Antara Herbal dan Islam

Dalam acara “Open House” sebuah partai da’wah berideologi Islam, pembicara mengatakan (kurang lebih): “Sebagian orang mengatakan ‘Tidak perlulah menerapkan syari’ah Islam secara utuh dalam bingkai Khilafah. Yang penting kan esensinya!’. Kepada mereka yang berkata demikian, katakan saja ‘Kalau begitu, Anda tidak perlu makan jeruk ya… Cukup Anda makan essence jeruk saja!’ Apakah sama memakan essence jeruk dengan memakan jeruk utuh?” Mendengar urain pembicara tersebut, pikiran saya sebagai mahasiswi Farmasi di sebuah Universitas yang sangat concern untuk mengembangkan bahan alam (herbal), langsung melayang mengingat–ingat apa yang saya dapatkan dari Kuliah KPA (Kimia Produk Alam), AKTO (Analisis Kimia Tanaman Obat), dan Teknologi Fitomarmasetik. Lalu saya pun teringat pada kunyit.
Siapa yang tidak mengenal kunyit? Kunyit sangat terkenal di masyarakat Indonesia, apalagi bagi perempuan yang sering mengalami nyeri haidh. Pasti hafal dengan tanaman satu ini. Ya, kunyit asam merupakan salah satu obat herbal tradisional yang cukup ampuh untuk meredakan nyeri haidh maupun nyeri yang lain. Sebenarnya zat apa sih yang dikandung oleh kunyit dan bertangungjawab atas aksi kunyit asam meredakan nyeri? Ternyata zat tersebut bernama kurkumin, atau dalam tata nama kimia dikenal dengan nama [1,7-bis(4-hydroxy-3-methoxyphenyl)-1,6-heptadiene-3,5-dione].
Kurkumin adalah kandungan utama kunyit dan tanaman empon–empon lainnya (seperti temu ireng, kencur, dll). Aktivitas farmakologi utamanya adalah sebagai analgetik (pereda nyeri) dan antiinflamasi (anti radang). Dialah tersangka utama yang mengakibatkan rebusan kunyit asam atau seduhan ekstrak kunyit asam dapat meredakan nyeri haidh (Ga usah dibahas ya apa perbedaan antara rebusan dan seduhan? Urusan bisa panjang nanti… Hehehe… ). Jumlah kurkumin dalam kunyit sebenarnya bukan mayoritas, bahkan bisa dibilang relatif sangat kecil jika dibandingkan dengan jumlah kandungan senyawa lain yang sama sekali tidak memiliki efek fermakologis sebagai analgetik alias zat–zat yang hanya sebagai “penyerta” (kami menyebutnya sebagai zat ballast).

Meskipun telah diketahui bahwa yang bertanggung jawab atas aksi analgetik itu hanyalah kurkumin, kenapa kita tidak pernah menjumpai sediaan obat yang hanya mengandung kurkumin saja? Bahkan perusahan besar seperti Sido Muncul pun tidak berupaya untuk membuat sediaan obat kurkumin, dia malah membuat “Kunyit Asam Sido Muncul” yang berisi ektrak kunyit dan asam, bukan kurkumin! Apakah dia tidak tahu bahwa zat–zat lain dalam kunyit dan asam sama sekali tidak memiliki aktivitas sebagai analgetik? Tentu BUKAN karena itu!

Mereka tidak pernah membuat sediaan obat kurkumin karena tidak akan bisa diberikan terpisah dari zat–zat penyertanya! Memang benar kurkumin–lah yang memiliki aktivitas. Akan tetapi, untuk dapat memberikan efek, tentu dia harus diabsorbsi ke dalam darah. Untuk dapat diabsorbsi, dia harus larut. Jika tidak larut, mustahil kurkumin akan terabsorbsi dan tentu saja mustahil pula dapat memberikan efek analgetika (pereda nyeri). Nah, sayangnya kelarutan kurkumin sangat rendah jika tanpa disertai oleh zat–zat penyerta yang dianggap “tidak berguna” dalam terapi itu! Kurkumin murni hanya akan larut pada pH yang sangat rendah (sangat asam). Bahkan, nano partikel kurkumin pun (FYI: senyawa yang berukuran nano biasanya akan mudah larut dan kelarutannya jauh lebih tinggi dari pada senyawa yang sama jika tidak dalam ukuran nano) hanya bisa larut pada pH sekitar 3 (atau bahkan lebih rendah lagi). Bayangkan! Mungkinkah kita meminum obat dengan pH 3? Apa yang akan terjadi dengan lambung kita jika kita memaksakan diri minum obat dengan pH 3?

Hal yang sangat berbeda terjadi jika kurkumin diberikan lengkap beserta zat penyerta yang “tidak berguna” itu. Kurkumin beserta zat pelengkap yang “tidak berguna” itu dapat larut pada pH yang cukup sedikit asam saja dan itu tidak akan membahayakan lambung, justru member efek segar. Fenomena inilah yang dipahami oleh nenek moyang kita, yang akhirnya mengajari kita untuk meminum kunyit asam jika nyeri haidh menyerang. Nenek moyang kita mengajari kita untuk mengkonsumsi kunyit satu paket lengkap dengan zat penyertanya yang “tidak berguna” itu.

Kembali teringat dengan kata–kata dosen saya. Beliau mengatakan bahwa itulah herbal. Kita dapat mengetahui senyawa apa yang bertanggung jawab atas aksi farmakologisnya. Tetapi sering kali, kita tidak akan mungkin mengisolasi senyawa tersebut dan mengkonsumsinya tanpa disertai zat–zat penyertanya yang tidak memiliki efek farmakologis apa pun. Karena zat–zat penyerta itu memang tidak berguna secara farmakologis akan tetapi mereka memilki peran yang besar dalam menimbulkan efek farmakologis. Peran itu dapat berupa membantu kelarutan (seperti pada kasus kurkumin tadi), membantu proses absorbsi, meningkatkan efek dengan kerja sinergis, dan sebagainya. Maka, herbal harus diberikan satu paket utuh, bukan hanya dengan memberikan esensinya (zat aktifnya) saja.

Begitu juga dengan Islam. Islam harus diambil secara utuh, satu paket. Bukan hanya diambil esensinya saja. Sebagian orang menganggap esensi diterapkannya Islam adalah agar tercipta keadilan dan kesejahteraan sehingga meskipun bukan dalam sistem Islam 100% asalkan bisa tercipta keadilan dan kesejahteraan, tidak menjadi masalah. Izinkan saya untuk sedikit menganalogikan antara Islam dan herbal. Meski saya sadar, analogi ini mungkin tidak sepenuhnya tepat.

Anggaplah saya setuju (meski sebenarnya tidak) bahwa terciptanya kehidupan yang adil dan sejahtera adalah efek yang diinginkan dari diterapkannya Islam. Mari kita cari ajaran apa dari Islam yang diduga kuat bertanggung jawab atas efek “kehidupan yang adil dan sejahtera” sebagaimana kita mencari zat apa yang bertanggung jawab atas efek analgetik dan antiinflamasi pada kunyit. Orang ekonomi mungkin akan menyimpulkan bahwa yang bertanggung jawab adalah ajaran tentang larangan riba dan ajaran zakat. Mereka berpendapat bahwa dengan dihapuskannya riba, kesejahteraan akan dicapai. Dengan mendorong pelaksanaan zakat, keadilan (setidaknya dalam aspek ekonomi) akan tercapai. Lalu, sebagian orang berfikir, “OK, karena esensi dari Islam adalah agar tercipta kehidupan yang adil dan sejahtera. Dan ternyata ajaran yang akan membawa kita pada kehidupan yang adil dan sejahtera itu adalah larangan riba dan ajaran zakat. Maka, mari kita focus pada penghapusan riba dan mendorong masyarakat untuk membayar zakat! Tidak perlu memikirkan sistem seperti apa yang digunakan para penguasa kita untuk memimpin pemerintahannya!

Lalu, sebagian dari mereka pun dengan sepenuh tenaga dan insya ALLAH hati yang ikhlas berupaya untuk menghapuskan riba di tengah sistem yang saat ini ada. Berbagai lembaga keuangan “syari’ah” pun mereka dirikan. Ada bank syari’ah, BMT, dan lain sebagianya. Mungkin mereka lupa, tanpa mengubah sistem ekonomi yang diterapkan oleh negara, riba tidak akan pernah terhapus. Bukankah saat ini palaku riba terbesar adalah negara dengan sistem ekonominy yang Kapitalistik? Bank–bank “syari’ah” boleh saja menjamur tetapi bank central (baca: Bank Indonesia) tetap saja bank ribawi… Dan kalaupun sistem ekonomi itu diganti, misalnya saja dicangkokkan sistem ekonomi Islam ke dalam tubuh sistem Kapitalisme, maka sistem ekonomi Islam dijamin tidak akan pernah bisa tumbuh dengan baik, apalagi mensejahterakan tanpa didukung sistem–sistem Islam yang lain, misalnya sistem politik, hukum, pemerintahan, pendidikan, dll.

Sebagian yang lain sangat berkonsentrasi untuk menggalakkan zakat dan juga shadaqah. Lagi–lagi, tanpa melirik upaya perubahan dari sistem–sistem yang lain. Dari hitung–hitungan di atas kertas, mereka memprediksi jika semua Muslim di Indonesia sadar zakat, maka zakat itu cukup untuk mensejahterakan Indonesia. Maka mereka pun sangat bersemangat. Maraklah gerakan zakat, lembaga penyalur zakat pun bermunculan. Mungkin mereka lupa, seberapa besar kekuatan yang mereka miliki untuk memaksa seluruh Muslim di Indonesia membayar zakat tanpa adanya payung hukum tentang zakat? Sebagian mereka yang ingat, lalu mencoba mengupayakan agar kewajiban membayar zakat dibuatkan semacam undang–undang atau minimalnya Keppres. Tapi mereka lupa lagi bahwa asas negara ini adalah sekuler (meski pun negara ini malu–malu untuk mengakuinya). Ingat masalah penghapusan “7 kata dalam piagam Jakarta”? Bagaimana bisa mencantumkan kewajiban zakat dalam undang–undang? Mungkin mereka juga lupa kalaupun mereka berhasil membuat undang–undang tentang zakat, mungkinkah undang–undang itu ditaati oleh segenap masyarakat tanpa didasari penanaman aqidah yang kuat bahwa zakat merupakan kewajiban yang diberikan ALLAH kepadanya, dan bahwa dia harus memenuhinya sebagai bukti ketundukannya pada Tuhannya? Bukankah sudah menjadi rahasia umum bahwa rakyat negeri ini (bahkan penguasanya) sering melanggar hukum? Seolah–olah hukum itu dibuat untuk dilanggar. Dari sini saja tampak bahwa “sekadar” untuk menarik zakat saja butuh perubahan dalam banyak hal. Di antaranya perubahan sistem pendidikan agar berlandaskan aqidah Islam, sehingga ketika disampaikan suatu kewajiban dari ALLAH, maka tidak akan ada niatan untuk mengingkarinya, yang ada hanya patuh untuk melaksanakan. Butuh perubahan sistem hukum, bahkan butuh mengubah dasar negara yang sekuler ini. Hehehe…

Dari sini saya menemukan kemiripan antara Islam dan herbal. Keduanya sama–sama harus diberikan utuh, satu paket. Tidak bisa hanya diberikan esensinya saja jika ingin memberikan efek yang diinginkan. Jika kita menginginkan kesejahteraan, maka terapkanlah Islam secara utuh, kaaffah, bukan hanya sistem ekonominya saja, atau sistem pendidikannya saja. Apalagi jika kita menginginkan ridha ALLAH. Jelas, kita harus menerapkan Islam secar utuh, satu paket!

Terjebak Hujan di Malam Hari
Baitul Muta’alim Al–Quran, Yogyakarta, 23 Safar 1433H
Monday, January 16, 2012
8.57 p.m.

Haafizhah Kurniasih

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s