Antioksidan dalam Kosmetik (Potongan Laporan Praktikum Analisis Kosmetik)

Kulit manusia merupakan suatu barrier yang melindungi bagian dalam dalam tubuh dari lingkungannya. Dalam kehidupannya, manusia tidak dapat terlepas dari paparan sinar matahari serta substansi–substansi lain dalam lingkungannya yang seringkali merangsang produksi radikal bebas dalam kulit. Radikal bebas tersebut memiliki daya oksidatif yang sangat kuat sehingga mereka dapat dengan cepat berinteraksi dan mengoksidasi segala sesuatu yang ada di sekitarnya seperti DNA, lipid, protein, dan lain–lain. Hal tersebut berpotensi mengakibatkan rusaknya membran sel hingga menyebabkan kematian sel atau disorganisasi dalam tubuh manusia.
Selain itu, sebagian besar organisme termasuk manusia dan mikroba yang hidup di permukaan kulit manusia senantiasa memproduksi oksigen radikal sebagai hasil dari proses metabolisme. Sekitar 2–3% oksigen dalam level mitokondria dikonversi menjadi oksigen radikal. Sebagian radikal tersebut memang berguna bagi manusia untuk melawan virus dan bacteria pathogen namun sebagian yang lainnya sangat berbahaya dan harus segera dinetralkan sebelum mengalami reaksi lebih lanjut dengan substansi lainnya.
Untuk menghindari kerusakan yang diakibatkan oleh radikal bebas, kulit memerlukan perlindungan dari senyawa–senyawa antioksidan yaitu senyawa yang dalam konsentrasi relatif kecil dapat menghambat atau mengurangi daya oksidasi suatu senyawa oksidator yang berada dalam konsentrasi relatif tinggi (Gutteridge, 1994). Dewasa ini, penggunaan senyawa antioksidan baik secara sistemik maupun lokal semakin digemari karena dipercaya dapat mencegah berbagai macam penyakit serta melindungi kulit dari kerusakan yang diakibatkan oleh radikal bebas. Penggunaan antioksidan topical banyak ditemui pada sediaan kosmetik, terutama yang ditujukan untuk perawatan dan anti aging.
Dalam sediaan kosmetik, semua senyawa antioksidan bekerja seperti “rantai pelindung” dalam artian semua senyawa tersebut bekerja secara sinergis dan saling melindungi satu sama lain dari kerusakan yang mungkin terjadi ketika menetralkan radikal bebas. Sehingga, seringkali senyawa–senyawa antioksidan tersebut hanya efeksit jika digunakan secara bersama–sama (dalam bentuk kombinasi dengan senyawa lain). Oleh karenanya, dalam menetapkan aktivitas antioksidan suatu sediaan kosmetik seringkali tidak diperlukan analisis aktivitas senyawa antioksidan tunggal, cukup dilakukan penetapan aktivitas antioksidan sediaan kosmetik tersebut tanpa perlu diisolasi senyawa antioksidannya.
Secara sederhana, antioksidan dapat diklasifikasikan ke dalam dua golongan yakni antioksidan primer (chain breaking antioxidant) dan antioksidan sekunder (preventative antioxidant) (Madhavi, 1996).
Antioksidan primer bekerja dengan cara sebagai berikut:
L. + AH  LH + A.
Antioksidan AH menetralkan radikal bebas L. dengan melepaskan proton radikal dan kemudian menjadi radikal baru A. yang relatif lebih stabil daripada radikal L. sehingga relatif tidak membahayakan.
Sedangkan antioksidan sekunder bekerja dengan cara menurunkan kecepatan reaksi oksidasi. Sebagai contoh, chelator logam (missal: iron–sequesterants) yang dapat menurunkan kecepatan reaksi Fenton dalam membentuk hidroksil radikal:
Fe2+ + H2O2 → Fe3+ + .OH + OH-
Fungsi utama antioksidan adalah untuk menekan aktivitas radikal bebas dengan menghambat pembentukannya dan/atau membentuk radikal baru yang lebih stabil (scavenging). Aktivitas antioksidan yang bekerja dengan cara membentuk radikal baru yang stabil tergantung pada reaktivitas dan konsentrasi antioksidan. Dalam suatu medium multiphase seperti emulsi (misal: body lotion), lokalisasi antioksidan dalam interfase sangat penting dan menentukan efektivitasnya (Apak, 2007).
Aktivitas antioksidan suatu senyawa dapat ditetapkan melalui metode Transfer Atom Hidrogen (HAT) atau Transfer Elektron (ET). Prinsip metode HAT adalah dengan memanfaatkan kontrol kinetic, termasuk kompetisi yang terjadi antara antioksidan dan substrat memperebutkan peroksil radikal yang akhirnya akan mendekomposisi senyawa azo. Metode ET dilakukan berdasarkan reaksi reduksi yang dialami oleh oksidan sehingga akan mengubah warnanya (ketika tereduksi). Contoh metode HAT antara lain ABTS/TEAC, CUPRAC, DPPH, Folin–Ciocalteu, dan Metode FRAP. Masing–masing metode tersebut menggunakan reagen redoks kromogenik dan standar potensial yang berbeda.
Metode DPPH tepat digunakan untuk menganalisis senyawa antiaoksidan yang larut dalam pelarut organik, khususnya alkohol. Metode ini banyak digunakan untuk mengukur dan membandingkan aktivitas antioksidan senyawa–senyawa fenolik. Namun, metode ini memiliki kelemahan karena perubahan absorbansi DPPH pada panjang gelombang 517 nm (lambda max) sengat sensitif terhadapa cahaya, oksigen, perubahan pH, dan tipe pelarut. Kelemahan lainnya adalah karena adanya pengaruh faktor sterik (molekul berukuran keil memiliki kesempatan yang lebih besar untuk beraksi dengan senyawa radikal), serta sempitnya daerah kurva konsentrasi versus absorbansi yang linier. Selian itu, senyawa karetenoid dapat emngacaukan pembacaan absorbansi DPPH pada panjang gelombang sekitar 515nm.

One thought on “Antioksidan dalam Kosmetik (Potongan Laporan Praktikum Analisis Kosmetik)

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s