Sekilas tentang Cancer dan Herbal *)

Kanker merupakan salah satu penyakit tidak menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, bahkan di dunia. Lebih dari 10 juta orang di seluruh dunia diperkirakan mengidap penyakit kanker. Saat ini, kanker merupakan pembunuh nomor dua setelah penyakit kardiovaskuler. Sekitar 12% kematian di seluruh dunia diakibatkan oleh kanker. Pada tahun 2005 WHO dan Bank Dunia memperkirakan 12 juta orang di seluruh dunia terserang kanker setiap tahun dan 7,6 juta di antaranya meninggal dunia. Jika tidak dikendalikan, pada tahun 2020 diperkirakan akan ada 15 juta kasus baru kanker dan 12 juta di antaranya meninggal dunia. Bahkan menurut prediksi International Union Against Cancer (2009) pada tahun 2030 sebanyak 26 juta orang menderita kanker dan dan 17 juta di antaranya meninggal dunia. (Anand et al., 2008, Yushamen, 2010, Anonim, 2009, dan Brayand dan Moller, 2007). Di Indonesia sendiri, prevalensi tumor/kanker mencapai 4,3 per 1000 orang penduduk. Kanker merupakan penyebab kematian nomor 7 di Indonesia (5,7%) setelah stroke, TB, hipertensi, cedera, perinatal, dan DM (Riskesdas, 2007).

Berdasarkan data yang diperoleh dari Yayasan Kanker Indonesia (YLKI) DIY dan Departemen Kesehatan, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan provinsi dengan prevalensi tumor dan kanker terbesar di Indonesia. Pada tahun 2007, jumlah penderita kanker di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta mencapai 9,6 per 1.000 orang. Angka ini jauh lebih tinggi dari prevalensi nasional; yaitu 4,3 per 1.000 orang (Anonim, 2010).

Kanker dapat disebabkan baik oleh faktor internal (seperti mutasi genetik, hormone, dan imunitas) maupun faktor eksternal (seperti rokok, makanan, radiasi, dna infeksi mikroorganisme). Akan tetapi, riset – riset mutakhir menunjukkan bahwa sebagian besar kanker tidak disebabkan oleh faktor keturunan (genetik) tetapi disebabkan oleh faktor eksternal. Hanya sekitar 5% hingga 10% kasus kanker yang disebabkan oleh faktor genetik. Selebihnya, yaitu 90% hingga 95% lainnya disebabkan oleh faktor eksternal / gaya hidup. Faktor gaya hidup yang sangat berpengaruh dalam insidensi dan mortalistas kanker antara lain: kebiasaan merokok, alkohol, pola makan, obesitas, infeksi, polusi, dan radiasi. Pola makan memiliki peran sebesar 30% hingga 35% dalam insidensi kanker, sedangkan kebiasaan merokok sebesar 25% hingga 30% (Anand et al., 2008).

Rokok mengandung tidak kurang dari 50 macam karsinogen, misalnya benzopirenediol epoksida (salah satu metabolit tembakau) yang memiliki kaitan etiologis secara langsung dengan kanker paru – paru (Denissenko et al., 1996). Padahal, berdasarkan perkiraan dari FAO, pada tahun 2010 Negara – Negara berkembang seperti Indonesia mengkonsumsi 71% dari tembakau dunia (Anonim, 2008).

Di sisi lain, sebagian besar karsinogen yang masuk ke tubuh manusia seperti senyawa nitrat, nitrosamin, pestisida, dan dioksin berasal dari makanan atau zat aditif yang sangaja ditambahkan dalam proses pembuatan makanan. Sebagai contoh, konsumsi daging merah yang berlebihan merupakan faktor risiko dari beberapa kanker yang berkaitan dengan saluran gastrointestinal, kanker colorectal, kanker prostat, kanker kandung kemih, kanker payudara, kanker pankreas, dan kanker mulut (Bingham et al., 2002, Hogg, 2007, Rodriguez et al., 2006, Garcia-Closas et al.,2007, Tappel, 2007, O’ Hanlon, 2006, Toporcov, et al., 2004). Hal ini karena selama proses memasak daging akan diproduksi senyawa amina heterosiklik yang bersifat karsinogenik. Sedangkan jika daging tersebut dibakar / diasapi akan menimbulkan senyawa karbon berbahaya seperti pirolisat, dan asam amino yang memiliki efek karsinogen kuat (Dosil-Diaz et al., 2007). Selain itu, pemakian zat aditif seperti pengawet nitrit dan pewarna azo dalam jangka panjang dapat menginduksi terjadinya karsinogenesis (Sasiki et al., 2002). Tidak hanya itu, senyawa bisofenol yang terkandung dalam plastic pengemas makanan dapat bermigrasi ke dalam makanan dan meningkatkan risiko kanker payudara serta kanker prostat (Durando et al., 2007, dan Tang et al., 2006).

Faktor penyebab kanker selanjutnya adalah polusi dan radiasi. Sekitar 10% dari total insidensi kanker diinduksi oleh radiasi (Belpomme et al., 2007) baik radiasi ionisasi maupun radiasi non ionisasi; misalnya leukemia, lymphoma, kanker tiroid, kanker kulit, sarcoma, kanker paru – paru dan kanker payudara. Radiasi non ionisasi yang berasala dari sinar matahari merupakan karsinogen bagi manusia. Paparan radiasi ultra violet (UV) merupakan faktor risiko utama dalam beberapa tipe kanker kulit, termasuk karsinoma sel basal, karsinoma sel squamous, dan melanoma. Hal ini diperparah dengan terjadinya penipisan lapisan ozon pada stratosfer yang dapat meningkatkan dosis dan intensitas UV-B dan UV-C sehingga semakin meningkatkan insidensi penyakit kanker (Anand et al., 2008).

Berdasarkan fakta tersebut di atas, maka diperlukan sebuah upaya untuk mengendalikan faktor risiko terjadinya insidensi dan mortalitas kanker dengan penggunaan agen kemopreventif antikanker yang efektif, mudah diperoleh dan praktis. Agen kemopreventif antikanker didefinisikan sebagai senyawa kimia alami, sintetis, maupun biologis untuk mematikan, menekan, dan mencegah aksi senyawa – senyawa karsinogen sehingga dapat menekan penyakit kanker (Tsao et al., 2004).

Riset – riset menunjukkan bahwa diet dengan buah – buahan, sayuran, padi – padian, dan rempah – rempah berpotensi untuk mencegah kanker. Lebih dari 25.000 senyawa fitokimia yang berpotensi sebagai agen kemoprefentif untuk kanker teridentifikasi terkandung dalam buah – buahan, sayuran, rempah – rempah, dan padi – padian. Senyawa – senyawa tersebut antara lain karotenoid, vitamin, resveratrol, quercetin, silymarin , sulphoraphane, dan indol-3-carbinol. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa diet yang tepat dapat mencegah serangan kanker (Sasaki et al., 2002, Steinmetz dan Potter, 1996, Greenwald, 2005,Vainio dan Weiderpass, 2006, dan Aggarwal dan Shishodia, 2006). Pada tahun 1966, untuk pertama kalinya Wattenberg mengemukakan bahwa mengkonsumsi konstituen tertentu yang terkandung dalam buah – buahan dan sayuran secara teratur dapat mencegah kanker (Wattenberg, 1966). Sekitar 30% hingga 40% kasus kanker dapat dicegah dengan diet seimbang dan teratur (Anand et al., 2008).

Senyawa – senyawa fitokimia yang berpotensi sebagai agen kemopreventif antikanker tersebut terkandung dalam berbagai herbal yang mudah didapatkan di Indonesia, antara lain: apel, pisang, lemon, durian, anggur, jambu biji merah, mangga, manggis, nanas, delima, pokat, brokoli, wortel, kubis, kembang kol, bawang merah, tomat, seledri air, kentang, bayam, kunyit, kapulaga, ketumbar, merica hitam, cengkeh, adas, wijen, bawang putih, jahe, kayu manis, kemiri, kenari, kacang tanah, kacang mede, beras, gandum, jagung, kacang merah, kedelai, kacang hijau, dan lain – lain (Anand et al., 2008).

Haafizhah Kurniasih

Tulisan ini merupakan potongan dari Bab “Latar Belakang” (sebelum diedit) dalam PKMM tentang Cancer yang didanai DIKTI tahun anggaran 2011

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s