Khilafah dan Klinik Tong Fang

Khilafah dan Klinik Tong Fang

Globalmuslim
Masih ingat dengan Klinik Tong Fang? Ya, sebuah klinik pengobatan alternatif yang iklannya sempat menggemparkan Indonesia. Klinik pengobatan tradisional China ini mengklaim bisa mengobati segala macam penyakit dari penyakit ringan hingga penyakit kronis yang berat seperti kanker, stroke, dan lain lain dalam waktu singkat. Mirip kisah sihir di negeri dongeng.

Lalu apa kaitannya dengan Khilafah? Apakah adanya klinik Tong Fang ini merupakan akibat dari ketidaan Khilafah? Bisa jadi… Tapi bukan itu yang akan kita bicarakan dalam tulisan ini.

Waktu demi waktu gema seruan Khilafah terus menguat. Semua kalangan pernah mendengar gemanya. Para guru dan pelajar mendengar seruan Khilafah melalui entry point tawuran pelajar, eksploitasi anak, dan segala hal yang terkait dengan dunia anak. Para dosen dan mahasiswa mendengarnya melalui kasus komersialisasi pendidikan, problem ketanagakerjaan, dan segala sesuatu yang terkait dengan dunia pendidikan tinggi. Para tenaga kesehatan mendengar gaung Khilafah melalui buruknya akses kesehatan masyarakat, penyakit menular seksual, SJSN serta seluk beluk dunia kesehatan lainnya. Para engineer mengenal Khilafah ketika membahas tentang pengelolaan minyak, nuklir, dan isu–isu dunia engineering lainnya. Para buruh mengenal Khilafah melalui kasus ketenagakerjaan seperti masalah outsourcing, minimnya upah buruh, dan sebagainya. Para pengusaha berkenalan dengan Khilafah melalui isu–isu perbisnisan. Para ekonom dikenalkan dengan Khilafah melalui isu inflasi, krisis ekonomi, pembangunan, pajak, dan sebagainya. Para perempuan diajak mengenal Khilafah melalui isu women trafficking, emasipasi, dan isu sensitif perempuan lainnya. Abang becak, Mang ojek, dan Pak Supir angkot mendengar Khilafah melalui isu kesejahteraan.

Semua kalangan pernah mendengar bahwa Khilafah adalah solusi atas permasalahan yang mereka hadapi. Kenakalan remaja? Khilafah solusinya. Tawuran pelajar? Khilafah solusinya. Masyarakat sulit mengakses kesehatan? Tidak ragu lagi, Khilafah solusinya! Maraknya women trafficking? Sudah pasti ketiadaan Khilafahlah penyebabnya. Ekonomi rawan krisis? Itu karena tidak ada Khilafah! “Lho, koq jadi mirip iklan Klinik Tong Fang?”, begitu komentar sebagian pengamat da’wah Khilafah. Bahkan, saking miripnya dengan iklan Klinik Tong Fang menurut sebagian pengamat, mereka sampai berseloroh “Orang peyot dan bangkotan yang tidak mau merapatkan kaki ketika berjamaah juga karena tidak adanya Khilafah!”. Masih menurut para komentator, seruan Khilafah akan berakhir sebagaimana berakhirnya Klinik Tong Fang.

Khilafah untuk Semua

Khilafah adalah bagian dari ajaran Islam. Khilafah merupakan salah satu dari hukum syara’, dan memiliki kedudukan yang sama seperti shalat, puasa, zakat, haji, jihad, dan lainnya. Karena Islam diturunkan untuk semua umur, semua golongan, semua profesi, semua tingkat pendidikan, semua ummat manusia, bahkan seluruh alam, Khilafah sebagai bagian dari Islam pun memiliki sifat tersebut. Sebagaimana shalat yang harus diketahui, diyakini, dan diamalkan oleh seluruh manusia dengan latar belakang pendidikan apa pun, berasal dari suku mana pun, berprofesi sebagai apa pun,Khilafah juga demikian karena Khilafah dan shalat sama–sama bagian dari ajaran Islam.

Menda’wahkan Islam adalah wujud cinta. Cinta kepada ALLAH dan cinta kepada mad’u. Rasa cinta kepada mad’u meniscayakan ketidakrelaan da’i atas penolakan mad’u pada Islam karena hal itu berpotensi menjerumuskan mad’u ke dalam api neraka. Oleh karenanya, da’i senantiasa mencari cara yang tepat agar mad’u dapat menerimanya.

Orang bijak berkata “Jika ingin apa yang kamu sampaikan dimengerti dan diterima, berbicaralah dengan bahasa kaum yang mendengarkan, bukan dengan bahasamu sendiri!”. Setiap da’i pasti menginginkan agar apa yang ia sampaikan diterima dan diamalkan karena diterimanya da’wah adalah keuntungan besar bagi da’i dan juga bagi mad’u. Oleh karenanya, setiap da’i harus mampu membahasakan materi da’wah dengan bahasa yang dimengerti oleh mad’u–nya. Ketika berbicara dengan para ekonom, da’i harus bisa menyampaikan Khilafah dengan bahasa ekonomi. Ketika berbicara dengan remaja ABG, para da’i harus berbicara dengan bahasa yang dimengerti oleh remaja ABG. Demikian juga ketika berbicara dengan para abang becak dan buruh bangunan, para da’i harus menyesuaikan bahasa yang digunakan agar dapat dimengerti.

Seseorang biasanya hanya akan menerima seuatu ide jika merasa ide tersebut dapat menyelesaikan permasalahannya. Demikian juga dengan ide tentang Khilafah. Jika mad’u tidak merasa bahwa Khilafah adalah solusi atas permasalahannya, kecil kemungkinan dia akan menerima ide Khilafah, apalagi memperjuangkannya. Oleh karena itulah, maka para da’i harus bisa menghadirkan Khilafah sebagai tawaran solusi atas permasalahan yang dihadapi oleh mad’u. Lalu apa bedanya dengan Klinik Tong Fang yang mengklaim diri solusi atas semua penyakit?

Perbedaannya terletak pada benar / salahnya klaim tersebut. Klaim yang dilakukan oleh Klinik Tong Fang hanya sebatas klaim semata tanpa bukti nyata atau bahkan sekadar alur berfikir yang logis sedangkan klaim bahwa Khilafah adalah solusi atas beragam permasalahan manusia itu ada mekanisme logis yang membuktikan kebenarannya, bahkan realita telah membuktikannya ketika dahulu Khilafah berdiri.

Khilafah bukanlah negara imaginer yang belum pernah ada apalagi sebuah negara di negeri dongeng yang tidak akan pernah merealita . Khilafah pernah ada, berdiri kokoh selama belasan abad. Selama itu pernahkah dijumpai problem kesejahteraan separah yang dijumpai di negara–negara Kapitalisme Demokratis? Tidak pernah. Pernahkah dijumpai problem tawuran pelajar seperti yang dialami negeri ini selama bertahun–tahun? Tidak pernah. Pernahkan dijumpai problem penyakit menular seksual sememprihatinkan ini? Tidak pernah. Pernahkan ditemukan problem ketenagakerjaan serumit saat ini? Tidak pernah.

Mungkin aka nada yang berkata, “Ah, itu kan dulu ketika problematika manusi belum sekompleks saat ini. Jika Khilafah diterapkan saat ini, masihkah mampu menyelesaikan permasalahan–permasalahan tersebut?”. Jawabannya adalah BISA. Problematika manusia sejak zaman Nabi Adam hingga hari kiamat kelak pada dasarnya adalah sama yaitu bagaimana memenuhi kebutuhan jasmani (hajatul udhawiyah) dan kebutuhan naluri (gharaiz)nya, yang berbeda hanya detil permasalahannya. Jika dulu Khilafah mampu menyelesaikannya dengan panduan Qur’an dan Sunnah maka sekarang atau esok pun tetap akan dapat menyelesaikannya karena Qur’an dan Sunnah tidak pernah kadaluarsa Bagaimana mekanismenya? Silakan tanyakan kepada ustadz/ustadzah terdekat yang menda’wahkan Khilafah.. ^_^

Mekanisme logis bagaimana Khilafah bisa menyelesaikan permasalahan manusia yang tidak dapat diselesaikan oleh model negara lainnya itu ada dan telah banyak dijelaskan. Hanya saja frekuensi pengopinian penjelasan mekanisme tersebut tidak sesering jargon–jargon “Selesaikah Maslaah X dengan Khilafah”. Kenapa? Karena menyampaikan jargon itu relatif lebih mudah daripada menyempaikan uraian penjelasan mekanisme penyelesaian masalah. Lebih mudah bagi kedua belah pihak. Mudah bagi da’i karena tidak perlu mengkaji banyak referensi atau pun belajar menyusun argument yang logis dan mengena. Juga lebih mudah bagi mad’u karena tidak perlu meluangkan banyak waktu untuk mendengarkan paparan dari sang da’i, cukup melirik sejenak jargon–jargon yang ditempel di papan pengumuman.

Adanya sindirian bahwa Khilafah mirip Klinik Tong Fang seharusnya menjadi pelajaran bagi kita semua baik sebagai da’i maupun sebagai mad’u. Sebagai mad’u, kita pun perlu berhusnu zhan, mungkin ilmu kita yang belum cukup untuk memahami bagaimana kaitan antara masalah X dengan Khilafah. Jangan ragu untuk bertanya kepada para da’i yang menyerukan jargon tersebut “Maksudnya bagaimana?” pun jangan malas belajar dari berbagai sumber. Sebagai da’i mungkin kita perlu lebih banyak belajar untuk dapat memaparkan bagaimana mekanisme Khilafah menyelesaikan berbagai permasalahan, tidak hanya sebatas jargon.. Jangan sampai gara–gara kemalasan kita ummat menjadi jenuh dengan dengan jargon–jargon Khilafah dan membuatnya berakhir tragis sebagaimana berakhirnya iklan Klinik Tong Fang…

Yogyakarta, 3 Muharram 1434 H
Saturday, December 15, 2012
6.25 p.m.

Haafizhah Kurniasih

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s