Katakan Saja

Suatu hari, seorang saudari yang tergolong jarang membicarakan cinta dan pernikahan tiba – tiba berkata di depan laptopnya “Hwaaa…, diaaaaa…”. Aku yang saat itu ada di sampingnya jadi bingung. “Ni orang kenapa sih?!”, pikirku dalam hati. Spontan aku menanggapi “Kenapa ee, Mba?”. Si Mba yang ditanya mendadak jadi tidak bersemangat “Relation statusnya in a relationship.”. Aku yang masih kurang peka tentang perasaan seseorang dengan entengnya bertanya “Terus kenapa? Emangnya dia siapa?”. Yang ditanya itu akhirnya menjawab dengan panjang lebar bahwa “dia” yang dimaksud adalah seorang laki – laki yang luar biasa yang pernah ia kenal di daerah asalnya. Seorang syabab yang tangguh, tsaqafahnya mendalam, analisisnya luar biasa, dsb dst yang intinya menyebutkan bahwa “dia” adalah high quality syabab. Dan lagi – lagi tanpa berperasaan aku menanggapi “Terus yang kau sesalkan itu apa? “in a relationship” itu apakah kau mencurigai bahwa dia futur atau bagaimana?” Kali ini menjawab dengan nada yang lain “Insya ALLAH sih ga [future—pen], tapi…”. Emang dasar aku saat itu ga peka sama sekali, aku malah memperjelas “Ooo… jadi patah hati nih ceritanya?”. Tak kusangka dan tak kuduga (Halah, lebay…) dia malah menjawab “Gimana ga patah hati?! Susah tau cari rijal seperti dia! Dia itu luar biasa!”. Hhhlaaa…, jadi bingung saya….

Satu pelajaran yang bisa kupetik dari apa yang dia alami adalah “high quality” person pasti hanya tersedia dalam limited edition dan tidak mudah didapatkan. Mendengar kisahnya, aku teringat pada salah satu fragmen dalam novel yang menututku sangat indah karya Habiburahman El Shirazy “Ayat – Ayat Cinta”. Fragmen yang ku maksud adalah ketika Nurul yang ternyata memendam perasaan untuk Fahri –laki – laki yang tergolong “high quality” juga— terlampau malu untuk sekadar menawarkan diri kepadanya. Rasa malunya itu akhirnya hanya membuahkan kekecewaan pada dirinya ketika ternyata Fahri memutuskan untuk menikahi ‘Aisyah.

Memang aku akui, menawarkan diri untuk dinikahi bukanlah sesuatu yang mudah. Sungguh tidak ringan melakukannya. Fithrahnya perempuan memang cenderung untuk menyembunyikan perasaannya. Bahkan untuk meng-iya-kan pinangan pun kadang – kadang malu. Makanya Rasul menetapkan bahwa diamnya seorang perempuan (ketika dipinang) adalah persetujuannya. Sungguh manusiawi (atau mungkin lebih tepatnya perempuanwi??) jika dia malu untuk menawarkan diri. Apalagi kepada seseorang yang di matanya begitu luar biasa. Jujur, aku pun belum tentu sanggup untuk menawarkan diri jika suatu ketika nanti qadha ALLAH membuatku mengenal seorang laki – laki yang begitu luar biasa di mataku. Malu dan minder pasti.

Tapi…, bukankah standar berbuat seorang Muslim adalah hukum syara’? Bukankah menikah adalah ibadah yang tentu saja harus diupayakan kesempurnaannya? Termasuk kesempurnaan partner ibadah kita. Bukankah menawarkan diri untuk dinikahi oleh seseorang yang luar biasa di mata kita (tentu dengan standar syara’) adalah sesuatu yang diperbolehkan? Tidak makruh apalagi haram. Bukankah keberanian menawarkan diri bukanlah sesuatu yang tercela di mata Rasul bahkan dipuji oleh shahabat? Ingatkah pada kisah seorang shahabiyah (sebut saja Fulanah karena aku tidak hafal siapa namanya) yang menawarkan dirinya kepada Rasul (meski akhirnya ditolak)? Bukankah saat itu seorang shahabiyah lain yang juga putri seorang shahabat yang menyaksikan peristiwa tersebut mencela perbuatan Fulanah denga ungkapan (yang intinya kurang lebih) “Apa dia tidak punya malu?” dan dengarlah apa jawaban yang ayah kepada putrinya itu? “Dia lebih baik darimu…”. Lihatlah! Fragmen ini menunjukkan dengan jelas bahwa menawarkan diri untuk dinikahi laki – laki shalih yang luar biasa bukanlah perbuatan tercela, bahkan perbuatan terpuji. Tidak layak rasa malu itu menghalangi kita melakukannya. Bukankah rasa malu itu hanya layak ditempatkan pada perbuatan ma’siyat dan tidak layak ada malu dalam ketaatan?

Simaklah juga kisah cinta dua manusia agung dalam sejarah manusia. Kisah cinta Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu ‘anhaa dan Muhammad bin ‘Abdullah shalallahu ‘alayhi wa salaam. Bukankah sangat masyhur dan kita semua tahu bahwa bukan Muhammad yang meminang Khadijah terlebih dahulu melainkan Khadijah lah yang menawarkan dirinya pada pemuda bernama Muhammad (meski melalui perantara)? Bukankah hal ini sama sekali tidak mengurangi kemuliaan Khadijah sebagi perempuan agung?! Bukankah hal ini juga sama sekali tidak melukai harga diri Muhammad muda sebagai pemuda yang dihormati di tengah kaumnya?! Khadijah tetap dipandang mulia di mata kaumnya dan juga di hadapan para penduduk langit. Muhammad tetap menjadi seorang pemimpin agung dengan segala kemuliaannya.

Jadi, tidak ada yang salah pada diri perempuan yang menawarkan dirinya untuk dinikahi kepada seorang laki – laki shalih yang high quality dan limited edition. Memang hal itu tidak mudah. Berat. Sungguh berat, aku akui. Tetapi… bukankah lebih berat lagi menyaksikan seseorang yang kita ridhai bahkan kita harpkan untuk menjadi imam kita memilih perempuan lain sebagai ma’mumnya?

Pagi yang cerah di hari Ahad
Yogyakarta, 25 Safar 1432 H
Sunday, 30 January 2011
7.23 a.m.

Haafizhah Kurniasih

Teriring doa
Semoga jika suatu ketika nanti ALLAH memperkenalkanku pada seorang shalih yang luar biasa, yang kuat imannya, yang kaya tsaqafahnya, yang cemerlang pemikirannya, yang mendalam analisisnya, yang kuat kepemimpinannya, dan tangguh da’wahnya ALLAH juga menjadikan dia imamku entah bagaimana pun caranya asalkan diliputi keridhaan ALLAH. Aku tidak peduli apakah dia yang terlebih dahulu meminangku ataukah aku yang menawarkan diriku kepadanya. Satu hal yang pasti aku tidak ingin melihat seseorang yang aku ridhai, seseorang yang ideal menjadi imamku malah memilih ma’mum yang lain…

ALLAH…
Aku tidak tahu siapakah orang yang namanya tertulis dalam catatan agung – MU sebagai imamku kelak…
Siapa pun dia, jadikanlah dia lebih baik dan lebih berkualitas daripada semua orang yang aku “kenal” saat ini…
Jika dia sudah aku kenal dan berinteraksi denganku saat ini, jadikan dia selalu lebih baik dari hari ke hari…
Jika dia belum ku kenal, maka jadikan dia orang yang lebih baik dari semua orang yang aku kenal saat ini…
Aaaamiin Ya Mujibassailiin…
Aku tidak ragu berdoa apa pun kepada—MU, bahkan hal yang menurut orang lain mustahil sekalipun karena Engkau pernah berkata “Ud’uuniy…, fastajib lakum!”.

3 thoughts on “Katakan Saja

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s