Pendidikan: Kunci Membangun Bangsa

Di tengah–tengah masyarakat tengah berlangsung krisis multidimensional. Kebodohan, pengangguran, kemiskinan, kemerosotan moral, kriminalitas, hingga premanisme hanyalah secuil fakta yang cukup menggambarkan betapa buruknya kehidupan masyarakat kita saat ini. Berbagai data dapat membuktikan hal itu. Dalam bidang pendidikan misalnya, besarnya jumlah anak putus sekolah. Sebanyak 527.850 anak atau 1,7 persen dari 31,05 juta anak SD putus sekolah setiap tahunnya (Kompas.com, 4/3/2011). Selain angka putus sekolah yang fanastis, kualitas pendidikan di Indonesia juga tergolong masih rendah. Ini ditunjukkan dengan data Indeks Pembangunan Manusia (IPM). IPM Indonesia berada pada level 0,617 pada tahun 2011 menduduki peringkat 124 dari 187 negara di dunia. IPM Indonesia hanya unggul jika dibandingkan Vietnam yang memiliki nilai IPM 0,593, atau Laos dengan nilai 0,524, Kamboja 0,523, dan Myanmar dengan nilai IPM 0,483 (Republika.co.id, 27/11/2011).
Dalam keyakinan Islam, berbagai krisis tersebut dikatakan sebagai fasad (kerusakan) yang ditimbulkan oleh perbuatan manusia. Hal ini berdasarkan pada firman ALLAH:
“…telah nyata kerusakan di daratan dan di lautan [yang disebabkan] oleh ulah tangan–tangan manusia.” (TQS. Ar–Rum: 41)
Ulah tangan manusia yang menyebabkan berbagai kerusakan tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah kecongkakan manusia dalam menjalani kehidupannya. Manusia merasa mampu untuk mengatur kehidupannya sendiri tanpa bimbingan Tuhan. Tuhan pun “dipensiunkan” perannya. Tuhan tidak lagi diperkenankan berperan untuk mengatur kehidupan bermasyarakat dan berenegara. Tuhan hanya boleh berperan di masjid–masjid (baca: kehidupan sekuleristik).Dalam kehidupan yang sekuleristik ini manusia merasa mampu untuk mengatur segala urusannya sendiri dalam segala bidang kehidupan tanpa perlu bertanya pada Tuhan. Manusia mengatur tata sosial kemasyarakatannya sendiri, mengatur pengelolaan sumber dayanya sendiri, kesehatannya sendiri, termasuk merasa mampu mengatur sistem pendidikannya sendiri tanpa “berkonsultasi” pada Tuhannya.
Akhirnya, manusia mengatur tata kelola pendidikannya secara materialistik dan sekuleristik. Secara formal kelembagaan, hal ini dimulai ketika dikeluarkannya dua kurikulum yang berbeda, yakni kurikulum yang dikeluarkan oleh Departemen Agama (Depag) dan yang dikeluarkan oleh Departeme Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud). Terdapat kesan yang sangat kuat bahwa pengembangan ilmu–ilmu kehidupan (iptek) merupakan sesuatu ynag bebas nilai sehingga sama sekali tak tersentuh oleh standar agama. Kalaupun pengembangan iptek tampak dibatasi oleh nilai tertentu, itu hanya sebatas etik yang tidak bersandar pada nilai agama, hanya sebatas apakah bisa diterima oleh masyarakat atau tidak. Akibatnya, fakta pun membuktikan pendidikan yang dijalankan gagal membentuk manusia yang shalih sekaligus menguasai iptek.
Tata kelola pendidikan yang sekuleristik ini akhirnya cenderung menghasilkan out put manusia–manusia cerdas yang melupakan Tuhannya, bahkan kehilangan nuraninya. Padahal, merekalah kini dan nanti akan mengisi serta memegang kendali dalam berbagai aspek kehidupan. Akibatnya, korupsi dan suap meraja lela karena tidak adanya self control yang kuat pada dirinya yang seharusnya terbangun melalui proses pendidikan yang dia jalani. Self contol yang paling kuat itu adalah kesadaran bahwa dirinya selalu diawasi oleh Tuhannya dan kelak akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dilakukannya. Namun, pendidikan yang sekuleristik tidak pernah membangun self control ini.
Ketika manusia–manusia cerdas hasil pendidikan yang sekuleristik menguasai pemerintahan pun berakibat munculnya kebijakan–kebijakan yang zhalim dan cenderung hanya mementingkan dirinya sendiri tanpa memperhatikan rakyatnya. Contohnya adalah rencana kenaikan harga BBM dan TDL di tengah kesulitan masyarakat. Hal ini lahir karena tidak adanya kesadaran dalam dirinya tentang kedudukannya sebagai hamba yang diberi amanah untuk memimpin manusia yang mengharuskan dia selalu berupaya memudahkan urusan rakyatnya, bukan mempersulitnya. Seharusnya kesadaran ini ditanamkan selama proses pematangan yang dijalani seseorang melalui pendidikan. Dan lagi–lagi dunia pendidikan kita saat ini tidak melakukannya.
Diakui atau tidak, dunia pendidikan kita saat ini lebih berorientasi pada materi, bukan pada pematangan peserta didik menjadi pribadi yang utuh: cerdas dan shalih. Dari tingkat siswa hingga mahasiswa lebih berorientasi pada nilai, ijazah, dan gelar. Bahkan sering kali guru atau dosen pun lebih berorientasi agar anak didiknya mendapatkan nilai yang tinggi dari pada kemampuan yang tinggi.
Inilah beberapa potret buram dunia pendidikan kita di antara banyak potret buram lainnya. Jika kita terus berdiam diri dan membiarkan proses pendidikan kita terus berjalan sebagaimana adanya, maka sulit diharapkan akan lahir pribadi–pribadi yang tidak hanya cerdas, melainkan juga shalih yang dapat mengelola kehidupan ini menjadi lebih baik.
Potret pendidikan ini tentu sangat jauh berbeda dengan potret pedidikan Islam. Sebuah potret pendidikan yang lahir dari bimbingan wahyu dari Sang Pencipta. Dalam Islam, pendidikan ditujukan tidak hanya untuk membentuk pribadi–pribadi yang cerdas dan terampil tetapi juga shalih. Melalui pendidikannya, Islam membentuk generasi yang shalih lagi cerdas. Yang tunduk pada Tuhannya, bertanggungjawab dan mampu berempati pada sesamanya, serta mampu mengelola alam dengan baik. Islam membentuk semua itu melalui terintegrasinya nilai–nilai agama (diin) dalam setiap point pengetahuan dan ilmu pendidikan yang diajarkan. Dengan sistem pendidikan yang demikian, telah terbukti Islam mampu melahirkan sosok–sosok jenius lagi shalih yang mampu mengelola dunia hingga mencapai puncak kejayaan dengan tetap mengikuti bimbingan Tuhannya. Sosok–sosok itu pun terukir indah dalam sejarah sebagai peletak dasar–dasar beragam ilmu, yang tidak hanya diklaim oleh kaum Muslimin tetapi juga oleh ummat yang lain.
Tidakkah kita rindu pada sistem pendidikan yang mampu melahirkan sosok–sosok yang demikian? Tidakkah kita rindu pada sosok–sosok yang shalih lagi cerdas yang kompeten di berbagai bidang tanpa kehilangan kemampuaannya berempati?

Haafizhah Kurniasih
—-Dikejar deadline—-

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s