Sepenggal Episode di Sardonoharjo

Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan sebuah pembelajaran yang sungguh berkesan dan membuka mata saya tentang banyak hal. Melalaui interaksi selama KKN baik dengan sesame mahasiswa dari disiplin ilmu yang berbeda, interaksi dengan institusi terkait, maupun dengan masyarakat sekitar saya semakin menyadari bahwa masing–masing bidang ilmu apalagi profesi memiliki tantangannya masing–masing. Setiap disiplin ilmu memainkan peran pentingnya masing–masing dalam kehidupan yang sama–sama penting. Tidak ada satu biang ilmu pun atau satu profesi pun yang berhak mengaku sebagai bidang ilmu atau profesi paling penting atau paling unggul. Semuanya diperlukan dalam kehidupan.

Pekan pertama pasca perkebunan kami lebih banyak berinteraksi dengan sesama mahasiswa KKN untuk mengakrabkan diri. Kami lebih banyak berdiskusi di dalam rumah membahas program–program kerja yang akan dilaksanakan pada pekan–pekan berikutnya. Di dalam rumah, saya mengakui kehebatan masing–masing teman dari empat cluster yang berbeda: Kesehatan, Agro Kompleks, Saintek (Sains [F.MIPA, F.Biologi, F.Geografi, dan F.Teknik), dan Sosio Humaniora. Seorang teman dari Agro Kompleks yang mengambil jurusan Perikanan, dia begitu lihai mengolah ikan menjadi aneka makanan lezat yang tidak membosankan. Dia pun mengajari kami bagaimana membuat stick nugget, bakso ikan, dan lain–lain. Seorang teman dari cluster Saintek membuat saya terdiam karena saya tidak mengerti apa–apa tentang program yang dia buat juga istilah–istilah yang dia gunakan dalam pemrograman. Yang lainnya dari Sosio Humaniora membuat saya terkesan dengan mudahnya dia memahami situasi politik yang terjadi dibandingkan teman–teman yang berasal dari cluster lainnya.

Pekan kedua, kami mulai menjalankan program yang berkaiatan dengan masyarakat sekitar. Program pertama yang kami jalankan adalah program gabungan yang melibatkan seluruh mahasiswi (mahasiswanya tidak terlibat secara langsung) peserta KKN. Program tersebut kami laksanakan di SD Negeri 1 Sardonoharjo selama kurang lebih dua pekan. Selama dua pekan itu kami “berperan” seolah–olah menjadi gurus SD. Saya dan seorang teman lainnya yang juga dari cluster Kesehatan mengajar tentang PHBS. Teman yang dari Agro mengajar tentang GEMAR IKAN (Sampai sekarang pun saya belum tau GEMAR IKAN itu kepanjangannya apa. Hehehe…). Sedangkan yang dari Sosio Humaniora mengajar Bahasa Jepang dan PRAMUKA. Sebenarnya semua itu hanya masalah PJ dan konseptor saja karena ketika terjun mengajar, semuanya terlibat di hampir seluruh kegiatan. Saya ikut mengajar GEMAR IKAN, Bahasa Jepang, juga PRAMUKA. Demikian juga mereka. Mereka pun terlibat dalam PHBS (tentu sebelum terjun di-training dulu di rumah).

Pengalaman pertama mengajar SD adalah membantu mengajar Bahasa Jepang di Kelas IV. Busyeett… susah bener anak–anak ini diajak mendengarkan. Ribut mulu…. (salah seorang teman menyebut mereka sebagi rocker karena sikapnya seperti penyenyi rock yang lagi manggung, teriak–teriak, jingkrak – jingkrak ga jelas…). Ngajarnya cuma satu jam, lelahnya masya ALLAH… Hausnya minta ampun karena harus saingan suara, ikutan teriak–teriak.

Selesai pelajaran Bahasa Jepang, selanjutnya saya membantu teman mengajar GEMAR IKAN melalui kegiatan mewarnai gambar ikan (sebenarnya saya juga agak bingung. Nyambungnya koq kayaknya jauh gitu ya antara mewarnai gambar ikan dengan tujuan utama supaya mereka doyan makan ikan. Tapi ya sudahlah…) yang sesuai jadwal seharusnya dilakukan di kelas VI, menggantikan mata pelajaran kesenian yang kebetulan guru pengampunya sedang mengikuti semacam seminar atau apa gitu… Belum aja masuk kelas, kami sudha disambut muka masam sebagian siswi kelas VI. Dengan nada tidak suka, beberapa dari mereka mengatakan “Mau ngajarin nggambar, Mba? Ya Ampuun… Nggambar? Kayak anak SD aja!” Giliran saya yang bingung. Lha?! Ni anak ga ngerasa kalau dirinya masih SD ya? Dikira dia sudah SMA kali ya? Perasaan sampai SMP juga masih ada pelajaran menggambar dan mewarnai. Bahkan SMA pun seingat saya masih ada pelajaran menggambar…

Begitu masuk kelas, kami disambut dengan muka – muka yang masam luar biasa. Mereka menolak pelajaran menggambar dan “mengusir” kami dengan alasan jam pelajaran kesenian sudah selesai padahal pihak sekolah sudah member kuasa kepada kami untuk mengambil jam itu jika jam kesenian tidak mencukupi. Tapi ya sudahlah sepertinya ga asyik juga memaksakan diri mengajar orang yang menolak diajar. Akhir penanggung jawab program GEMAR IKAN ini pun memutuskan untuk membatalkan mengajar GEMAR IKAN di kelas VI hari itu.

Tak bisa dibayangkan kalau saya benar–benar jadi guru SD menghadapi anak–anak yang demikian setiap hari, sendirian pula (FYI, selama KKN kami mengajar satu kelas di-handle oleh dua orang). Bisa kurus kering saya, padahal sekarang juga sudah kurus. Hehehe…

Pada saat evaluasi program hari itu, ternyata yang “mengeluh” bukan hanya saya tetapi teman–teman KKN yang lain juga “mengeluh”. Bahkan saking sebelnya, salah seorang teman sampai berujar “Coba ya mereka anak SMA, pasti sudah aku jawab ‘Heh, lo ngarep kan pake ini?!’ [sambil nunjuk jas almamater berlogo surya binolong]. Senga’ banget tu anak! Tapi sayangnya mereka masih anak SD. Yasudahlah…, sabar saja…”

Hari – hari berikutnya kami memang sudah tidak disambut dengan sikap senga’ seperti itu lagi (karena kami “meninggalkan” kelas VI memang. Hehehe…). Tantangan kami sedikit berkurang, kami hanya harus menyiapkan energi ekstra untuk menghadapi para rocker yang ada di setiap kelas (lebih tepatnya kami harus menghadapi kelas rocker karena jumlah rockernya jauh lebih banyak daripada yang bukan rocker). Melihat kenyataan yang demikian itu, ketika tiba saatnya pelatihan cuci tangan dan gosok gigi yang melibatkan seluruh siswa dalam satu waktu yang sama, yang itu artinya mau tidak mau hari itu kami harus menghandle tiap kelas seorang diri (dan saya penanggungjawab plus konseptornya!), saya pun berbuat “curang”. Saya sengaja melibatkan mahasiswa (awalnya yang terlibat hanya mahasiswinya saja) peserta KKN untuk meng-handle kelas yang kami rasa paling “bermasalah” yaitu kelas VI dan Kelas IV. Saya dan teman–teman mahasiswi “bersekongkol” untuk membuat mereka merasakan bagaimana rasanya mengahdapi anak–anak SD karena sebelumnya mereka selalu “berisik” dengan mengatakan “Kalian bikin program di SD tidak melibatkan kami! Seolah – olah yang KKN Cuma kalian berenam, putri semua! Yang putra tidak dilibatkan! Kita kan di sini berdelapan. Bukan cuma kalian berenam!”. Maka, saya (dengan persetujuan teman–teman putri yang lain) pun sengaja menempatkan mereka di kelas paling bermasalah.

Dan hasilnya adalah…. Salah seorang dari mereka mengatakan “Haduh! Cukup sekali saja aku diajak ngajar SD! Terima kasih kalian tidak melibatkan aku dalam program kalian di SD!” Selanjutnya mereka tidak pernah mau lagi diajak ke SD. Kapok. Hahaha…

Pengalaman yang seru lagi ketika kami mengajar PRAMUKA. Hari itu benar–benar crowded banget. Terjadi perkelahian kecil antara Fidan dan Hafidz (mereka siswa kelas III) di kelas. Biasa lah…, anak laki–laki. Terjadi dorong–mendorong di sekitar “guru” (maksudnya mahasiswi KKN, gitu…). Fidan jatuh dan secara tidak sengaja lehernya terkena ujung pena Bu “Guru” sampai terluka (sedikit berdarah), Fidan nangis. Nah, anak–anak ramai menyalahakan Hafidz. Dia dituduh mendorong Fidan hingga terkena ujung pena Bu “Guru”. Hafidz merasa tidak bersalah karena bukan dia yang mendorong Fidan. Entah bagaimana ceritanya, tiba – tiba ada siswa kelas V bernama Arief yang masuk dan turut menyalahkan Hafidz. Pertengkarannya sekarang berubah, bukan lagi antara Hafidz dan Fidan tetapi antara Hafidz dan Arief. Masalah antaraFidan dan Hafidz sudah selesai dengan Hafidz meminta maaf pada Fidan meskipun dia tetap merasa tidak bersalah. Yang jadi masalah adalah kenapa Arief ikut–ikutan dan dai tidak mau menerima permintaan maaf dari Hafidz. Ada maslah apa di antara mereka berdua? Saya juga bingung… Ada tokoh satu lagi yang terlibat dalam pertengkaran itu, yaitu Dwi. Saya juga tidak tahu apa peran Dwi dalam kasus ini. Entahlah… Pokoknya dia terlibat.

Nah, yang lucu dari kasus ini adalah…. Si Bu “Guru” ikutan nangis! Dan teman Bu “Guru” yang juga ngajarb di Kelas III juga ikutan nangis. Jadi, di kelas itu ada 4 (empat) orang yang nangis: Fidan (korban), Hafidz (korban juga, karena dia menjadi tertuduh padahal menurut dia, dia tidak bersalah), dan dua orang gurunya. Hahaha… Jadilah itu satu sekolahan heboh dengan sesuatu yang bermula hanya dari perkelahian kecil antara Fidan dan Hafidz. Mana ada guru SD ikutan nangis ketika ada muridnya yang nangis gara–gara berkelahi?

Hari berikutnya, waktu itu sudah akhir–akhir nih… Sudah cukup lama dan cukup capek ngajar di SD. Kami sudah kewalahan menghadapi anak–anak kelas VI yang memang tidak pernah ramah pada kami. Mereka itu dipersilakan masuk kelas susahnya minta ampun…. Di saat kami menyerah dan membiarkan mereka melakukan semau mereka, tiba – tiba datanglah Guru SD yang asli. Beliau Cuma berkata “Sekarang pelajarannya apa?” sambil berjalan dan ajaibnya mereka pun langsung menjawab “IPS, Bu…” sambil berjalan masuk ke kelas. Padahal yang ngomong tadi pun bukan guru kelas mereka, pun bukan guru IPS yang seharusnya mengajar mereka saat itu. Melihat peristiwa itu, kami hanya bisa saling menatap dan heran, koq bisa ya? Semudah itu?

Dari dua pekan interaksi kami bersama anak–anak SD kami harus mengakui guru–guru SD tidak bisa dipandang sebelah mata. Mereka memiliki skill yang tidak kami miliki. Mereka bisa mengendalikan anak–anak SD dengan begitu mudah sementara kami seringkali (atau bahkan selalu?) kewalahan menghadapinya. Dengan semua yang saya rasakan di SD, saya menjadi semakin bangga dengan Mamih, Ibundaku yang berprofesi sebagai guru SD. I’m proud to be your daughter, Mamih…   

Di atas kain ungu di kamar penuh cinta
Tegal, 3 Syawwal 1432 H
Wednesday, August 31, 2011
10.24 p.m.

Haafizhah Kurniasih

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s