Beberapa Episode Menuju Sardonoharjo

Mohon maaf pembaca, saya masih ingin bercerita tentang KKN (Kuliah Kerja Nyata). Sebuah “mata praktikum” 3 SKS yang menyedot banyak biaya, energi, pemikiran, dan bahkan perasaan. Pelaksanaan KKN memang hanya dua bulan tetapi tahap persiapannya bisa memakan waktu lebih dari satu semester, terutama bagi yang mengambil KKN tematik dan mengajukan tema sendiri, bukan sekadar memilih tema yang ditawarkan oleh LPPM. Dan… pada mulanya saya termasuk di antara mereka yang mengambil KKN tematik dengan mengajukan tema sendiri. Ehhhmmm…, mungkin lebih tepatnya turut merancang dan menyempurnakan tema yang diusung oleh mahasiswa lainnya.

Pelaksanaan KKN memang selama bulan Juli–Agustus tetapi persiapan sudah kami lakukan sejak bulan Februari, bahkan akhir Januari banyak di antara kami yang sudah mulai heboh merancang tema KKN. Sejak usai UAS (Ujian Akhir Semester) genap sekitar medio Januarai 2011 teman–teman saya sudah pada heboh merancang tema KKN atau setidaknya berburu tim KKN yang sudah punya tema dan kekurangan anggota.

Kalau saya sendiri sih lumayan agak lebih santai karena mendapatkan info dari kakak–kakak angkatan yang dari fakultas lain bahwa mahasiswa/i kesehatan tidak perlu khawatir tidak mendapatakan tim KKN. Mereka mengatakan biasanya teman–teman kesehatan selalu bisa mendapatakan tim KKN dengan tema yang mereka inginkan dan di tempat yang mereka inginkan karena teman–teman kesehatan selalu menjadi “primadona” yang selalu dicari oleh tim KKN, apalagi anak Farmasi. Gitu katanya. Berbekal informasi tersebut, saya menjadi santai dalam “memilih” tema KKN yang banyak ditawarkan. Boleh dikata saya ini cukup selektif dalam memilih tema dan tempat. Pokoknya saya tidak mau bergabung dengan tim KKN yang mengusung tema yang agak berbahaya, baik secara pemikiran maupun dalam pelaksanaan teknisnya. Dan saya juga tidak mau bergabung dengan tim KKN yang memilih lokasi KKN jauh dari kampus. Saya sama sekali tidak melirik tawaran KKN yang mengusung tema berbau demokratisasi, emansipasi, multikulturalisme, biogas, dan local wisdom (meskipun sebenarnya local wisdom untuk kesehatan masih relatif aman karena biasanya hanya terkait dengan madaniyah aamm tetapi tetap saya menolak karena pasti melibatkan local wisdom dari cluster lain yang membawa tsaqafah asing dan / atau hadharah asing) meskipun lokasinya dekat dengan kampus. Saya juga tidak melirik tawaran KKN dengan tema semenarik apa pun jika lokasinya jauh dari kampus. Saya ga mau repot harus ngurus pindah halqah dan sebagainya. Intinya saya sok jual mahal banget deh… Hehehe… Jujur saja, waktu itu saya berfikir “Saya akan orang farmasi, semua tim KKN pasti membutuhkan saya (dalam kapasitas sebagai mahasiswi Farmasi)”. Dan benar saja, setiap kali ada open recruitment tim KKN, selalu saja tertulis “Dibutuhkan mahasisw/i Farmasi”.

Tentang pemilihan tim KKN ini saya benar–benar merasakan skenario ALLAH yang luar biasa. Saya benar–benar merasakan penjagaan ALLAH atas diri saya melalui jalan yang tidak terduga–duga. Mulanya saya memilih (dan otomatis diterima, secara mahasiswi Farmasi gitu loh… Hehehe…) tim KKN dengan tema pengelolaan sampah terpadu dan berlokasi di KOPMA (Koperasi Mahasiswa) UGM. Bayangkan! Betapa dekatnya! KOPMA UGM itu hanya terletak beberapa meter dari kampus Farmasi. KOPMA terletak di seberang jalan tepat di depan kampus FMIPA Selatan. Dekat sekali! Saya memilih tim ini dengan pertimbangan aman secara tema dan dekat lokasinya sehingga tidak perlu melakukan re-schedule halqah maupun agenda da’wah lainnya.

Sebelum saya bertemu dengan anggota tim KKN yang lain, saya mencari informasi sebanyak–banyaknya tentang aktivitas KKN baik dari kakak–kakak tingkat di UGM maupun dari teman–teman di kampus saya yang dulu, UNDIP yang juga sedang KKN. Saya dengar teman–teman UNDIP 2007 baru menjalani KKN awal tahun 2011 ini. Saya pun mulai “bergentayangan” di jejaring sosial mencari tahu bagaimana keadaan KKN teman–teman UNDIP 2007. Meski memang pasti temanya berbeda (saya dengar KKN UNDIP focus pada pemberantasan buta aksara) tetapi saya yakin interaksi sosialnya mirip–mirip, bahkan mungkin sama. Saya “mengintai” kegiatan KKN teman–teman “aamm”. Umumnya mereka sangat menikmati KKN, menikmati keakraban di antara tim KKN, keakraban yang menurut saya (dilihat sepintas dari statements mereka di jejaring sosial), bukanlah keakraban yang terpuji. Sampai–sampai KKN sering dipelesetkan menjadi Kisah Kasih Nyata atau Kuliah Kerja Nikah. Hal ini karena memang banyak yang menemukan “pasangan” pasca KKN.

Setelah “mengintai” kegiatan KKN teman–teman “aamm”, saya mulai mencari tahu pengalaman KKN dari teman–teman pengemban da’wah secara umum (ideologis, maupun bukan). Beberapa di antara mereka juga menikmati KKN, ada juga yang menikmati keakraban dalm tim KKN. Terutama para laki–laki. Saya simak status–status maupun komentar–komentar mereka banyak yang bercerita tentang keasyikan KKN. Untuk pengemban da’wah yang perempuan, sepertinya lebih banyak diam, tidak terlalu banyak bercerita tentang KKN. Atau mungkin sebenarnya bercerita tetapi dengan bahasa bersayap.

Kemudian, saya pun mulai “mengintai” para pengemban da’wah ideologis. Kali ini saya lebih banyak mengintai pengemban da’wah ideologis yang perempuan (karena hanya mereka yang bisa saya pastikan sebagai pengemban da’wah ideologis, secara saya kenal mereka di dunia nyata…) meski saya juga mengintai laki–laki yang saya duga kuat sebagai pengemban da’wah ideologis. Pengemban da’wah yang perempuan, meski dengan kalimat bersayap, saya bisa menangkap maksudnya bahwa mereka tidak menikmati KKN. Apalagi alasannya selain karena interaksi yang kelewatan?! Sedangkan yang laki–laki agak sedikit berbeda. Tidak puas dengan hasil pengintaian itu, saya pun menghubungi saudari–saudari saya pengemban da’wah ideologis itu via SMS. Hampir semalaman saya SMSan “hanya” untuk meminta mereka berbagi pengalaman KKN (terima kasih, Ukht…). Dari ceritanya, saya simpulkan bahwa interaksi dalam tim KKN memang “horror”, saya pun bertanya “Koq ketho’e horror banget tho KKN-mu?”. Tahukah kalian jawaban apa yang saya dapat? “[Aku] kabur terus ning Semarang, jilbab tidak pernah lepas meski pun ning kamar, Fi! Mung ning kamar mandi thoq copote Fi! Wah, pokoke ati2 baen Fi, LEBIH HOROR DARI PADA KETEMU POCONG ATAUPUN NONTON FILM SYETAN!”Saya ngekek baca SMS itu, tapi sebenarnya takut juga harus mengalami KKN yang demikian.

Lalu… tibalah saatnya koordinasi perdana dengan tim KKN KOPMA (kami menyebutnya begitu). Hari itu saya berhalangan hadir karena berbarengan dengan acara Dialog Negeriku (DN) IV yang mengangkat tema terkait Comprehensive Partnership di Bidang Pendidikan Antara US dan Indonesia. Jelas saja saya lebih memilih DN karena saya punya amanah di sana dan acara tersebut lingkupnya adalah provinsi DIY! Tidak mungkin saya harus meninggalkan amanah saya tersebut hanya demi koordinasi KKN. Satu pekan berikutnya, dilakukan koordinasi kedua di tempat yang sama, KPTU Fak. Teknik. Kali ini saya datang dan itulah kali pertama saya bertemu dengan tim KKN KOPMA. Eng… Ing… Eng… Koq saya merasa asing? Sepertinya dunia mereka sangat berbeda dengan dunia saya setidaknya dilihat dari penampilan dan interaksi mereka. Ah…, tapi saya berusaha cuek. Biarkan saja! Saya berusaha menyamankan diri dalam kondisi seperti itu tapi tetap tidak bisa! Koordinasi hari itu selesai. Diputuskan untuk koordinasi lagi setelah menghubingi pihak mitra (dalam hal ini KOPMA dan dusun terkait).

Beberapa hari kemudian saya menerima undangan koordinasi lagi via SMS. Kali ini malam pukul 18.30 di cafeteria KOPMA. Dalam hati saya berfikir, “ini pasti nanti nabrak isya’ dan ga tau nabraknya berapa jauh” akhirnya saya jawab “Insya ALLAH hadir tapi izin telat, mau shalat isya dulu cz pasti nanti nabrak isya’.” Sampai di sana, ternyata interaksinya lebih parah dari pada waktu koordinasi di FT.

Beberapa hari berlalu tanpa undangan koordinasi dengan tim KKN KOPMA. Saat itu saudari–saudari pengemban da’wah UGM yang juga mau KKN semakin gencar mengajak saya membentuk tim KKN sendiri dengan alasan demi keamanan interaksi. Waktu itu mereka berencana untuk mengambil tema recovery merapi dengan pendekatan spiritual. Mereka juga telah membidik beberapa dosen yang juga pengemban da’wah ideologis untuk menjadi DPL (Dosen Pembimbing Lapangan), apalagi kami dekat dengan putri salah satu dosen tersebut (putrinya juga pengemban da’wah ideologis sih…). Mereka mengajak saya menuangkan ide mereka ke dalam proposal usulan KKN. Sebenarnya saat itu semuanya telah tersedia, tinggal kemauan saja. Syarat utama pengajuan proposal KKN adalah diusulkan oleh minimal tiga cluster yang berbeda dan saat itu kami malah dari empat cluster (artinya lengkap, mewakili seluruh cluster yang ada di UGM). Saya mewakili cluster kesehatan (FK, FKG, Farmasi), seorang teman mewakili cluster Saintek (MIPA, Bio, Geo, Teknik), seorang teman mewakili cluster Sosio Humaniora (FIB, Filsafat, FISIP, FE, FH, dkk), dan dua orang teman mewakili cluster Agro Kompleks (F.Pertanian, FTP, Kehutanan, FKH, Peternakan, dll). Mereka juga mengajak saya untuk meminta bantuan Ustadzah Fulanah (sebut saja begitu ya…) agar beliau meminta bantuan suaminya (sebut saja Ustadz Fulan) untuk meminta data pengemban da’wah laki–laki yang mau KKN semester ini. Intinya kami ingin membentuk KKN pengemban da’wah deh… Kontennya da’wah, DPLnya ustadz, timnya para pengemban da’wah.

Saat itu saya tidak begitu bersemangat menyambut ajakan tersebut. Bukan karena saya tidak mau dengan tema yang diajukan. Recovery Merapi! Jelas saya mau apalagi saya merasa “berhutang” pada masyarakat merapi karena saya “kabur” ketika mereka benar–benar membutuhkan saya akhir tahun lalu. Bukan pula karena lokasinya yang jauh. Tidak! Lereng Merapi itu relatif dekat dengan UGM dan saya yakin saya masih bisa halqah dengan baik tanpa harus me-reschedule-nya. Bukan pula karena saya malas menyusun proposal (meski iya juga, sedikit… tapi sungguh! Itu bukan alasan saya!). Alasan saya adalah karena saya ingin menjaga hati! Saya takut akan ada hati yang terkotori jika rencana ini benar–benar terlaksana. Mungkin interaksi memang terjaga. Pengemban da’wah pasti tahu benar batasan aurat, tahu mana wilayah khas dan mana wilayah aamm. Pengemban da’wah pasti tahu persis batasan interaksi yang diperbolehkan antara laki–laki dan perempuan. Tapi justru ini yang saya takutkan! Ketika laki–laki dan perempuan yang memiliki pemikiran dan perasaan yang sama (dan mnginginkan tegaknya aturan yang sama. Lho?!) “dipaksa” berinteraksi secara intens (meski tidak akrab) selama dua bulan, bukan tidak mungkin timbul pemikiran–pemikiran nakal yang dapat mengotori hati, merusak niat (I’m sure that you know what I mean).

Bagi saya, berinteraksi dengan laki–laki pengemban da’wah ideologis jauh lebih berbahaya daripada berinteraksi dengan selain mereka. Memang, keduanya sama–sama memungkinkan timbulnya rasa tertentu tetapi terhadap selain pengemban da’wah ideologis (apalagi laki–laki aamm), rasa itu bisa dengan mudah disingkirkan “hanya” dengan meyakinkan diri sendiri bahwa kami beda dunia (maksudnya beda visi–misi, gitu)! Dan saya kira laki–laki yang bukan pengemban da’wah ideologis pun akan berfikir demikian tentang saya “dunia kami berbeda!”. Sampai di sana, masalah selesai, Tidak akan ada hati yang terkotori lebih lanjut. Tetapi ketika berinteraksi dengan sesama pengemban da’wah ideologis? Koq sepertinya lebih menakutkan?!

Dengan pertimbangan demikian, saya putuskan untuk lebih memilih menjaga aurat lebih kuat dan menjaga interaksi lebih ketat. Meski itu sulit tetapi insya ALLAH tanpa ada risiko terkotorinya hati. Saya pun memilih tetap bergabung dengan KKN KOPMA. Ternyata mungkin ALLAH juga berkehendak untuk menjaga kesucian hati para pengemban agama–NYA. Rencana saudari–saudariku tersebut tidak pernah terlaksana. Teman dari Agro Kompleks memutuskan untuk KKL dulu, teman dari Saintek terlambat revisi KRS untuk memasukkan “mata praktikum” KKN. Teman dari FIB, tidak mungkin bergerak sendiri. Dia memilih untuk bergabung dengan tim lain yang didominasi pengemban da’wah juga (meski bukan pengemban da’wah ideologis).

Saya semakin sering berkoordinasi dengan tim KKN KOPMA (meski sering juga bolosnya) dan semakin hari saya semakin merasa bahwa ini bukan duniaku. Interaksinya semakin tidak saya suka rasanya. Saya ingin mundur, tapi alasannya apa? Dan saya mau ke mana jika saya mundur di tengah–tengah begini? Mau gambling dengan mendaftar KKN di LPPM tanpa kelompok dan membiarkan LPPM mem-plotting saya di mana pun LPPM suka? Saya tidak berani! Iya kalau mendapat tim KKN yang lebih “shalih”, kalau tidak? Horror!

Usai UTS (Ujian Tengah Semester) saya sempatkan berkunjung ke Tembalang, mengunjungi saudari–saudari di sana meski hanya 1 malam plus beberapa jam. Saya gali selengkap–lengkapnya info terkait interaksi selama KKN. Dan… saya merasa semakin horror ketika bergabung dengan tim KKN yang dunianya berbeda dengan kita. Tak bisa saya bayangkan selama dua bulan saya harus tidur dengan pakaian lengkap (jilbab + kerudung + kaos kaki + mihnah yang juga tidak bisa sembarangan) dan selalu “ketakutan” kalau–kalau ada laki–laki iseng yang masuk atau “sekadar” mengintip kamar kami (katanya banyak kejadian seperti itu di KKN). Ngeri!

Saya pun berdoa agar ALLAH memberi saya yang terbaik, menempatkan saya dalam tim KKN yang baik, yang terjaga. Dan… Subhanallaah… ALLAH Menjawab doa saya! Sekitar 2–3 hari sebelum batas akhir pengumpulan proposal, kami mendapat berita “buruk” (bagi teman–teman KKN KOPMA), beberapa mitra (yaitu dusun–dusun sekitar kampus) menolak bekerja sama, yang artinya kami tidak bisa melakukan KKN di sana (hanya KOPMA yang bersedia menerima kami). Kami harus mencari tempat yang lain! Dan tempat penggantinya cukup jauh. Yes! Saya punya alasan untuk keluar! Kan waktu saya bergabung, saya sampaikan bahwa alasan saya bergabung adalah karena lokasinya yang dekat! Mungkin di mata teman–teman KKN KOPMA saya tidak setia kawan, mungkin saya dianggap mau enak sendiri. Tapi mau bagaimana lagi? Saya takut dengan interaksi yang terjadi.

Pertanyaan selanjutnya adalah, setelah saya keluar, saya mau ke mana? Di masa–masa akhir seperti ini, masih adakah tim yang membutuhkaan anggota? Saya pun menghubungi saudari saya yang dari FIB (sebut saja Bunga, bukan korban penculikan. Hehehe…). Ternyata dia pun baru keluar dari tim KKN-nya yang lama karena pihak mitra (dalam hal ini dusun yang ditempati) tidak mengizinkan dia untuk “turun gunung” tiap pekan untuk halqah. Tapi bedanya, dia sudah mendapatkan pengganti tim KKN yang lain yang juga didominasi oleh pengemban da’wah (meski bukan pengemban da’wah ideologis). Di sini, qadha ALLAH yang “berkata”, ternyata tim KKN ini (dikemudian hari kami menyebutnya KKN Unit 57 Sardonoharjo) belum memilki anggota dari Farmasi. Sacara otomatis, di sini saya diterima dengan sangat baik karena mereka sengat membutuhkan anggota dari Farmasi. Sehari kemudian via SMS saya diminta untuk mengirimkan CV (Curriculum Vitae) lengkap ke sebuah alamat e–mail untuk melengkapi data base tim KKN dan diminta untuk mengunjungi blog KKN agar mendapatkan gambaran apa yang akan saya lakukan saat KKN kelak. Saya pun mengirimkannya plus melihat–lihat blog KKN. Dari sana baru saya tahu bahwa tema KKN ini adalah “Peningkatan kualitas SDM dan SDA untuk mengembangkan Desa Wisata Berbasis Teknologi Informasi”. Tahukah kalian, apa yang saya tulis di kolom “Motivasi Bergabung dengan Tim KKN ini” di CV? Dengan tanpa basa–basi, saya sama sekali tidak menyinggung ketertarikan saya pada tema (di saat kepepet seperti ini, tema apa pun asalkan “aman” baik secara pemikiran maupun teknis, OK saja lah) saya malah menulis “Saya ingin mendapatkan tim KKN yang bisa menjaga interaksi antara laki–laki dan perempuan dengan baik, sesuai hukum syara’”.

Beberapa hari kemudian saya mendapatkan undangan koordinasi via SMS. Koordinasi dilakukan di tempat “nongkrong” para pengusung tema KKN ini (yaitu mahasiswa Ilmu Komputer (ilkom), Elektronika dan Instrumentasi (Elins), dan Statistik) di Selasar F.MIPA Utara (tepat di sebelah utara kampus saya). Saya datang paling awal, belum ada orang lain di sana. Saya pun menghubungi si pengirim undangan untuk mengkonfirmasi keberadaan mereka di mana. Ternyata dia izin terlambat, ada masalah dengan motornya, katanya. Setelah menunggu cukup lama sambil muter–muter F.MIPA Utara (sambil refreshing, gitu…) saya kembali lagi ke tempat acara, ternyata di sana sudah berkumpul beberapa orang (tapi acara belum dimulai). Saya pun mulai melancarkan jurus SKSD kepada mereka (tentu hanya kepada yang perempuan dan memang tidak tampak ada laki–laki di sana). Tidak lama kemudian, segerombolan laki–laki yang dari tadi berada di sudut yang lain menginstruksikan untuk membentuk forum. Saya pun kaget, secara otomatis forum cukup terkondisikan. Laki–laki dan perempuan duduk terpisah dengan jarak yang lumayan lah meski tanpa hijab. Alhamdulillaah…, saya sangat bersyukur… Penjagaan–MU kepadaku luar biasa.

Dari pertemuan perdana itu (bagi saya perdana, bagi mereka itu sudah koordinasi yang ke berapa, entah) saya tahu sebenarnya tidak semuanya pengemban da’wah. Hanya beberapa gelintir saja tetapi merekalah yang menjadi tim pengusul tema sehingga otomatis menduduki posisi penting dan membuat pengaruh di dalamnya. Pengemban da’wah yang ada di sana berasal dari KaLAM (ROHISnya Fakultas Kedokteran Umum), KMFM (Keluarga Muslim Fakultas MIPA), JS (Jamaah Shalahudin, ROHISnya UGM), IM3 (Ikatan Mahasiswa Masyarakat Madani) dan KAMMI (yang ini sudah pada tahu kan ya?). Dari awal, saudari saya Bunga mengatakan bahwa kemungkinan kami tidak akan satu sub unit, kemungkinan besar kami akan di tempatkan di dusun yang berbeda karena sudah diplotkan pada koordinasi sebelumnya. Kami pun merancang strategi untuk bisa pergi halqah dan agenda da’wah lainnya mengingat ada keterbatasan dalam hal kendaraan (dan tentu saja di sana tidak ada angkot). Namun ternyata… lagi–lagi qadha ALLAH bermain dengan sangat indah. Pemimpin rapat koordinasi siang itu mengumumkan bahwa ada perubahan formasi tim KKN dan tahukah? Saya dan Bunga ditempatkan dalam satu sub unit yang sama! Satu rumah! Dan setelah kami cermati (lebih tepatnya Bunga yang mencermati karena dia yang telah mengenal tim KKN ini), ternyata terjadi “lokalisasi” pengemban da’wah di sub unit kami! Subhanallaah…

Kabarnya sejak koordinasi siang itu terjadi beberapa kali re-arrangement formasi tim KKN kami tapi Alhamdulillaah saya dan Bunga tetap dalam satu sub unit. Pun sub unit kami tetaplah sub unit yang didominasi pengemban da’wah.

Lalu tibalah saatnya penerjunan KKN. Kami mulai menempati rumah–rumah di dusun (sub unit) masing–masing. Saya menempati dusun Turen bersama tujuh orang lainnya. Kami berdelapan (6 orang perempuan dan 2 orang laki–laki) tinggal di rumah Pak Dukuh. Alhamdulillaah, interaksi kami lumayan terjaga meski memang tidak bisa dipungkiri, yang namanya laki–laki dan perempuan ketika “dipaksa” tinggal dalam satu rumah, sulit sekali untuk terus menjaga interaksi. Kadang kala terjadi juga interaksi yang tidak diperlukan. Sesekali terjadi gurauan yang tidak sepantasnya meski didominasi pengemban da’wah. Saat–saat rawan adalah ketika sarapan dan makan malam (atau ketika buka dan sahur). FYI: Di sub unit kami “diwajibkan” makan bersama dengan alasan untuk menjalin komunikasi yang baik. Memang harus diakui juga, kami sempat “kecolongan” beberapa kali. Sempat terjadi kasus pelanggaran hukum syara’ yang cukup berat. Namun, karena memang basic-nya adalah pengemban da’wah, maka anggota tim yang lain bisa dengan leluasa menegurnya dengan ‘senjata andalan’ menggunakan bahasa–bahasa aqidah, bahkan tak jarang mengeluarkan dalil.

Satu hal lagi yang membuat saya merasa sangat beruntung adalah kemudahan izin meninggalkan rumah (lokasi KKN) untuk agenda da’wah. Di saat teman–teman di sub unit lain kesulitan izin sehingga harus membolos liqa’, mentoring, ta’lim atau apalah namanya. Kami di sini sangat leluasa. Cukup kami meminta izin (atau mungkin lebih tepatnya hanya sekadar memberi tahu) kepada Kormasit (Koordinator Mahasiswa Sub Unit) dengan mengatakan “Mas, turun! Halqah” atau “Mas, turun! Ziyadah!” atau “Mas, turun! Mutaba’ah!” kami sudah bisa meninggalkan lokasi KKN dengan leluasa. Biasanya yang “dimintai” izin hanya menjawab “Ya! Hati–hati ya!” atau kadang kalau lagi iseng tanya “Ziyadah apa? Tambahan apa?”, yasudah tinggal saya jawab saja “Ziyadah kitab ini, Mas!”. Pernah juga ketika kami tidak turun (karena ada beberapa agenda yang diubah jadwalnya), kami malah ditanya “Kalian ga turun? Ga ziyadah?”. Atau ketika Bunga turun sedangkan saya tidak atau sebaliknya, biasanya ada yang bertanya “Bunga ziyadah, kamu ga?”

Hal lain yang juga patut disyukuri adalah suasana ibadah mahdhah yang cukup semarak di sub unit ini. Shalat berjamaah menjadi sesuatu yang seolah “wajib” dilakukan di rumah bagi kami (tentu maksudnya untuk yang perempuan, yang laki–laki sudah pasti harus ke masjid). Puasa sunnah juga sering dilakukan. Tilawah pasti jalan. Budaya menasihati juga tumbuh dengan cukup baik. Bahkan, ketika forum sharing unit ada salah seorang (tentu dari sub unit lain) yang berkomentar “… ketika berkunjung ke Turen, maka hal yang paing terasa adalah suasana relijiusnya…”.

Subhanallaah… wal hamdulillaah… Skenario–MU, Penjagaan–MU padaku sungguh luar biasa. Engkau Menempatkanku di tengah tim KKN yang sangat memudahkan aktivitasku, yang mendekatkanku kepada–MU.

Dari pengalaman ini saya semakin meyakini bahwa ketika kita benar–benar bertekad untuk menjaga diri, insya ALLAH, DIA akan memudahkan kita. DIA akan menyediakan scenario terbaik untuk menjaga kita…

Di kamar penuh cinta
Tegal, 9 Syawwal 1432 H
Tuesday, September 06, 2011
9.48 p.m.

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s