Kematian yang “elite”

Salah satu kerjaan mahasiwa–mahasiswi KKN ketika tidak ada program dan nganggur di pondokan adalah nonton film. Aku yang aslinya tidak suka film pun selama KKN mendadak berubah menjadi pengikut aliran “sufi” (suka film). Dari yang awalnya aku diledekin teman–teman “Satu – satunya film yang Fifi tonton cuma ‘One Liter of Tears!’” sampai akhirnya di sini aku menonton beberapa judul film meski seringkali cuma nonton sekilas, tidak sampai selesai. Suatu hari film yang kami tonton (lebih tepatnya mereka yang nonton karena aku nyambi FB-an dan buka beberapa situs lainnya) berjudul “Dikejar Setan” (kalau tidak salah). Judulnya ga elite banget ya? Hehehe…
Di sini aku tidak akan membedah isi film tersebut. Rajin amat membedah film seperti itu, ga penting. Amat aja ga serajin itu koq… Iya/ga, Mat? Aku cuma tergelitik dengan komentar teman–teman menanggapi kematian salah satu tokoh yang “dikejar–kejar setan” dalam film itu. Si tokoh mati kesetrum ketika mandi di kamar mandi. Kompak teman–teman tertawa. Salah seorang dari mereka berkomentar “Aduh…, matinya koq ga elit banget ya? Mati kesetrum di kamar mandi, gitu? Ckckck… Kalau ditanya ‘Mati kenapa?’ ‘kesetrum’ ‘di mana?’ ‘di kamar mandi’ ‘lagi mandi pula…’. Aduuuh…., ga OK banget..”. Dia menyambung lagi “Mending kalau kesetrumnya di tiang listrik, lagi benerin apa gitu… Agak lebih keren dikit kematiannya…” Yang lain nyambung “Iya! Ga elite banget! Mati itu ya mbok yo di medan perang, pake badge negara, gitu… Lha ini, mati kesetrum di kamar mandi, lagi mandi pula…”
Sepakat… Mati kesetrum di kamar mandi pas lagi mandi, apalagi gara–gara ketakutan dikejar setan adalah kematian yang ga elit, ga keren, dan ga banget. Sepakat juga dijemput ajal dalam keadaan sedang membantu menyelesaikan permasalahan ummat (exp. Benerin listrik di tiang listrik) lebih elit dan lebih terhormat dari sekadar mati kesetrum ketakutan dikejar–kejar setan. Sangat sepakat bahwa kematian paling elite adalah kematian di medan perang dengan badge negara, dengan catatan negara yang dibela adalah negara Islam, Khilafah Islamiyah yang kita rindukan…
Komentar teman–teman itu membuatku berpikir “Ketika kelak ajal menjemputku, dalam keadaan seperti apakah aku? Bisakah aku menemuinya dalam keadaan yang “elite”?” Bagiku, bagaimana pun gambaran kematian tidak bisa dijadikan bahan tertawaan. Sekonyol apa pun keadaan itu. Aku benar–benar tidak mampu menjadikan gambaran kematian sebagai bahan tertawaan karena aku tidak tahu bagaimana keadaanku saat kematian menjemputku. Candaan dari teman–teman tentang kematian tidak pernah bisa aku tanggapi dengan candaan pula. Seringkali teman–teman bercanda “Ayo, mandi! Apa mau dimandiin sekalian dikafani?”. Atau “Aku shalatin sekalian!”. Kadang–kadang aku menjawabnya dengan kata “Aamiin…” karena itu menunjukkan bahwa ketika kelak ajal menjemputku, aku dalam keadaan beriman… Juga ketika ada yang mencandai “Fi, dapat salam dari Yang Di Atas! Katanya ‘kapan pulang?’”. Aku malah menanggapinya dengan senang. Dapat salam dari Yang Di Atas? Dirindukan oleh Yang Di Atas? Wooww…, mau!!!! Bukankah dulu Khadijah r.a. pun mendapat salam dari Yang Di Atas dan dijanjikan istana di jannah tertinggi? Mau…. Maka, ketika ada yang mencandaiku demikian, aku malah menjawabnya “Aaaaamiiin…, kapan pun DIA menginginkan!”…

Sardonoharjo, 18 Ramadhan 1432 H
Thursday, August 18, 2011
9.03 a.m.
Di kamar pondokan KKN yang “over populated”

One thought on “Kematian yang “elite”

  1. Bener sekali Mbak Fi, tentang kematian menjadi bagian yang sensitif dan sering bikin sendu. Paling takut kalau jadi su’ul khotimah, naudzubillah… Paling menginginkan khusnul khotimah… dan ngeri juga dengan ungkapan bahwa malaikat maut mengunjungi kita 26 kali (kayaknya) dalam sehari.

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s