Dibuang Sayang (Floating Tablet Ranitidin dan Peptic Ulcer)

Ulcer pepticum atau tukak lambung adalah suatu lesi yang hilang timbul karena adanya ketidakseimbangan antara faktor agresif dan faktor defensif (Suyono, 2001; Anwar, 2000; Guyton, 1990, Harisson, 1994; Robinson, 2004). Faktor agresif yang dimaksud adalah asam lambung yang disekresi oleh sel parietal dan pepsin yang diproduksi oleh sel zymogen. Sedangkan faktor defensif yang berperan dalam terjadinya tukak lambung ini antara lain pembentukan dan sekresi mucus, sekresi bikarbonat, aliran darah mukosa, difusi kembali ion hidrogen pada epitel dan regenerasi epitel (James, 1986). Ketidakseimbangan kedua faktor tersebut mengakibatkan peningkatan sekresi asam lambung dan mengikis lapisan mukus hingga akhirnya membentuk ulcer (Bansal, dkk, 2009).

Tukak lambung merupakan salah satu penyakit yang banyak diderita masyarakat saat ini, terutama masyarakat di negara berkembang seperti Indonesia. Bahkan, menjadi penyebab mortalitas utama di negara – negara berkembang. Sebagai gambaran, prevalensi tukak lambung di Amerika Serikat mencapai 1.84% dari total penduduk, sedangkan prevalensi tukak lambung di negara berkembang mencapai 10% (Chany S., dkk, 2009; Bansal, dkk, 2009). Suyono (2001) menyatakan bahwa berdasarkan beberapa penelitian prevalensi tukak lambung di Indonesia berkisar antara 6-15% dengan penderita umumnya berusia 20 – 50 tahun.

Lesi yang timbul pada tukak lambung disebabkan oleh banyak faktor. Oleh karenanya, pengobatan penyakit ini melibatkan beberapa jenis obat dengan strategi terapi tertentu, antara lain antibiotika, antasida, inhibitor pompa proton, Histamine – H2 bloker, dan lain – lain (Bansal, dkk, 2009).

Ranitidin hidroklorida merupakan salah satu obat untuk tukak lambung yang bekerja dengan mengurangi sekresi asam lambung. Obat golongan antihistamin ini beraksi dengan menjadi antagonis kompetitif bagi reseptor histamin – H2. Ranitidin merupakan penghambat sekresi asam lambung yang poten, empat kali lebih poten daripada simetidin. Hal ini karena ranitidin tidak hanya mengurangi volume sekresi asam lambung tetapi juga menurunkan konsentrasinya (Olguín, dkk, 2002).

Dosis ranitidin yang biasa digunakan adalah 150 mg dua kali sehari atau 300 mg satu kali sehari. Dosis konvensional 150 mg hanya dapat mengurangi sekresi asam lambung selama 5 jam, sedangkan dosis 300 mg menimbulkan konsentrasi obat dalam plasma yang fluktuatif. Ranitidin memiliki waktu paro eliminasi biologis yang relatif singkat, yaitu hanya berkisar 2,5 – 3 jam (Dave, dkk, 2004, Patil, dkk, 2010). Kedua faktor tersebut di atas kurang menguntungkan dalam terapi. Oleh karenanya, pengembangan sediaan lepas lambat ranitidin mutlak diperlukan. Di samping itu, pengembangan sediaan lepas lambat akan mengurangi frekuensi konsumsi obat. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan patient convenience dan patient compliance sehingga dapat mengurangi kemungkinan terjadinya kegagalan terapi yang diakibatkan oleh kelalaian pasien dalam mengkonsumsi obat.

Sediaan lepas lambat tradisional melepaskan sebagian besar obatnya di kolon. Adanya proses metabolisme di kolon menyebabkan rendahnya biovailabilitas ranitidin. Sehingga, secara klinis sediaan lepas lambat konvensional ini kurang berhasil (Dave, dkk, 2004). Alternatif lain yang dapat digunakan untuk mengatasi problema ini adalah dengan membuat suatu sediaan yang dapat tetap bertahan di lambung sehingga sediaan dapat terus melepaskan obatnya secara kontinyu yang pada gilirannya dapat mencapai biobailabilitas yang optimal. Sediaan semacam ini disebut dengan gastroretentive drug delivery system. Beberapa cara dapat dilakukan untuk memperlama keberadaannya dalam lambung, salah satunya dengan dibuat sediaan floating tablet. Sistem ini disebut juga sebagi sistem kesimbangan hidrodinamik, swelling and expanding systems, polymeric bioadhesive systems,modified-shape systems, high-density systems, dan lain – lain. Obat – obat dengan absorbsi buruk di kolon tetapi diabsorbsi dengan baik di bagian atas saluran cerna (lambung, duodenum, jejunum) sangat cocok untuk dijadikan sediaan gastroretentive (Dave, dkk, 2004 dan Garg & Gupta, 2008).

Floating tablet merupakan salah satu sediaan gastroretentive yang menggunakan sistem dengan densitas kecil, memiliki kemampuan mengambang, mengapung, dan tetap berada di lambung dalam beberapa waktu. Saat sediaan mengapung di lambung, obat dilepaskan secara perlahan – lahan dengan kecepatan yang dapat dikendalikan. Dengan cara seperti ini, gastric residence time (GTR) suatu obat dapat ditingkatkan dan fluktuasi kadarnya dalam plasma dapat diturunkan (Chawla et al., 2003). Floating tablet merupakan formulasi yang cocok untuk obat – obat yang bermasalah dalam hal disolusi dan / atau stabilitasnya dalam cairan usus halus, diharapkan memberikan efek lokal di lambung, sertahanya diabsorbsi di bagian atas intestin (Patil, dkk, 2010).

Ranitidin hidroklorida merupakan salah satu obat yang diharapkan bekerja di lambung dan terlepas secara perlahan – lahan dari sediaannya dalam durasi yang relatif lama. Dengan diformulasikannya ranitidin hidroklorida dalam bentuk sediaan floating tablet, dia akan terlepas sedikit demi sedikit dari sediaannya dengan kecepatan tertentu yang telah diatur. Dalam penelitian ini, floating tablet ranitidin yang digunakan diformulasikan dalam sistem effervescent. Mekanisme yang terjadi dalam sistem effervescent ini adalah melalui terjadinya reaksi asam – basa ketika sediaan berada dalam lambung. Reaksi ini akan menghasilkan gas karbondioksida yang membantu sediaan mengapung dan tetap berada di bagian atas lambung. Selanjutnya, gas tersebut akan ditangkap dan ditahan oleh gel yang terbentuk oleh hidrasi polimer sehingga akan menurunkan densitas tablet. Oleh karenanya, tablet akan semakin lama tertahan mangapung di bagian atas lambung (Dave, dkk, 2004).

Dalam pengembangan formulasi bentuk sediaan floating tablet ranitidin hidroklorida sistem effervescent untuk mendapatkan formulasi yang optimal, farmasis memerlukan serangkaian pengujian. Salah satu pengujian yang sangat diperlukan adalah uji bioavailabilitas. Uji bioavailabilitas bertujuan untuk mengetahui profil bioavailabilitas obat dalam cairan hayati hewan uji. Pengujian ini bermuara pada tujuan mengevaluasi formulasi terbaik yang dapat memberikan profil bioavailabilitas paling optimal sehingga dapat menjamin kualitas produk yang dihasilkan yang pada gilirannya sangat menentukan keberhasilan terapi.

Yogyakarta, 29 Rabi’ust Tsani 1432 H
Sunday, March 6, 2011
11.00 p.m.

Haafizhah Kurniasih

(Dari pada nganggur di lepi ga ada yang baca, mending di-up load siapa tahu ada yang membutuhkan…)<

6 thoughts on “Dibuang Sayang (Floating Tablet Ranitidin dan Peptic Ulcer)

      • Pustaka:
        Anwar, J, 2000, Farmakologi dan Terapi Obat Obat Saluran Cerna. Hipokrates. Jakarta.
        Bansal, Vijay Kumar , Sandeep Kumar Goyal, Dhruba Sankar Goswami, Shiffali Singla, Sandeep Rahar, Suresh Kumar, 2009, Herbal Approach To Peptic Ulcer Disease- Review, J Biosci Tech, Vol 1 (1),2009, 52-58.
        Chany S., Fadlina, Abdul Mun’im, Santi Purna Sari, 2009, Aktivitas Gastroprotektif Kombinasi Ekstrak Rimpang Kunyit (Curcuma domestica Linn) dan Kulit Batang Mimba (Azadircahta indica A. Juss), Laboratorium Farmakologi dan Toksikologi Departemen Farmasi FMIPA UI, Depok.
        Chawla, G., Gupta, P., Koradadia,V., Bansal, A. K., 2003, Gastroretention: A Means to Address Regional Variability in Intestinal Drug Absorption, Pharmaceutical Technology, 50-60, http://www.pharmainfo.com (diakses 25 Januari 2010).
        Dave, Brijesh S., Avani F. Amin,dan Madhabhai M. Patel, 2004, Gastroretentive Drug Delivery System of Ranitidine Hydrochloride:Formulation and In Vitro Evaluation, AAPS PharmSciTech 2004;5 (2) Article 34.
        Garg, R and Gupta, G.D., 2008, Progress in Controlled Gastroretentive Delivery systems, Trop J Pharm Res., 7 (3), 1055-1065. Diakses dari www. Taouchbriefings.com, 22 Februari 2009.
        Guyton, 199, 0Fisiologi dan Mekanisme Penyakit, Ed III, Terjemahan Petrus Adianto, Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta.
        Harrison, 1994, Gangguan Saluran Cerna, Terjemahan H.Ahmad, Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta.
        James E, Gigan MC, 1986, New developments in understanding peptic ulcer diseases Seale co. 1986, Patogenesis Tukak Peptik. Julius. Laboratorium Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Padang, dalam Cermin Dunia Kedokteran No. 79, 1992 :hal 9.
        Olguín, H. Juárez, J. Flores, G. Pérez, G. Hernández, C. Flores, A. Guillé, A. Camacho, A. Toledo, M. Carrasco, Dan I. Lares, 2002, Bioavailability of Ranitidine in Healthy Mexican Volunteers: Effect of Food, Proc. West. Pharmacol. Soc. 45: 156-158
        Patil, V. S., P. D. Gaikwad, V. H. Bankar and S. P. Pawar, 2010, Formulation And Evaluation Of Floating Matrix Tablet Of Locally Acting H2-Antagonist, International Journal Of Pharmacy&Technology, Sep-2010 Vol. 2.
        Robinson, 2004, Buku Ajar Patologi, Ed 7, Vol 2, Penerbit Buku Kedokteran, EGC, Jakarta.
        Suyono, S., 2001, Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II, Ed III, Balai Penerbit FKUI, Jakarta.

  1. Assalamualaikum,,,salam kenal mba.. saya fatur mahasiswa farmasi unlam di kalimantan.. pas blog walking,, nemu blog ini.. skalian aja mau minta pendapat mba, kebetulan pkm-p saya yang berjudul “Formulasi Tablet Sustained Release Ekstrak Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.) sebagai Antihipertensi Alami” didanai,, karna sudah lolos berarti harus dikerjakn ya mba (ya iyalah,, hhe), tapi ada satu kendala, terkait uji disolusinya (apakah ekstrak bisa dilakukan uji disolusi), atau ada cara lain untuk menggambarkan kelarutan obat tiap waktunya, saya ekstraksi pkai etanol, kemudian ekstrak kasarnya dimurnikan dengan pelarut n-heksan… apakah mba’ ada saran pemecahannya,, mohon bantuannya ya mba🙂

    #sebelum dikrim bener2 ngga kepikiran uji disolusinya.. hiks

    • Wa’alaykumussalaam wa rahmatullaahi wa barakaatuh…
      Averrhoa bilimbi L ya? Hhhhmmm…, potensial tuh… tahun lalu saya juga sempat mau bikin PKM ttg itu sebelum akhirnya berpaling ke buncis (Phaseolus vulgaris)
      Terkait uji disolusi ya?
      Sebelumnya, saya tanya dulu niihh, apa sih definisi uji disolusi?
      Masalahnya di mana? Kenapa mempertanyakan “apakah ekstrak bisa dilakukan uji disolusi?”?
      Kalau menurut saya sih bisa saja, tapi dalam PKM-P yang (Mba apa Mas nih?) bikin inis saya rasa rasa ga penting melakukan uji disolusi ekstrak. Yang diperlukan adalah uji disolusi sediaan yang sudah jadi (Tablet SR ekstrak daun belimbing wuluh)nya itu… Toh nanti yang akan digunakan pasien nantinya adalah tablet SR-nya itu kan? Bukan ekstraknya…
      Sejauh yang saya tahu, untuk mengetahui kelarutan obat tiap satuan waktu memang harus pake uji disolusi…

      Tapi mohon maaf nih,,,
      saya malah tertarik pengen tanya tentang ekstraksinya…
      Itu yakin ekstraksinya mau pake ethanol lalu dimurnikan dengan n-heksan?
      Yang membuat saya pengen nanya adalah:
      1. Zat aktifnya apa ya? Apakah sedemikian non polar hingga harus pake n-hexan?
      2. Ini kan nantinya akan dikonsumsi kan ya? Sudah check / blum apakah DepKes memperbolehkan ekstraksinya melibatkan n-hexan? n-hexan itu sangat toksik lho…

      Kalau terkait masalah sistem floating, jujur saya belum bisa banyak komentar. Setahu saya prinsipnya adalah membuat sediaan yang BI-nya lebih kecil dari cairan lambung sehingga dia bisa “melayang” di lambung. Kalau yang saya dapat waktu ngobrol sama dosen sih gambarannya mirip seperti effervescent yang bekerja di lambung gitu…. Tapi entahlah….

      Good Luck ya untuk PKM-P nya…
      Semoga tembus PIMNAS…
      Lebih jauh lagi, semoga benar2 bisa diproduksi secara massal untuk bisa dinikmati masyarakat…
      Kalaupun tidak diproduksi di negara Indonesia, semoga kelak bisa diproduksi di Negara Khilafah, untuk kesejahteraan ummat….

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s