Beberapa PR untuk Kepala Departemen Kesehatan*) Khilafah Kelak

hidup-sejahtera-di-bawah-naungan-khilafahKhilafah Rasyidah ‘ala minhajin Nubuwwah yang dijanjikan ALLAH sudah di depan mata. Sudah bukan zamannya lagi kita hanya bermain jargon “Sejahtera dengan Syari’ah dan Khilafah”, “Hidup Mulia di Bawah Naungan Khilafah”, atau “Khilafah menjamin bla… bla… bla…”. Kini saatnya kita benar–benar memikirkan bagaimana mekanisme praktis agar jargon–jargon indah tersebut terwujud. Salah satu yang harus segera dipikirkan adalah bagaimana agar kesehatan seluruh warga negara Khilafah terjamin.

Sebagaimana telah jamak diketahui bahwa Khilafah wajib menjamin terpenuhinya seluruh kebutuhan primer masyarakat, termasuk di antaranya adalah terpenuhinya jaminan kesehatan bagi masyarakat. Berbicara tentang jaminan kesehatan bagi masyarakat, kita tidak bisa hanya berbicara tentang akses layanan kesehatan bagi orang yang sakit tetapi jauh lebih kompleks dari itu. Beberapa hal yang perlu menjadi perhatian serius bagi Departemen Kesehatan Khilafah—berkoordinasi dengan departemen–departemen terkait—antara lain:

1. Terpenuhinya kebutuhan obat dengan kualitas prima
Berbicara tentang kesehatan tidak akan bisa terlepas dari kebutuhan akan obat dan suplemen kesehatan. Memang proses penyembuhan suatu penyakit tidak melulu harus dilakukan dengan terapi farmakologis, adakalanya cukup ditempuh dengan terapi non farmakologis. Akan tetapi sering kali penggunaan obat menjadi satu–satunya pilihan yang harus ditempuh dalam upaya penyembuhan berbagai macam penyakit. Adapun suplemen kesehatan, seringkali harus digunakan dalam upaya supportive agar tubuh mampu bertahan melawan penyakitnya. Terpenuhinya kebutuhan obat dan suplemen adalah hal yang mutlak harus dipenuhi dalam upaya menjamin kesehatan masyarakat.

Jika Khilafah bermula di Indonesia, masalah terpenuhinya kebutuhan obat akan menjadi permasalahan yang cukup serius karena hingga saat ini lebih dari 95% bahan baku obat di Indonesia diperoleh dari impor dan industri obat di Indonesia hanyalah industri manufacturing. Jika ini dibiarkan, tentu saja bisa mengancam independensi Khilafah yang masih muda yang pada gilirannya sangat mungkin menjadi alat bagi negara–negara kafir untuk mengintimidasi atau mengintervensi kebijakan Khilafah karena mereka memahami Khilafah tidak akan mungkin membiarkan warganya kesulitan mendapatkan obat yang dibutuhkan.

Mau/tidak mau Khilafah harus segera mencari alternatif bahan baku obat untuk mengurangi bahkan kalau bisa menghilangkan ketergantungan bahan baku obat impor. Sebenarnya dengan modal kekayaan hayati Indonesia yang melimpah, Khilafah bisa dengan mudah memenuhi kebutuhan obatnya. Aneka herbal tersedia untuk dijadikan obat. Akan tetapi permasalahannya adalah selama ini eksplorasi herbal Indonesia belum maksimal dan kurang mendapat dukungan. Dampaknya, herbal Indonesia belum siap untuk menggantikan bahan baku obat impor yang selama ini menjadi “tulang punggung” pemenuhan obat. Ketidaksiapan ini dikarenakan data efektivitas dan keamanan herbal–herbal tersebut belum memenuhi. Memaksakan diri menghentikan impor bahan baku obat dan beralih ke herbal lokal dengan alasan demi independensi negara terlalu berisiko mengorbankan kesehatan masyarakat. Inilah kenapa maslaah ketersediaan obat menjadi masalah serius yang harus segera dicarikan solusi jangka pendeknya. Solusi yang realistis bisa dilakukan oleh Khilafah muda.

Adapun solusi jangka panjangnya, jelas independensi negara adalah suatu keharusan. Haram bagi Khilafah untuk menjadikan salah satu kebutuhan pokok warganya tergantung pada negara kafir. Khilafah harus memaksimalkan eksplorasi herbal lokal sebagai obat agar tak perlu lagi bergantung pada impor. Segera berkoordinasi dengan universitas– universitas yang selama ini telah mengembangkan herbal, dukung mereka untuk melanjutkan peneletian ke tahap klinik hingga herbal tersebut siap menjadi obat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Masyarakat juga harus dilindungi dari produk–produk yang diklaim sebagai obat dan/atau suplemen kesehatan yang tidak bermutu. Termasuk dilindungi dari produk–produk yang berlebihan dalam meng–klaim khasiat dan keamanannya. Jangan sampai masyarakat memberikan ekspektasi terlampau tinggi pada suatu produk karena klaim bohong yang dicantumkan. Pun jangan sampai masyarakat kehilangan kewaspadaan terhadap efek samping yang mungkin ditimbulkan oleh suatu produk karena produk tersebut mengklaim aman tanpa efek samping.

2. Terpenuhinya kebutuhan sarana kesehatan dan tenaga kesehatan
Khilafah harus menjamin terpenuhinya kebutuhan tenaga kesehatan yang terampil. Bukan hanya sekadar jumlah tetapi distribusi para tenaga kesehatan harus benar–benar dikontrol sehingga dapat dipastikan setiap warga negara di setiap sudaut negeri dapat mengakses tenaga kesehatan dan sarana kesehatannya. Selama ini distribusi tenaga kesehatan terkendala karena tenaga kesehatan keberatan ditempatkan di pelosok dengan alasan kurangnya fasilitas dan kesejahteraan. Oleh karenanya, Khilafah wajib mengupayakan terpenuhinya kesejahteraan dan fasilitas yang diperlukan oleh para tenaga kesehatan yang ditempatkan di pelosok negeri.

3. Lindungi Masyarakat dari Info–Info Kesehatan yang Tidak Dapat Dipertanggungjawabkan
Seiring dengan kemajuan teknologi, arus informasi menjadi tak terbendung. Semua orang bisa menyebarkan dan menerima informasi. Hal ini bagai pisau bermata dua. Di satu sisi bisa menjadi katalis yang mempercepat tersebarnya pengetahuan dan berkembangnya ilmu. Tetapi di sisi lain jika tidak dikontrol akan menjadi sarana yang sangat efektif untuk menyebarkan “kesesatan” di tengah masyarakat. Di era digital seperti saat ini, berita–berita HOAX begitu banyak beredar, termasuk HOAX tentang isu kesehatan. Hal ini harus menjadi perhatian serius Departemen Kesehatan Khilafah kelak (tentu saja dengan bekerja sama dengan departemen terkait lainnya).

4. Lindungi Masyarakat dari Makanan dan Kosmetika Berbahaya
Ada beberapa alasan produsen makanan menggunakan bahan berbahaya dalam proses produksinya. Ada yang karena keterbatasan ilmu tidak mengetahui bahwa bahan yang dia gunakan membahayakan kesehatan, sehingga berdasarkan minimalisasi biaya produksi mereka menggunakannya. Mereka ini biasanya pedagang kecil. Perlakuan yang tepat untuk mereka adalah dengan pembinaan dan disadarkan dengan pendekatan aqidah (jika Muslim) agar tidak merugikan masyarakat ketika berdagang.

Ada pula yang sebenarnya mengetahui bahwa itu berbahaya tetapi tetap menggunakannya hanya untuk menekan biaya produksi tanpa peduli dampaknya bagi konsumen. Perlakuan yang tepat untuk mereka adalah pemberian sanksi yang tegas dan kembali diingatkan dengan pendekatan aqidah (jika Muslim).

Ada pun produsen kosmetik yang menggunakan bahan berbahaya, dugaan kuatnya adalah sebenarnya mereka mengetahui bahwa bahan yang mereka gunakan berbahaya tetapi tetap digunakan hanya untuk mendapatkan keuntungan sebesar–besarnya sehingga mereka harus diberi sanksi yang tegas dan disadarkan denga pendekatan aqidah (jika Muslim).

5. Lindungi Masyarakat dari Berbagai Polusi Lingkungan (udara, air, tanah, dan suara)
Untuk masalah ini, harus tercipta kerja sama yang baik antara departemen kesehatan, departemen perindustrian, dan departemen yang mengurusi pengembangan teknologi.

6. Pastikan Masyarakat Tinggal di Daerah Bebas Banjir dan Memiliki Sanitasi yang Baik
Untuk hal ini Departemen Kesehatan harus menjalin kerjasama dengan departemen yang menangani masalah pemukiman penduduk.

7. Minimalisasi Tingkat Stress Masyarakat
Banyak penyakit yang bermula dari stress sehingga untuk menciptakan masyarakat yang sehat stress harus dikelola dengan baik. Dalam hal ini mutlak Departemen Kesehatan tidak dapat bekerja sendiri karena faktor pemicu stress sangat beragam seperti kemacetan lalu lintas, beban kerja yang berat, hubungan interpersonal yang buruk, harga–harga yang tidak stabil, dsb.

Demikian beberapa poin yang menjadi PR bagi Departemen Kesehatan Khilafah kelak.

=========

*) atau apa pun lah namanya, yang saya maksud adalah suatu departemen/dinas/bagian/lembaga negara yang bertugas mengurusi masalah kesehatan.

Yogyakarta, 22 Shafar 1434 H
Thursday, January 03, 2013
8.00 p.m.

Haafizhah Kurniasih

Bagaimana Pendapat Anda?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s