Belajar dari Tikus….

Subhanallaah…

Maha Besar ALLAH yang telah menciptakan kita lengkap dengan akal yang berfungsi dengan baik… Dengan akalnya, manusia bisa mengambil pelajaran dari mana pun, dari siapa pun, kapan pun, dan di mana pun. Ketika dia sedang tidur, dia bisa mengambil pelajaran dari tidurnya. Ketika dia sedang makan, dia bisa mengambil pelajaran dari makanannya. Ketika dia sedang berjalan, dia bisa mengambil pelajaran dari apa pun atau siapa pun yang ditemuinya sepanjang perjalanannya. Apalagi ketika dia sedang melakukan penelitian, dalam rangka apa pun hibah, TA, skripsi, thesis, disertasi, atau apa pun. Seharusnya dia mampu mengambil pelajaran dari banyak hal yang dia lakukan selama proses itu. Terlebih lagi, jika dia adalah seorang Muslim. Seorang Muslim haruslah senantiasa menggunakan akalnya untuk mengambil pelajaran dari setiap peristiwa yang dialaminya. Mengambil pelajaran untuk semakin memperkuat keimanannya pada agama ALLAH, semakin meyakini keagungan – NYA, qiyaaman wa qu’uudan…

Makhluk kecil itu bernama tikus. Makhluk kecil yang sering kali dipandang sebelah mata, bahkan dengan pandangan jijik oleh sebagian besar orang kecuali mereka yang terbiasa dengan pekerjaan uji pre klinik. Makhluk kecil itu telah membantuku mengambil pelajaran tentang betapa Islam memuliakan manusia. Ketika itu kami sedang mencari tikus jantan galur wistar atau SD. Seorang teman tiba–tiba berkata [kurang lebih] “Kenapa tidak menggunakan tikus got atau tikus rumah? Karena mereka ‘nasab’-nya tidak terjaga. Kalau mau kawin, asal kawin aja mereka. Ketemu tikus got, ayo! Ketemu tikus sawah, ayo juga! Ketemu tikus wirog, langsung embat! Berbeda dengan tikus yang kita cari. Mereka terjaga ‘nasab’-nya. Garis keturunannya jelas, bisa ditelusuri!”

Tikus saja terpelihara “nasab”–nya. Hanya tikus dengan “nasab” yang jelas saja yang akan mendapatakn perlakuan “mulia”. Lihatlah kehidupan tikus yang nasabnya terjaga! Secara umum mereka diperlakukan dengan lebih baik dibandingkan dengan tikus yang nasabnya tidak terjaga. Tikus yang terpelihara “nasab”–nya, hidupnya relatif lebih bermanfaat bagi dunia. Kematiannya relatif lebih “terhormat”.

Maka sungguh betapa ALLAH memuliakan kita ketika DIA memerintahkan kita untuk menjaga nasab… Sungguh, segenap aturan pergaulan laki–laki dan perempuan untuk menjamin terjaganya nasab adalah sebentuk pemuliaan yang ALLAH berikan kepada kita. Maka, janganlah menghinakan diri sendiri dengan merusak nasab (exp. Berzina, dsb, dst).

Tikus dan semua yang ada di dunia ini memang telah ditaklukkan untuk manusia, untuk kesejahteraannya. Ya, fithrah mereka memang diciptakan untuk kesejahteraan manusia. Akan tetapi, mereka juga punya “perasaan” (dalam tanda “…”). Mereka akan bersikap manis jika kita memperlakukan mereka dengan manis. Itulah kenapa, ada panduan bagaimana menangani hewan uji. Salah satu tipsnya adalah jangan ragu untuk mengajak bicara / ngobrol hewan uji.

Suatu hari (saat itu masih hari tasyrik dan bertepatan dengan penyembelihan hewan “qurban” di fakultas), mencit kami “rewel”, berkali–kali dia berontak. Saya pun mencoba tips “ngobrol” dengan mencit. Sambil mengelus–elus kepalanya, saya berkata “Cit, kamu itu harus patuh sama ALLAH. Kamu itu memang diciptakan untuk kesejahteraan kami. Yang nurut yah… Ga sakit koq… Cuma disuntik doank…”. Teman saya (sebut saja Bunga) menimpali “Iya Cit… Tuh lihat, kambing sama sapi aja mau disembelih! Jadi hewan qurban!” Saya pun menimpali “Iya Cit… Sapi sama kambing aja disembelih. Lha, kamu Cuma disuntik aja koq ya… Ayo ah yang nurut!” Tak disangka, teman saya yang lain (sebut saja Mawar) menyahut (seolah–olah mewakili suara “hati” mencit) “Sakit tau, Mba?! Hayoo, Mba-nya mau/ga disuntik?!” dan saya menyahut “Lho, itu kan fithrahnya mencit! “Ibadah”nya mencit ya begitu, diapain aja untuk kesejahteraan manusia!” Mawar menyahut lagi “Iya, tapi kan…”. Dia tidak melanjutkan kata–katanya. Tapi justru dengan terhentinya kalimat tersebut, saya jadi merenung….

Mencit dan seluruh makhluq ALLAH yang lain (selain manusia dan jin) senantiasa patuh menjalani fithrahnya sebagai hamba, bahkan ketika mereka ditetapkan sebagai pemenuh kebutuhan manusia, dipergunakan untuk kesejahteraan manusia. Mereka melakukannya tanpa protes. Tanpa membangkang meski mereka harus kehilangan nyawanya. Sementara kita? Manusia yang seringkali mengklaim diri sebagai makhluq paling mulia, paling terhormat justru seringkali membangkang secara sadar. Kita begitu fasih ketika berkata “ALLAH tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada–NYA!” tetapi seringkali menolak beribadah (dari segenap aspeknya). Kita tahu bahwa salah satu bentuk ibadah adalah menerapkan hukum ALLAH dalam kehidupan, dan kita pun mengetahui ada begitu banyak hukum ALLAH yang tidak mungkin tegak tanpa adanya institusi yang menegakkannya. Tapi…, ingatkah kita berapa kali kita merasa malas untuk mendakwahkan Islam, mendakwahkan penerapan Islam dalam seluruh aspek kehidupan? Tidak ingat? Karena terlalu seringnya? Bahkan… betapa banyak di antara kita (semoga itu bukan kita) yang menolah penerapan Islam dalam kehidupan bernegara. Padahal, itulah bentuk “penyempurnaan” ibadah kita. Padahal, itulah bukti ketundukan kita pada–NYA.

Yogyakarta, 14 Muharram 1433 H
Thursday, December 08, 2011
11.18

Belum bisa tidur….

2 thoughts on “Belajar dari Tikus….

  1. subhanalloh y mba,
    renungan tadi membuat saya semakin sadar bahwa kita harus sabar dengan ketentuan alloh swt. dan pastinya harus berusaha u/mencari tau tujuan kita diturunkan ke bumi itu untuk apa.
    trimakasih telah berbagi.

    diah d’wistar
    31 januari 2012

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s