Antara Miss World, Miss Universe dan Miss Ethawa

Kuliah Kerja Nyata (KKN) adalah salah satu “mata praktikum” pembelajaran berinteraksi dengan masyarakat yang sangat berkesan. Ada berbagai kesan baik, juga kesan buruk yang mungkin tak sedikit. Itu pula yang saya rasakan setelah menyelesaikan “praktikum” KKN di Desa Sardonoharjo Kecamatan Ngaglik, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta beberapa hari yang lalu. KKN yang dilakukan selama kurang lebih dua bulan itu meninggalkan banyak pelajaran berharga untukku.

Kegiatan mahasiswa KKN pada pekan pertama pasca penerjunan adalah “observasi wilayah”. Kalau mau jujur, istilah observasi sebenarnya hanyalah akal–akalan saja supaya tampak “keren” sedikit karena sesungguhnya lebih tepat disebut sebagai “jalan–jalan” mengelilingi desa sambil menikmati alam pedesaan yang menawan. Itu pula yang kami lakukan pada pekan pertama menginjakkan kaki di Desa Sardonoharjo Kecamatan Ngaglik Kabupaten Sleman. Desa yang terletak di kaki Merapi ini menyajikan pemandangan alam yang cukup indah, wajar jika pemerintah desa setempat mencanangkan desa ini untuk menjadi desa wisata. Pekan pertama kami berkeliling menikmati persawahan (meski sebenarnya sawah adalah hal yang biasa bagi saya karena di depan rumah orang tua saya juga sawah, hanya saja yang berbeda adalah hawa dingin di sini yang sampai membuat mulut kami berasap ketika berbicara), kolam budi daya ikan, budi daya jamur, sungai khas pegunungan, air terjun, bumi perkemahan, peternakan kambing perah, dan lain–lain.

Ada kisah menarik ketika kami mengunjungi peternakan kambing perah ethawa. Pagi itu saya bersama seorang teman dari cluster sosio humaniora dan seorang teman dari cluster agro kompleks mengunjungi Kelompok Ternak Sakinah yang mengembangkan kambing perah Peranakan Ethawa (PE). Kami ditemui oleh salah seorang peternak, tapi saya lupa namanya siapa. Masing–masing dari kami menanykan banyak hal yang terkait dengan asal cluster kami, mencari celah barangkali ada kebutuhan meraka yang bisa menjadi program kerja KKN kami. Obrolan terasa mengalir begitu saja karena si Mas peternak sangat terbuka, memberikan informasi apa pun yang kami butuhkan bahkan tanpa ditanya pun beliaunya bercerita sendiri. Hobby cerita kayakanya memang. Hehehe…

Yang menarik adalah ketika si Mas Peternak (sebut saja begitu yak arena saya lupa nama Mas-nya siapa) bercerita tentang “Miss Ethawa”. Kami bertiga sempat kaget, koq seperti kontes kecantikan saja? Dan ternyata memang benar, itu adalah ajang kontes kecantikan khusus kambing keturunan Ethawa. Si Mas Peternak bercerita dengan penuh semangat tentang cita–cita kelompok ternaknya untuk bisa menjuarai kontes kecantikan tersebut. Parameter penilaiannya pun ternyata mirip–mirip dengan parameter penilaian kontes–kontes kecantikan wanita. Beberapa yang saya ingat nih, tinggi badan (diukur dari ujung kaki hingga punggung kambing) syarat minimalnya berap gitu, saya lupa. Mirip banget kan dengan kontes kecantikan wanita yang mempersyarakatkan tinggi badan minimal (kalau ga salah) sekitar 170 cm? Paramenter selanjutnya adalah linggar perut dan lingkar dada. Tambah mirip lagi deh tuh. Berat badan dan panjang badan juga. Aduh… mirip banget dengan kontes kecantikan wanita.

Si Mas Peternak melanjutkan ceritanya bahwa kambing yang telah mendapat gelar “Miss Ethawa” bisa mendapatkan hadiah jutaan rupiah dan bisa dihargai hingga puluhan juta rupiah. Katanya, harga kambing penyandang gelar “Miss Ethawa” memang tidak masuk akal karena itu sudah terkait hobby. Miss Ethawa tidak lagi dihargai karena kemampuannya menghasilkan susu (kemampuan utama kambing Ethawa) atau kesuburannya. Dia semata–mata dinilai karena “kecantikannya”. Nah, jadi semakin mirip dengan para pemenang Miss – Miss lainnya. Miss World, Miss Universe, atau turunannya di berbagai negeri. Mereka memang dihargai sangat tinggi, bahkan dengan harga yang tidak masuk akal. Namun sayang, harga yang mereka dapatkan bukanlah harga atas karya mereka, bukan harga atas sumbangsih mereka untuk masyarakat, bahkan bukan harga atas sisi–sisi yang menjadikan mereka sebagai manusia. Semua itu hanyalah harga atas kecantikan dan kemolekan tubuh mereka yang dengan “ikhlas hati” mereka pertontonkan di depan umum. Sangat mirip dengan Miss Ethawa.

Nah, masih mau jadi Miss – Miss seperti itu?
Siap–siap aja deh untuk bersaing dengan kambing milik Mas Peternak itu….
Hehehe….

Menikmati kehangatan keluarga dan rumah yang penuh kenyamanan (insya ALLAH rumah yang penuh barakah yang selalu aku rindukan)
Tegal, 29 Ramadhan 1432 H
Sunday, August 28, 2011
8.02 p.m.

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s