Sekilas tentang Antiseptik, Alkohol, dan Wortel

Kesehatan merupakan aspek yang sangat penting bagi manusia untuk beraktivitas terutama dalam kehidupan modern dewasa ini. Gaya hidup modern menuntut manusia untuk selalu bergerak cepat dan menggunakan waktunya seefisien mungkin. Tuntutan zaman yang sedemikian mengharuskan manusia untuk menjaga kesehatannya agar terhindar dari penyakit yang dapat menghambat gerak dan mengurangi efisiensi waktunya.
Salah satu penyakit yang banyak menjangkiti masyarakat di negara berkembang seperti Indonesia dan negara-negara ASEAN lainnya adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi. Berbagai penyakit infeksi yang muncul secara global antara lain SARS, anthrax, AIDS, dan flu burung. Berdasarkan data yang diperoleh dari WHO tahun 1998, lebih dari 45% kematian yang terjadi di negara-negara ASEAN adalah akibat penyakit infeksi. Penyakit infeksi masih menempati urutan pertama penyebab kesakitan dan kematian yang terjadi di negara berkembang. Bagi penderita, penyakit infeksi tidak hanya menyebabkan penderitaan fisik tapi juga penurunan kinerja dan produktivitas. Sedangkan bagi negara, tingginya kejadian infeksi di masyarakat menyebabkan penurunan produktivitas nasional dan peningkatan pengeluaran yang berhubungan dengan biaya pengobatan (Anonim, 2005).
Infeksi dapat disebabkan oleh bakteri, virus, maupun jamur, dan dapat terjadi di masyarakat (community acquired) maupun di rumah sakit (hospital acquired) (Wahjono, 2007). Orang-orang yang berada di rumah sakit dan sarana kesehatan lainnya misalnya pasien, keluarga pasien, dokter, dokter gigi, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya yang memiliki resiko tinggi untuk kontak dengan mikroorganisme patogen memiliki risiko yang lebih besar untuk terkena penyakit infeksi. Hal ini karena mikroorganisme patogen tersebut dapat ditransmisikan melalui cairan tubuh (darah, saliva, dan lain-lain), udara, maupun kontak langsung antar pasien, dari pasien ke petugas, dari petugas ke petugas, dari petugas ke pasien dan antar petugas (Anonim, 2010).
Salah satu cara pencegahan infeksi yang ditetapkan oleh Center for Disease Control adalah dengan penggunaan antiseptik untuk membersihkan tangan atau bagian tubuh lainnya yang tercemar darah atau cairan tubuh lainnya (Anonim, 2010). Saat ini, salah satu senyawa yang lazim digunakan dalam berbagai formula sediaan antiseptik adalah golongan alkohol (etanol, propanol, isopropanol) dengan konsentrasi antara 50% hingga 70% (Block, 2001 dan Gennaro, 1995). Namun sayangnya, penggunaan golongan alkohol sebagai antiseptik memiliki banyak keterbatasan. Keterbatasan tersebut antara lain alkohol hanya dapat digunakan sebagai antiseptik / desinfektan untuk disinfeksi permukaan dan kulit yang bersih tetapi tidak dapat digunakan untuk bagian kulit yang terluka. Golongan alkohol memang memiliki daya bakterisidal tetapi hanya untuk beberapa jenis bakteri dan tidak berfungsi untuk jamur dan virus. Golongan alkohol juga merupakan pelarut organik sehingga dapat melarutkan lapisan lemak dan sebum pada kulit yang berfungsi sebagai pelindung alami terhadap infeksi mikroorganisme. Alkohol juga bersifat mudah terbakar dan pada pemakian berulang dapat menyebabkan kekeringan dan iritasi pada kulit (Dryer, 1998; Jones, 2000; Snyder, 1999). Sedangkan sebagaimana diketahui, antiseptik selalu diperlukan setiap saat yang artinya meniscayakan pemakaian berulang.
Dikarenakan berbagai keterbatasan penggunaan alkohol itulah, maka diperlukan senyawa lain sebagai alternatif pengganti golongan alkohol sebagai antiseptik yang aman, efektif dan mudah digunakan. Mengingat Indonesia merupakan negara tropis yang kaya tanaman berkhasiat, maka dimungkinkan untuk mencari senyawa alternatif pengganti alkohol tersebut dari tanaman yang mudah dijumpai di Indonesia.
Salah satu tanaman yang diketahui mempunyai daya antiseptik adalah tanaman wortel (Daucus carota L.). Dalam “Atlas Tumbuhan Obat Indonesia” disebutkan bahwa umbi wortel memiliki khasiat sebagai diuretik, laksatif, dan antiseptik. Hal ini karena umbi wortel diketahui mengandung senyawa golongan sesquiterpen (Ahmed et. al., 2005).
Di samping itu, meningkatnya minat masyarakat untuk kembali menggunakan bahan-bahan alami (back to nature) semakin menambah pentingnya penelitian tentang potensi berbagai bahan alam termasuk wortel sebagai antiseptik dan kemungkinannya menggantikan penggunaan alkohol.

Haafizhah Kurniasih

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s