Jangan Berkhalwat di Depan Fifi!

Yup, benar sekali! Jangan sekali–kali berkhalwat, apalagi berpacaran di depan saya kalau Anda tidak ingin saya selamatkan! Mungkin bagi Anda tindakan saya mengganggu bahkan merusak “kebahagian” Anda, namun inilah cara saya menunjukkan kasih sayang saya pada Anda!Terutama bagi Anda yang berkerudung, saya seringkali menunjukkan kasih sayang saya ini kepada Anda.

Dalam 4 hari ini, sudah 3 kali saya menunjukkan kasih sayang saya kepada saudari – saudari saya yang sedang berkhalwat. Entah itu atas nama cinta, belajar bersama, dan alasan yang terdengar paling keren: SYURA’! Pertama, ketika sedang “jalan–jalan” rutin di kampus FMIPA dan F.Geografi bersama teman–teman halqah saya. Tiba – tiba mata mata menangkap sesosok perempuan berkerudung di taman fakultas dengan kertas–kertas berserakan. Di depanya duduk seorang laki–laki. Salah seorang teman saya berkomentar “Sekarang tuh ya ikhthilath-nya, masya ALLAH…” dan saya pun membalas “Ayok, kita samperin!”. Seakan tidak percaya, teman saya yang lain bertanya “Berani?”. Ga tau kenapa, saat itu dengan mantap saya menjawab “Fulanah juga sering kayak gitu, koq!” lalu saya pun menghampiri mereka. Tanpa menganggap kehadiran laki–laki di hadapannya, saya menyapa si perempuan dengan sok ramah “Assalamu’alaykum, Mba…” sambil ngajak salaman. Si Mba tampak bingung. “Mau ngasih bulletin bagus dan publikasi kajian untuk besok pagi, hari Sabtu di maskam. Dateng ya Mba…” lanjut saya lagi sambil berlalu. Kata teman – teman yang memperhatikan aksi saya ketika mengganggu mereka, si laki–laki jadi gugup dan salting gimana… gitu. Hehehe…

Kali yang kedua, masih di fakultas yang sama tetapi di sudut taman yang lain, yang relatif lebih sepi dari yang tadi. Kali ini si perempuan kerudungnya lebih lebar. Lagi–lagi keluarlah keisengan saya “Eh…, ada lagi!” sambil melirik teman–teman saya. Pernyataan saya itu ditanggapi dengan “Ayo, Fi! Samperin lagi!”. Saya jawab aja “Gantian dunk!”. Teman saya yang lain berkata “Aku berani tapi jangan aku yang ngasihin, bareng–bareng!”. Akhirnya, kami putuskan untuk menghampiri mereka bersama–sama. Kami bertiga pun sok ramah ngajak ngobrol si perempuan tanpa mempedulikan si laki–laki.

Dan yang terbaru: Tadi sore! Menjelang maghrib di masjid kampus. Seusai koordinasi di laintai dua, kami berencana untuk bergegas pulang mengingat sekitar 10 menit lagi diperkirakan adzan maghrib akan segera berkumandang. Baru saja kami akan mengenakan sandal, seorang teman berkata “Di sini banyak orang berkhalwat. Mereka menganggap ini tempat umum sehingga tidak terkategori bersepi–sepi”. Mendengar itu, mata saya segera beraksi menyapu seluruh area maskam yang masih terjangkau. Dan… saya menemukan sesosok akhwat, perempuan berkerudung lebar dengan rok dan kemeja yang juga lebar (tampang aktivis pergerakan gitu deh…) tengah syura’ dengan seorang ikhwan di selasar masjid. Si ikhwan pun tampaknya seperti seorang aktivis masjid (oleh karenanya tadi saya mengatakan mereka sedang syura’). Mereka hanya berdua, duduk di selasar dengan jarak sekitar 2 meter, saling berhadapan dengan masing–masing memegang notes an beberapa tumpukan kertas (dokumen) ada di antara keduanya. Saya menanggapi ucapan teman saya tersebut dengan bergurau “Lagi rapat, Mba… Syura’ untuk da’wah! Hehehe… Gangguin yuuk..!” Ternyata, seruan saya ditanggapi serius oleh mereka. Teman saya yang tadi mengeluhkan banyaknya khalwat di maskam, menanggapi “Kasih publikasi”. Teman yang lain menimpali “Iya, publikasi IIC” sambil mencari – cari publikasi IIC (Islamic Issues Corner, forum kajian keislaman berbahas Inggris pekanan) di tasnya tapi ga ketemu–ketemu. Teman yang lain “Kasih AL – ISLAM!”. Saya pun segera mengeluarkan Bulletin AL – ISLAM dan publikasi IIC dari dalam tas saya. Tapi jujur, kali ini saya kehilangan keberanian untuk mendatangi “sepasang” aktivis itu. Takut disebut “tidak berakhlaq” meski sebenarnya saya tahu, kalau pun saya mendatangi mereka, saya tetap berakhlaq tapi ada rasa risih mengingat orang yang akan saya datangi kemungkinan besar juga adalah orang yang “berpemahaman”. Akhirnya saya hanya menyodorkan selembar AL – ISLAM dan publikasi IIC ke teman saya, berharap dia yang maju dan ternyata dia menyambut baik permintaan saya. Dia dengan gaya cool–nya mendatangi si akhwat “Assalamu’alaykum, Mba… Maaf Mba, mengganggu… ini ada bulletin dan publikasi bla… bla…” lagi–lagi dengan menganggap tidak ada laki–laki di depan si akhwat. Sementara si teman saya itu beraksi, kami bertiga segera berlalu sambil pura–pura tidak mengetahui aksi teman kami supaya tidak mencurigakan. Segera setelah menyelesaikan aksinya, si teman saya itu kembali dan mengatakan “malah laki–lakinya yang grogi!” Kami pun segera berlalu.

Ukhtiy…
Mungkin kalian menganggap tindakan kami adalah gangguan, keisengan, atau apalah namanya…
Tapi percayalah, kami melakukannya karena kami menyayangi kalian…, juga menyayangi diin ini…
Kalian adalah Muslimah.
Kami tahu kalian adalah Muslimah karena kalian menampakkan identitas keislaman, kerudung kalian menunjukkan itu, atribut di tas kalian, pin kalian, menunjukkan itu…

Ukhtiy…
Kami melakukannya karena kami tidak ingin kalian terjerumus dalam dosa khalwat…
Pun kami tak ingin kalian terjerumus dalam kema’siyatan – kema’siyatan lain yang dimualai dari khalwat…

Khusus untukmu wahai Ukhtiy yang mengaku dan menampakkan diri sebagai pengemban da’wah, sebagai da’iyah sebelum apa pun…
Apa yang membuatmu merasa aman untuk syura’ berdua saja dengan si ikhwan?
Secara dalil, engkau pasti telah mengetahuinya…
Selain itu, sadarkah engkau…
Tindakan kalian bisa saja menjadi pembenaran bagi mereka untuk berkhalwat…
Jika demikian, bukankah berarti kalian tengah menabung dosa atas kema’siyatan orang lain yang terinspirasi dari perbuatan kalian?
Na’udzubillaah…

Yogyakarta, 24 Rabi’uts Tsani 1432 H
Monday, March 28, 2011
10.52 p.m.

Menjelang tengah malam yang hening
Dengan cinta,

Haafizhah Kurniasih

3 thoughts on “Jangan Berkhalwat di Depan Fifi!

    • Akan selalu ada pelaku amar ma’ruf nahi munkar pada setiap masa. Sama seperti akan selalu ada pelaku ma’siyat di setiap masa. Tinggal kita memilih mau menjadi pelaku ma’siyat atau menjadi pelaku amar ma’ruf nahi munkar?

  1. Subhanallah… keren Mbak Fi, mengingatkan dengan halus. Bersikap keras menentang namun tetap lembut. Patut dilanjutkan nih aksinya… oleh kita semua yang mengaku menyayangi sesama muslim… khususnya muslimah… Jadi banyak komentku, maaf ya mbak…

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s