Local Wisdom sebagai Solusi Global. Realistiskah?

Local Wisdom atau Kearifan Lokal tengah menjadi isu yang hangat di kalangan intelektual, terlebih lagi di kampus kita tercinta ini. Bahkan awal tahun 2011 lalu UGM menjadi tuan rumah perhelatan akbar bertajuk “Local Wisdom Inspiring Global Solution” yang mempertemukan para intelektual untuk membahas kemungkinan Local Wisdom menjadi solusi atas permasalahan global. Wacana mengangkat Local Wisdom sebagai solusi atas permasalahan global tidak lepas dari keprihatinan para intelektual terhadap banyaknya permasalahan bangsa bahkan permasalahan dunia yang tidak mampu diselesaikan oleh sistem yang ada saat ini. Permasalahan yang tak terselesaikan itu merata di berbagai bidang: bidang hukum, politik, ekonomi, sosial, bahkan di bidang kesehatan serta bidang–bidang lainnya. Di saat yang sama kaum intelektual melihat bahwa kadangkala masyarakat lokal mampu menyelesaikan sebagian permasalahan tersebut dengan kearifan lokal yang berlaku di daerahnya masing–masing. Berangkat dari hal tersebut mereka menaruh harapan besar bahwa masyarakat mampu menyelesaikan permasalahan bangsa, bahkan permasalahan dunia dengan kearifan lokal yang dimilikinya. Lalu sebenarnya apa dan bagaimana kearifan lokal itu? Mampukah ia memikul tanggung jawab besar untuk menjadi solusi atas masalah global?

Makna Kearifan Lokal

Secara bahasa, kearifan lokal (local wisdom) terdiri atas dua kata: kearifan (wisdom) dan lokal (local). Dalam Kamus Inggris Indonesia John M. Echols dan Hassan Shadily, local berarti setempat, sedangkan wisdom (kearifan) sama dengan kebijaksanaan. Dengan demikian, kearifan lokal atau local wisdom dapat diartikan sebagai gagasan–gagasan setempat (bersifal lokal) yang dianggap bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik yang diemban oleh masyarakat setempat. Kearifan lokal merupakan hasil budaya masa lalu yang bernilai lokal tetapi masih dijadikan pegangan hidup secara terus–menerus. Secara konseptual, kearifan lokal merupakan kebijaksanaan manusia yang bersandar pada filosofi nilai–nilai, etika, cara–cara dan perilaku yang melembaga secara tradisional. Dalam masyarakat, kearifan lokal dapat berupa nilai, norma, etika, kepercayaan, adat–istiadat, hukum adat, dan aturan–aturan khusus. Kearifan lokal juga memiliki kedekatan makna dengan local genius serta local knowledge.

Seperti itulah yang dimaksud dengan kearifan lokal atau local wisdom. Sebelum kita mengambil keputusan final terkait kelayakannya untuk memikul tanggung jawab sebagai solusi atas permasalahan global, kita harus mengetahui seperti apakah permasalahan global yang tengah kita hadapi saat ini.

Inilah Masalah Kita

Di bidang kita, bidang kesehatan masih banyak permasalahan yang belum terselesaikan. Sebut saja tingginya angka penderita AIDS yang pada tanggal 30 September 2010 tercatat telah mencapai 22.726 kasus yang tersebar di 32 propinsi di 300 kabupaten/kota. Selain kasus AIDS, kita juga dihadapkan pada masalah gizi kurang bahkan gizi buruk yang masih mengancam anak–anak bangsa. Jangan lupakan pula tingginya harga obat yang seringkali menjadi kendala bagi pasien untuk kembali merasakan hidup sehat juga masih belum dapat kita selesaikan. Selain ketiga masalah tersebut, tentu saja masih banyak PR di bidang kesehatan yang menanti untuk segera diselesesaikan.

Berkaca dari ketiga permasalahan di atas, mari kita pelajari apakah local wisdom mampu menjawabnya atau tidak. Terkait tingginya kasus AIDS, misalnya. Berdasarkan penelitian diketahui bahwa penyebab utama penularan HIV/AIDS adalah perilaku seks yang menyimpang (mencapai 51.3%) dan penggunaan jarum suntik secara bergantian di kalangan pengguna narkoba (39,6%) (Kompas, 26 November 2010). Dari fakta tersebut, tampak jelas bahwa pangkal masalah HIV/AIDS ini adalah pergaulan bebas yang terlanjur menggejala secara global serta paham kebebasan berperilaku. Kedua hal ini muncul karena adanya kesalahan paradigma yang memandang bahwa manusia berhak mengatur kehidupannya sendiri, bebas melakukan apa pun selama tidak mengganggu orang lain secara langsung, merasa sah–sah saja meraih kekayaan dengan cara apa pun termasuk berbisnis narkoba sekalipun (meski memang secara hitam di atas putih, bisnis narkoba adalah bisnis terlarang namun faktanya bisnis narkoba sangat marak. Itu menunjukkan bahwa paradigma seperti itu memang berkembang). Berdasarkan hal ini, maka seharusnya ketika kita ingin menyelesaikan permasalahan ini selesaikanlah dengan mengubah paradigma di tengah masyarakat. Mengubah cara pandang masyarakat tentang manusia dan kehidupannya yang akan menjadi guidance dalam melakukan seluruh aktivitas dalam kehidupannya. Inilah solusi yang kita butuhkan untuk menyelesaikan permasalahan AIDS.

Di sisi lain, local wisdom memang memiliki tawaran solusi untuk meredam gejala pergaulan bebas. Masyarakat Aceh, misalnya. Mereka memiliki local wisdom berupa mengarak (mempermalukan) pasangan yang tertangkap basah tengah berpacaran. Namun, solusi ini tidak sampai pada taraf mengubah cara pandang masyarakat. Dia hanya bekerja di permukaan. Hanya efektif untuk mereka yang tertangkap dan—sesuai namanya—hanya efektif untuk masyarakat lokal Aceh saja.

Beranjak ke permasalahan kekurangan gizi yang masih mengancam banyak anak–anak bangsa. Masalah ini muncul sebagai akibat dari berbagai permasalahan lain mulai dari kurangnya pengetahuan masyarakat tentang gizi, tingkat pendapatan yang rendah, tidak meratanya distribusi kekayaan (kesenjangan sosial), hingga kepedulian antar anggota masyarakat yang rendah. Ini adalah permasalahan yang sangat kompleks. Maka, solusi yang dibutuhkan pun adalah solusi yang mampu mengurai kompleksitas semua permasalahan yang melingkupinya dan tentu saja solusi itu bukanlah solusi yang bersifat lokal melainkan solusi yang me-negara.

Demikian juga dengan permasalahan tingginya harga obat yang sangat memberatkan pasien terutama dari kalangan menengah ke bawah. Meski negeri ini kaya akan kearifan lokal berupa beragamnya obat–obat tradisional (jamu atau obat–obat herbal) serta beraneka ragam pengobatan alternatif, semua itu tidak akan cukup untuk menyelesaikan permasalahan ini karena sesungguhnya permasalahan ini lahir dari pandangan bahwa menjadi sehat adalah pilihan, bukan kebutuhan serta pandangan yang menyatakan bahwa kesehatan bukanlah hak orang yang tidak memiliki kekayaan yang cukup. Maka, solusi yang diperlukan adalah solusi yang dapat mengubah paradigma seluruh lapisan masyarakat bahwa kesehatan adalah hak setiap orang, bahwa menjadi sehat adalah kebutuhan pokok sebagaimana pangan, sandang, dan papan. Menjadi sehat bukan sekadar pilihan melainkan keharusan. Dan tentu saja upaya mengubah paradigma masyarakat tidak cukup hanya dilakukan dengan menggunakan nilai–nilai lokal saja yang hanya berlaku terbatas pada wilayah tertentu saja.

Dari beberapa contoh di atas, kita mendapatkan gambaran bahwa mungkin local wisdom memang mampu menyelesaikan beberapa persoalan di daerah tertentu, tetapi untuk menjadikannya sebagai solusi atas permasalahan global, tentu masih harus dikaji lebih dalam lagi.

Wallahu a’lam bi shawab

Yogyakarta, 11 Jumadil Ula 1432 H
Wednesday, April 13, 2011
10.33 p.m.
Haafizhah Kurniasih

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s