Tepat Meminum Obat

Seringkali kita temui orang berkata “Aku harus minum obat tapi belum makan, gimana ya?”. Ya, kebanyakan orang merasa wajib makan sebelum minum obat sebagai “alas”. Ada pula yang mewajibkan diri minum obat dengan air putih. Baginya “haram” hukumnya minum obat selain dengan air putih, misalnya susu, the, dsb. Mereka melakukan itu dengan harapan obat yang mereka minum akan beraksi dengan baik dan tanpa menimbulkan efek samping yang merugikan.

Tapi benarkah bahwa semua obat harus diminum sesudah makan? Juga apakah benar obat harus diminum dengan air putih? Bagaimana sebenarnya cara yang tepat minum obat agar obat yang diminum dapat memberikan efek yang optimal seperti yang diharapkan?

Ketika suatu obat diminum, dalam arti dimasukkan ke tubuh melalui mulut, dia akan masuk ke lambung dan selanjutnya dikeluarkan dari lambung menuju usus halus untuk diserap lalu diedarkan oleh darah ke seluruh tubuh. Obat yang diminum tidak mungkin dapat memberikan efek apa pun tanpa diserap (kecuali obat cacing dan beberapa obat maag. Keduanya memang tidak ditujukan untuk diserap). Sebagian besar obat diserap di usus halus meski memang ada sebagian yang diserap di lambung. Hal ini karena permukaan usus jauh lebih luas dari pada permukaan lambung. Sampai di sini, dapat kita ketahui bahwa optimal atau tidaknya efek obat yang kita minum dipengaruhi oleh keadaan lambung, usus halus, dan darah.

Kita tahu bahwa lambung dan usus kita tidak hanya berisi obat saja. Bukankah yang kita masukkan ke mulut kita bukan hanya obat? Maka, tidak bisa dihindari bahwa obat pasti akan berinteraksi dengan makanan yang ada di dalam lambung dan usus. Bentuk interaksi obat – makanan ini bermacam – macam, bisa mempermudah absorpsi (penyerapan obat ke darah), menghalangi absorbsi, atau sama sekali tidak mempengaruhi absorbsi maupun efek obat. Untuk memudahkan pembahasan, maka interaksi yang tidak mempengaruhi absorbsi dan efek obat kita anggap “tidak terjadi interaksi”. Ada atau tidak adanya interaksi ini menentukan kapan waktu yang tepat untuk minum obat: apakah sebelum atau sesudah makan. Yang dimaksud dengan “sebelum makan” adalah ketika perut kita dalam keadaan kosong. Tidak sebatas belum makan besar (nasi, roti, mie, dll). Kalau belum makan besar tetapi sejak 4 jam sebelumnya tidak henti – hentinya ngemil, ya sama saja keadaannya dengan keadaan “sesudah makan”. Sedangkan yang dimaksud keadaan “seusudah makan” adalah keadaan ketika perut kita “penuh” mankanan, atau secara sederhana bisa dianggap sebagai selang waktu kurang dari 2 jam setelah makan. Misalnya kita sarapan pukul 7 dan tidak makan makanan apa pun, maka yang dianggap keadaan “sesudah makan” adalah sejak kita selesai sarapan sampai maksimal pukul 9. Setelah pukul 9 (jika tetap tidak makan makanan lagi), maka dianggap keadaannya sama dengan keadaan “sebelum makan” karena sebagian besar sarapan kita tadi sudah diolah dan diserap.

Beberapa obat yang sebaiknya diminum sebelum makan misalnya antibiotika erythromycin dan amoxicillin, serta obat penurun panas paracetamol. Obat yang sebaiknya diminum tepat sebelum makan (bukan dalam keadaan perut kosong sama sekali dan tidak berencana makan) misalnya obat – obat antidiabetes golongan sulfonylurea seperti glibenklamid. Sedangkan obat – obat yang sebaiknya diminum sesudah makan antara lain obat – obat untuk epilepsy seperti fenitoin, dan obat hipertensi seperti propanolol.

Obat lain yang sebaiknya diminum setelah makan bukan karena alasan kemudahan absorbsi melainkan karena sifat obat itu sendiri yang berbahaya jika diminum ketika perut kosong antara lain aspirin atau asetosal, obat golongan kortikosteroid (deksametason, hidrokortison, dll), dan obat – obat antiradang (diklofenak, piroksikam, dll). Obat – obat tersebut dapat mengakibatkan tukak lambung atau memperparah sakit maag sehingga sebaiknya diminum setelah makan.

Selain keadaan penuh/kosongnya perut (lambung dan usus) dari makanan secara umum, absorbsi (penyerapan) obat – obat tertentu juga bisa dipengaruhi oleh jenis makanan tertentu. Contoh yang sangat terkenal adalah salah satu antibiotika, yaitu tetrasiklin. Tetrasiklin dapat berinteraksi dengan kalsium mebentuk suatu senyawa yang tidak mudah diserap. Sehingga, ketika mengkonsumsi tetrasiklinharus menghindari makanan – makanan yang banyak mengandung kalsium seperti susu, keju, dan sejenisnya. Antibiotika lain seperti siprofloksasin dan ofloksasin (golongan kuinolon) juga dapat mengikat logam – logam seperti kalsium, magnesium, dan aluminium sehingga konsumsi antibiotika tersebut dengan makanan yang mengandung kalsium, magnesium, dan aluminium akan menghalangi absorbsi dan pada gilirannya dapat menurunkan efek obat. Sebagai informasi tambahan, obat maag golongan antasida juga mengandung logam – logam tersebut sehingga konsumsi antibiotic bersamaan dengan antasida harus dihindari. Kalaupun keadaan penyakitnya memaksa untuk mengkonsumsi kedua jenis oba tersebut, maka sebaiknya diberi selang waktu minimal 2 jam. Misalnya antibiotic diminum pukul 7, maka antasida-nya baru diminum setelah pukul 9.

Selain interaksi yang bersifat “negatif” (dalam artian mengurangi efek obat), ada juga interaksi yang bersifat “positif” (dalam artian menguatkan efek obat). Obat – obat yang mengandung kalium tentu akan berinteraksi “positif” dengan makanan yang banyak mengandung kalium seperti pisang dan kentang. Tetapi perlu diingat, interaksi “positif” di sini bukan berarti selalu menghasilkan efek yang positif tapi malah bisa merugikan (makanya, kata positif saya tulis dengan tanda petik “…”). Obat yang kita minum, sudah dihitung dosisinya sesuai kebutuhan untuk memberikan efek yang diharapkan (tidak terlalu kecil, maupun terlalu besar). Nah, kalau kita mengkonsumsi obat denga makanan yang dapat berinteraksi “positif” dengannya dalam jumlah berlebihan, apakah tidak ada kemungkinan efek yang ditimbulkan akan berlebihan atau dalam istilah sederhananya “over dosis”? Terutama jika obat yang kita konsumsi adalah obat – obat yang sangat poten.

Kesimpulannya, selama obat yang hendak kkta minum tidak berinteraksi dengan makanan, maka boleh – boleh saja kita mengkonsumsinya dengan makanan tersebut. Misalnya jika kita suka strawberry juice, dan obat yang hendak kita minum tidak berinteraksi dengan strawberry juice, maka boleh – boleh saja kita mencampurkan obat tersebut ke dalam strawberry juice agar tidak terasa pahitnya. Lalu, dari mana kita tahu obat ini berinteraksi dengan apa saja? Tanyakan pada Apoteker! Itulah salah satu tugas Apoteker: memberikan penjelasan sejelas – jelasnya kepada pasien tentang obat yang diterimanya. Itulah juga bedanya membeli obat di Apotek dengan membeli obat di toko obat.

Selain dipengaruhi keberadaan makanan, absorbsi obat juga dipengaruhi oleh jumlah cairan yang tersedia. Dalam Handbook of Food – Drug Interaction (2003), disebutkan bahwa jumlah air yang diminum ketika meminum obat dapat mempengaruhi absorbsi obat bahkan dapat mempengaruhi onset (waktu yang dibutuhkan sejak obat diminum hingga obat mulai memberikan efek), durasi (waktu yang dihitung sejak obat mulai memberikan efek hingga obat tidak lagi memberikan efek), dan intensitasnya (efek maksimal yang mampu diberikan oleh obat). Kenyataan ini terlihat dari hasil penelitian yang menggunakan antibiotic erythromycin. Penelitian tersebut menunjukkan erythromycin yang diminum bersamaan dengan 250 – 500mL air diserap secara lebih baikdaripada erythromycin yang diminum hanya dengan 20mL air. Artinya, semakin banyak air yang diminum ketika mengkonsumsi erythromycin, absorbsinya semakin baik.

Mungkin akan muncul pertanyaan “Lha, kalo setiap kali minum obat harus dibarengi minum 250 – 500mL air, apa ga kembung?”. Hasil penelitian tersebut tidak berarti mengharuskan kita untuk meminum air sebanyak itu ketika mengkonsumsi obat. Penelitian tersebut hanya merekomendasikan kepada kita untuk konsisten dalam hal bagaimana kita mengkonsumsi obat: apakah dengan air sebanyak 20mL (mewakili konsumsi air yang sedikit) atau dengan 250 – 500mL air (mewakili konsumsi air yang banyak). Jika kita “nyaman” dengan konsumsi obat bersamaan dengan segelas air, maka setiap kali minum obat lakukanlah air sebanyak itu. Jangan hari ini minum dengan segelas air, besok minum obat dengan sebotol air, besoknya lagi minum obat tanpa air. Hal ini terkait dengan pengaturan dosis yang tepat. (Penjelasan lebih lengkap silakan dating ke Apotek terdekat dan konsultasikan ke Apotekernya. Tanya saya juga boleh kalau memang kenal saya. Maaf, agak kesulitan dalam menjelaskannya dalam bentuk tulisan. Lebih enak menjelaskan dengan lisan. Hehe… ).

Oiya, satu hal lagi yang sering dibahas tetapi sering juga dilupakan atau malah disalahpahami adalah terkait interval minum obat. Ketika dokter meresepkan obat ini harus diminum 3×1 sehari, artinya obat tersebut harus diminum setiap (24 jam / 3 =) 8 jam sekali dengan tiap kali minum adalah 1 (tablet, pil, kapsul, sendok, dsb). Angka 3×1 tidak sekadar menunjukkan frekuensi dan jumlah obat yang diminum, melainkna juga menunjukkan interval waktu yang tepat untuk minum obat. Jadi, jika pertama kali minum obat adalah pukul 6 pagi, maka obat kedua diminum pukul 14, dan obat ketiga diminum pada pukul 22. Bukan obat pertama diminum saat sarapan, obat kedua diminum saat lunch, obat ketiga diminum saat dinner. Ya kalau sarapan, lunch, dan dinner-nya maasing – masing berinterval 8 jam sih tidak masalah. Demikian pula jika instruksinya 2x sehari, itu artinya diminum setiap 12 jam sekali. Hal ini terkait dengan jumlah obat yang diharapkan ada di dalam darah agar selalu konstan dan dalam kisaran “kadar” terapi (“kadar” yang cukup untuk memberikan efek yang diharapkan tanpa menimbulkan efek yang berbahaya).

Demikian sedikit info tentang minum obat semoga bermanfaat…

Yogyakarta, 21 Safar 1432 H
Wednesday, January 26, 2011
11.25 a.m.

Haafizhah Kurniasih

Tulisan ini “terinspirasi” (bahasa halus dari mencontek sebagian) dari tulisan Prof. Zullies Ikawati., Apt yang berjudul “Waktu Minum Obat yang Tepat” dengan penambahan dari buku Handbook of Food – Drug Interaction.

19 thoughts on “Tepat Meminum Obat

  1. Nice info fifi… baru tau masalah interval minum obat. Biasanya aku ngikutin jadwal makanku aja. hehe…

    Oia, terkait obat yang sebaiknya diminum sebelum makan yang kamu sebutin tadi itu amoxilin,kebeneran aku lagi sakit radang tenggorokan n dikasih obat Hufanoxil (amoxilin),, menurut anjuran dokter, obat itu diminum setelah makan. Jadi agak bingung… mohon penjelasanya.🙂

    • Hehehe…
      Terima kasih telah berkunjung…🙂

      Berdasarkan referensi yang saya baca, memang dikatakan “Amoxicillin can be taken with or without meals. ” (Ni saya copy-paste-kan dari sumber aslinya, tanpa diedit. Hehehe…)
      Pertimbangan saya mengamini pendapat Prof. Zullies., Apt adalah karena Amoxicilin memiliki potensi menimbulkan efek samping yang dapat merangsang muntah. Nah, kalo diminum sesudah makan, terus muntah, kan sayang, Mba Dila…
      Tapi mungkin dokternya Mba Dila punya pertimbangan lain sehingga menyarankan untuk diminum sesudah makan. Coba tanyakan saja…
      Jangan ragu untuk bertanya karena pasien punya hak untuk mengetahui apa dan bagaimana obat yang harus dia masukkan ke dalam tubuhnya…
      Malu bertanya, sesat di jalan…
      Kecuali kalao Mba Dila bawa kompas + peta daerah setempat. Hehehehe…🙂

  2. wah membantu banget infonya😀
    sbagai mahasiswa farmasi semester satu yg blom tau apa” info ini sangat membantu😀
    maacih

  3. minum obt emang hrus teratur n tepat,supaya penykt yg nyerang bs tuntas tas tass..!shgga tbh qt kmbli fresh n fit kmbli

  4. Salam kenal. Terima kasih Mba atas infonya. Saya yakin banyak masyarakat yang belum mudheng dengan petunjuk dokter agar minum obat 3 kali sehari itu biasanya diminum setelah makan, tanpa memperhitungkan interval 8 jam. Akan saya jadikan rujukan kalau saya crita ke orang tentang minum obat yang benar.

  5. Tanya Mba…,Saya minggu lalu sakit perut seperti diremas2..lalu dokter bilang itu gastritis akut..lalu saya di injeksi…2 jam kemudian terasa enak. Saya baca info katanya di dalam perut ada bakteri helicobacter pylori. Bisakah bakteri itu dihilangkan untuk selamanya dari dalam perut? Mohon jawabannya di attach juga ke email saya ya Mba…Atas jawabannya diucapkan terima kasih. Jazaa kumullah. Wassalam. Ngasifudin – Bantul

    • Wa’alaykumussalam wa rahmatullaah
      Salam kenal juga, Pak Ngasifudin…
      Bakteri H. pylori memang bakteri yang umum terdapat di lambung manusia. Pada jumlah tertentu bakteri ini dapat menimbulkan efek yang serius pada dinding lambung seperti yang Bapak derita. Bakteri tersebut insya ALLAH dapat diatasi dengan penggunaan antibiotik. Meski demikian, kerusakan (seperti iritasi) yang sudah terlanjur terjadi yang diakibatkan oleh bakteri tersebut susah untuk diperbaiki seperti keadaan semula. Itulah sebabnya orang yang pernah menderita gastritis harus snantiasa menjaga pola makan dan jenis makanannya secara hati-hati seumur hidup.
      Saran saya, makanlah makanan yang lembut (atau dikunyah hingga lembut), hindari makanan yang rasanya terlalu tajam (terutama asam dan pedas), makan secara teratur, jangan biarkan perut sampai sangat lapar, dan hindari stress karena stress dapat meningkatkan produksi asam lambung yang akan menyebabkan lambung terasa sakit…
      Salam Sehat…
      Semoga Bapak senantiasa dikarunia kesehatan dan mampu mensyukurinya…🙂

  6. Mbak mau tanya nih. Saya kan dikasih obat antibiotik erythromychin 500 gr. Petunjuknya diminum 4x sehari. Kalo berdasarkan interval waktu yg saya baca di tulisan mbak, berarti 24/4 = 6. Diminum tiap 6 jam sekali. Nah kalo saya mulai minum obat pukul 7:00, berarti selanjutnya pukul 13:00, 19:00, 01:00. Masa saya harus bangun pukul 1 untuk sekedar minum obat? Memang obat ini saya coba minum sebleum tidur sekitar pukul 22:00. Sebelumnya sy minum pukul 19:00. Efeknya lambung saya sakit luar biasa. Saya memang penderita maag kronis jg. Jd diberikan obat antasida yg harus diminum 3x sehari. Bagaimana pola minum oabat yg tepat untuk kondisi seperti saya ya mbak?

    • Maaf baru jawab…
      Semoga Mba Rara sudah sembuh ya…
      Apa yang Mba Rara pahami itu benar, aturan minum 4 kali sehari itu memang idealnya diminum tiap 6 jam. Tetapi angka 6 jam ini bukan angka mutlak, bisa geser-geser dikitlah… Hehehe…🙂
      Pengobatan itu bukan seperti ilmu Matematika yang harus benar-benar tepat, tapi juga ada “seni”-nya. Selain ketepatan interval penggunaan obat, kenyamanan pasien juga cukup mempengaruhi proses penyembumbuhan.
      Saya coba usulkan jadwal minum obatnya ya…
      Pukul 06.30: minum Antibiotik, lalu sarapan seperti biasa
      Pukul 08.30: minum antasida
      Pukul 12.00: minum antibiotik lagi, lalu makan siang seperti biasa
      Pukul 14.00: minum antasida
      Pukul 18.00: minum Antibiotik, lalu makan malam seperti biasa
      Pukul 19.30 atau pukul 20.00: Minum Antasida
      Pukul 22.00 atau 22.30 (menjelang tidur): minum antibiotik lagi

      Kenapa saya pisah jadwal pemeberian antibiotik dan antasida? Karena memang antibiotik tidak boleh dikonsumsi bersamaan dengan antasida mengingat antasida akan “mengikat”molekul antibiotik sehingga sulit untuk diserap. Solusinya, antibiotik harus diminum terlebih dahulu hingga kira2 sebagian besar antibiotik telah terserap (kira-kira butuh waktu 1,5 hingga 2 jam lah), baru setelah itu minum antasida. Dan antasida ini memang lebih baik diminum sebelum makan (perut kosong).
      Begitu yang bisa saya sarankan, semoga membantu…🙂🙂🙂

      • ass.🙂
        saya mau bertanya klau kita minum obat dengan air putih, air teh, susu, air jeruk bagaimana efeknya dan apa reaksi obat tersbut ? serta contoh obt apa saja yang tidak boleh di minum bersama air teh,susu,air jeruk, serta sirup, yang dapat berpengaruh terhada absobsi obat tersebut.
        mohon bimbingannya.
        terimakasih..

        • Wa ‘alaykumussalaam wa rahmatullaah
          Setiap obat memiliki karakteristik yang berbeda. Ada yang justru bagus jika diminum bersama minuman atau makanan tertentu, ada pula yang sebaiknya jangan diminum bersama minuman atau makanan tertentu karena akan berdampak merugikan.
          Misalnya, Antibiotik sebaiknya tidak diminum bersama susu karena keberadaan logam pada susu akan membentuk kelat (bahasa sederhananya akan “menggumpalkan”) molekul Antibiotik sehingga tidak bisa diserap dan tidak berfungsi. Jeda antara minum antibiotik dengan minum susu atau produk olaham susu lainnya sebaiknya sekitar 4 jam. Tapi ada juga obat yang jika diminum bersama susu atau produk olahan susu lainnya justru akan meningkatkan efektivitasnya (silakan tanyakan pada Apoteker Anda…🙂 )
          Obat-obat yang bersifat asam sebaiknya jangan diminum bersama dengan jeruk atau makanan lain yang bersifat asam karena dapat menambah keasaman lambung yang bisa berakibat lambung terasa nyeri, apalagi jika kita mempunyai riwayat gastritis.
          Suplemen darah (mengandung zat besi) tidak disarankan diminum bersama teh karena keberadaan tanin dalam teh dapat mengganggu penyerapan zat besi.
          Adapun sirup, jika yang dimaksud sirup adalah larutan gula, insya ALLAH relatif aman. Bahkan obat-obat untuk anak biasanya dilarutkan dalam sirup untuk menutupi rasa obat yang tidak enak. Tetapi tentu saja obat anti Diabetes Melitus jangan dikonsumsi bersama sirup karena diabetisi (pasien Diabetes Melitus) harus mengurangi konsumsi gula.
          Kabanyakan orang menyarankan agar minum obat dengan air putih saja. Yang demikian itu karena air putih relatif “netral”, sedikt sekali memberikan pengaruh pada obat (baik itu pengaruh positif atau negatif),
          Maka…
          Konsultasikan pada Apoteker Anda, bagaiamana sebaiknya saya meminum obat ini…

          • Mba Hafidzoh, saya nambahi mau tanya tentang mengecilkan perut dengan cara minum air putih itu caranya yang benar bagaimana ya? takaran 1 gelas itu secara farmasi itu berapa mililiter to? Kadang merasa sudah minum 8 gelas sehari tetapi kayaknya tidak berubah perutnya? Apa ada yang salah di bagian lainnya? makasih.

          • Perut buncit memang bikin repot ya Pak?🙂
            Perut buncit itu karena di dalam perut terdapat timbunan lemak yang biasa disebut sebagai lemak viseral (visceral fat) alias lemak dalam. Disebut “lemak dalam” karena jenis lemak ini melapisi organ dalam, terutama di bagian rongga perut seperti hati, pankreas, dsb. Lemak ini meningkatkan risiko penyakit-penyakit degeneratif seperti diabetes mellitus, hipertensi, dementia, dsb. Oleh karenanya, betul jika kita “wajib” mengendalikan lemak perut ini. Nah caranya bagaiman? Untuk menjawabnya, tentu kita harus memahami terlebih dahulu kenapa lemak ini terbentuk. Setelah itu, kita bisa menghindari pembentukan lemak ini atau bahkan mengurai lemak yang sudah terlanjur terbentuk.
            Lemak viseral terbentuk karena timbunan “energi”. Kalau terlalu banyak asupan “energi” (satuannya adalah kalori) tetapi tidak banyak energi yang kita keluarkan, misal banyak makan gula, karbohidrat, atau bahkan lemak tapi sedikit aktivitas fisik, ya kelebihan energi tersebut akan tertimbun dalam bentuk (salah satunya) adalah lemak viseral. Maka, untuk mengurai lemak viseral ini, ya pilihannya cuma 2: kurangi asupan energi (batasai atau pilih2 makanan) dan / atau perbanyak aktivitas fisik.
            Nah, terapi air putih itu maksudnya adalah dalam rangka mengurangi asupan energi. Kan kapasitas lambung kita terbatas. Kalau sudah penuh dengan air putih (yang tentu saja rendah “energi”), tentu lambung sudah tidak punya ruang untuk makanan yang tinggi “energi”. Jadi… walaupun banyak inum air putih tapi tetap banyak makan makanan tinggi energi, ya tetap saja itu lemak tetap tebal….

          • okey Mba terima kasih atas penjelasannya. Saya akan coba lari pagi dan naik sepeda untuk aktivitas fisik….[?]

    • Wa ‘alaykumussalaam🙂
      Sebelumnya, mari kita samakan dulu persepsi kita tentang sebuah term “efek samping” atau yang dalam bahasa Inggris disebut “side effect”. Dalam dunia farmasi, ada dua istilah terkait efek yang tidak dituju dalam pengobatan, yaitu “side effect” dan “adverse effect”. Adapun side effect, menurut Cambridge Dictionary didefinisikan sebagai “an unwanted or unexpected result or condition that comes along with the desired effects of something”. Saya garis bawahi “Kondisi / sesuatu yang terjadi bersamaan dengan efek yang diinginkan”. Jadi, efek samping adalah efek lain di samping efek yang kita tuju.Efek samping tsersebut bisa menguntungkan atau pun merugikan. Hanya saja, kita seringkali berasumsi bahwa efek samping itu merugikan. Padahal, ada juga yang menguntungkan, tergantung kondisinya. Contoh: penggunaan CTM dalam pilek sebenarnya ditujukan untuk menghentikan bersin-bersin karena alergi, tapi CTM juga punya efek lain yaitu membuat kantuk. Nah, pada saat seperti itu efek CTM justru menguntungkan karena pasien (terutama pilek commond cold) itu perlu istirahat agar cepat pulih. Di sini CTM “memaksa” pasien untuk istirahat sehingga bisa cepat pulih.

      Di dunia ini, sependek yang saya ketahui belum ada satu pun obat yang hanya punya satu efek. Selain efek yang diinginkan, obat pasti juga mengandung efek lainnya. Hanya saja, kemunculan efek ini biasanya pada dosis berbeda. Misalnya saja asam salisilat pada dosis sekitar 80 mg berefek sebagi “pengencer darah” sedangkan pada dosis 500 mg berefek sebagai pereda nyeri.

      Lalu abagaimana dengan Hufanoxil? Hufanoxil adalah sebuah merek dagang yang berisi obat (zat aktif) amoxicilin. Sebuah Antibiotik golongan beta laktam.Dari beberapa literatur yang saya baca, Amoxicilin bisa menyebabkan efek samping berupa nyeri perut, mual, diare, dll.
      Tapi jangan khawatir…, penggunaan pada dosis dan kondisi yang tepat akan meminimalkan kemungkinan timbulnya efek samping…🙂

      Semoga selalu dikaruniai kesehatan yang barakah…🙂

  7. Mba fifi, mohon info, saya suka bingung, anak saya usia 3.5 th kalau sakit pasti ga mau makan apa2. Seringnya kalau demam kan kita kasih patacetamol, apakah ga bahaya minum paracetamol sehari 3 sampai 4 kali dalam keadaan perut kosong?

    • Ibu Dione yang semoga dirahmati ALLAH…,
      Paracetamol (dan juga obat-obat lain yang punya efek meredakan nyeri) memang sebaiknya diminum dalam keadaan perut tidak kosong karena obat-obat tersebut dapat menyebabkan kenaikan keasaman lambung. Secara teorinya, ya sebaiknya ananda dibujuk untuk makan. Bisa diberikan makanan kesukaannya atau diberi makanan yang bentuknya menarik atau bagaimanalah. Itu teorinya begitu tapi prakteknya saya belum tau karena sampai saat saya menulis komentar ini saya belum berpengalaman mengasuh anak. Ya mohon doa saja agar saya diberi rizqi anak pada waktu yang terbaik sehingga saya bisa mendidiknya dengan sebaik-baiknya menjadi manusia yang bukan saja baik tapi luar biasa… Hehehe…

      Semoga Ananda selalu sehat ya Ibu…🙂

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s