Lihat Segalanya Lebih Dekat….

Hampir lima tahun hidup di lingkungan mahasiswa kesehatan cukup membuat saya merasakan bahwa lingkungan ini begitu eksklusif. Sebagian karena mengeksklusifkan diri karena merasa superior sebagai calon tenaga medis dan sebagian besar lainnya terpaksa menjadi eksklusif karena tuntutan ritme pendidikan yang dijalani. Eksklusivitas itu pada akhirnya membuat kami suasah untuk mengenal “dunia luar”, susah untuk berfikir di luar bidang kami. Mungkin sebagian besar dari kami sangat up date tentang wabah penyakit, penyalahgunaan obat, hingga penemuan obat baru. Kami memang care dengan segala macam permasalahan kesehatan. Kami peduli dengan banyaknya penderita HIV/AIDS. Kami prihatin dengan bertambah banyaknya perokok di negeri ini. Kami sedih ketika mendengar ada penderita gizi buruk. Kami juga ikut pusing dengan resistensi bakteri terhadap obat–obat antibakteri yang ada saat ini. Dan tentu saja kami senantiasa berusaha mencari solusi atas permasalahan–permasalahan tersebut. Tetapi jangan pernah tanya kami tentang hal–hal di luar itu. Jangan tanya kami tentang demo buruh yang rutin dilakukan tiap tahun, kami tidak tahu dan tidak mau tahu! Tentang subsidi BBM? Kami tidak peduli, toh selama ini orang tua kami masih mampu memfasilitasi kami motor, bahkan mobil tanpa kesulitan. Tarif Dasar Listrik mau naik secara periodik ya? Ooo…, ya paling nanti uang kos naik. Hal – hal semacam itu bukan urusan kami. Demikianlah sedikit gambaran tentang mayoritas penghuni lingkungan ini, lingkungan yang telah saya huni lebih dari empat tahun ini.

Apakah pemikiran seperti ini bermasalah? Tentu saja! Coba lihatlah lebih dekat, apakah semua permasalahan kesehatan merupakan murni masalah kesehatan saja tanpa melibatkan bidang yang lain? Ekonomi misalnya, atau masalah pendidikan mungkin? Atau hal yang lain?

Seorang dosen pernah bertanya di depan kelas “Seorang pasien laki–laki berusia sekian puluh tahun mendapatkan resep parasetamol akan dia mempunyai kebiasaan meminum alkohol dan mempunyai riwayat tukak peptik. Ada interaksi yang cukup serius antara parasetamol dan alkohol. Alkohol dapat mengurangi efektivitas parasetamol dan hepatotoksik. Apa yang akan Anda lakukan?”. Serempak para mahasiswa menjawab “Hentikan konsumsi alkohol!”. Sang dosen pun tersenyum sambil berkata “Yakin bisa? Istrinya saja tidak bisa menghentikan kebiasaannya itu!”.

Benar, kasus di atas adalah masalah kesehatan. Itu bidang kami dan sangat layak ditanyakan kepada kami. Tapi apakah masalah seperti ini benar–benar murni maslaah kesehatan dan bisa diselesaikan secara tuntas hanya dengan melihat aspek medisnya saja? Tentu tidak. Masalah pasien kecanduan alkohol adalah masalah yang ditimbulkan oleh kebijakan politik yang salah dan tentu saja solusi total atas permasalahan ini hanya bisa dilakukan jika melibatkan Negara. Kita sebagai individu, baik selaku keluarganya apalagi hanya selaku tenaga kesehatan yang menanganinya akan sangat sulit menghentikan kebiasaannya meminum alkohol akan tetapi Negara bisa melakukannya dengan mudah. Sekali Negara membuat kebijkan menutup seluruh pabrik minuman keras dan memutus distribusi minuman keras, maka dengan serta merta pasien tersebut dan seluruh warga negara lainnya akan berhenti meminum minuman keras. Bukankah minuman keras sebenarnya bukanlah kebutuhan akan tetapi seringkali orang tergoda untuk mencicipinya karena ada di depan mata (mudah didapatkan—red) kemudian menjadi terbiasa? Kalau minuman keras tidak lagi diproduksi dan tidak lagi dijual, dari mana mereka akan mendapatkannya? Maka, secara otomatis mereka akan berhenti minum alkohol. Tapi apakah penghuni lingkungan ini sampai berfikir ke arah sana? Saya yakin sebagian besar tidak karena terbiasa membatasi diri hanya berfikir di ranah kesehatan dan merasa enggan diajak bicara tentang masalah lain seperti ekonomi, budaya, apalagi politik karena menganggap itu bukan bidangnya dan bukan urusannya.

Kasus di atas hanyasalah satu dari sekian banyak permasalahan kesehatan yang sebenarnya disebebakan oleh hal lain di luar kesehatan dan oleh karenanya hanya dapat diselesaikan secara tuntas dengan membenahi hal–hal lain tersebut. Masalah HIV / AIDS adalah salah satunya. Selama ini sebagian besar orang kesehatan memandang masalah HIV / AIDS semata dari sudut pandang medis, maka solusi yang ditawarkan pun tidak jauh dari masalah medis. Para ahli farmasi sibuk mencari antivirus untuk dapat mengobatinya. Sebagian yang lain memandang bahwa HIV menginfeksi melalui hubungan seksual serta sharing penggunaan jarum suntik, maka solusi yang ditawarkan adalah sosialisasi save sex menggunakan kondom dan pembagian jarum suntik secara gratis.

Saya tidak ingin mengajak Anda memberikan penilaian apakah solusi yang ditawarkan di atas benar / tidak, akan tetapi saya ingin mengajak Anda untuk merenungkan benarkan masalah HIV / AIDS ini adalah murni masalah kesehatan? Saya rasa TIDAK! Ini adalah masalah sosial yang didukung oleh kebijakan politik yang keliru. Sebagaimana yang diketahui, penyebaran HIV paling besar adalah melalui hubungan seks berisiko, disusul sharing penggunaan jarum suntik di kalangan para pecandu, dan sebagian kecil lainnya melalui transfusi darah atau bayi yang tertular dari ibunya akan tetapi dua penyebab terakhir ini pun sedikit banyak pasti terkait dengan hubungan seks berisiko dan sharing jarum suntik.

Banyak terjadinya hubungan seks berisiko bukankah adalah akibat dari kebijakan poltik yang keliru? Kekeliruan terbesar adalah adanya lokalisasi pelacuran. Kekeliruan lainnya adalah dibiarkannya tayangan–tayangan atau media–media yang menjajakan rangsangan seksual beredar di tengah masyarakat dan mudah diakses oleh siapa pun. Sistem sosial yang ada pun mendukung dengan memfasilitasi pergaulan bebas antara laki–laki dan perempuan: remaja usia belasan tahun (apalagi yang lebih tua) yang tidak punya pacar dianggap aneh, bahkan tidak jarang dicurigai. Saya yakin jika konten–konten yang merangsang seks ditertibkan, lokalisas dibubarkan, serta pola pergaulan laki–laki dan perempuan tertibkan, tidak aka nada hubungan seks berisiko yang dapat berakibat pada penularan HIV. Tentu saja langkah ini memerlukan political will yang kuat dari para penyelenggara negara tidak bisa dilakukan oleh para tenaga kesehatan.

Terkait masalah sharing jarum suntik, siapa sih pelakunya? Para pecandu NARKOBA kan? Kenapa bisa ada banyak pecandu NARKOBA? Karena ada yang mengedarkan. Kenapa bisa ada banyak yang mengedarkan? Karena hukum yang diterapkan malah “memelihara” para pengedar NARKOBA. Masih ingat dalam ingatan kita bagaimana Corby, Ola, dan sederet nama gembong NARKOBA lainnya mendapatkan grasi dari presiden. Bahkan, tidak lama setelah pemberian grasi tersebut terungkap bahwa Ola masih menjalankan bisnis NARKOBA dari balik jeruji penjara. Dan ketika pihak pemberi garsi dikritik, alih–alih mencabut grasi malah “marah–marah”. Kita tahu bahwa ketika orang menggunakan NARKOBA, dia bukan hanya berpotensi berbagi jarum suntik tapi juga sangat mungkin melakukan hubungan seks berisiko yang dapat berujung pada penularan HIV. Maka, jika memang serius ingin memberantas HIV/AIDS, perbaiki sistem hukumnya, beri hukuman yang tegas dan memberikan efek jera kepada siapa pun yang terlibat dalam peredaran NARKOBA. Apakah ini bisa dilakukan oleh tenaga medis di dalam ranah medis?

Contoh lainnya adalah permasalahan gizi buruk. Yakinkah bahwa masalah gizi buruk adalah murni masalah kesehatan? Saya rasa TIDAK! Permasalahan gizi buruk hanyalah ujung dari serangkaian panjang kebijakan politik–ekonomi yang salah. Bermula dari ketidak mampuan pemerintah mengupayakan lapangan pekerjaan yang cukup dan layak bagi rakyatnya. Hanya mereka yang berijazah tinggi yang dapat berebut lapangan pekerjaan yang layak. Di sisi lain pendidikan tinggi mahal dan hanya dapat dijangkau oleh sebagian kalangan. Lalu pemerintah berkilah, “Kalau begitu, jangan ngaryawan! Mari kita tumbuhkan semangat berwirausaha!” tetapi kebijakan yang diambil tidak sinkron bahkan mematikan usaha rakyat. Lahir kebijakan impor buah, sayur, beras, daging, dll. Bagaimana tidak mematikan usaha para petani dan peternak lokal?! Diambil pula kebijakan liberalisasi migas: secara bertahap BBM akan dijual sesuai harga keekonomian sesuai harga pasar dunia akibatnya BBM mahal. Gas alam diberikan (bukan sekadar dijual murah tapi sangat murah, bahkan hampir gratis) ke China sementara PLN kesulitan bahan bakar sehingga terpaksa menggunakan bahn bakar lain yang lebih mahal, biaya operasional PLN membengkak, lalu pemerintah mengaku tidak lagi sanggup memberikan subsidi ke PLN akhirnya TDL naik secara berkala. Coba bayangkan, rakyat disuruh berwiraswasta dengan membuka usaha seperti apa yang tidak membutuhkan BBM dan listrik?! Oooh…, masih bisa! Berdagang kaki lima. Cukup modal kaki dan gerobak. Apa yang kemudian dilakukan pemerintah? Penggusuran PKL terjadi di mana–mana! Akibatnya pengangguran di mana–mana, kemiskinan merajalela. Belum lagi beban pajak yang semakin mencekik yang dibebankan kepada rakyat, termasuk pengusaha. Ketika pengusaha harus membayar pajak yang tinggi, memangnya dia mau membayar dari kantong pribadinya? Tentu tidak! Dia akan membebankan pajak tersebut kepada konsumen dengan cara menaikkan harga jual produknya. Harga barang pun semakin mahal tak terjangkau. Bisa makan setiap hari saja sudah untung, boro–boro memikirkan masalah gizi. Maka terjadilah gizi buruk. Jadiii…, bagaimana solusi tuntas untuk menyelesaikan permasalahan gizi buruk?

Sehingga, jika memang prihatin dan ingin menyelesaikan permasalahan kesehatan secara tuntas, mari keluar dari “kotak”! Tidak haram koq kita berfikir tentang ekonomi, hukum, bahkan politik. Memang kita bukan ekspert di bidang–bidang tersebut akan tetapi bidang kita, kesehatan sangat dipengaruhi oleh bidang–bidang tersebut. Tidak jarang kebijakan yang lahir dari bidang–bidang tersebut akan berimbas pada bidang kesehatan dan kitalah yang harus menyelesaikannya. Tetapi bagaimana mungkin kita mampu menyelesaikannya secara tuntas jika sumber masalahnya tidak kita ketahui?

Jangan pula merasa tidak pantas berpendapat apalagi memberi masukan dalam permasalahan ekonomi, hukum, maupun politik. Pernahkan kita berfikir bahwa mereka yang mendalami ketiga bidang tersebut juga bersikap seperti kita: merasa hanya layak berfikir tentang bidangnya, tidak pernah memikirkan tentang dampak kebijakan yang mereka ambil terhadap bidang kita, bukan karena ketidakpedulian tetapi karena ketidaktahuan? Ketika para ahli tata kota memutuskan untuk menggusur PKL, ketika para ahli pajak menentukan besaran pajak, ketika para ekonom memutuskan liberalisasi migas, apakah mereka berfikir tentang gizi buruk yang harus kita tangani? Ketika para ahli hukum memutuskan untuk longgar terhadap peredaran miras dan NARKOBA, apakah mereka berfikir tentang HIV / AIDS? Atau tentang kompleksitas permasalahan yang harus dihadapi para pecandu jike kemudian dia sakit dan mendapatkan obat tertentu? Kemungkinan besar tidak. Sekali lagi, kita harus berbaik sangka bukan karena ketidakpedulian akan tetapi karena ketidaktahuan bahwa dampaknya akan sebesar itu.

Kenapa bisa demikian? Karena mereka pun dididik seperti kita. Mereka menjalani proses pendidikan seperti yang kita jalani: memaksa mereka untuk hanya memikirkan bidang mereka saja. Maka, jangan harap permasalahan di bidang kesehatan dapat kita selesaikan secara tuntas jika kita tidak membuka diri untuk peduli dengan permaslahan di bidang lain yang mungkin secara sekilas tampak tidak berkaitan dengan kesehatan karena permasalahan di suatu bidang pasti terkait dengan bidang–bidang lainnya.

Mari berfikir secara menyeluruh dan selesaikan masalah secara tuntas dari akarnya.

Senja yang basah di Bayt Muta’alim al–Qur’an (BMQ)
Yogyakarta, 2 Muharram 1434 H
Friday, November 16, 2012
4.59 p.m.

Haafizhah Kurniasih

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s