Seputar Vaksinasi

baby Beberapa tahun belakangan isu imunisasi menjadi isu kesehatan yang paling populer diperbincangkan di tangah masyarakat. Bahkan perbincangan di sekitar imunisasi tidak jarang meruncing ke arah pro dan kontra. Berbagai kalangan terlibat dalam pro kontra terkait imunisasi mulai dari ibu rumah tangga, herbalis, aktivis Islam, ulama, dan tentu saja praktisi kesehatan. Ada banyak hal yang menyebabkan terjadinya pro kontra imunisasi, akan tetapi secara garis besar dapat dikategorikan ke empat masalah berikut:

  • Isu halal/haram
  • Keamanan vaksin baik dilihat dari komposisinya yang dianggap berbahaya maupun KIPI dan dampak jangka panjang vaksin.
  • Isu politik: imunisasi dianggap sebagai cara bagi negara Kapitalis (termasuk Yahudi) untuk melemahkan generasi penerus negara berkembang.
  • Sekilas tentang Vaksin

    Sebelum berbicara tentang pro kontra imunisasi lebih lanjut, kita perlu menyamakan definisi imunisasi dengan jelas. Menurut buku Pedoman Imunisasi Indonesia, imuniasasi didefinisikan sebagai proses pemindahan atau transfer antibody (salah satu komponen sistem imun[pertahanan tubuh]—pen) secara pasif. Antibodi ini diperoleh dari komponen plasma seseorang yang pernah mengidap penyakit tertentu dan sudah sembuh dari penyakit tersebut. Sedangkan vaksinasi adalah pemberian vaksin atau antigen dari virus / bakteri yang dapat merangsang diproduksinya antibody dari sistem di dalam tubuh.

    Lalu, apa yang dilakukan vaksin di dalam tubuh?
    Secara garis besar, tubuh kita memiliki dua jenis komponen sistem imun, yaitu yang bersifat spesifik dan yang bersifat non spesifik. Komponen imun yang bersifat non spesifik memiliki mekanisme aksi yang sama untuk setiap agen infeksi yang masuk. Analoginya seperti satpam yang kuat tetapi kurang terlatih, siapa pun maling yang masuk akan dipukul dengan cara yang sama (misal dipukul di perutnya). Sedangkan komponen imun yang spesifik mampu membedakan agen infeksi yang masuk dan memeberikan perlakuan yang berbeda kepada tiap agen infeksi yang masuk dengan catatan komponen imun spesifik ini telah “mengenal” agen infeksi ini sebelumnya. Ibaratnya seperti tentara terlatih yang telah mengenali kelemahan tiap musuh, ada yang kelemahannya di kepala, ada yang kelemahannya di kaki, dsb. Komponen imun spesifik ini akan “memukul” agen infeksi yang telah dikenalnya itu tepat di titik kelemahannya sehingga agen infeksi itu bisa dibunuh. Di sinilah fungsi vaksin. Vaksin berfungsi untuk mengenalkan komponen imun spesifik kepada agen infeksi sehingga ketika agen infeksi yang kuat benar–benar datang, komponen imun spesifik sudah tahu bagaimana harus menghadapinya.

    Seberapa besar manfaat yang dapat diperoleh dari vaksin?
    Sejauh ini manfaat yang diperoleh dari vaksin cukup besar. Sejumlah penyakit berbahaya berhasil dicegah secara efektif dengan vaksinasi dan / atau imunisasi. Data yang diperoleh sejak tahun 1974 hingga 2001 vaksinasi berhasil menurunkan angka morbiditas (angka kesakitan) sejumlah penyakit berbahaya secara signifikan seperti campak 100%, tetanus 97,9%, pertusis 96,3%, mumps 99,8%, cacar air, difteria, polio, dll. Pemberian vaksin DTP juga terbukti mampu mengurangi jumlah kasus SIDS (Sudden Infant Death Syndrome).
    big_DTP3_global_coverage
    Cakupan imunisasi DTP vs Kasus Dipteri

    Komposisi Vaksin

    Masuknya isu halal/haram sebagai salah satu point yang diperbincangkan dalam pro kontra imunisasi sesungguhnya merupakan berita baik karena hal itu mengindikasikan bahwa masyarakat care dengan aturan ALLAH, setidaknya dalam hal kehalalan zat yang masuk ke tubuhnya. Ini perlu diapresiasi dan dikuatkan. Akan tetapi, benarkah vaksin itu haram? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu mengetahu komposisi vaksin.

    Komposisi vaksin tersusun atas antigen, adjuvant, preservative (pengawet), dan stabilizer. Antigen adalah komponen utama dalam vaksin yang dapat merangsang produksi antibody. Antigen ini mudah rusak sehingga memerlukan perlakuan khususagar dapat bekerja secara optimal dan kualitasnya terjaga sempurna. Di antara perlakuan khusus tersebut adalah harus disimpan di suhu dingin, sekitar 2–8oC (tiap jenis vaksin memerlukan suhu penyimpanan yang berbeda).

    Adjuvant adalah suatu zat yang berfungsi untuk memaksimalkan respon sistem imun tubuh terhadap rangsangan antigen. Antigen yang diberikan bersama dengan adjuvant akan memberikan rangsang yang lebih cepat dari pada hanya diberikan antigen saja. Adjuvant yang saat ini dianggap paling efektif sehingga banyak digunakan adalah garam aluminium.

    Sesuai namanya preservative (pengawet) berfungsi untuk mengawetkan vaksin. Preservative ini bekerja dengan cara mencegah tumbuhnya bakteri atau jamur. Preservative ini terutama diperlukan untuk vaksin yang dikemas dalam kemasan multi dose. Ada banyak preservative akan tetapi yang paling banyak digunakan saat ini adalah thimerosal (ethyl mercury).

    Stabilizer berfungsi untuk menyetabilkan vaksin jika berada dalam kondisi yang tidak ideal (misal panas). Terdapat banyak jenis stabilizer yang sering digunakan seperti gula, asam amino, atau protein.

    Itulah zat–zat yang terkandung dalam vaksin.

    Status Kehalalan Vaksin

    Salah satu kaidah fiqh menyatakan “al-ashlu fil asy-yaa’i al-ibaahatu maa lam yarid daliilut tahriim”: hukum asal dari segala sesuatu (benda) adalah boleh selama tidak ada dalil yang mengharamkan. Seluruh komponen dalam vaksin terkategori “asy–yaa’i” sehingga hukum asalnya boleh dimanfaatkan kecuali ada dalil yang mengaharamkannya baik secara mutlak maupun mengharamkannya dimanfaatkan dengan cara tertentu. Sekarang mari kita lihat, apakah ada komponen dalam vaksin yang diharamkan, baik secara mutlak maupun haram ketika dimanfaatkan dengan cara tertentu.

    Antigen, apakah ada dalil yang mengharamkannya? Tidak ada. Bakteri atau virus sebagai asal dari antigen, apakah ada dalil yang mengharamkannya? Tidak ada. Maka, baik antigen maupun virus dan bakteri tidak haram untuk dimanfaatkan. Garam aluminium yang biasa digunakan sebagai adjuvant pun adalah benda. Adakah dalil yang mengharamkan garam aluminium? Tidak ada. Maka, aluminium halal untuk digunakan selama tidak digunakan untuk melakukan pelanggaran hukum syara’. Thimerosal alias ethyl mercury juga adalah benda. Apakah ada dalil yang mengharamkannya? Tidak ada. Selanjutnya, stabilizer. Ada banyak zat yang digunakan, mari kita lihat satu per satu. Gula, apakah itu haram? Tentu tidak, bahkan setiap hari kita mengonsumsinya. Asam amino, apakah ada dalil yang mengharamkannya? Tidak ada. Protein? Tidak ada dalil yang mengharamkan protein, bahkan setiap hari kita mengonsumsi protein. Tempe mengandung protein, ikan kandungan proteinnya tinggi, telur juga sumber protein.

    Mungkin aka nada yang bertanya “Benarkah hanya itu yang terkandung dalam vaksin? Katanya vaksin mengandung babi?”. Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, harus dibedakan terlebih dahulu antara “terkandung dalam vaksin” dan “digunakan dalam pembuatan vaksin”. Jika pertanyaannya “yang terkandung dalam vaksin”, ya memang hanya itu. Jika pertanyaannya “yang digunakan dalam pembuatan vaksin”, memang ada beberapa zat lain yang terlibat dalam pembuatan vaksin tetapi tidak termasuk kdalam komponen vaksin. Seperti misalnya dalam membuat brownies, kita memerlukan serbet (kain lap) untuk memasukkan dan mengeluarkan loyang dari oven, tapi serbet tersebut tidak ada dalam brownies.

    Sebagian vaksin (sekali lagi: hanya sebagian, bukan seluruh vaksin) memang masih melibatkan tripsin babi dalam proses pembuatannya. Sebagian vaksin tersebut adalah vaksin polio injeksi (IPV, yang oral tidak), sebagian vaksin meningitis merek tertentu, MMR, vaksin rotavirus, dan beberapa merek vaksin flu. Bagian yang terlibat dalam proses pembuatan sebagian vaksin tersebut adalah tripsin babi. Enzim tripsin ini berfungsi sebagai katalisator untuk membantu mempercepat reaksi pemecahan sel. Sebagaimana sifat katalisator, setelah reaksi selesai tripsin akan “kembali ke tempatnya”, tidak akan terbawa ke hasil akhir reaksi. Selanjutnya vaksin akan dicuci berulang kali sehingga bisa dikatakan bahwa vaksin tersebut telah terbebas dari sisa–sisa tripsin yang digunakan.
    Berdasarkan hal tersebut, maka keraguan atas kehalalan vaksin karena mengandung babi telah terjawab: vaksin tidak mengandung babi.

    Tapi kan prosesnya melibatkan babi? Babi kan najis? Najis mughaladhah pula… Menyucikannya harus 7 kali dengan salah satunya menggunakan tanah. Apakah “pencucian” vaksin juga demikian? Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu dikethaui terlebih dahulu bagaimana kedudukan babi dalam syari’at. Keharaman babi adalah sesuatu yang pasti, tidak ada perbedaan pendapat di dalamnya karena berdasarkan firman ALLAH antara lain dalam QS. Al–Baqarah [2]: 173, QS. Al–Maidah [5]: 3, QS. Al–An’aam [6]: 145, dan QS An–Nahl [16]: 115.

    Akan tetapi, terkait kenajisan babi ternyata ulama berbeda pendapat. Imam Syafi’e berpendapat bahwa babi adalah najis mughaladhah yang cara menyucikannya harus dicuci dengan air sebanyak 7kali dengan salah satu di antaranya dicampur dengan debu. Hal ini karena beliau meng–qiyas–kan kenajisan babi dengan kenajisan anjing. Sebagaimana perkataan beliau dalam Al–Umm:

    في يكن لم حاله من شر في يكن لم إن الخنزير وكان وسلم عليه
    تعالى الله صلى الله رسول به مر أبما الكلب في فقلنا
    عليه قياسا به فقلنا منها خير

    “Kami berpendapat dalam masalah najis anjing berdasarkan pada apa yang diperintahkan oleh Nabi Muhammad. Adapun babi apabila ia tidak lebih buruk ia juga tidak lebih baik oleh karena itu kami menyamakan status najis babi sama dengan najis anjing.”

    Sedangkan seperti disebutkan dalam penjelasan hadist no. 9 pada Kitab Bulughul Maram, jumhur ulama menolak peng–qiyas–an tersebut karena tidak adanya ‘illat (alasan) pada dalil–dalil yang menyebutkan cara penyucian najis anjing sehingga dalil tersebut hanya khusus untuk najis anjing saja, tidak dapat diqiyaskan untuk yang lainnya. Berdasarkan hal tersebut, maka najis babi cukup diperlakukan sebagaimana najis lainnya. Pendapat ini didukung oleh hadits terkait wadah yang pernah digunakan untuk memasak/menghidangkan babi.

    Abu Dawud [no. 3839], meriwayatkan dengan sanad yang shahih:
    Dari Abu Tsa’labah Al Khusyani, ia pernah bertanya kepada Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya kami bertetangga dengan Ahli Kitab, sedangkan mereka memasak (daging) babi di panci-panci mereka dan meminum di bejana-bejana mereka?” Jawab Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika kamu mendapatkan (panci dan bejana) yang selainnya, maka makanlah dan minumlah dengannya. Jika kamu tidak mendapatkan yang selainnya, maka cucilah dengan air, lalu makanlah dan minumlah (dengan bejana mereka).”

    Hadits tersebut menunjukkan bahwa benda–benda yang bersinggungan dengan babi cukup disucikan dengan air saja, sebagaimana najis lainnya. Dengan demikian, maka meskipun sebagian vaksin melibatkan tripsi babi dalam proses pembuatan, vaksin tersebut menjadi suci kembali karena setelah reaksi yang melibatkan tripsin babi selesai, vaksin dicuci berkali – kali hingga dapat dipastikan tidak ada lagi unsur dari tripsin babi yang terbawa dalam produk akhir.

    Mungkin masih akan ada yang bertanya “Tapi kan memanfaatkan benda haram tetap haram. Bagaimana?”. Benar bahwa memanfaatkan benda haram adalah haram. Akan tetapi, bukankah yang vaksin yang kita terima statusnya sudah bukan benda haram? Yang memanfaatkan benda haram kan produsennya, bukan kita. Mungkin bisa dianalogikan dengan seorang petani yang memupuk kebunnya dengan kotoran binatang (dalam hal ini petani memanfaatkan benda yang najis dan haram), apakah hasil kebun tersebut menjadi haram?

    Mungkin masih ada yang akan bertanya “Tapi kan pada awalnya melibatkan benda haram meskipun hasil akhirnya benda haram itu sudah tidak ada lagi. Bukankah hasil akhir itu tidak akan terbentuk jika awalnya tidak melibatkan benda haram tersebut?”. Benar, tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian vaksin melibatkan benda haram pada tahap awal proses pembuatannya. Dalam hal ini perlu diingat bahwa Islam telah memberikan kekhususan dalam hal pemanfaatan benda haram untuk kepentingan kesehatan. Ulama berbeda pendapat mengenai pemanfaatan benda haram untuk kesehatan, namun yang rajih adalah pendapat yang menyatakan tidak haram karena di satu sisi ada dalil yang melarang berobat dengan benda haram akan tetapi di sisi lain Rasulullaah pernah membiarkan suku Ukl dan Urainah untuk berobat dengan meminum air kencing unta serta pernah pula membiarkan Abdurrahman ibn Auf dan Zubair bin Awwam memakai sutra karena keduanya menderita gatal–gatal. Pada dalil–dalil yang memperbolehkan pemanfaatan benda haram untuk kesehatan terebut tidak disebutkan tingkat keparahan tertentu yang menjadi batas dibolehkannya pemanfaatan benda haram tersebut.

    Keamanan Vaksin

    Sebagai seorang Muslim, kita harus memastikan segala sesuatu yang masuk ke tubuh kita haruslah halal dan thayib. Tidak cukup hanya halal saja, tapi juga harus dipastikan sesuatu tersebut baik dan tidak membahayakan tubuh. Bagaimana dengan vaksin? Bukankah vaksin mengandung logam berat seperti thimerosal (ethyl mercury) dan garam aluminium? Bukankah itu berbahaya?

    Perlu diketahui bahwa segala sesuatu di dunia ini berpotensi menimbulkan bahaya sekaligus berpotensi memberikan manfaat bagi kita. Kunci untuk mengendalikannya adalah dosis, kepada siapa diberikan, dan kapan diberikan. Misalnya gula. Gula pada takaran 2 sendok teh dilarutkan dalam segelas air teh akan sangat bermanfaat diberikan kepada orang sehat yang sedang lemas karena lapar. Pada kondisi seperti ini gula memberikan manfaat berupa energi yang siap pakai bagi tubuh sehingga dapat mengatasi rasa lemas dan menunda lapar untuk sementara waktu. Akan tetapi, gula sejumlah 1 kg diberikan sekaligus meskipun kepada orang normal juga akan berbahaya karena kemungkinan akan menyebabkan rasa mulas dan pusing. Apalagi jika gula tersebut diberikan kepada penderita Diabetes Mellius, sangat berbahaya.

    Demikian juga dengan thimerosal dan garam aluminium. Keduanya berbahaya jika diberikan dalam dosis berlebih tetapi bermanfaat jika diberikan dengan dosis yang tepat. Kadar mercury yang dinyatakan aman oleh ATSDR (Agency for Toxic Substances and Disease Registry) sebesar 0,3 mikrogram/kg BB/hari atau jika dikonversikan ke berat badan rata–rata bayi usia 6 bulan sekitar 194–319 mikrogram, menurut FDA adalah sebesar 0,4 mikrogram/kg BB/hari atau 259–425 mikrogram, dan menurut WHO sebesar 305–501 mikrogram. Sedagkan kadar akhir mercury dalam vaksin berkisar 12,5–25 mikrogram. Dengan demikian, seorang bayi hingga umur 6 bulan yang mendapatkan imunisasi dasar lengkap akan mendapatkan paparan mercury sejumlah 75 mikrogram. Itu pun dengan asumsi mercury terakumulasi di dalam tubuh bayi sejak dosis pertama vaksin diberikan hingga dosis terakhir yang diberikan. Padahal faktanya, ethyl mercury yang digunakan dalam vaksin memiliki waktu paro selama 7 hari. Artinya, setalah 7 hari sejak divaksin, jumlah ethyl mercury sudah tinggal setengah dari jumlah ethyl mercury yang diberikan, 7 hari berikutnya tinggal seperempat, dan seterusnya.Berdasarkan data, ini tidak perlu ada yang dikhawatirkan dengan penggunaan mercury dalam vaksin.

    Terkait penggunaan garam aluminium, tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentangnya. Disadari atau tidak, setiap hari manusia mengonsumsi aluminium melalui makanan. Beberapa makanan yang mengandung aluminium misalnya ASI (50 mikrogram/liter), susu formula (225 mikrogram/liter), sayuran (jamur, bayam, lettuce) mengandung sekitar 5–10 mg/kg, bahkan air pun mengandung aluminium. Kandungan aluminium dalam tiap dosis vaksin maksimal tidak lebih dari 1.14 mg. Setelah 24 jam sejak diinjeksikan, sekitar 50–70% aluminium yang ada di dalam tubuh akan dieksresikan melalui urine. Aluminium ini telah digunakan selama puluhan tahun dan dinyatakan aman.

    Dari uraian tersebut, tampak bahwa vaksin aman digunakan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari komposisi vaksin. Tidak ada zat berbahaya di dalamnya, semuanya dalam takaran dosis yang tepat.

    Bagaimana dengan “efek samping” vaksin? Katanya vaksin yang paling aman adalah vaksin yang tidak pernah digunakan? Benar sekali, vaksin yang paling aman adalah vaksin yang tidak pernah digunakan, sebagaimana api yang paling aman adalah api yang tidak pernah dinyalakan. Api yang tidak pernah dinyalakan adalah api yang paling aman karena tidak berpotensi menimbulkan kebarakaran akan tetapi juga menjadi api yang paling tidak bermanfaat. Kuncinya adalah pengendalian berapa besarnya api. Demikian pula dengan vaksin. Vaksin yang paling aman adalah yang tidak pernah digunakan, sekaligus paling tidak bermanfaat. Kuncinya adalah dosis dan dosis dalam vaksin telah dihitung matang–matang oleh para ahli untuk memaksimalkan manfaat dan meminimalkan risiko.

    Ada rumor menyebutkan bahwa penggalakan vaksin malah menimbulkan penyakit baru yang lebih berbahaya seperti kanker dan austis. Apakah benar? Vaksinasi yang kita kenal sekarang dikembangkan sejak Edward Jenner sukses menemukan vaksin cacar (smallpox) sedangkan penyakit kanker sendiri sudah ada jauh sebelum vaksin dikembangkan. Kanker telah dikenal dalam catatan kuno Mesir sejak 3000 tahun sebelum masehi. Memang kata yang digunakan bukan “kanker” akan tetapi deskripsi penyakit yang disebutkan sama dengan deskripsi penyakit kanker. Masyarakat Indonesia pun sebenarnya telah lama mengenal kanker, meski tidak dengan nama kanker tetapi dengan istilah lain. Bahkan telah lama mencoba mengobati kanker dengan aneka herbal. Itulah kenapa eksplorasi senyawa anti kanker dari herbal difokuskan pada herbal yang dikenal berkhasiat sebagai “anti bengkak”, “anti tumor”, dsb. Jadi, tidak benar bahwa kanker adalah penyakit baru sebagai akibat dari penggalakan vaksin.

    Terkait autisme, memang sempat menjadi isu yang meresahkan sejak Andrew Wakefield mempublikasikan penemuannya tentang vaksin MMR yang diduga menyebabkan autisme dalam suatu jurnal ilmiah pada tahun 1998. Akan tetapi dikemudian hari diketahui bahwa Wakefield melakukan manipulasi data dalam publikasinya tersebut. Setelah melalui investigasi yang panjang, akhirnya pada tahun 2010 publikasi Wakefield dibantah (“dicabut”) dan Wakefield dipidana atas kesalahannya tersebut. Dibutuhkan waktu hingga 12 tahun untuk menunjukkan ke public kesalahan penelitian Wakefield dan hingga saat ini tidak ada bukti yang menunjukkan adanya kaitan vaksin MMR dan autisme.

    Vaksinasi = Konspirasi?

    Ada rumor menyebutkan bahwa program vaksinasi adalah bagian dari rencana Negara–Negara Kapitalis untuk melemahkan penduduk Negara–Negara Muslim, terutama generasi mudanya. Apakah benar? Sebelum menjawab rumor tersebut benar atau tidak, perlu disepakati dulu definisi lemah itu seperti apa? Lemah secara fisik atau lemah secara akal atau lemah secara apa?

    Lemah fisik itu maksudnya bagaimana? Parameternya apa? Angkat beban berat, kuat berlari ribuan kilo meter, atau bisa mukul orang sampai pingsan dengan tangan kosong? Sebelum menyalahkan apa atau siapa, mari kita lihat gaya hidup kita. Bagaimana mau kuat berlari kalau ke mana–mana selalu menggunakan kendaraan bermotor? Bagaimana mau kuat mengangkat beban berat kalau tidak pernah berlatih?

    Lemah fisik dalam arti mudah sakit? Kembali lagi “mudah sakit” itu parameternya apa? Didefinisikan dulu maksudnya bagaimana, parameternya apa baru nanti kita bisa bahas benar atau tidak vaksinasi itu melemahkan manusia secara fisik.

    Demikian juga dengan melemahkan akal, definisikan dulu maksudnya bagaimana, parameternya apa. Kita tidak bisa asal melempar klaim atau jargon–jargon tanpa definisi. Apakah dari IQ, atau dari prestasi–prestasi yang dicapai dalam kehidupan atau apa? Definisikan dengan jelas.

    Karena tidak ada definisi dan parameter yang jelas terkait vaksin dan pelemahan generasi, maka kita tidak bisa menyimpulkan klaim tersebut benar atau salah. Seandainya pun kita bisa menemukan definisi dan parameter “melemahkan generasi”, dan terbukti bahwa vaksin melemahkan generasi, mungkinkah Negara–Negara Kapitalis itu memvaksin warga negaranya sendiri, bahkan militernya? Mungkinkah Negara–Negara itu sengaja melemahkan warganya sendiri, bahkan militernya? Sungguh gila kalau ada Negara yang melakukan hal itu….

    Faktanya, di Negara–Negara Kapitalis itu juga dilakukan program vaksinasi, bahkan lebih “memaksa” daripada di Indonesia. Di Negara–Negara Amerika dan Eropa vaksinasi merupakan syarat untuk bisa sekolah. Militer Amerika juga divaksin (bukti: http://epirev.oxfordjournals.org/content/28/1/3.full). Apa mungkin Amerika sengaja agar militernya lemah?

    Tapi banyak tuh para ahli di dunia yang menyatakan vaksinasi itu berbahaya dan merekomendasikan untuk tidak melakukan vaksinasi. Siapa saja mereka? Apakah maksudnya para ahli yang disebutkan di sini (http://un2kmu.wordpress.com/2010/04/19/mengungkap-konspirasi-imunisasi-dan-bahaya-vaksin/)? Sebagian dari mereka adalah tokoh–tokoh fiktif yang entah diambil dari dongeng yang mana. Sebagian yang lain bukan ahli di bidangnya. Sebagian yang lain lagi punya kepentingan bisnis di balik kampanye anti vaksinasi. Silakan dibaca ulasan dr. Yuli yang dikenal dengan nama pena Julian Sunan, seorang dokter alumni FK UGM yang sekarang mengabdi di Puskesmas Godean (bukan tokoh fiktif, silakan datangi Puskesmas Godean jika ingin membuktikan bahwa beliau benar–benar ada) berikut (http://juliansunan.blogspot.com/2012/05/bahaya-imunisasi-telaah-tahap-i.html).

    Demikianlah sedikit ulasan tentang vaksinasi dan imunisasi. Semoga membantu para orang tua untuk memilih yang terbaik untuk buah hatinya.

    Yogyakarta, 15 Shafar 1434 H
    Friday, December 28, 2012
    9.10 a.m.

    Haafizhah Kurniasih

    9 thoughts on “Seputar Vaksinasi

    1. permasalahan memisahkan tipsin dari vaksin gimana?, karna ini bukan memisahkan benda padat, tapi zat yg telah bereaksi, bisa benar2 tepisah

      • Mohon maaf Pak Hendar, komentarnya terlewat sehingga baru saya tanggapi…
        Mengenai detil teknis pemisahan yang digunakan dalam produksi vaksin, mohon maaf, ilmu saya belum sampai sana karena saya pun belum pernah terjun secara langsung menyaksikan produksi vaksin. Mungkin saya mencoba menjawab dengan pendekatan ilmu farmasi yang telah saya pelajari. Untuk memisahkan zat-zat yang telah bereaksi dan bercampur dalam bentuk cairan, kita bisa melakukannnya dengan teknik kromatografi, mulai dari yang paling sederhana seperti kromatografi kolom, TLC (Thin Layer Chromatography), HPLC (High Performance Liquid Chromatography), GC (Gas Chromatography), kromatografi afinitas, hingga ion exchange. Sebagaimana yang kita ketahui, setiap zat memiliki muatan tertentu yang khas. Nah, kita bisa memanfaatkan sifat ini untuk memisahkan suatu zat dari campuran zat.
        Atau bisa juga tekniknya memang tidak dibuat bercampur bebas dalam prosesnya tp menggunakan imobilized enzym. Gambarannya, enzim tsb dilekatkan di “dinding” jalur yg akan dilalui oleh bahan vaksin. Jdi, mereka bereaksi, enzimnya tetap menempel d dinding, tidak ikut terbawa k mana2..
        Mungkin demikian, Bapak…
        Terima kasih atas pertanyaan Bapak.
        Pertanyaan Bapak memancing saya untuk banyak belajar lagi…
        Inilah salah satu manfaat membuka diri untuk berdiskusi…🙂

    2. vaksin HARAM, bukan contoh Rasul. Manusia bukan di ciptakan oleh pembuat vaksin, manusia bukan di ciptakan oleh WHO, yang menyatakan manusia kalau tidak di vaksin bisa sakit polio, campak, hepatitis dll… maka harus di vaksin dengan memasukkan bibit penyakit ke dalam tubuh, berikut zat beracun dan zat haram lainnya…. ini adalah ilmu TRIAL and ERROR. Jahiliah.

      Allah yang menciptakan manusia dengan tata cara pemeliharaan dan program kesehatan yang sudah di atur sedemikian rupa sempurna, Melalui Rasul Nya mengajarkan tata cara peningkatan sistem imun dengan cara tingkatkan nutrisi, makan halalan toyiban, ASI, Tahnik buat bayi, Bekam, makanan halalan toyiban, Herbal contoh Rasul, prilaku taat Syariah , dan mengupayakan pemenuhan kebutuhan hidup per individu setiap rakyat Indonesia, sandang, pangan, papan, kesehatan gratis, pendidikan gratis, lapangan pekerjaan yang halalan toyiban.

      Bukan Vaksin.

      Vaksin perusak organ tub uh manusia, berdasarkan kepentingan KAPITALIS. Segera bertaubat, tinggalkan Vaksin, dan laksanakan program kesehatan dunia dengan methode RASULULLAH.

      • Ibu Dewi (mohon maaf, saya sebut Anti dengan nama asli Anti saja, bukan dengan nama kunyah Anti), untuk menyatakan sesuatu “haram”, “halal”, “makruh”. “sunnah”, “wajib”, maupun “mubah”, kita harus dapat menghadirkan fakta dan dalil yang sesuai dengan fakta. Terkait dengan vaksin ini, dapatkah Anti menghadirkan fakta dan dalil yang menunjukkan keharaman vaksin?

    3. Pingback: Seputar Vaksinasi - Syariah Publications

    4. ‘…sebagian vaksin meningitis merek tertentu… dan beberapa merek vaksin
      flu…’ mohon info, merek tertentunya ini merek apa saja yang tidak menggandung babi? Jazakillah khoir

    5. Assalamu’alaykum. Ustadzah..jazakillah Khayran atas ilmunya, sy tercerahkan. Sy seorang ibu dg 3 putra, anak tertua berusia 7 thn. Selama 7 thn ini sy merasa serba salah dg adanya pro dan kontra seputar vaksin. Sy tdk memvaksin anak-anak sy karena blm ada satu tulisan pun yg sy baca yg mampu menjelaskan secara ilmiah yg menjawab semua pertanyaan di benak sy. Sy bertanya pada dokternya anak-anak, beliau hanya menyarankan sy mencari lebih banyak lg tulisan tt hal ini. Alhamdulillah dg pertolongan Allah, hr ini sy temukan 2 tulisan, yaitu tulisan ustadzah dan tulisan dg judul “Soal jawab Realitas vaksinasi dan hukumnya” dr Amir Hizbut Tahrir. Semua pertanyaan sy terjawab, semua keraguan sy sirna. Ngemplong rasanya… Barakallahu fiikum.

    Bagaimana Pendapat Anda?

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s