Catatan Perjalanan Akhir Pekan

Kali ini aku ingin bercerita tentang “liburan” yang baru saja aku lewati. Dua pekan ini sebenarnya adalah jadwal UTS. Namun karena jadwal ujian mata kuliah yang aku ambil selesai hanya sampai hari Selasa, maka sisanya (Rabu – Jumat) aku “libur”. Waktu yang tepat buatku untuk mengunjungi keponakanku yang baru saja dilahirkan. Ga baru – baru amat sih sebenarnya, lahir sejak 24 Maret tapi karena sibuknya jadwal kuliah + praktikum + tugas–tugas yang menggunung, aku baru sempat mengunjunginya pasca UTS. Hari Rabu–Kamis aku padatkan untuk menyelesaikan semua amanah sebelum aku “berlibur” seperti menulis opini terkait local wisdom, menjalin silatuhmi dengan lembaga–lembaga mahasiswa untuk menyamakan persepsi tentang local wisdom, publikasi IIC (Islamic Issues Corner), design spanduk Dialog Negeriku 3, dan lain lain. Setelah semuanya beres, aku berangkat Jumat jam 9.15 (dari kos) dengan dijemput Ibu Ojek (aku lupa, ibunya namanya siapa) menuju stasiun Tugu.

Liburan kali ini benar – benar aku manfaatkan selain untuk menjenguk keponakanku, juga untuk mengunjungi saudari–saudariku di Semarang. Perjalanan menuju Semarang terdiri atas dua episode: episode pertama (episode Jogja – Solo) merupakan episode yang menyenangkan (pengalaman pertama ke Solo sendirian plus pengalaman pertama naik PRAMEX). Episode kedua (episode Solo – Semarang) adalah episode melelahkan dan menyebalkan karena diwarnai kereta delay, mogok, bahkan terjebak tanah longsor, bahkan setelah turun di Stasiun Poncol pun masih “dikerjain” kondektur bus. Sebelum aku naik, ditanya “Jatingaleh, Pak?” mengangguk. Eh, pas sudah jalan bilang “Ga lewat Jatingaleh!” hhhuuuuuffffffffffffttttttttttt….. Tapi semua itu terbayar lunas ketika kaki ini sampai di patung kuda. Seneng sekali rasanya bisa kembali ke situ. Sungguh, ini pertama kalinya aku merasa sesenang ini menginjakkan kaki di Tembalang. Ada beragam kenangan di tanah itu yang tak mudah dilupakan.

Sambutan hangat pertama aku dapatkan dari saudariku Devia K. Arfina. Dia menjemputku di POM Bensin, ba’da maghrib di tengah rintik gerimis. Romantis ya? (Halah lebay! Hehehe…). Dia membawaku ke Rumah Binaan ‘Uyunul Ummah (Mutiara Ummat) yang biasa kami singkat menjadi U2. Di sana hanya ada tiga orang yang pernah bertemu denganku sebelumnya: Devia, Cynthia Y. Putri dan Mba Pipit Meidawati tapi ternyata semua penghuni di sana “mengenalku”. Mereka menyambutku dengan hangat, seakan aku adalah kakak/adik mereka yang lama tidak bertemu. Suasana hangat khas rumah binaan inilah yang selalu aku rindukan.

Setelah aku mandi, sambil menunggu adzan isya’ kami berbincang sejenak. Aku menanyakan kabar saudariku yang lain, Fulanah. Sudah lama aku kehilangan kontak dengannya. Sejak dia menikah, dia agak sulit dihubungi. Bahkan nomor HPnya sudah tidak aktif. Dari obrolan singkat itu, aku tahu bahwa Fulanah sudah hamil lima bulan. Wah, seperti apa ya dia sekarang dengan kehamilannya. Aku ingin sekali bertemu dengannya. Tapi ketika aku mengutarakan keinginanku itu, para penghuni U2 mengatakan bahwa sudah beberapa kali mereka mencoba menemui Fulanah tapi tidak pernah berhasil. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa suami Fulanah (sebut saja Fulan) melarangnya bertemu teman–temannya. Aku menjadi semakin penasaran, apa yang sebenarnya terjadi pada Fulanah. Melihat keinginanku yang sangat kuat untuk menemui Fulanah, Mba Pipit sampai mengatakan “Yasudah, sana pergilah ke kontrakannya. Kalau kamu berhasil menemuinya, berarti kamu orang yang sangat beruntung”. Mendengar itu, spontan aku menjawab “Yuuk…, suaminya kenal aku koq! Masa sih jauh–jauh dari Jogja aku juga ga boleh ketemu?!”. Mba Pipit kaget “Lho, kamu kenal Fulan, Fi?”. “Aku ga kenal dia tapi dia kenal aku.” Dikira aku sekadar narsis, Mba Pipt dan Cyn memasang mimik yang berbeda. Melihatnya, buru–buru Devia membenarkan pernyataanku “Iya koq bener! Fulan kenal Fifi. Ceritanya panjang!”. Entah siapa yang kemudian menyahut “Yaudah, kalau gitu, Fifi aja yang di depan! Devia dan Cyn sembunyi di belakang! Mungkin Fulanah bisa ditemui.” Kami menyepakati usul itu.

Segera setelah adzan isya’ kami shalat dan menuju ke kontrakan Fulanah bersama suaminya yang hanya berjarak beberapa puluh meter dari U2. Hanya berbeda gang. Sesampainya di sana, kami ragu karena dari ketiga kontrakan yang ada di sana semuanya sepertinya dihuni oleh pasangan tetapi perempuannya tidak ada yang berkerudung. Akhirnya kami menanyakan kepada salah satu penghuni kontrakan apakah Fulanah masih ngontrak di sana atau tidak, ternyata mereka sudah pindah sejak akhir tahun 2010 lalu. Seseorang yang lain memberitahu kami di mana alamat kontrakan baru mereka. Yang membuat aku semakin penasaran karena si tetangga tsb menanyakan kepada kami kenapa Fulanah tidak pernah mau menemui teman–teman yang mengunjunginya, bahkan dengan para tetangga pun mereka sangat tertutup.

Kami tidak putus asa. Kami datangi alamat yang diberikan mantan tetangga Fulanah tadi. Sesampainya di sana, rumah yang kami “curigai” terlihat ramai, banyak orang. Devia melihat sesosok yang mirip dengan Fulan. Kami pun memastikan dengan bertanya kepada tetangganya, apakah benar Fulanah dan suaminya tinggal di sana. Si tetangga menjawab “Lha, itu orangnya!” sambil menunjuk ke ruang tamu rumah yang kami maksud. Ya, di sana aku melihat Fulanah dan suaminya seperti sedang menemui sesorang di ruang tamu. Sesuai kesepakatan, akulah yang di depan. Melihatku, Fulanah melambaikan tangan sambil memanggil namaku namun tetap tidak beranjak dari tempat duduknya. Aku balas lambaiannya. Dua kali Fulanah melakukan hal yang sama. Tidak lama kemudian, Fulan yang duduk tepat di samping Fulanah memepersilakan “Kamu temui dulu sana!”. Fulanah pun keluar. Alhamdulillaah…

Tetapi kemudian…
Innalillaah…, kakinya? Jilbabnya? Tangannya? Aku masih menahan diri untuk tidak mengomentari penampilannya. Setelah cipika–cipiki seperlunya, dia mengajak kami ke warung sea food yang terletak tepat di depan rumah itu. Sadar pandanganku selalu mengarah ke kakinya yang terbuka, setelah memesan makanan dia menunjukkan kaos kakinya sambil berkata “Karena tadi hujan, maka aku menyelamatkan kaos kakiku!” aku cuma tersenyum simpul “defense” batinku. Aku yakin dia pasti sadar bahwa apa yang dia lakukan itu salah. Tapi kenapa dia melakukannya?

Jilbabnya? Aku tidak yakin yang dikenakannya itu jilbab. Mungkin hanya sekadar “daster” ibu hamil. Dasternya itu tidak sampai menutup mata kaki. Lengannya, koq sepertinya pendek. Lengannya terlihat sampai hampir ke siku. Astaghfirullaah…

Kami bertiga berusaha membawa obrolan malam itu ke arah da’wah. Sebagaimana layaknya pengemban da’wah ketika bertemu saudarinya sesama pengemban da’wah yang lama tak bertemu, maka obrolannya tidak lepas dari aktivitas da’wah. Tentang halqah, tentang mad’u, tentang opini yang sedang diserukan, dan lain lain. Tapi Fulanah selalu menghindar. Dia lebih tertarik menceritakan janin dan suaminya. Dari bagaimana dia menceritakan suaminya, tampak jelas bahwa Fulanah sangat mencitainya. Wajar tapi tetap aku merasakan ada yang aneh.

Ketika obrolan mulai menjauh dari da’wah, salah seorang di antara kami selalu membawanya kembali ke arah da’wah. Seperti pada fragmen ini:
Cyn: Kamu koq jadi item tho, Fi? Dulu tuh kamu putih lho…
Saya: Hehe…
Fulanah: Heh, jangan bilang gitu! Nanti dia ga bisa narsis lagi!
Saya: Biarlah kulit ini hitam, yang penting aqliyah dan nafsiyahnya tetap cantik, tidak hitam! (gaya sok serius). Hehehe…
Fulanah: Eeehhh…, ternyata tetep narsis aja!
Saya: Jangan salah… Ga narsis, ga eksis… Hehehe…
Devia: Fi… Ga ngaji, ga eksis!
Saya: Yup! Benar sekali! Ga ngaji, ga eksis!
Krik… Krik… Krik…
Mendadak suasana menjadi garing. Fulanah terdiam. Dia pun segera mengalihkan pembicaraan. Kembali menceritakan suami dan janinnya.

Dinner kali ini ku rasakan sebagai dinner yang paling tidak enak. Bukan karena makanannya yang tidak enak. Sebagai seorang penggemar sea food, makanan yang disajikan malam itu sebenarnya cukup menggoda selera tetapi pemandangan yang aku lihat di hadapanku itulah yang membuatku tidak dapat menikmatinya. Pelanggaran hukum syara’ di depan mata. Pelanggaran yang dilakukan seorang saudari yang dulu bersama–sama memperjuangkan tegaknya hukum syara’. Menyaksikan seorang saudari meninggalkan da’wah adalah pemandangan yang sangat menyayat hati.

Seandainya Fulanah membaca ini, semoga dia menyadari bahwa dialah yang sedang aku ceritakan. Aku pun ingin dia menyampaikan pesan ini:
“Dalam hidup kita memang tidak bisa terus–menerus berlari. Ada kalanya kita perlu berhenti sejenak sekadar untuk melihat peta dan memastikan bahwa kita berada pada jalur yang benar. Setelah itu, kita harus segera berlari kembali. Berlari dengan kecepatan yang lebih tinggi dan menyusul ketertinggalan kita. Bukan berhenti untuk selamanya, apalagi berbalik ke belakang!”

Aaah…, aku tidak yakin Fulanah membaca catatan ini. Akhirnya, aku kirimkan saja pesan di atas via SMS dan mengharapkan respon darinya.

Yogyakarta, 20 Jumadil Ula 1432 H
Saturday, April 23, 2011
08.33 p.m.

Haafizhah Kurniasih

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s