Obat Mahal, Salah Siapa?

Obat Mahal, Salah Siapa?

Selalu sehat adalah dambaan setiap orang. Tidak ada seorang pun yang berkeinginan untuk sakit. Bahkan ketika terpaksa sakit pun, seseorang akan melakukan segala upaya semaksimal mungkin untuk kembali sehat. Salah satu upaya yang dilakukan untuk kembali sehat adalah dengan terapi menggunakan obat. Bahkan tidak jarang terapi menggunakan obat menjadi satu–satunya pilihan untuk kembali sehat. Pada keadaan seperti ini, obat menjadi kebutuhan pokok baginya. Dan setiap manusia sangat berpeluang berada dalam posisi tersebut. Artinya, bisa dikatakann bahwa obat menjadi kebutuhan pokok setiap manusia (meski hanya pada saat tertentu).

Sebagai suatu kebutuhan pokok—dan mendesak—seharusnya obat selalu terjangkau oleh pasien karena menyangkut keselamatannya. Akan tetapi pada faktanya sering dijumpai pasien tidak dapat menjangkau obat yang dibutuhkan karena harganya mahal. Banyak faktor yang menyebabkan harga obat mahal, salah satu di antaranya adalah adanya hak paten. Mayoritas (atau mungkin hampir semua?) hak paten ini dimiliki oleh industri obat besar. Adanya hak paten membuat industri pemegang hak paten berhak memonopoli produksi obat dan menentukan harga sesuai kehendaknya selama sekitar 20 tahun. Kalau pun ada industri lain yang ingin memproduksinya, industri tersebut harus membayar royalty kepada industri pemegang paten. Adanya kewajiban membayar royalty ini menambah biaya yang diperlukan untuk dapat memproduksi obat dan pada gilirannya membuat harga jual obat menjadi mahal. Banyak pihak—tidak hanya pasien dan keluarganya, tetapi juga tenaga kesehatan—mengeluhkan mahalnya harga obat ini.

Benar bahwa obat sebagai salah satu kebutuhan masyarakat seharusnya selalu tersedia dengan harga yang terjangkau bukan hanya tersedia tetapi dengan harga melangit yang tak terjangkau pasien. Akan tetapi, mahalnya harga obat saat ini karena adanya hak paten (copyright) adalah sesuatu yang wajar sebagai konsekuensi logis ketika para ilmuwan harus mencari sendiri dana yang dibutuhkan untuk penelitian dan ternyata hanya industri besarlah yang sanggup dan bersedia mendanainya. Siapa pun tahu dan maklum bahwa setiap industri memang didirikan untuk mencari keuntungan, bukan semata menyediakan kebutuhan masyarakat. Sangat dapat dimengerti jika ilmuwan dan industri yang mendanai penelitian obat menginginkan hak paten sebagai kompensasi atas pikiran, energi, waktu dan dana yang dicurahkan untuk penelitian.

Bukan lah ilmuwan yang mata duitan, bukan pula industri yang tidak berperikemanusiaan dalam permasalahan ini. Mari sedikit berempati. Penemuan obat bukanlah hal yang sepele. Dibutuhkan kerja cerdas dan kerja ekstra keras dalam penelitian hingga dapat menemukan obat. Jelas penelitian semacam ini membutuhan perhatian dan konsentrasi full dari para ilmuwan yang terlibat. Tidak jarang para ilmuwan harus menghabiskan waktunya berhari–hari di dalam laboratorium. Ketika sampai di rumah pun mereka masih memikirkan penelitiannya: mengevaluasi apa yang telah dikerjakan lalu merancang apa yang harus dikerjakan selanjutnya. Penelitian seperti ini tidak bisa dijadikan pekerjaan sambilan, bahkan mungkin dijadikan pekerjaan utama yang diselipi pekerjaan lain pun sulit. Ingat! Ilmuwan juga manusia. Mereka butuh menghidupi dirinya sendiri, juga anak dan istrinya. Sangat manusiawi jika mereka menginginkan kompensasi yang layak atas kerja keras mereka. Sangat dapat dipahami jika mereka ingin hidup sejahtera sebagai buah dari kerja cerdas dan kerja keras mereka.

Penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan adalah pekerjaan yang layak mendapatkan imbalan berupa materi sebesar yang mereka inginkan. Sama seperti abang becak menarik becaknya. Keduanya berhak mendapatkan imbalan dari siapa pun yang menggunakan jasa mereka. Jika abang becak berhak memasang tarif atas jasanya mengangkut penumpang, maka ilmuwan juga berhak mematok tarif untuk kerjanya. Sebagaimana dalam keadaan normal abang becak tidak akan mau mengangkut penumpang / barang dengan becaknya jika hanya dibayar dengan ucapan “Terima kasih ya Pak…” dan / atau ditambah do’a “Semoga ALLAH membalas kebaikan Bapak…”. Demikian juga dengan para ilmuwan.

Bagaimana dengan industri? Saat ini mayoritas industri obat adalah milik swasta, bukan milik negara. Tujuan seseorang membangun industri pasti adalah untuk dijadikan sumber penghasilannya. Keuntungan materi pasti menjadi tujuan utama dalam setiap kegiatannya. Kebijakan apa pun yang diambil oleh industri, pasti bertujuan untuk memperoleh keuntungan sebesar–besarnya, termasuk kebijakan untuk mendanai penelitian obat. Proses penelitian obat memakan biaya yang sangat besar. Biaya produksi obat hanya sepersekian dari biaya yang diperlukan untuk keseluruhan proses penelitian obat.

Sebagai ilustrasi, penemuan obat bisa dimulai dari informasi bahwa masyarakat tradisional suatu daerah biasa menggunakan tanaman X untuk mengatasi gejala penyakit tertentu. Berbekal informasi ini, ilmuwan meneliti kandungan apa dari tanaman X yang bertanggungjawab atas khasiat tersebut, misalnya kemudian diketahui bahwa senyawa tersebut adalah Xx. Akan tetapi kandungan senyawa Xx tersebut sangat kecil dalam tanaman X sehingga jika digunakan untuk terapi memerlukan dosis yang “tidak masuk akal”, misalnya 15kg tanaman X untuk sekali minum dan ternyata senyawa Xx ini dapat menimbulkan efek samping yang tidak diharapkan.

Kemudian para ilmuwan berfikir untuk memodifikasi senyawa Xx ini agar menjadi senyawa baru yang memilki khasiat yang sama dengan senyawa X dalam dosis yang lebih kecil (lebih poten) dan efek samping yang lebih ringan. Dilakukanlah penelitian in silico (menggunakan software). Jangan dibayangkan penelitian in silico ini cukup memakan waktu 3–4 jam, tetapi bisa memakan waktu berbulan–bulan. Misalnya kemudian didapatkan beberapa kandidat senyawa pengganti senyawa Xx yaitu Xx1, Xx2, Xx3, dan Xx4. Keempat kandidat senyawa tersebut kemudian disintesis di laboratorium. Tahap ini juga tidak mudah. Senyawa berhasil disintesis pada percobaan ke–10, itu suatu keajaiban yang harus disyukuri. Sangat mungkin pada tahap ini ilmuwan harus mengalami seperti apa yang dialami Thomas A. Edison yang harus mengalami ribuan kegagalan sebelum akhirnya berhasil mensintesis senyawa. Misalnya yang berhasil disintesis hanya senyawa Xx1, Xx2, dan Xx3. Ketiga senyawa tersebut kemudian diuji khasiatnya secara in vitro alias di dalam “tabung” (di luar tubuh makhluk hidup). Jika hasilnya memuaskan, penelitian dilanjutkan ke tahap in vivo atau di dalam tubuh makhluk hidup.

Uji in vivo ini diawali dengan uji menggunakan hewan uji (disebut uji pre klinik) untuk mengetahui apakah zat tersebut benar–benar dapat berkhasiat di dalam tubuh makhluk hidup. Jika iya, berapa dosis yang tepat? Lalu, apa saja efek samping yang mungkin ditimbulkan? Pada dosis berapa mulai muncul efek samping? Pada dosis berapa senyawa tersebut berpotensi memerantarai terjadinya kematian (LD, lethal dose)? Dari tahap ini misalnya hanya senyawa Xx1 yang memuaskan (efek samping ringan, selisih antara LD dan dosis efektif cukup besar, dll). Tahap selanjutnya adalah menentukan bentuk yang tepat untuk diberikan kepada manusia. Apakah senyawa tersebut akan diberikan dalam bentuk tablet, kapsul, sirup, salep, injeksi, atau yang lainnya. Misalnya didapatkan bahwa bentuk yang paling sesuai adalah tablet. Dilakukanlah pencarian bagaimana formulasi yang tepat untuk membuat tablet (semacam resep dan cara memasak yang tepat agar dihasilkan makanan yang enak degan kandungan nutrisi yang tetap terjaga).

Setelah tablet yang memenuhi syarat berhasil dibuat, penelitian dilanjutkan ke tahap klinik atau produk calon obat ini diujicobakan ke manusia. Ini tahap yang sangat kritis dan persyaratannya sangat ketat. Jangan dibayangkan bahwa penelitian ini dilakukan secara sembunyi–sembunyi alias orang–orang yang dijadikan naracoba tidak mengerti bahwa mereka sedang diberi produk calon obat baru. Tidak demikian. Semua orang yang terlibat mengetahui persis posisi mereka dalam penelitian tersebut. Orang–orang yang menjadi naracoba melakukannya dengan penuh kesadaran dan tanpa paksaan. Mereka menandatangi pernyataan kesediaan untuk menjadi naracoba dalam penelitian tersebut. Bisa dibayangkan, tidak mudah mencari naracoba. Jika pada tahap ini didapatkan hasil yang memuaskan, baru obat bisa diproduksi secara masal dan diedarkan. Itu pun dengan terus dilakukan pengawasan barngkali terjadi efek samping yang tidak diinginkan pada orang terntentu (misalnya ras tertentu, ibu hamil, anak–anak, lansia, dsb). Jika ternyata ada masalah, obat kembali dievaluasi dan tidak menutup kemungkinan obat bisa ditarik dari peredaran.

Bisa dibayangkan betapa panjang, rumit, dan mahalnya proses penelitian obat. Seandainya industri A yang mendanai dan melakukan penelitian itu (bersama para ilmuwan), sangat dapat dimaklumi jika industri A tidak ingin ada industri lain yang memproduksi obat Xx1 sebelum industri A balik modal. Jika industri lain boleh memproduksi, industri tersebut hanya mengeluarkan biaya untuk formulasi pembuatan tablet. Sementara industri A mengeluarkan biaya jauh lebih besar untuk penelitian sejak identifikasi senyawa Xx, uji in silico untuk menemukan senyawa Xx1, uji in vivo, formulasi, hingga uji klinis. Jika industri lain boleh memproduksi dan memasarkan obat Xx1, rugilah industri A.

Tulisan ini tidak untuk membahasa pro–kontra hak paten (copyright). Memang segala sesuatu yang telah dipublikasikan adalah milik publik. Siapa pun boleh memanfaatkannya, apalagi mengembangkannya. Tulisan ini hanya sekadar mengajak untuk berempati kepada para ilmuwan dan juga industri. Mereka juga manusia yang menginginkan kesejahteraan. Lalu bagaimana dengan pasien? Bukankah mereka juga berhak sembuh dan kembali sehat? Benar, mengupayakan kesembuhan adalah kewajiban sekaligus hak setiap pasien. Kesehatan adalah kebutuhan dasar masyarakat, hak setiap orang.

Sampai di sini sepertinya “pertarungan sengit” antara ilmuwan bersama industri obat di satu pihak dan pasien di pihak yang lain. Pertarungan ini tidak perlu terjadi jika negara menunaikan kewajibannya untuk menjamin pemenuhan kebutuhan dasar warga negaranya, salah satunya kebutuhan akan kesehatan. Salah satu yang harus dilakukan negara adalah dengan membiayai dan memfasilitasi penelitian obat. Jangan lepaskan tanggung jawab ini kepada industri swasta jika tidak ingin rakyatnya menderita. Danai penelitiannya, sejahterakan dan muliakan para ilmuwannya. Berikan penghargaan kepada para ilmuwan yang hasil penelitiannya memberikan kemanfaatna besar bagi masyarakat niscaya para ilmuwan akan bersemangat dan berusaha mempersembahkan yang terbaik. Setelah seluruh rangkaian tahap penelitian obat selesai dan ditemukan obat yang aman, undang seluruh industri yang ada, berikan hasil penelitiannya dan biarkan industri manapun yang berminat, memproduksinya tanpa harus membayar royalti kepada siapa pun. Biarkan mereka bersaing sehat dalam harga dan pelayanan (bukan dalam kualitas, Negara harus menjamin seluruh obat yang beredar berkualitas tinggi). Dengan demikian, harga obat menjadi terjangkau dengan pelayanan prima.

Solusi ini adalah solusi yang adil baik bagi ilmuwan, industri, maupun pasien. Ilmuwan memperoleh haknya sebagai seorang berilmu yang sudah selayaknya menikmati kesejahteraan dan posisi terhormat. Industri tetap bisa berjalan dan meraih keuntungan sebesar–besarnya. Pasien mendapatkan haknya untuk dapat mengupayakan kesembuhannya dengan biaya yang terjangkau.

Terkait mahalnya harga obat karena sebagian besar bahan bakunya impor

Kenapa kita harus mengimpor bahan baku obat? Karena bahan baku tersebut tidak tersedia di dalam negeri. Kenapa di dalam negeri tidak tersedia? Mungkin karena secara sumber daya alamnya memang tidak ada atau sebenarnya ada tetapi kita belum mampu mengolahnya. Jika sebenarnya ada tetapi belum mampu mengolahnya, dorong para ilmuwan untuk belajar mengolahnya. Jika memang benar–benar sumber daya alamnya tidak ada, dorong para ilmuwan untuk mengupayakan bahan–bahan lain untuk menyubstitusi bahan tersebut dari sumber daya alam yang ada di negeri ini. Kenapa selama ini para ilmuwan tidak melakukan hal tersebut? Karena mereka tidak memiliki dana dan tidak ada yang mendanai. Ditambah lagi dengan tidak adanya dukungan dan penghargaan bagi para ilmuwan.

Jika solusi ini diterapkan, insya ALLAH bukan hanya harga obat menjadi terjangkau—yang dengannya diharapkan taraf kesehatan masyarakat akan meningkat—juga akan membangun kemandirian bangsa dalam bidang kesehatan dengan mengurangi ketergantungan obat impor. Tentu saja solusi ini tidak mungkin dapat direalisasikan tanpa perbaikan di bidang yang lain. Penelitian butuh dana, dari mana? Menumbuhkan iklim meneliti juga bukan hal yang remeh, butuh proses. Menghentikan kebijakan impor juga bukan keputusan yang mudah. Maka, persoalan mahalnya harga obat ini harus dilihat dari segala aspek. Pengatasannya harus dilakukan dengan melibatkan pembenahan di segala bidang. Mari, kita mulai pembenahan itu sedini mungkin!

Mencoba membangun “jembatan”…
Yogyakarta, 11 Muharram 1434 H
Sunday, November 25, 2012
9.16 a.m.

Haafizhah Kurniasih

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s