Jangan Pecahkan Cerminmu!

Pernah dengar kisah [fiktif] ini?
Alkisah, pada suatu hari seorang ratu bertanya pada cermin ajaib “Bukankah aku adalah perempuan paling cantik, wahai cermin?”. Si cermin pun menjawab dengan jujur “Sayang sekali, bukan Anda, Baginda Ratu…”
Para penggemar film – film produksi Walt Disney mungkin hafal kelanjutan ceritanya. Yup, ratu pun murka, Ratu berkata “APA?!?!” sambil memaki – maki cermin ajaib, bahkan mengancam akan memecahkannya.
Kisah selanjutnya tak perlu saya ceritakan ulang di sini karena kalian pasti sudah tahu, bahkan mungkin hafal ceritanya.

Ternyata, orang seperti si ratu itu tidak hanya ada dalam dongeng saja, tapi banyak… Banyak orang di dunia ini yang memiliki sifat seperti si ratu, tidak siap menyaksikan kekurangan diri sendiri dan lebih memilih mengingkarinya dengan menyalahakan pihak lain. Buktinya, sampai ada peribahasa “Buruk rupa, cermin dibelah”.

Menyalahkan orang lain atau menyalahkan lingkungan atau menyalahkan takdir atau menyalahkan yang lainnya memang mudah dan sekilas tampak tanpa risiko. Bahkan mungkin ada yang berpendapat bahwa perbuatan seperti itu adalah perbuatan yang menguntungkan karena dapat menutupi kelemahan – kelemahannya. Tapi benarkah?

Saya sangat tertarik dengan peribahasa ini dan saya rasa orang yang pertama kali menggunakan ungkapan ini untuk menggambarkan “seseorang yang menyalahkan pihak lain atas kelemahan dirinya” adalah orang yang sangat cerdas. Menurut saya, peribahas ini adalah penggambaran yang sangat tepat. Saya sepakat dengan peribahasa ini dan saya sarankan:

Jangan pernah kau pecahkan cerminmu jika yang kau lihat hanyalah bayangan buruk dari dalam dirinya! Jangan pecahkan dia karena dia tidak bersalah! Dia hanya memantulkan kembali apa yang dia tangkap dari diri kita.

Jangan pecahkan dia karena itu hanya akan melukaimu! Tidakkah kau perhatikan? Ketika kau memecahkan cermin, dia akan pecah berantakan! Tidak mungkin dia akan pecah secara beraturan. Tidakkah kau perhatikan juga? Pecahannya tajam dan siap melukai tanganmu atau kakimu atau yang lainnya! Mungkin dia tidak pernah bermaksud melukai dirimu tapi ketika kau memecahkannya, tanpa kau sadari pada saat yang sama akan muncul luka di hatimu. Bukankah kau tahu bahwa sebenarnya dia tidak bersalah tetapi kau menyalahkannya? Itulah yang membuatmu terluka.

Jangan pecahkan cerminmu karena dia akan membuat kegaduhan! Jangan dikira ketika cermin itu kau pecahkan, dia akan diam! Tidak! Dia akan membuat kegaduhan yang akan membuat orang – orang di sekelilingmu berpaling ke arahnya. Dan kegaduhannya akan membuat mereka mengetahui apa yang kamu lakukan, membuat mereka semakin mengetahui kelemahanmu. Jangan dikira orang lain tidak tahu ketika kau memecahkannya. Jangan dikira orang lain bahwa kau tengah mengkambinghitamkan pihak lain. Sadarkah kau? Pilihan sikapmu itu malah akan semakin membuat orang lain memandang rendah dirimu karena kau bukanlah seorang kesatria yang berani mengakui kelemahan atau kesalahan diri!

Jangan pecahkan cerminmu karena kau akan kehilangannya! Jika cermin itu manusia, maka bukan tidak mungkin dia akan meninggalkanmu. Siapa yang tahan selalu dipersalahkan atas kelemahan dan kesalahanmu? Jika cermin itu adalah lingkunganmu, maka kau akan selalu merasa tidak nyaman berada di dalamnya. Jika cermin itu adalah “taqdir”mu, na’udzubillaah! Kau telah menyalahkan Tuhanmu atas keterbatasanmu?! Beristighfarlah dan refresh keimananmu!

Seorang ksatria tidak akan menyalahkan pihak lain atas keterbatasan dan kesalahannya. Dia akan dengan gagah mengakui keterbatasan dan kesaalahan dirinya sembari introspeksi dan terus memperbaiki diri. Demikianlah seharusnya seorang Muslim. Demikianlah seharusnya kita! Karena kita adalah “anak – cucu” Ummar Al Faruq yang dengan gagah berani mengatakan “Ya, perempuan ini benar dan Ummar salah!” di hadapan rakyatnya saat dia menjabat sebagai kepala Negara. Karena kita adalah “keturunan” Imam Syafi’i yang berprinsip “Aku yakin pendapatku benar tapi ada kemungkinan salah. Aku yakin mereka yang tidak sependapat denganku salah tapi ada kemungkinan mereka benar.”. Karena dalam darah kita mengalir darah yang sama seperti Ka’ab bin Malik yang yang beranai dengan jujur mengakui kesalahannya saat Perang Tabuk, tanpa defense dan berani menanggung segala konsekuensinya hingga akhirna ALLAH pun menghargai tindakanannya dengan mengabadikan kisahnya dalam Al – Qur’an…

So, Jangan pecahkan cerminmu! Jagalah cerminmu karena dialah yang akan menjadi pengingat dirimu, sarana introspeksi dirimu! Dia pulalah yang akan membantumu memperbaiki dirimu!

Yogyakarta, 28 Rabi’ul Awwal 1432 H
Thursday, March 03, 2011
6.20 a.m.

Haafizhah Kurniasih

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s