Stigmatisasi ROHIS Berbuah Manis

RohisMasa remaja sering disebut sebagai masa pencarian jati diri. Tawuran, penyalahgunaan obat, mabuk, kebut–kebutan, dan berbagai kenakalan lainnya seringkali dimaklumi, bahkan dianggap normal dilakukan oleh remaja. Maka tidak heran jika banyak remaja yang bermasalah di sekitar kita.
Di tengah arus remaja yang masih bingung mencari jati dirinya hingga seringkali terjebak dalam berbagai kenakalan remaja, ada sekelompok kecil remaja yang telah mantap memilih jati dirinya menjadi pembela Islam. Di saat rekan–rekan seusianya tertipu dengan cinta semu dalam status pacaran yang seringkali menjerumuskan ke dalam pergaulan bebas yang membinasakan, mereka telah menemukan cinta haqiqi: cinta kepada ALLAH dan Rasul–NYA, larut dalam majelis–majelis ilmu. Di saat yang lain sibuk tawuran, mereka sibuk membela Islam dengan da’wah. Mereka adalah sekelompok pelajar yang tergabung dalam ROHIS (Kerohanian Islam). Mereka adalah barisan remaja hebat.
Telah menjadi sunatullah bahwa untuk menjadi orang hebat, harus melalui berbagai ujian. Salah satu ujian yang harus dilalui oleh ROHIS saat ini adalah adanya stigmatisasi sebagai pusat rekruitmen dan regenerasi teroris. Stigmatisasi ini dilakukan oleh salah satu TV nasional. Tentu saja stigmatisasi ini berdampak besar, banyak remaja yang takut berdekatan dengan ROHIS, apalagi menjadi bagian dari ROHIS. Pun banyak orang tua yang khawatir anaknya aktif dalam ROHIS akibat stigmatisasi ini. Stigmatisasi ini sekaligus menjadi tungku yang memisahkan emas dari pengotornya, membersihkan ROHIS dari remaja cengeng yang hanya sekadar mencari eksistensi diri. Hanya mereka yang kuat keyakinannya dan tahan terhadap cemoohanlah yang mampu terus bertahan dalam barisan ROHIS, barisan para pejuang Islam.
Kita memang bukan lagi aktivis ROHIS, stigmatisasi itu jelas tidak tertuju pada kita. Namun bukan berarti stigmatisasi tersebut tidak terakait dengan kita. Tugas kitalah untuk menguatkan adik–adik aktivis ROHIS agar tetap tegar tak terpengaruh oleh stigmatisasi tersebut. Menjadi tugas kita pula untuk meyakinkan para orang tua akan pentingnya anak–anak mereka terlibat aktif dalam ROHIS agar tidak terjerumus dalam kenistaan di tengah arus pergaulan remaja yang bermasalah. Juga menjadi tugas kita untuk meng-counter stigmatisasi tersebut sekaligus membentuk opini umum bahwa remaja kita harus dibina dengan Islam sedini mungkin dan seintensif mungkin.
Akhirnya, menjadi tugas kita bersama untuk menjadikan stigmatisasi ROHIS berbuah manis bagi semua. Berbuah manis bagi ROHIS karena telah memurnikannya dari aktivis palsu dan berbuah manis bagi kita sebagai ladang pahala untuk menguatkan da’wah serta memenangkan opini Islam di tengah masyarakat.

Tegal, 13 Dzulhijjah 1433 H
Sunday, October 28, 2012
8.57 p.m.
(Menunggu jemputan travel untuk kembali ke Yogyakarta)
Haafizhah Kurniasih

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s