Nasyid dan Jihad

[sebuah kisah fiktif…]
Suatu hari di sebuah kamar kos…
Tiga orang Muslimah sibuk dengan aktivitasnya masing–masing. Dua orang di antaranya tampak sibuk di hadapan dua buah laptop, sedangkan satu orang sisanya tampak rebahan sambil melakukan aktivitas yang lain. Dari salah satu laptop terlantunlah lagu–lagu (mereka menyebutnya nasyid) pembakar semangat. Ada lagu–lagunya IzIs (Izzatul Islam), ada lagu–lagunya Shoutul Khilafah, dll. Semuanya lagu tentang perjuangan yang membakar semangat. Mereka pun asyik menirukan lagu yang terlantun…

Hayya Hayya Ya Rijal Hayya Bil Jihaad…
Hayya Hayya Ya Rijal, Hayya Bil Kifah…

Tiba – tiba, salah seorang di antara mereka berkomentar, yang akhirnya berlangsunglah percakapan berikut:
Nia: Nyanyinya aja hayya bil jihad! Tapi aktivitasnya malah ngegame… Kagak nyambung, Jeng…

Fitri: Lho, kan nyanyinya “hayya hayya ya Rijal, hayya bil jihad!”, yang diseru kan rijal (laki–laki –red), saya kan nisa’ (perempuan—red)! Tidak masuk dalam golongan yang diseru tho?! [sambil asyik melanjutkan permainan mencocokkan gambar di depan laptopnya, bahkan dia berkomentar tanpa sedikit pun berpaling dari laptop].

Nia: Iya, yang diseru jihad oleh Izis emang rijal tapi bukan berarti nisa’ bisa berlepas diri dari aktiitas jihad! Semua elemen kaum Muslim dan Muslimah harus turut menyukseskan jihad… Kita harus menyiapkan suami, putra–putra, ayah, dan saudara– saudara kita agar dapat maksimal dalam berjihad. Kita harus mengokohkan keyakinan suami, putra– putra, ayah, dan saudara– saudara kita tentang kemulian jihad dan mati syahid, serta meyakinkan mereka bahwa keadaan rumah beserta penghuninya akan baik– baik saja ketika ditinggal ke medan jihad. Jangan sampai performance mereka dalam berjihad tidak maksimal hanya gara–gara mengkhawatirkan keadaan kita.

Azka: Ini kami juga sedang berjihad lho…! [sambil asyik memainkan Feeding Frenzy di laptopnya]. Bersungguh–sungguh memenangkan game ini! Jihad artinya bersungguh–sungguh tho? Berarti kami bisa dunk dikatakan sedang berjihad kan kami sedang bersungguh–sungguh?! Hahaha….

Nia: Hussh!! Sembarangan!!!

Fitri: Jika jihad diartikan sebagai “bersungguh–sungguh” seperti yang banyak dipahami dan dida’wahkan oleh sebagian besar saudara–saudara kita, maka… berarti itu si Inul Daratista bisa disebut sebagai seorang Mujahidah! Dia pasti bersungguh–sungguh hingga dia bisa mencapai posisi yang dia raih sekarang. Tidak mudah menciptakan trend goyang ngebor dan menjadi pedangdut tenar seperti itu. Semua itu saya yakin tidak akan bisa diraih tanpa kesungguhan berusaha. Lalu, si Ayu Ting Ting juga Mujahidah. Dia itu sangat bersungguh–sungguh dalam berkarier di dunia dangdut! Bayangin aja lagunya yang sekarang tenar “Alamat Palsu” itu sudah dia release sejak tahun 2007 tapi baru tenar akhir 2011! Apa itu namanya ga bersungguh–sungguh? Bersungguh–sungguh, penuh kesabaran, dan pantang penyerah! Berarti dia berjihad! Terus, itu Nunun Nurbaeti juga bisa disebut Mujahidah karena dia bersungguh– sungguh sembunyi dari aparat kepolisian dan KPK, sampe kabur ke luar negeri berbulan–bulan segala! Semua itu mustahil jika tidak dilakukan dengan sungguh–sungguh! Dia bersungguh–sungguh, berarti dia berjihad! Nazaruddin juga Mujahid berarti. Dia kan bersungguh–sungguh “menipu” negara dan memperkaya dirinya sendiri dengan uang negara! Tidak mudah menjadi milyarder (atau bahkan mungkin trilyuner) pada usia semuda itu. Dia pasti melakukannya denga penuh kesungguhan, berarti dia berjihad dalam korupsi! Banyak Mujahidin dan Mujahidah sekarang berarti yah? Luar biasa! [dengan gaya sok serius]

Nia: Iya, benar sekali! Itu jika kita mereduksi makna jihad menjadi sekadar bermakna bersungguh–sungguh. Jadilah ada istilah jihad akademik, jihad profesi, jihad melawan korupsi dan sebagainya. Ga kebayang jika seandainya pemahaman itu benar. Dan seandainya saya menjadi Hamzah atau salah seorang dari para syuhada perang Uhud, perang Badar, perang Khandaq, dll. Saya pasti ga terima!!! Enak aja! Saya ini bermandikan keringat dan darah, penuh luka, bahkan mempersembahkan nyawa untuk memperjuangkan Islam [dalam per-andai-an sebagai Hamzah atau salah satu syuhada perang di atas]! Sedangkan mereka bermandikan harta, kemewahan, ketenaran, dan fasilitas yang memudahkan kehidupan. Berbeda 180 derajat! Eh, kedudukan kami mau disamakan, sama–sama sebagai mujahid dan mujahidah??? Sori–sori lah ya! Kagak terima!

Fitri: Iya yah? Kasian Hamzah dan kawan–kawannya [dengan gaya sok polos]. Seharusnya kita tidak perlu malu untuk menyerukan bahwa makna seruan jihad adalah seruan qital (perang) baik defensif maupun ofensif atas nama negara untuk melawan hambatan da’wah dan menyebarkan Islam. Jangan karena kita merasa menjadi pihak tertuduh atas stigmatisasi terorisme dan War On Terror kita lantas mereduksi makna jihad hanya sebatas “bersungguh–sungguh”!

=== Bersambung===
Maksudnya kembali melanjutkan nge-game…
Glodaks….

Yogyakarta, 25 Muharram 1433 H
Wednesday, December 21, 2011
2.32 p.m.
Semoga kami diberi kekuatan untuk menjadikan penghuni rumah ini sebagaimana nama yang kami berikan pada rumah ini “Rumah Orang–Orang yang Mempelajari Al–Qur’an”: Mempelajari Al–Qur’an, Menghafal, dan Mengajarkannya…. Menjadi wanita – wanita yang terjaga dengan Al–Qur’an dalam hatinya…

Haafizhah Kurniasih

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s