Candaan Akhawat

Mungkin bagi orang – orang yang tidak pernah masuk dalam dunia pribadi akhawat ngaji, apalagi akhawat pergerakan akan mengira bahwa mereka selalu serius, selalu anggun dan berwibawa. Tidak ada waktu bagi mereka untuk becanda. Saya juga sempat mengira demikian tapi ternyata semua itu salah. Akhawat juga manusia. Lebih khusus lagi akhawat juga perempuan yang memiliki sifat – sifat khas perempuan (yang ini justru malah wajib dimiliki. Masa’ iya akhawat ngaji koq malah memiliki sifat khas laki – laki dan bukannya sifat khas perempuan?!), salah satunya adalah sesekali waktu (atau bahkan agak sering, meski harus diakui tidak terlalu sering) becanda. Tapi memang candaannya cukup berbeda dari candaan perempuan – perempuan yang belum ngaji. Apalagi perempuan – perempuan hedon. Dan menurut saya memang harus berbeda.

Inilah salah satu hal yang membuat saya senang berkumpul dengan akhawat pergerakan. Selucu apa pun—meski kadang sedikit dipaksakan lucu—candaan mereka, selalu ada pelajaran atau setidaknya pesan yang dapat diambil. Bukankah setiap perkataan dan sikap mencerminkan kepribadian? Di sini saya ingin cerita beberapa candaan yang sering terdengar.

Calon Istri Khalifah! Calon Istri Amirul Jihad!
Nah ini, salah satu candaan favorit saya jaman – jaman SMA. Saya menyebutnya jaman sebelum saya punya cermin. Kenapa saya bilang begitu? Masa’ kalian ga tau sih alasannya…
Dulu jaman – jaman SMA kalau saya mau dibonceng teman, saya sering berpesan “Hati – hati ya bawa motornya! Kamu mboncengin calon istri Khalifah lho…! Jangan sampai lecet!”. Saya yakin sekarang kalian pasti tau kenapa saya bilang itu candaan jaman saya belum punya cermin. Kalu masih belum tau juga, ni saya beri tahu ALLAH berjanji untuk memasangkan hamba – hamba–NYA yang se-“level”. Laki – laki yang baik untuk perempuan yang baik dan sebaliknya. Nah kalian tahu kana pa saja syarat in’iqad dan syarat afdhaliyah seorang Khalifah? Emang sih, syarat in’iqad-nya biasa saja, ga terlalu “heboh” sedangkan syarat afdhaliyah—yang “heboh” itu—tidak harus dipenuhi oleh Khalifah. Tapi… bukankah dalam keadaan normal, seseorang yang dipilih menjadi pemimpin pastilah orang yang terbaik di antara kaumnya? Terbaik di antara kaum Muslimin! WOW!!! PeDe – PeDenya saya yang cuma begini – begini aja ngarep dijodohkan dengan seorang Khalifah, seorang Amirul Mu’minin yang pastilah orang terbaik di kalangan orang – orang mu’min. Punya modal apa saya? Ga level banget Amirul Mu’minin sama saya! Maksudnya levelnya Amirul Mu’minin itu jauh lebih tinggi dari pada saya… Hehehe…
Sedangkan yang suka bilang “Calon istri Amirul Jihad!” adalah teman saya. Yang ini teman saya jaman kuliah, bukan jaman SMA. Kalau yang ini saya ga berani bilang dia ga punya cermin cz faktanya di mata saya dia jauh lebih baik daripada saya. Dia juga selalu meng-up grade dirinya. So, ada kemungkinan suatu saat nanti dia bisa se-level dengan Amirul Jihad. Lagi pula Amirul Jihad kan ga mesti orang terbaik di kalangan kaum Muslimin kan ya?
Sekarang kalau ada teman yang ngajakin becanda seperti itu, paling – paling saya cuma bilang “Saya sih mau calon istrinya Khalifah (aaaaamiin…), calon temannya istrinya Khalifah (yang jadi istri Khalifah adalh teman saya), calon istrinya teman Khalifah (yang jadi Khalifah adalah teman suami saya), calon istri muridnya Khalifah, calon murid istrinya Khalifah, calon ibunya Khalifah, calon mertuanya Khalifah, calon tetangganya Khalifah, calon tetangganya istrinya Khalifah, bahkan calon istrinya tetangga Khalifah pun GPP deh… Yang penting judulnya ada Khalifahnya alias Khilafah berdiri pada zaman saya!” Hehe…

Calon Isrinya Lee Min Ho (kalau dia taubat maksudnya…)
Kalau yang ini candaan teman – teman saya. Bukan candaan saya. Saya sih ga suka menyebut diri calon istri dia. Tapi saya suka nimbrung aja kalau teman – teman saya sedang asyik becanda seperti itu. Sebenarnya bukan cuma Lee Min Ho saja yang jadi objek candaan semi khayalan kami. Beberapa selebriti baik dari kalangan artis, maupun athlete sering kami jadikan “korban”. Biasanya kami mengatakan “Nanti saya nikah sama Fulan… Tapi kalau dia masuk Islam, taubatan nasuha, ngaji, dan jadi pengemban da’wah!” atau “Hai, Fulan! Mbok ya putusin aja pacarmu itu! Trus kamu bertaubat, ikut halqah, jadi pengemban da’wah. Trus… meminang saya deh…!”. Biasanya lagi teman – teman yang lain akan menimpali “Ya… kalau pun itu terjadi. Tinggal satu pertanyaannya. Dan justru ini permasalahan utamanya ‘Emangnya dia mau sama kamu?’…”.
Meski saya ga suka dengan candaan ini untuk saya dalam artian saya ga suka menyebut diri saya calon istri selebriti itu, saya tidak pernah mempemasalahkan mereka yang senang becanda seperti itu. Saya turut menikmati kadang – kadang. Numpang ketawa… Toh tidak ada hukum syara’ yang yang dilanggar dalam candaan ini. Itu semua kan cuma harapan. Sekaligus menunjukkan secara tersirat kriteria calon suami seperti apa yang mereka inginkan. Bagi saya mereka yang syka becanda seperti itu seolah – olah sedang mengatkan: saya ingin punya suami pengemban da’wah yang ciri fisiknya seperti Fulan. Lha, itu kan mubah – mubah saja! Lagipula syarat utamanya tetap pengemban da’wah sedangkan cirri fisik hanya syarat pendamping dan tidak sebaliknya.

Wah, dari tadi ngomonginnya calon istri mulu. Kesannya akhawat itu hobby banget ngomongin begituan. Sebenernya sih ga gitu juga. Cuma saya aja yang legi pengen nulis ini. Candaan lain yang sama sekali ga terakait calon – calonan juga banyak koq. Malah saking banyaknya saya bingung mau menceritakan yang mana. Contoh aja nih…

Pada suatu siang yang agak mendung:
Fulanah 1: Mau nitip beli makan apa?
Fulanah 2: Apa ya? Bingung.
Fulanah 1: Kalau kita “ngerampok” di sebelah aja gimana? [FYI: tepat di sebelah kos kami adalah Waroeng Steak (WS) yang aromanya selalu menggugah selera)
Fulanah 3: Iya, Mba! Mereka dibawain hadits yang ini saja “Barangsiapa yang masak…” (belum sempe selesai Fulanah 3 ngomong, Fulanah 1 sudah memotong)
Fulanah 1: Iya yah… Minimal kuahnya ya… Padahal mereka tiap hari…
Fulanah 2: Waah.., nanti mereka jawab “Mba…, tapi ini kan qimahnya qimah maddiyah,Mba…”
Bersama – sama: Hahaha…
Candaan yang penuh hikmah…

Tapi… belakangan ini saya mulai agak risih dengan candaan beberapa orang Saudari. Candaan yang menurut saya agak kurang pantas itu dimulai sejak beberapa pekan lalu, tepatnya sejak di kos kami ada tugas piket baru yaitu tugas piket jadi imam shalat jamaah. Sebelumnya sih yang jadi imam shalat jamaah ga dijadwal, siapa saja yang bersedia, monggo… Tapi berdasarkan berbagai pertimbangan, salah satunya adalah berbagi pahala dan ajang latihan, maka dibuatlah piket imam.

Meskipun sudah cukup sering mengimami shalat jamaah perempuan, kami masih sering juga enggan menjadi imam shalat. Tentu karena berbagai alasan. Nah, ketika yang mendapat giliran imam adalah saudari yang sedang haidh, ini yang memicu “masalah” bagi saya. Teman – teman suka becanda memanggil petugas piket imam hari itu meskipun mereka mengetahui bahwa dia sedang haidh “Fulanah, ayo cepet! Kami tunggu untuk jadi imam!” lalu dengan candaan pula si Fulanah yang dimaksud menjawab “Ayook… Sini aku imami!”. Atau di lain waktu ada yang dengan iseng menanyakan kepada Fulanah yang sedang haidh “Kamu koq ga shalat? Udah gedhe ga shalat!”. Yang ditanya pun ga kalah isengnya dengan menjawab “Iya nih, lagi males shalat. Bosen shalat terus…!” atau “Ngapain shalat? Capek!”. Astaghfirullaah…

Iya sih, saya tahu mereka hanya becanda. Saya juga yakin mereka sama sekali tidak serius mengatakannya. Insya ALLAH apa yang mereka katakan itu sama sekali tidak berbekas di hati mereka. Tapi…, apakah layak hal yang seperti ini dijadikan bahan candaan? Kalimat yang meski diucapkan dengan tidak serius tapi mengandung kalimat kekufuran. Apakah layak, para pengemban da’wah mengucapkan kata – kata itu? Meski sekali lagi hanya sebatas candaan! Apakah tidak ada candaan lain yang lebih lucu tetapi tanpa mempermainkan agama ini? Agama yang kita dan mereka perjuangkan bersama.

Akhirnya, saya mengingatkan diri saya sendiri dan Saudari – Saudariku seperjuangan untuk lebih berhati – hati dalam memilih candaan. Candaan memang tidak haram, bahkan kadang – kadang diperlukan untuk menambah keakraban tapi tidak dengan candaan yang mengandung kekufuran.

Yogyakarta, 5 Rabi’ul Awwal 1432 H
Monday, February 07, 2011
7.31 p.m.

Sambil menunggu panggilan shalat isya’ berjamaah

Haafizhah Kurniasih.

13 thoughts on “Candaan Akhawat

  1. Dulu, ada seorang laki-laki yang bercanda dengan mengatakan bahwa Rosulullah dan shahabatnya adalah orang yang paling buncit perutnya, pengecut dan dusta lisannya. Kemudian, turunlah ayat ini:

    Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” (at-Taubah: 65)

    Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa. (at-Taubah: 66)

  2. hehehe…narsisnya g ilang2 bu….tapi GPP mimpi jadi istri khalifah,,cari aja ikhwan yg bernama khalifah,,temen SMAq ja namanya kholifah tapi panggilannya ipeh,g beda jauh toh…..^_^

  3. “pipipipit…………”
    Huusssh!!! Jangan panggil2 Mba Pipit!😛

    Nyasar itu kenangan yang tak terlupakan…
    Dari Gunung (Tembalang) nyasar sampe ke daerah pantai, muterin Genuk, Johar, de el el dengan motor pinjeman yang klaksonnya mati. Nyasar sampe malem dan nekat pulang malem2 dengan motor pinjeman yang lampunya juga merem-melek ga karuan…
    Lucu2 konyol gimanaaaaa gitu….

    • upzzzzzzzzzz sorry boz udah bisa di baca….tadi warnanya full item,.,,,,
      ^_^…….
      gpp mbk pipit gk keberatan koq,kau pake bwt klakson motor pinjemanmu ….
      fi nama lain dari burung finc dan gereja tu apa?????

      • Blog sepet dan tidka itu tergantung amal dan perbuatan…
        Kl amal dan perbuatannya adalah “mengakses blog dari komputer jelek, resolusinya rendah”, ya… bakalan sepet. Kayak dirimu itu…
        Hehehe…
        Piiiissss….

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s