadapan ALLAH kelak dan itulah yang akan menyelamatkan kita dari api neraka…

Selamat berlelah – lelah…

Sejenak melepas lelah sembari menguatkan da’wah keluarga
Tegal, 15 Safar 1432 H
Wednesday, January 19, 2011
5.33 p.m.

Haafizhah Kurniasih

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s